Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 14 Oktober 2026 | 22.53 WIB

7 Alasan Mengapa Berjalan Sambil Berbincang dengan Teman Semakin Penting di Era AI Menurut Psikologi

seseorang yang berjalan sambil berbincang / foto: Magnific/vh-studio

JawaPos.com - Ada sesuatu yang sederhana tetapi semakin langka dalam kehidupan modern: berjalan kaki bersama seorang teman sambil membicarakan berbagai hal.

Tidak ada layar yang harus ditatap terus-menerus. Tidak ada notifikasi yang perlu segera dijawab. Tidak ada algoritma yang menentukan topik pembicaraan. Tidak ada target produktivitas yang harus dicapai.

Hanya dua orang yang berjalan, berbicara, mendengarkan, sesekali tertawa, lalu mungkin berhenti untuk memperhatikan sesuatu di jalan.

Sekilas, aktivitas seperti ini tampak biasa saja. Bahkan terlalu sederhana untuk dianggap penting.

Namun, di era ketika kecerdasan buatan atau AI semakin mampu membantu manusia berpikir, menulis, mencari informasi, membuat keputusan, menghasilkan gambar, merangkum buku, bahkan menjadi teman berbicara kapan saja, aktivitas sederhana seperti berjalan sambil berbincang justru bisa menjadi semakin berharga.

Bukan karena AI selalu buruk atau interaksi digital selalu negatif. Justru sebaliknya. AI dapat membantu manusia dalam banyak hal.

Tetapi semakin banyak fungsi kognitif yang dapat dibantu oleh teknologi, semakin penting pula kita menjaga kemampuan yang tidak hanya berkaitan dengan berpikir, tetapi dengan menjadi manusia bersama manusia lain.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (14/10), terdapat tujuh alasan psikologis mengapa berjalan sambil berbincang dengan teman mungkin akan menjadi kebiasaan yang semakin penting di era AI.

1. Berjalan membuat percakapan terasa lebih alami dan tidak terlalu mengintimidasi

Pernahkah Anda menyadari bahwa percakapan serius sering terasa lebih mudah ketika dilakukan sambil berjalan?

Ada alasan psikologis di baliknya.

Ketika dua orang duduk berhadapan, terutama dalam suasana formal, perhatian cenderung terkonsentrasi langsung pada lawan bicara. Kontak mata lebih intens. Ekspresi wajah lebih mudah diamati. Keheningan juga terasa lebih jelas.

Bagi sebagian orang, kondisi seperti ini dapat membuat percakapan terasa seperti sebuah "ujian sosial".

Sebaliknya, ketika berjalan berdampingan, perhatian kedua orang tidak sepenuhnya terkunci satu sama lain. Keduanya dapat melihat jalan, pepohonan, kendaraan, bangunan, atau lingkungan sekitar.

Percakapan pun memiliki semacam ruang bernapas.

Teman tidak harus terus menatap mata kita ketika sedang berpikir. Kita juga tidak perlu merasa bahwa setiap detik keheningan harus segera diisi.

Hal ini dapat membuat pembicaraan berkembang lebih spontan.

Menariknya, banyak percakapan yang paling bermakna justru muncul bukan ketika kita secara sengaja berkata, "Ayo kita bicara serius," melainkan ketika pembicaraan mengalir dari hal sederhana.

Misalnya:

"Eh, kamu masih ingat tempat ini?"

Kemudian berubah menjadi:

"Ngomong-ngomong, akhir-akhir ini kamu bagaimana?"

Lalu beberapa menit kemudian seseorang mulai menceritakan sesuatu yang selama ini dipendam.

Inilah salah satu kelebihan berjalan bersama.

Tubuh bergerak, tetapi percakapan dapat bergerak lebih bebas.

Di era AI, kualitas seperti ini menjadi semakin penting. Kita bisa meminta AI menghasilkan jawaban dalam hitungan detik, tetapi hubungan manusia tidak bekerja seperti mesin pencari.

Hubungan membutuhkan jeda, ketidaksempurnaan, ekspresi wajah, nada suara, tawa, kebingungan, bahkan keheningan.

Berjalan bersama menyediakan ruang alami untuk semua itu.

2. Berjalan membantu mengurangi tekanan untuk "menghasilkan sesuatu"

Salah satu perubahan besar dalam kehidupan modern adalah munculnya budaya produktivitas tanpa henti.

Banyak aktivitas sekarang dinilai berdasarkan hasil.

Apakah perjalanan ini produktif?

Apakah pertemuan ini menghasilkan keputusan?

Apakah waktu luang ini bisa digunakan untuk belajar sesuatu?

Apakah percakapan ini memberikan manfaat?

Bahkan ketika sedang beristirahat, kita sering merasa harus melakukan sesuatu yang "berguna".

AI semakin memperkuat kecenderungan ini.

Dengan bantuan AI, kita dapat membuat email lebih cepat, mencari informasi lebih cepat, merangkum buku lebih cepat, membuat presentasi lebih cepat, dan menyelesaikan banyak pekerjaan dalam waktu yang jauh lebih singkat.

Ini jelas bermanfaat.

Namun ada konsekuensi psikologis yang perlu diperhatikan.

Ketika segala sesuatu semakin dioptimalkan, manusia dapat mulai memperlakukan waktu bersama orang lain sebagai sesuatu yang harus memiliki tujuan.

Padahal tidak semua interaksi sosial harus menghasilkan sesuatu.

Kadang-kadang kita hanya perlu berjalan.

Kadang-kadang kita hanya perlu bercerita tentang pekerjaan.

Kadang-kadang kita hanya perlu mengeluh tentang hari yang melelahkan.

Kadang-kadang kita tertawa karena sesuatu yang sebenarnya tidak lucu.

Tidak ada output.

Tidak ada laporan.

Tidak ada skor produktivitas.

Dan justru di situlah nilainya.

Berjalan bersama teman menciptakan ruang sosial yang tidak berorientasi pada performa.

Kita tidak harus menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Kita tidak harus selalu cerdas. Kita tidak harus selalu menarik.

Kita cukup hadir.

Dalam psikologi, rasa diterima sebagai diri sendiri memiliki peran penting dalam kesejahteraan psikologis. Hubungan yang sehat memberikan pengalaman bahwa seseorang tidak harus terus-menerus membuktikan nilai dirinya untuk diterima.

Di tengah dunia yang semakin terotomatisasi dan diukur berdasarkan efisiensi, pengalaman sederhana seperti ini bisa menjadi semakin berharga.

3. Gerakan tubuh dapat membantu proses berpikir dan membuka percakapan yang lebih kreatif

Ada hubungan menarik antara tubuh dan pikiran.

Kita sering membayangkan bahwa berpikir hanya terjadi di dalam kepala. Padahal kondisi tubuh, lingkungan, dan aktivitas fisik juga dapat memengaruhi bagaimana kita berpikir.

Berjalan memberikan ritme yang berulang: satu langkah, kemudian langkah berikutnya.

Ritme tersebut dapat menciptakan kondisi yang berbeda dari ketika kita duduk diam di depan layar.

Tidak mengherankan jika banyak orang mendapatkan ide ketika sedang berjalan.

Bahkan dalam sejarah, sejumlah pemikir dan penulis terkenal dikenal memiliki kebiasaan berjalan untuk berpikir.

Mengapa?

Salah satu kemungkinannya adalah berjalan memberikan stimulasi yang cukup untuk membuat kita tetap aktif, tetapi tidak terlalu menuntut perhatian seperti menyelesaikan tugas yang kompleks.

Perhatian dapat bergerak lebih bebas.

Ketika kita sedang berjalan bersama teman, hal ini dapat menciptakan kombinasi menarik:

tubuh bergerak + lingkungan berubah + percakapan mengalir.

Akibatnya, pembicaraan dapat berpindah dari satu ide ke ide lainnya secara lebih spontan.

"Bagaimana kalau kita coba cara lain?"

"Kalau aku jadi kamu, mungkin aku akan..."

"Tadi kamu bilang sesuatu yang menarik. Aku baru kepikiran..."

Percakapan seperti ini berbeda dengan sekadar bertukar informasi.

Ia menjadi proses berpikir bersama.

Dan inilah salah satu kemampuan yang penting untuk dipertahankan di era AI.

AI sangat baik dalam menghasilkan berbagai kemungkinan. Tetapi manusia masih membutuhkan manusia lain untuk mengalami proses sosial dalam menemukan makna dari kemungkinan tersebut.

Kadang-kadang ide terbaik bukan muncul karena seseorang memberikan jawaban yang sempurna.

Ide terbaik muncul karena seorang teman berkata:

"Kenapa kamu tidak melihatnya dari sisi yang lain?"

Kalimat sederhana itu dapat mengubah cara kita memahami sebuah masalah.

4. Berjalan bersama menciptakan pengalaman sosial yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh percakapan dengan AI

AI dapat berbicara dengan manusia.

Bahkan percakapan dengan AI dapat terasa sangat nyaman.

AI tidak mudah lelah. Ia dapat merespons kapan saja. Ia tidak memotong pembicaraan. Ia dapat membantu seseorang menyusun pikiran ketika sedang bingung.

Semua itu memiliki manfaat.

Tetapi hubungan manusia memiliki dimensi lain.

Ketika kita berjalan bersama seorang teman, kita tidak hanya bertukar kata.

Kita berbagi ruang fisik.

Kita merasakan kecepatan berjalan yang sama.

Kita menyesuaikan langkah.

Kita berhenti ketika teman berhenti.

Kita tertawa ketika melihat sesuatu secara bersamaan.

Kita melihat ekspresi wajah.

Kita mendengar perubahan intonasi.

Kita merasakan suasana lingkungan yang sama.

Dengan kata lain, pengalaman tersebut bersifat embodied atau melibatkan tubuh secara langsung.

Ini penting karena hubungan sosial manusia tidak hanya dibangun melalui bahasa.

Hubungan juga dibangun melalui kehadiran.

Bayangkan dua situasi.

Dalam situasi pertama, Anda mengirim pesan kepada teman:

"Aku sedang mengalami hari yang buruk."

Teman menjawab:

"Semoga semuanya segera membaik."

Itu mungkin membantu.

Tetapi dalam situasi kedua, teman Anda berkata:

"Ayo jalan sebentar."

Kalian berjalan selama 30 menit. Tidak semua waktu diisi dengan pembicaraan. Sesekali hanya diam.

Namun Anda tidak sendirian.

Perbedaan kecil itu bisa terasa besar.

Di era AI, ketika komunikasi digital semakin mudah dan interaksi virtual semakin canggih, kehadiran fisik justru dapat menjadi sesuatu yang semakin bernilai.

5. Berjalan sambil berbicara dapat memperkuat rasa terhubung dengan orang lain

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial.

Kita tidak hanya membutuhkan informasi dari orang lain. Kita membutuhkan perasaan bahwa kita terhubung dengan orang lain.

Salah satu aspek penting dalam hubungan sosial adalah pengalaman "dipahami".

Bukan sekadar diberi solusi.

Bukan sekadar mendapatkan jawaban.

Tetapi merasa bahwa seseorang benar-benar mendengarkan.

Ketika berjalan bersama teman, percakapan sering memiliki kualitas yang berbeda dari komunikasi digital.

Ada waktu untuk mendengarkan.

Ada kesempatan untuk melihat reaksi spontan.

Ada momen ketika seseorang berhenti berbicara karena emosional.

Ada tawa.

Ada perubahan nada suara.

Ada ekspresi yang mengatakan sesuatu bahkan ketika kata-katanya tidak mengatakannya.

Semua sinyal tersebut membantu manusia memahami satu sama lain.

Lebih jauh lagi, berjalan bersama dapat menciptakan semacam pengalaman sinkron.

Dua orang bergerak dalam ruang dan waktu yang sama.

Langkah mereka kadang menjadi selaras.

Mereka melihat lingkungan yang sama.

Mereka mengalami perjalanan yang sama.

Pengalaman bersama seperti ini dapat memperkuat rasa kebersamaan.

Dan rasa kebersamaan merupakan salah satu fondasi penting hubungan sosial yang sehat.

Dalam dunia yang semakin individual dan digital, pengalaman sederhana seperti berjalan bersama menjadi cara untuk mengingat sesuatu yang sangat mendasar:

Kita tidak hanya ingin didengar. Kita ingin ditemani.

6. Percakapan langsung membantu kita melatih kemampuan sosial yang mungkin semakin jarang digunakan

Ada kemampuan manusia yang tidak cukup hanya dipelajari secara teori.

Kita harus menggunakannya.

Mendengarkan adalah salah satunya.

Begitu pula membaca ekspresi, mengetahui kapan harus berbicara, mengetahui kapan harus diam, memahami humor, menangkap perubahan emosi, mengklarifikasi kesalahpahaman, dan menyesuaikan cara berbicara dengan kondisi orang lain.

Semua itu adalah keterampilan sosial.

Masalahnya, semakin banyak komunikasi berpindah ke layar, sebagian interaksi manusia menjadi lebih terstruktur.

Kita dapat mengedit pesan sebelum mengirimkannya.

Kita dapat menghapus kalimat.

Kita dapat menggunakan emoji untuk menggantikan ekspresi.

Kita dapat menunda respons.

Kita bahkan dapat meminta AI membantu menyusun pesan yang terdengar lebih sopan, lebih meyakinkan, atau lebih profesional.

Semua itu berguna.

Tetapi ada sisi lain.

Dalam kehidupan nyata, kita tidak memiliki tombol "edit" untuk setiap kalimat.

Kita harus belajar beradaptasi secara langsung.

Teman tiba-tiba tersinggung.

Kita salah memahami sesuatu.

Kita berbicara terlalu banyak.

Kita tidak tahu harus menjawab apa.

Kita harus memperbaiki keadaan.

Justru situasi-situasi kecil seperti itulah yang melatih kecerdasan sosial.

Berjalan sambil berbincang memberi kesempatan untuk melakukan latihan tersebut secara alami.

Kita belajar bahwa komunikasi bukan hanya tentang memilih kata yang benar.

Komunikasi juga tentang membaca manusia.

Dan kemampuan membaca manusia akan tetap penting, bahkan ketika AI menjadi semakin pintar.

7. Berjalan bersama memberi ruang bagi percakapan yang lebih dalam dan bermakna

Alasan terakhir mungkin yang paling penting.

Percakapan manusia tidak selalu harus bertujuan mendapatkan informasi.

Ada percakapan yang bertujuan menemukan makna.

Misalnya:

"Apa sebenarnya yang kamu inginkan dalam hidup?"

"Menurutmu, kita sedang mengejar apa?"

"Kamu bahagia dengan pekerjaanmu sekarang?"

"Kenapa kamu merasa hidupmu berubah belakangan ini?"

"Kalau tidak perlu memikirkan uang, kamu ingin melakukan apa?"

Pertanyaan seperti ini tidak memiliki jawaban sederhana.

Bahkan AI yang sangat canggih pun tidak dapat menentukan makna hidup seseorang untuknya.

Makna bukan sekadar informasi yang dapat dicari.

Makna adalah sesuatu yang sering kali dibentuk melalui pengalaman, hubungan, refleksi, dan percakapan.

Dan menariknya, percakapan mendalam sering kali muncul ketika kita tidak sedang berusaha memaksanya.

Mungkin dimulai dengan membicarakan makanan.

Kemudian pekerjaan.

Lalu hubungan.

Kemudian masa depan.

Tiba-tiba seseorang mengatakan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.

Di situlah berjalan bersama menjadi lebih dari sekadar olahraga.

Ia menjadi ruang refleksi.

Ruang untuk menyusun kembali pikiran.

Ruang untuk mengetahui apa yang sebenarnya kita rasakan.

Dan ruang untuk mendengar perspektif seseorang yang mengenal kita bukan sebagai "pengguna", tetapi sebagai manusia.

Jadi, apakah kita harus berhenti menggunakan AI?

Tentu tidak.

Justru kita tidak perlu melihat persoalan ini sebagai pertarungan antara AI dan hubungan manusia.

AI dapat menjadi alat yang sangat berguna.

Ia dapat membantu kita bekerja lebih cepat, belajar lebih efektif, mendapatkan perspektif baru, dan mengurangi beban berbagai pekerjaan.

Masalahnya bukan keberadaan AI.

Masalahnya adalah ketika teknologi membuat kita lupa melakukan hal-hal yang hanya dapat kita lakukan dengan cara manusiawi.

Kita bisa meminta AI membantu menulis pesan kepada teman.

Tetapi setelah itu, mungkin kita tetap perlu menemui teman tersebut.

Kita bisa meminta AI membantu memahami sebuah masalah.

Tetapi kita mungkin tetap perlu berjalan bersama seseorang yang kita percaya dan membicarakannya.

Kita bisa mendapatkan seribu jawaban dari internet.

Tetapi terkadang yang kita butuhkan bukan jawaban.

Kita membutuhkan seseorang yang berkata:

"Aku mengerti."

Atau bahkan:

"Aku tidak tahu harus bilang apa, tapi aku temani kamu."

Mungkin berjalan adalah bentuk "teknologi lama" yang justru semakin relevan

Ada ironi menarik di sini.

Semakin canggih teknologi kita, semakin berharga beberapa aktivitas yang tampaknya kuno.

Berjalan.

Berbicara.

Mendengarkan.

Tertawa.

Duduk bersama.

Makan bersama.

Menatap lingkungan yang sama.

Tidak ada yang futuristik dari aktivitas tersebut.

Tetapi justru karena tidak dapat sepenuhnya diotomatisasi, aktivitas tersebut mungkin menjadi semakin penting.

Di masa depan, AI mungkin akan semakin mampu membantu manusia berpikir.

Karena itu, manusia perlu semakin sengaja menjaga ruang untuk merasakan, terhubung, dan mengalami kehidupan bersama manusia lain.

Berjalan sambil berbincang dengan teman adalah salah satu cara paling sederhana untuk melakukannya.

Tidak membutuhkan aplikasi.

Tidak membutuhkan perangkat mahal.

Tidak membutuhkan jadwal yang sempurna.

Cukup dua orang, sepasang sepatu, sedikit waktu, dan kemauan untuk hadir.

Mungkin percakapannya tidak akan menghasilkan keputusan besar.

Mungkin tidak akan menghasilkan ide revolusioner.

Mungkin tidak akan menyelesaikan semua masalah.

Tetapi mungkin, setelah 30 menit berjalan, seseorang merasa sedikit lebih ringan.

Sedikit lebih dipahami.

Sedikit lebih terhubung.

Dan mungkin itu sendiri sudah merupakan sesuatu yang sangat berharga.

Pada akhirnya, di era AI, kemampuan manusia bukan hanya tentang berpikir lebih cepat

Kita sedang memasuki masa ketika mesin semakin mampu melakukan banyak hal yang dulu dianggap sebagai pekerjaan manusia.

AI dapat membantu menulis.

AI dapat membantu menganalisis.

AI dapat membantu mencari informasi.

AI dapat membantu menghasilkan ide.

AI bahkan dapat menjadi teman percakapan yang selalu tersedia.

Karena itu, tantangan manusia ke depan mungkin bukan sekadar bagaimana menjadi lebih pintar daripada mesin.

Tantangannya adalah bagaimana tetap menjadi manusia ketika banyak aktivitas kognitif kita semakin dibantu oleh mesin.

Dan mungkin jawabannya tidak selalu ditemukan dalam teknologi yang lebih canggih.

Kadang jawabannya justru sangat sederhana.

Matikan layar.

Keluar rumah.

Ajak seorang teman.

Lalu berjalanlah.

Tidak perlu agenda.

Tidak perlu tujuan yang terlalu serius.

Biarkan percakapan mengalir.

Karena dalam dunia yang semakin cepat, semakin digital, dan semakin dibantu AI, kemampuan untuk berjalan perlahan bersama seseorang sambil benar-benar mendengarkan mungkin bukan aktivitas yang ketinggalan zaman.

Justru mungkin itulah salah satu bentuk perawatan manusia yang paling sederhana dan paling relevan untuk masa depan.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore