seseorang yang menjadi lebih kuat saat emosi / foto: Magnific/krakenimages.com
Kita sering mendengar nasihat seperti, “Jangan terlalu baper,” “Harus kuat,” “Jangan dipikirkan,” atau “Sudahlah, lupakan saja.”
Padahal, dari sudut pandang psikologi, kekuatan mental tidak selalu muncul karena seseorang mampu menekan emosinya. Justru, kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi dapat menjadi salah satu sumber ketahanan psikologis yang penting.
Marah bisa memberi tahu bahwa batas diri kita telah dilanggar. Sedih bisa membantu kita memproses kehilangan. Takut dapat membuat kita lebih waspada. Bahkan rasa malu, kecewa, dan cemas pun dapat memberikan informasi mengenai apa yang sebenarnya penting bagi kita.
Dengan kata lain, emosi tidak selalu menjadi penghalang untuk menjadi kuat.
Kadang-kadang, emosi justru merupakan jalan yang membawa kita menjadi lebih kuat.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (13/10), terdapat enam cara mengejutkan bagaimana emosi dalam diri dapat membantu membentuk kekuatan mental menurut perspektif psikologi.
1. Rasa Sedih Bisa Membuat Kamu Lebih Tahan Menghadapi Kehilangan
Kesedihan sering dianggap sebagai emosi yang harus segera dihilangkan.
Ketika seseorang mengalami kegagalan, putus hubungan, kehilangan pekerjaan, kehilangan seseorang yang dicintai, atau menghadapi perubahan besar dalam hidup, kita mungkin langsung berusaha mencari cara agar perasaan tersebut cepat menghilang.
Padahal, kesedihan memiliki fungsi psikologis.
Saat sedih, seseorang cenderung memperlambat aktivitas, menarik diri sementara, dan memberikan perhatian lebih besar pada pengalaman yang baru saja terjadi. Proses tersebut dapat memberikan ruang bagi pikiran untuk memahami apa yang sebenarnya telah hilang.
Kesedihan, dengan demikian, bukan sekadar rasa sakit. Ia juga dapat menjadi bagian dari proses penyesuaian.
Bayangkan seseorang yang mengalami kegagalan besar.
Jika ia langsung memaksa dirinya untuk berpura-pura baik-baik saja, pengalaman tersebut mungkin belum benar-benar diproses. Sebaliknya, ketika ia memberikan kesempatan untuk merasa kecewa, menangis, merenung, dan mengakui bahwa sesuatu memang menyakitkan, ia memiliki kesempatan untuk memahami pengalaman tersebut secara lebih utuh.
Inilah salah satu alasan mengapa menangis tidak selalu berarti lemah.
Kadang-kadang, menangis merupakan bentuk pelepasan sekaligus pengakuan bahwa sesuatu memang penting bagi kita.
Kesedihan juga dapat membuat seseorang menjadi lebih realistis. Kita belajar bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Tidak semua hubungan bisa dipertahankan. Tidak semua rencana akan berjalan sesuai keinginan.
Dan ketika seseorang mulai menerima kenyataan tersebut, ia perlahan membangun kemampuan untuk menghadapi ketidakpastian.
Kekuatan tidak selalu berarti tidak pernah sedih.
Kekuatan bisa berarti mampu berkata:
"Aku sedang sedih, tetapi aku tahu perasaan ini tidak akan berlangsung selamanya."
Dari sanalah ketahanan psikologis mulai terbentuk.
2. Rasa Takut Bisa Membuat Kamu Lebih Berani
Ini mungkin terdengar seperti kontradiksi.
Bagaimana mungkin rasa takut membuat seseorang lebih berani?
Namun, keberanian sebenarnya tidak berarti tidak memiliki rasa takut.
Jika seseorang sama sekali tidak merasa takut, ia mungkin justru tidak memahami risiko yang sedang dihadapinya.
Keberanian muncul ketika seseorang menyadari adanya ketakutan, tetapi tetap memilih melakukan sesuatu yang dianggap penting.
Misalnya, seseorang takut berbicara di depan banyak orang. Ketakutan tersebut membuat tubuhnya bereaksi: jantung berdebar, telapak tangan berkeringat, dan pikirannya dipenuhi kemungkinan buruk.
Tetapi ketika ia tetap maju dan berbicara, pengalaman tersebut dapat mengajarkan sesuatu yang sangat penting:
"Ternyata aku mampu menghadapi sesuatu yang sebelumnya kutakuti."
Pengalaman semacam itu dapat memperkuat keyakinan terhadap kemampuan diri.
Hal yang sama bisa terjadi dalam berbagai situasi kehidupan.
Takut gagal dapat mendorong seseorang mempersiapkan diri lebih baik.
Takut kehilangan pekerjaan dapat membuat seseorang mulai mengembangkan keterampilan baru.
Takut mengecewakan orang lain mungkin membuat seseorang belajar berkomunikasi dengan lebih jelas.
Takut menghadapi perubahan dapat membuat seseorang lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Masalahnya bukan pada keberadaan rasa takut.
Yang menjadi masalah adalah ketika rasa takut sepenuhnya mengendalikan hidup kita.
Jika rasa takut digunakan sebagai informasi, ia bisa menjadi alarm.
Tetapi jika rasa takut dijadikan alasan untuk tidak pernah bergerak, ia bisa berubah menjadi penjara.
Karena itu, ketika suatu hari kamu merasa takut melakukan sesuatu yang penting, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa kamu lemah.
Cobalah bertanya:
"Apa yang sebenarnya sedang ingin dilindungi oleh rasa takut ini?"
Pertanyaan tersebut dapat mengubah cara kita memandang emosi.
Kamu tidak lagi melihat ketakutan sebagai musuh, melainkan sebagai sinyal yang perlu dipahami.
Dan terkadang, orang yang paling berani bukanlah orang yang tidak takut.
Melainkan orang yang mampu berkata:
"Aku takut, tetapi aku tetap akan mencoba."
3. Kemarahan Bisa Membantumu Menetapkan Batas
Kemarahan sering mendapatkan reputasi buruk.
Orang yang mudah marah dianggap emosional, sulit dikendalikan, atau tidak dewasa.
Tentu, tindakan agresif dan menyakiti orang lain bukanlah cara sehat untuk mengelola kemarahan.
Namun, emosi marah itu sendiri tidak selalu buruk.
Kemarahan dapat membawa informasi mengenai batas pribadi.
Misalnya, kamu terus-menerus diminta melakukan sesuatu oleh orang lain tanpa mempertimbangkan kondisimu. Awalnya kamu mungkin merasa tidak enak untuk menolak. Kamu terus mengatakan "iya" meskipun sebenarnya sudah kelelahan.
Lama-kelamaan muncul rasa kesal.
Jika kamu hanya melihat kemarahan sebagai sesuatu yang buruk, mungkin kamu akan mencoba menekannya.
Namun, jika kamu mencoba memahami sumbernya, kamu mungkin menemukan pesan yang lebih dalam:
"Aku merasa kebutuhanku tidak dihargai."
Atau:
"Aku terlalu sering mengatakan iya ketika sebenarnya ingin mengatakan tidak."
Di sinilah kemarahan dapat menjadi informasi yang berguna.
Ia membantu seseorang menyadari bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
Mungkin kamu perlu membuat batas.
Mungkin kamu perlu mengatakan tidak.
Mungkin kamu perlu menyampaikan ketidaksetujuan.
Mungkin kamu perlu meninggalkan situasi yang terus-menerus merugikan dirimu.
Tentu, cara menyampaikan kemarahan tetap penting.
Berteriak, menghina, mengancam, atau menyakiti orang lain bukanlah bentuk pengelolaan emosi yang sehat.
Kekuatan justru muncul ketika seseorang mampu mengubah energi kemarahan menjadi tindakan yang terarah.
Daripada berkata:
"Aku akan membuat dia menyesal!"
seseorang yang lebih mampu mengelola emosinya mungkin berkata:
"Aku tidak nyaman diperlakukan seperti ini. Aku perlu menetapkan batas."
Perbedaannya sangat besar.
Yang pertama dikendalikan oleh impuls.
Yang kedua menggunakan emosi sebagai informasi untuk mengambil keputusan.
Dengan demikian, kemarahan yang dipahami dengan baik dapat membantu seseorang menjadi lebih tegas, bukan lebih kasar.
4. Rasa Malu dan Penyesalan Bisa Membuatmu Lebih Dewasa
Tidak ada orang yang menjalani hidup tanpa pernah melakukan kesalahan.
Kita semua pernah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan.
Pernah membuat keputusan yang buruk.
Pernah mengecewakan seseorang.
Pernah bertindak terlalu egois.
Dan setelah menyadarinya, muncul rasa malu atau penyesalan.
Perasaan tersebut memang tidak nyaman.
Namun, ketidaknyamanan itu dapat menjadi bagian penting dari proses belajar.
Bayangkan seseorang yang menyadari bahwa perkataannya telah menyakiti orang lain.
Rasa bersalah atau penyesalan dapat mendorongnya untuk meminta maaf, memperbaiki perilaku, dan berhati-hati agar kesalahan yang sama tidak terulang.
Tanpa kemampuan merasa tidak nyaman setelah melakukan kesalahan, seseorang mungkin tidak memiliki dorongan yang cukup untuk mengevaluasi dirinya.
Namun, ada satu hal penting yang perlu dibedakan:
"Aku melakukan kesalahan" tidak sama dengan "Aku adalah orang yang gagal."
Yang pertama merupakan evaluasi terhadap perilaku.
Yang kedua merupakan serangan terhadap identitas diri.
Jika seseorang terus berkata, "Aku memang orang buruk," rasa malu dapat berubah menjadi sesuatu yang merusak.
Tetapi jika ia berkata, "Aku melakukan sesuatu yang salah dan aku perlu memperbaikinya," pengalaman tersebut dapat menjadi sumber pertumbuhan.
Inilah bentuk kekuatan yang sering tidak terlihat.
Bukan kekuatan untuk selalu benar, tetapi kekuatan untuk mengakui ketika kita salah.
Bukan kekuatan untuk mempertahankan harga diri dengan segala cara, tetapi keberanian untuk berkata:
"Aku salah."
Kemudian:
"Aku minta maaf."
Dan akhirnya:
"Aku akan belajar dari ini."
Kemampuan seperti itu dapat membuat seseorang menjadi lebih matang secara emosional.
5. Rasa Cemas Bisa Membuatmu Lebih Siap Menghadapi Masa Depan
Kecemasan sering dianggap sebagai musuh.
Ketika pikiran terus memikirkan kemungkinan buruk, seseorang bisa merasa lelah bahkan sebelum sesuatu benar-benar terjadi.
Namun, dalam tingkat tertentu, kecemasan juga memiliki fungsi adaptif.
Kecemasan pada dasarnya berkaitan dengan antisipasi terhadap kemungkinan ancaman atau masalah di masa depan.
Itulah sebabnya seseorang yang merasa cemas sebelum ujian mungkin belajar lebih serius.
Seseorang yang khawatir menghadapi presentasi mungkin mempersiapkan materi lebih baik.
Seseorang yang memikirkan masa depan finansial mungkin mulai menata pengeluaran.
Masalah muncul ketika kecemasan menjadi berlebihan dan tidak lagi membantu seseorang bertindak.
Ada perbedaan antara:
"Aku khawatir presentasiku tidak berjalan lancar, jadi aku akan berlatih."
dan:
"Aku takut presentasiku gagal, jadi aku tidak akan pernah mencoba."
Pada kondisi pertama, kecemasan menjadi pemicu persiapan.
Pada kondisi kedua, kecemasan justru menghambat kehidupan.
Karena itu, ketika merasa cemas, salah satu pertanyaan yang berguna adalah:
"Apakah ada sesuatu yang bisa kulakukan sekarang?"
Jika jawabannya iya, fokuskan energi pada tindakan tersebut.
Misalnya, jika kamu cemas menghadapi wawancara kerja, persiapkan jawaban.
Jika cemas menghadapi ujian, buat jadwal belajar.
Jika cemas mengenai sebuah percakapan penting, pikirkan apa yang ingin kamu sampaikan.
Dengan cara ini, kecemasan tidak dibiarkan menjadi putaran pikiran tanpa akhir.
Ia diubah menjadi persiapan.
Dan dari persiapan tersebut, rasa percaya diri perlahan dapat tumbuh.
6. Rasa Kecewa Bisa Mengajarkanmu Bahwa Harga Dirimu Tidak Ditentukan oleh Hasil
Mungkin ini adalah salah satu pelajaran emosional yang paling sulit.
Kita sering merasa percaya diri ketika berhasil.
Nilai bagus membuat kita merasa pintar.
Pujian membuat kita merasa berharga.
Keberhasilan karier membuat kita merasa kompeten.
Hubungan yang berjalan baik membuat kita merasa dicintai.
Tetapi apa yang terjadi ketika semua itu tidak sesuai harapan?
Di situlah kekecewaan muncul.
Dan meskipun menyakitkan, kekecewaan dapat mengajarkan sesuatu yang sangat penting:
hasil tertentu tidak selalu menentukan nilai dirimu sebagai manusia.
Misalnya, kamu sudah bekerja keras tetapi tidak mendapatkan pekerjaan yang diinginkan.
Kamu mungkin kecewa.
Namun, tidak diterima bekerja bukan berarti kamu tidak berharga.
Kamu mungkin telah melakukan yang terbaik dalam sebuah hubungan, tetapi hubungan tersebut tetap berakhir.
Itu menyakitkan.
Namun, berakhirnya hubungan bukan bukti bahwa kamu tidak layak dicintai.
Kamu mungkin telah mempersiapkan sesuatu dengan sangat serius, tetapi hasilnya tetap tidak sesuai harapan.
Itu mengecewakan.
Namun, kegagalan tersebut tidak otomatis menghapus seluruh usaha yang telah kamu lakukan.
Kekecewaan dapat membantu seseorang memisahkan dua hal:
hasil dan nilai diri.
Hasil bisa berubah.
Penilaian orang lain bisa berubah.
Situasi hidup bisa berubah.
Tetapi kemampuan untuk menghargai diri sendiri tidak seharusnya sepenuhnya bergantung pada semua hal tersebut.
Semakin seseorang memahami hal ini, semakin kuat fondasi psikologisnya.
Ia masih bisa menangis ketika gagal.
Masih bisa kecewa ketika ditolak.
Masih bisa merasa sakit ketika kehilangan.
Namun, di balik semua itu terdapat keyakinan:
"Aku mengalami kegagalan, tetapi aku bukan kegagalan itu sendiri."
Dan keyakinan semacam inilah yang membuat seseorang mampu bangkit.
Jadi, Apakah Semua Emosi Harus Diikuti?
Tidak.
Memahami emosi bukan berarti menuruti setiap emosi.
Ini adalah perbedaan yang sangat penting.
Kamu boleh marah tanpa harus menyakiti orang.
Kamu boleh takut tanpa harus melarikan diri dari semua hal.
Kamu boleh sedih tanpa harus menyerah pada kehidupan.
Kamu boleh kecewa tanpa harus menyalahkan semua orang.
Kamu boleh cemas tanpa membiarkan kecemasan menentukan seluruh keputusanmu.
Emosi adalah informasi, bukan selalu perintah.
Ketika muncul sebuah emosi, kita dapat belajar berhenti sejenak dan bertanya:
Apa yang sedang kurasakan?
Mengapa aku merasakan ini?
Apa yang sedang coba diberitahukan oleh emosi ini?
Apakah ada kebutuhan atau batas yang sedang tidak terpenuhi?
Apa tindakan yang paling sehat yang bisa kulakukan setelah memahami perasaan ini?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu kita menciptakan jarak antara emosi dan tindakan.
Dan jarak kecil itulah yang sering kali menjadi tempat munculnya kebijaksanaan.
Kekuatan Mental Bukan Tentang Menjadi Tanpa Emosi
Pada akhirnya, menjadi kuat bukan berarti berubah menjadi seseorang yang tidak mudah menangis, tidak pernah takut, tidak pernah marah, atau selalu tenang.
Manusia memang memiliki emosi.
Dan emosi tersebut memiliki fungsi.
Kesedihan dapat membantu kita memproses kehilangan.
Ketakutan dapat membuat kita lebih waspada.
Kemarahan dapat memberi tahu bahwa batas kita mungkin telah dilanggar.
Rasa bersalah dapat mendorong kita memperbaiki kesalahan.
Kecemasan dapat membuat kita mempersiapkan diri.
Kekecewaan dapat mengajarkan kita untuk tidak menggantungkan seluruh harga diri pada hasil.
Karena itu, mungkin definisi menjadi kuat perlu kita ubah.
Orang yang kuat bukanlah orang yang tidak pernah merasa sakit.
Orang yang kuat adalah seseorang yang mampu merasakan sakit tanpa membiarkan rasa sakit tersebut mengambil alih seluruh kehidupannya.
Ia mampu mengatakan:
"Aku sedang takut, tetapi aku akan mencoba."
"Aku sedang sedih, tetapi aku akan terus menjalani hari ini."
"Aku sedang marah, tetapi aku akan memilih bagaimana meresponsnya."
"Aku gagal, tetapi aku masih bisa belajar."
"Aku kecewa, tetapi nilai diriku tidak hilang."
Dan mungkin, justru di situlah kekuatan manusia yang sebenarnya.
Bukan ketika kita berhasil menghilangkan semua emosi dari dalam diri.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fulham vs Hull City: The Tigers Berpeluang Menang Tipis di Craven Cottage
Prediksi Skor Garudayaksa vs Arema FC: Produktivitas Singo Edan Jadi Ancaman Bagi Tuan Rumah
Prediksi Skor Lille vs Brest di Liga Prancis: Verdonk Starter, Les Dogues Berjaya di Pierre Mauroy
Prediksi Susunan Pemain Real Betis vs Barcelona: Yamal dan Adeyemi Jadi Andalan
Prediksi Skor Hamburger SV vs Stuttgart: Die Roten Siap Pesta Gol di Volksparkstadion
Prediksi Skor Espanyol vs Atletico Madrid di Liga Spanyol: Los Rojiblancos Pertahankan Laju Positif
Prediksi Skor PSGC Ciamis vs PSIS Semarang di Pegadaian Championship: Tuan Rumah Hadapi Ujian Berat
Prediksi Susunan Pemain AS Roma vs Genoa: Santiago Castro Siap Jadi Andalan
Prediksi Skor Semen Padang vs PSMS di Championship: Kabau Sirah Bidik Kemenangan Kandang Perdana
Prediksi RANS Nusantara vs Persela Lamongan: Laskar Joko Tingkir Berburu Kemenangan di Malang

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022