Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 13 Oktober 2026 | 21.55 WIB

Bukan Selalu Pamer Harta, 7 Kebiasaan Kelas Atas Ini Bisa Bikin Salah Paham

perilaku dianggap normal oleh kelas atas tapi disebut sok-sokan oleh kelas sosial lain./Freepik/ freepik - Image

perilaku dianggap normal oleh kelas atas tapi disebut sok-sokan oleh kelas sosial lain./Freepik/ freepik

JawaPos.com – Cara seseorang menjalani kehidupan sehari-hari sering dipengaruhi oleh lingkungan tempat ia tumbuh dan bergaul. Hal yang dianggap lumrah oleh seseorang belum tentu memperoleh penilaian serupa ketika dilihat oleh orang dari latar belakang sosial yang berbeda.

Perbedaan tersebut dapat terlihat dalam kebiasaan berbicara, pilihan aktivitas, cara berpakaian, hingga bagaimana seseorang memperlakukan hubungan sosial. Bagi kalangan berada, beberapa perilaku mungkin sudah menjadi bagian dari rutinitas sejak kecil. Namun, bagi orang yang tidak terbiasa dengan lingkungan serupa, kebiasaan itu bisa terlihat berlebihan atau terkesan ingin menunjukkan status.

Meski demikian, tidak semua perilaku tersebut dilakukan dengan maksud memamerkan kekayaan. Sebagian muncul karena pengaruh keluarga, kebiasaan lingkungan, dan standar kehidupan yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.

Dilansir dari Geediting.com, terdapat tujuh perilaku yang dianggap biasa oleh sebagian kalangan kelas atas, tetapi berpotensi dinilai sok-sokan oleh orang-orang dari latar belakang sosial berbeda.

1. Menyebut Nama Tokoh Terkenal Seolah Sudah Akrab

Bagi sebagian orang yang memiliki jaringan pergaulan luas, membicarakan tokoh terkenal mungkin bukan sesuatu yang istimewa. Mereka bisa saja menceritakan pertemuan dengan pengusaha ternama, pejabat, atau figur publik tanpa merasa perlu menjelaskan identitas orang tersebut secara terperinci.

Kebiasaan ini dapat muncul karena mereka memang terbiasa berinteraksi dalam lingkungan yang mempertemukan banyak tokoh berpengaruh. Menyebut nama seseorang dalam percakapan terasa sama seperti membicarakan rekan kerja atau kenalan biasa.

Namun, bagi orang yang tidak berada dalam lingkungan tersebut, cara berbicara seperti ini bisa menimbulkan kesan bahwa seseorang sedang memamerkan koneksi. Terlebih jika nama tokoh terkenal terus-menerus disebut untuk memperkuat kesan bahwa dirinya memiliki pergaulan eksklusif.

Perbedaan penilaian tersebut menunjukkan bahwa konteks dan cara penyampaian turut menentukan bagaimana sebuah percakapan diterima oleh orang lain.

2. Menganggap Fasilitas Mewah sebagai Kebutuhan Sehari-hari

Standar kenyamanan setiap orang dapat berbeda bergantung pada kondisi ekonomi dan kebiasaan hidupnya. Bagi sebagian kalangan kaya, bepergian dengan pesawat kelas bisnis, menggunakan layanan pribadi, atau membeli pakaian dari merek premium mungkin sudah menjadi rutinitas.

Karena terbiasa menikmati fasilitas tersebut, mereka tidak selalu menganggapnya sebagai kemewahan yang perlu dibicarakan secara khusus. Hal-hal itu bisa dipandang sebagai bagian dari kebutuhan untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore