Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 13 Oktober 2026 | 22.51 WIB

7 Alasan Mengapa Sebagian Orang Hanya Memantau Media Sosial Tanpa Pernah Memberikan Like

seseorang yang memantau media sosial / foto: Magnific/thanyakij-12

 

JawaPos.com - Pernahkah Anda memperhatikan seseorang yang hampir selalu melihat aktivitas orang lain di media sosial, tetapi nyaris tidak pernah memberikan like, komentar, atau bentuk interaksi lainnya?

Mereka mungkin tetap mengikuti banyak akun. Mereka melihat unggahan teman, membaca komentar, memperhatikan foto terbaru, bahkan mengetahui berbagai hal yang sedang terjadi di lingkaran sosialnya. Namun, ketika tiba waktunya untuk memberikan like, mereka justru memilih diam.

Bagi sebagian orang, perilaku seperti ini mungkin terlihat aneh. Bukankah jika seseorang menyukai sebuah unggahan, hal yang paling sederhana adalah menekan tombol like?

Namun, psikologi manusia tidak sesederhana itu.

Aktivitas seseorang di media sosial tidak selalu mencerminkan apa yang mereka rasakan secara langsung. Ada orang yang sangat aktif secara sosial di dunia nyata tetapi pasif di internet. Ada pula yang senang mengamati kehidupan orang lain tanpa merasa perlu menunjukkan keberadaannya.

Perilaku tersebut sering disebut sebagai passive social media use, yaitu menggunakan media sosial terutama untuk melihat, membaca, atau mengamati konten tanpa banyak melakukan interaksi.

Lantas, mengapa seseorang bisa menjadi pengamat yang aktif tetapi hampir tidak pernah memberikan like?

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (13/10), terdapat tujuh kemungkinan penjelasan psikologisnya.

1. Mereka Lebih Nyaman Menjadi Pengamat daripada Pusat Perhatian

Tidak semua orang memiliki kebutuhan yang sama untuk mengekspresikan diri.

Sebagian orang merasa nyaman ketika menjadi bagian dari percakapan, sementara sebagian lainnya lebih suka berdiri sedikit di belakang dan mengamati apa yang terjadi.

Dalam konteks media sosial, kecenderungan ini dapat terlihat dari kebiasaan membaca unggahan tanpa memberikan respons.

Orang seperti ini bukan berarti tidak tertarik dengan kehidupan orang lain. Justru sebaliknya, mereka mungkin sangat memperhatikan berbagai hal. Hanya saja, mereka tidak merasa perlu mengumumkan bahwa mereka sedang memperhatikan.

Bagi mereka, melihat sebuah unggahan sudah cukup.

Misalnya, seseorang mengunggah foto perjalanan. Orang yang memiliki kebiasaan menjadi pengamat mungkin melihat foto tersebut, membaca keterangan, memperhatikan tempat yang dikunjungi, kemudian melanjutkan scrolling tanpa memberikan like.

Bukan berarti mereka membenci orang tersebut.

Mereka mungkin hanya berpikir:

"Saya sudah melihatnya. Tidak harus selalu memberikan respons."

Dalam psikologi kepribadian, kecenderungan untuk lebih reflektif dan tidak terlalu mencari stimulasi sosial dapat membuat seseorang lebih nyaman dengan posisi sebagai pengamat.

Media sosial bahkan memberikan lingkungan yang sangat cocok bagi orang seperti ini. Mereka dapat mengetahui apa yang sedang terjadi tanpa harus terlibat langsung.

Mereka mendapatkan informasi sosial dengan "biaya sosial" yang rendah.

Tidak perlu membuka percakapan. Tidak perlu memikirkan respons. Tidak perlu mempertahankan interaksi.

Cukup melihat.

2. Mereka Tidak Ingin Memberikan Sinyal Sosial yang Bisa Disalahartikan

Satu hal yang sering dilupakan adalah bahwa like bukan sekadar tombol.

Dalam banyak situasi sosial, like dapat dianggap sebagai bentuk sinyal.

Memberikan like pada foto seseorang bisa ditafsirkan sebagai tanda menyukai konten tersebut. Tetapi dalam hubungan tertentu, tindakan sederhana itu bisa dianggap memiliki makna lain.

Terutama ketika melibatkan lawan jenis, mantan pasangan, teman kerja, orang yang baru dikenal, atau seseorang yang memiliki hubungan sosial yang rumit.

Karena itu, sebagian orang memilih berhati-hati.

Mereka mungkin sebenarnya menyukai sebuah unggahan, tetapi sengaja tidak memberikan like karena tidak ingin menimbulkan interpretasi tertentu.

Contohnya, seseorang melihat unggahan orang yang ia kenal tetapi tidak terlalu dekat. Ia berpikir bahwa memberikan like mungkin membuat orang tersebut bertanya-tanya:

"Kenapa dia selalu like postingan saya?"

Atau bahkan:

"Apakah dia tertarik kepada saya?"

Bagi orang yang sangat mempertimbangkan konsekuensi sosial dari tindakannya, menghindari like bisa menjadi cara untuk menghindari ambiguitas.

Ini berkaitan dengan bagaimana manusia mempertimbangkan norma sosial dan persepsi orang lain.

Media sosial memang menciptakan situasi unik: tindakan kecil dapat meninggalkan jejak yang terlihat oleh orang lain.

Seseorang mungkin tidak keberatan melihat sebuah unggahan, tetapi tidak ingin meninggalkan tanda bahwa ia telah memberikan perhatian.

Dengan kata lain, mereka memilih:

"Saya melihat, tetapi saya tidak perlu menunjukkan bahwa saya melihat."

3. Mereka Memiliki Kebiasaan Mengonsumsi Media Sosial Secara Pasif

Alasan ketiga mungkin jauh lebih sederhana: mereka memang terbiasa menggunakan media sosial sebagai tempat untuk mengonsumsi informasi, bukan berinteraksi.

Ada orang yang membuka media sosial untuk mengetahui berita teman, melihat tren, mencari inspirasi, atau sekadar mengisi waktu luang.

Tujuan mereka bukan untuk membangun percakapan.

Bayangkan media sosial seperti seseorang yang sedang membaca majalah.

Ketika membaca sebuah artikel yang menarik, seseorang tidak selalu merasa perlu menghubungi penulis artikel tersebut.

Hal yang sama dapat terjadi di media sosial.

Mereka melihat foto, membaca status, menonton video, lalu berpindah ke konten berikutnya.

Perilaku ini sering disebut sebagai lurking atau mengamati secara pasif.

Orang tersebut mungkin sebenarnya memiliki perhatian yang cukup tinggi terhadap lingkungan sosialnya. Mereka tahu siapa yang sedang bepergian, siapa yang menikah, siapa yang mendapatkan pekerjaan baru, atau siapa yang sedang memiliki hobi tertentu.

Namun, pengetahuan sosial tersebut tidak otomatis berubah menjadi interaksi.

Dalam kondisi seperti ini, tidak memberikan like bukan berarti tidak peduli.

Bisa jadi fungsi media sosial bagi mereka memang berbeda.

Bagi sebagian orang:

media sosial = tempat berinteraksi.

Bagi orang lain:

media sosial = tempat mengamati.

Perbedaan tujuan penggunaan ini penting karena kita sering membuat kesalahan dengan menganggap semua pengguna memiliki motivasi yang sama.

4. Mereka Tidak Merasa Perlu Menunjukkan Persetujuan atau Apresiasi Secara Publik

Ada orang yang sebenarnya menghargai sesuatu tetapi tidak terbiasa mengekspresikannya secara terbuka.

Misalnya, seseorang melihat temannya mendapatkan pekerjaan baru.

Ia merasa senang.

Ia bahkan mungkin benar-benar bangga.

Namun, ia tidak memberikan like atau komentar.

Mengapa?

Karena ekspresi apresiasi bukan kebiasaan komunikasinya.

Sebagian orang lebih nyaman menyampaikan sesuatu secara pribadi.

Mereka mungkin lebih memilih mengirim pesan langsung:

"Selamat ya, akhirnya dapat pekerjaan baru."

daripada memberikan like di depan banyak orang.

Ini menunjukkan bahwa perilaku digital tidak selalu identik dengan tingkat kepedulian.

Seseorang bisa sangat peduli tetapi memiliki gaya komunikasi yang minim ekspresi publik.

Dalam hubungan sosial, manusia memiliki preferensi yang berbeda mengenai bagaimana mereka menunjukkan perhatian. Ada yang verbal, ada yang melalui tindakan, ada yang melalui komunikasi pribadi, dan ada pula yang hampir tidak pernah mengekspresikannya secara digital.

Karena itu, jumlah like yang diberikan seseorang bukan ukuran yang sempurna untuk mengukur seberapa besar ia menghargai orang lain.

Seseorang yang tidak pernah memberikan like bisa saja memiliki perhatian yang jauh lebih besar daripada orang yang selalu memberikan like kepada semua orang.

5. Mereka Berusaha Menghindari Perbandingan Sosial dan Kelelahan Emosional

Media sosial sering membuat seseorang terus-menerus melihat kehidupan orang lain.

Teman sedang liburan.

Orang lain membeli rumah.

Seseorang mendapatkan promosi.

Teman menikah.

Orang lain menjalani gaya hidup yang terlihat sempurna.

Dalam psikologi, paparan terhadap kehidupan orang lain dapat berkaitan dengan social comparison, yaitu kecenderungan manusia membandingkan dirinya dengan orang lain.

Tidak semua orang merespons perbandingan sosial dengan cara yang sama.

Sebagian orang mungkin merasa termotivasi.

Sebagian lainnya merasa kurang percaya diri, iri, tertinggal, atau lelah.

Karena itu, ada orang yang memilih menjaga jarak emosional dari aktivitas media sosial.

Mereka tetap ingin mengetahui apa yang terjadi, tetapi tidak ingin terlalu terlibat.

Mereka melihat secukupnya, kemudian pergi.

Dalam kondisi tertentu, tidak memberikan like juga dapat menjadi bagian dari strategi menjaga jarak tersebut.

Misalnya, seseorang melihat foto pencapaian temannya. Ia mungkin merasa senang untuk temannya, tetapi pada saat yang sama muncul perasaan membandingkan dirinya sendiri.

Daripada terlibat lebih jauh, ia memilih hanya melihat dan kemudian menutup aplikasi.

Ini tidak berarti bahwa setiap orang yang tidak memberikan like sedang merasa iri.

Itu akan menjadi kesimpulan yang terlalu jauh.

Namun, secara psikologis, kebiasaan mengurangi keterlibatan dengan konten tertentu memang dapat menjadi salah satu cara seseorang mengatur respons emosionalnya terhadap media sosial.

6. Mereka Sangat Selektif dalam Memberikan "Like"

Ada pula orang yang memang memiliki standar tertentu sebelum memberikan like.

Mereka tidak suka menekan tombol like secara otomatis.

Jika sebuah unggahan benar-benar menarik, lucu, informatif, atau memiliki makna pribadi bagi mereka, barulah mereka memberikan respons.

Akibatnya, dari sudut pandang orang lain, mereka terlihat seperti seseorang yang "tidak pernah like".

Padahal sebenarnya mereka hanya sangat selektif.

Bayangkan dua orang melihat 100 unggahan.

Orang pertama memberikan like kepada 70 unggahan.

Orang kedua hanya memberikan like kepada 5 unggahan.

Bukan berarti orang pertama menyukai semuanya dan orang kedua tidak menyukai apa pun.

Mereka mungkin memiliki ambang yang berbeda untuk menunjukkan respons.

Hal ini juga berkaitan dengan kebiasaan pribadi.

Sebagian orang menganggap like sebagai respons yang tidak terlalu penting. Mereka hanya menekannya ketika benar-benar ingin memberikan penghargaan atau menunjukkan dukungan.

Dengan kata lain, bagi mereka:

like bukan kebiasaan otomatis, melainkan bentuk ekspresi yang sengaja diberikan.

Justru karena itu, ketika orang seperti ini akhirnya memberikan like, respons tersebut mungkin memiliki makna yang lebih spesifik bagi dirinya.

7. Mereka Menjaga Batas Privasi dan Tidak Ingin Terlalu Terlihat

Alasan terakhir berkaitan dengan privasi dan pengelolaan kehadiran digital.

Tidak semua orang ingin aktivitas mereka terlihat jelas.

Setiap like, komentar, atau interaksi dapat menjadi bagian dari jejak digital seseorang.

Ada pengguna yang sangat menyadari hal ini.

Mereka mungkin berpikir:

"Tidak semua orang perlu tahu apa yang saya sukai."

Atau:

"Saya tidak perlu meninggalkan jejak di setiap postingan yang saya lihat."

Bagi mereka, mengurangi interaksi publik adalah bentuk kontrol terhadap keberadaan digital.

Mereka tetap menggunakan media sosial, tetapi dengan keterlibatan yang lebih minimal.

Menariknya, seseorang dapat menjadi pengamat yang sangat aktif sekaligus memiliki jejak interaksi yang sangat sedikit.

Ia tahu banyak hal, tetapi orang lain tidak selalu tahu bahwa ia mengetahuinya.

Inilah salah satu karakteristik menarik dari media sosial: tingkat perhatian seseorang tidak selalu dapat dilihat dari tingkat interaksinya.

Orang yang paling sering memberikan like belum tentu orang yang paling memperhatikan.

Sebaliknya, orang yang hampir tidak pernah memberikan respons belum tentu tidak peduli.

Jadi, Apakah Orang yang Tidak Pernah Memberikan Like Berarti Tidak Suka kepada Kita?

Belum tentu.

Ini mungkin bagian yang paling penting untuk dipahami.

Manusia memiliki kecenderungan untuk mencari makna di balik perilaku sosial orang lain. Ketika seseorang selalu melihat tetapi tidak pernah memberikan like, kita mungkin mulai membuat cerita sendiri.

"Dia tidak suka saya."

"Dia sengaja mengabaikan saya."

"Dia mungkin iri."

"Dia sebenarnya memperhatikan saya."

Masalahnya, satu perilaku digital dapat memiliki banyak penjelasan.

Orang tersebut mungkin memang tidak tertarik.

Tetapi mungkin juga ia memang jarang memberikan like kepada siapa pun.

Mungkin ia hanya menjadi pengamat.

Mungkin ia menjaga privasi.

Mungkin ia lebih suka berkomunikasi secara pribadi.

Atau mungkin sesederhana karena ia melihat unggahan tersebut ketika sedang scrolling cepat dan tidak merasa perlu menekan tombol apa pun.

Karena itu, satu tanda digital sebaiknya tidak digunakan untuk membaca keseluruhan psikologi seseorang.

Kita perlu melihat pola yang lebih luas.

Bagaimana cara orang tersebut berkomunikasi secara langsung?

Apakah ia menunjukkan perhatian di dunia nyata?

Apakah ia merespons ketika diajak berbicara?

Apakah ia menghargai hubungan tersebut?

Apakah ia berinteraksi dengan orang lain atau memang pasif kepada semua orang?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih informatif dibandingkan sekadar menghitung berapa banyak like yang diberikan.

Media Sosial Tidak Selalu Mencerminkan Perasaan Seseorang

Salah satu kesalahan terbesar dalam menggunakan media sosial adalah menganggap perilaku digital sebagai cermin sempurna dari kondisi psikologis seseorang.

Padahal, media sosial hanyalah satu bagian kecil dari perilaku manusia.

Seseorang bisa sangat aktif memberikan like tetapi sebenarnya tidak memiliki hubungan dekat dengan orang yang diberinya like.

Sebaliknya, seseorang bisa tidak pernah memberikan like tetapi tetap sangat menghargai orang tersebut.

Ada juga orang yang sengaja memisahkan kehidupan digital dan kehidupan pribadinya.

Karena itu, kebiasaan hanya memantau media sosial tanpa memberikan like sebaiknya tidak langsung diberi label sebagai sesuatu yang negatif.

Dalam banyak kasus, perilaku tersebut mungkin merupakan kombinasi dari kepribadian, kebiasaan digital, preferensi komunikasi, kebutuhan privasi, dan cara seseorang mengelola perhatian serta energinya.

Kesimpulan

Sebagian orang menggunakan media sosial bukan untuk menunjukkan kehadiran mereka, melainkan untuk mengamati dunia sosial di sekitar mereka.

Mereka membaca, melihat, memperhatikan, dan menyerap informasi tanpa merasa harus meninggalkan jejak melalui like atau komentar.

Dari perspektif psikologi, terdapat berbagai kemungkinan yang dapat menjelaskan perilaku tersebut.

Mereka mungkin lebih nyaman menjadi pengamat, tidak ingin memberikan sinyal sosial yang ambigu, terbiasa menggunakan media sosial secara pasif, lebih suka menunjukkan apresiasi secara pribadi, sedang menjaga jarak dari perbandingan sosial, sangat selektif dalam memberikan like, atau memiliki perhatian yang tinggi terhadap privasi.

Namun, tidak ada satu alasan yang berlaku untuk semua orang.

Karena itu, jika seseorang hampir tidak pernah memberikan like kepada Anda, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa ia tidak menyukai Anda.

Diam di media sosial tidak selalu berarti tidak peduli.

Kadang-kadang, seseorang memang hanya ingin melihat tanpa terlibat.

Dan dalam dunia digital yang semakin dipenuhi oleh notifikasi, komentar, reaksi, dan tanda-tanda perhatian, memilih untuk menjadi pengamat yang tenang juga merupakan bentuk perilaku sosial yang menarik untuk dipahami.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore