Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 12 Oktober 2026 | 21.42 WIB

Jika Ingin Membesarkan Anak Menjadi Orang yang Percaya Diri dan Mandiri, Lakukan 7 Cara Ini

seseorang yang membesarkan anak yang percaya diri dan mandiri / foto: Magnific/magnific

 

JawaPos.com - Setiap orang tua tentu ingin melihat anaknya tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mampu mengambil keputusan, tidak mudah menyerah, dan bisa mengurus dirinya sendiri.

Namun, anak yang percaya diri dan mandiri tidak muncul begitu saja ketika mereka beranjak dewasa.

Kemampuan tersebut dibentuk sedikit demi sedikit melalui pengalaman sehari-hari: bagaimana orang tua berbicara kepada mereka, bagaimana orang tua merespons kesalahan, seberapa banyak kesempatan yang diberikan untuk mencoba, bahkan bagaimana orang tua menghadapi kegagalan anak.

Menariknya, dalam psikologi perkembangan, rasa percaya diri dan kemandirian bukan berarti anak harus selalu bisa melakukan semuanya sendiri.

Anak yang sehat secara psikologis justru tahu kapan harus mencoba sendiri dan kapan harus meminta bantuan.

Karena itu, membesarkan anak yang mandiri bukan berarti membiarkannya menghadapi segala sesuatu sendirian. Sebaliknya, orang tua perlu menciptakan lingkungan yang cukup aman sehingga anak berani mencoba, gagal, belajar, lalu mencoba lagi.

Lantas, apa yang sebenarnya bisa dilakukan orang tua?

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (12/10), terdapat 7 cara yang dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan mandiri.

1. Berikan kesempatan kepada anak untuk melakukan sesuatu sendiri

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan orang tua adalah terlalu cepat membantu anak.

Anak baru mencoba memakai sepatu, orang tua langsung memasangkannya.

Anak sedang membereskan mainan, orang tua mengambil alih karena merasa pekerjaan anak terlalu lama.

Anak kesulitan mengerjakan sesuatu, orang tua langsung memberikan jawabannya.

Sekilas, tindakan tersebut terlihat sebagai bentuk kasih sayang.

Namun, jika terus dilakukan, anak bisa mendapatkan pesan yang tidak disadari:

“Aku tidak bisa melakukannya sendiri.”

Padahal, kemandirian berkembang ketika anak memiliki kesempatan untuk mengalami bahwa dirinya mampu melakukan sesuatu.

Karena itu, ketika anak sedang mencoba melakukan sesuatu, jangan langsung mengambil alih.

Berikan waktu.

Biarkan mereka mencoba.

Jika gagal, berikan bantuan secukupnya.

Misalnya, ketika anak kesulitan memakai baju, daripada langsung memakaikannya, orang tua bisa berkata:

“Coba kamu masukkan tanganmu ke bagian sini. Kalau masih kesulitan, Mama bantu.”

Kalimat sederhana seperti ini memberikan dua pesan sekaligus:

“Kamu dipercaya untuk mencoba” dan “Aku ada jika kamu membutuhkan bantuan.”

Inilah lingkungan yang sehat untuk membangun kemandirian.

Orang tua tidak perlu memilih antara membantu atau membiarkan anak sendirian.

Ada pilihan ketiga: mendampingi tanpa mengambil alih.

2. Puji usaha dan proses, bukan hanya hasil

Anak yang hanya mendapatkan pujian ketika berhasil dapat belajar bahwa dirinya berharga ketika menghasilkan sesuatu yang bagus.

Misalnya:

“Wah, kamu pintar sekali karena dapat nilai 100!”

Kalimat tersebut memang terdengar positif.

Namun, jika terlalu sering digunakan, anak dapat mengembangkan pola pikir bahwa kecerdasan atau kemampuan adalah sesuatu yang harus selalu dibuktikan.

Akibatnya, ketika menghadapi sesuatu yang sulit, ia mungkin takut mencoba karena takut terlihat tidak pintar.

Sebaliknya, orang tua dapat memberikan apresiasi terhadap usaha, strategi, keberanian mencoba, dan ketekunan.

Misalnya:

“Kelihatannya soal ini sulit, tapi kamu tetap mencoba.”

“Atau kamu tadi mencari cara lain ketika cara pertama belum berhasil.”

“Kamu belum berhasil sekarang, tapi kamu tidak menyerah.”

Pujian semacam ini membantu anak memahami bahwa kemampuan bukan sesuatu yang harus selalu sempurna.

Anak belajar bahwa kesalahan dan kesulitan merupakan bagian dari proses belajar.

Dan ini penting untuk kepercayaan diri.

Percaya diri bukan berarti selalu merasa bisa.

Percaya diri berarti memiliki keyakinan bahwa:

“Kalaupun aku belum bisa sekarang, aku bisa belajar.”

Ketika pola pikir seperti ini terbentuk sejak kecil, anak akan lebih berani menghadapi tantangan.

3. Jangan selalu menyelamatkan anak dari kegagalan

Sebagai orang tua, melihat anak kecewa tentu tidak mudah.

Ketika anak kalah dalam permainan, kita mungkin ingin mengatakan:

“Sudah, jangan sedih.”

Ketika anak gagal membuat sesuatu, kita ingin segera memperbaikinya.

Ketika anak mendapatkan hasil yang kurang baik, kita ingin mencari alasan agar ia tidak merasa buruk.

Keinginan tersebut sangat manusiawi.

Namun, anak juga perlu belajar bahwa kegagalan, kecewa, dan frustrasi adalah bagian dari kehidupan.

Jika setiap kali anak mengalami kesulitan orang tua langsung menghilangkan masalah tersebut, anak kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi ketidaknyamanan.

Bukan berarti orang tua harus bersikap keras.

Justru sebaliknya.

Orang tua dapat hadir secara emosional tanpa langsung menghilangkan masalah.

Misalnya, ketika anak kalah dalam pertandingan, daripada berkata:

“Tidak apa-apa, yang penting kamu hebat.”

Orang tua bisa mengatakan:

“Sepertinya kamu kecewa karena kalah, ya.”

Kemudian:

“Tidak apa-apa merasa kecewa. Menurutmu, apa yang bisa kamu coba lain kali?”

Dengan cara ini, anak belajar dua hal.

Pertama, emosinya boleh dirasakan.

Kedua, masalah bisa dipikirkan dan dicari solusinya.

Inilah salah satu fondasi penting dari kemandirian emosional.

Anak tidak selalu membutuhkan orang tua untuk menyelesaikan masalahnya.

Mereka membutuhkan orang tua yang membantu mereka belajar menyelesaikan masalah.

4. Libatkan anak dalam mengambil keputusan sederhana

Kemandirian sangat berkaitan dengan kemampuan mengambil keputusan.

Karena itu, anak perlu mendapatkan kesempatan untuk membuat pilihan yang sesuai dengan usianya.

Tidak harus keputusan besar.

Mulailah dari hal-hal sederhana.

Misalnya:

“Kamu mau memakai baju biru atau merah?”

“Mau membereskan mainan sebelum makan atau setelah makan?”

“Untuk bekal besok, kamu mau membawa pisang atau apel?”

Pilihan sederhana seperti ini membuat anak belajar bahwa pendapatnya memiliki tempat.

Namun, orang tua tetap perlu memberikan batas.

Kemandirian bukan berarti anak bebas menentukan semuanya.

Misalnya, orang tua bisa berkata:

“Besok kita harus bangun pagi. Kamu mau tidur sekarang atau lima menit lagi setelah membereskan mainan?”

Anak mendapatkan pilihan, tetapi batasnya tetap jelas.

Dalam perkembangan anak, kombinasi antara kehangatan dan batasan yang konsisten sangat penting.

Anak membutuhkan ruang untuk menentukan sesuatu, tetapi juga membutuhkan struktur agar merasa aman.

Semakin bertambah usia, ruang pengambilan keputusan tersebut dapat diperluas.

Anak kecil mungkin memilih pakaian.

Anak yang lebih besar dapat mulai mengatur jadwal belajarnya.

Remaja dapat dilibatkan dalam keputusan yang lebih kompleks dan belajar mempertimbangkan konsekuensi.

Dengan demikian, kemampuan mengambil keputusan berkembang secara bertahap.

5. Ajarkan anak bahwa kesalahan bukan berarti dirinya buruk

Salah satu sumber masalah kepercayaan diri pada anak adalah ketika kesalahan dianggap sebagai identitas.

Anak mendapat nilai rendah, lalu mendengar:

“Kamu memang malas.”

Anak memecahkan sesuatu, lalu disebut:

“Kamu ceroboh sekali.”

Anak lupa mengerjakan sesuatu, lalu diberi label:

“Kamu memang tidak bertanggung jawab.”

Masalahnya bukan hanya pada kata-kata tersebut.

Anak dapat mulai menyatukan perilakunya dengan identitas dirinya.

“Aku gagal” berubah menjadi:

“Aku adalah orang yang gagal.”

“Aku melakukan kesalahan” berubah menjadi:

“Aku anak yang bodoh.”

Karena itu, cobalah memisahkan perilaku dari identitas.

Daripada mengatakan:

“Kamu anak ceroboh.”

Cobalah:

“Tadi gelasnya jatuh. Yuk, kita bersihkan dan pikirkan bagaimana supaya lain kali lebih hati-hati.”

Daripada:

“Kamu malas belajar.”

Cobalah:

“Belakangan ini kamu kesulitan memulai belajar. Menurutmu apa yang membuatnya terasa berat?”

Fokus pada perilaku membuat anak memahami bahwa sesuatu yang salah masih bisa diperbaiki.

Ini memberikan ruang bagi anak untuk berkembang.

6. Dengarkan anak tanpa selalu menghakimi atau langsung memberi solusi

Anak yang merasa aman untuk berbicara kepada orang tuanya cenderung memiliki tempat untuk memproses pengalaman dan emosinya.

Sayangnya, terkadang orang tua terlalu cepat memberikan nasihat.

Anak berkata:

“Aku nggak punya teman.”

Orang tua menjawab:

“Makanya kamu harus lebih berani.”

Anak berkata:

“Aku takut presentasi.”

Orang tua menjawab:

“Jangan takut. Gampang kok.”

Anak berkata:

“Aku gagal.”

Orang tua menjawab:

“Ya sudah, coba lagi.”

Niatnya mungkin baik.

Namun, anak bisa merasa bahwa emosinya tidak benar-benar dipahami.

Kadang-kadang, sebelum memberikan solusi, anak hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

Cobalah merespons dengan:

“Sepertinya kamu benar-benar kecewa.”

“Apa yang paling membuat kamu takut?”

“Ceritakan kepada Ayah apa yang terjadi.”

“Menurutmu, apa yang bisa kita lakukan?”

Dengan memberikan ruang seperti ini, orang tua membantu anak mengenali emosinya sekaligus belajar menyelesaikan masalah.

Dan ketika anak merasa aman untuk berbicara tentang kegagalan, ketakutan, dan kesalahannya, ia tidak perlu membangun kepercayaan diri palsu.

Ia dapat menjadi dirinya sendiri.

7. Jadilah contoh, bukan hanya pemberi nasihat

Anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan orang tua.

Mereka juga belajar dari apa yang dilakukan orang tua setiap hari.

Jika orang tua ingin anak berani mencoba, tetapi setiap kesalahan selalu dimarahi, anak akan belajar bahwa kesalahan berbahaya.

Jika orang tua ingin anak mandiri, tetapi selalu mengambil alih segala sesuatu, anak akan belajar bahwa ia tidak perlu mencoba.

Jika orang tua ingin anak mampu mengelola emosi, tetapi orang tua sendiri selalu meledak ketika menghadapi masalah, anak akan belajar pola tersebut.

Karena itu, salah satu cara terbaik untuk mengajarkan kepercayaan diri dan kemandirian adalah mempraktikkannya di depan anak.

Misalnya, ketika orang tua melakukan kesalahan, katakan:

“Tadi Ayah salah. Ayah akan memperbaikinya.”

Ketika menghadapi sesuatu yang sulit:

“Ini cukup sulit, tapi Ayah akan coba pelan-pelan.”

Ketika membutuhkan bantuan:

“Kayaknya Ayah belum tahu caranya. Ayah akan bertanya kepada orang yang lebih tahu.”

Pesan yang diterima anak sangat kuat:

Orang dewasa juga bisa salah. Orang dewasa juga bisa kesulitan. Meminta bantuan bukan berarti lemah. Dan kesulitan bukan alasan untuk berhenti mencoba.

Anak akhirnya belajar bahwa percaya diri bukan berarti selalu yakin.

Percaya diri berarti berani menghadapi ketidakpastian.

Jadi, Seperti Apa Anak yang Benar-Benar Percaya Diri?

Anak yang percaya diri bukanlah anak yang selalu berani tampil di depan banyak orang.

Bukan pula anak yang selalu menang, selalu mendapatkan nilai tinggi, atau tidak pernah menangis.

Kepercayaan diri yang sehat terlihat dalam hal-hal yang jauh lebih sederhana.

Anak berani mencoba sesuatu yang baru.

Ia mampu mengatakan, “Aku belum bisa.”

Ia tidak merasa harus selalu sempurna.

Ia dapat menerima kritik tanpa langsung merasa dirinya tidak berharga.

Ia mampu meminta bantuan ketika memang membutuhkannya.

Ia dapat membuat pilihan sederhana.

Ia mampu mengakui kesalahan.

Dan yang paling penting, ia percaya bahwa dirinya tetap berharga meskipun sedang gagal.

Kemandirian Bukan Berarti Anak Tidak Membutuhkan Orang Tua

Ada satu hal penting yang sering disalahpahami.

Membesarkan anak mandiri bukan berarti membuat anak tidak membutuhkan orang tuanya.

Justru hubungan yang aman dengan orang tua dapat menjadi dasar bagi anak untuk berani menjelajahi dunia.

Anak perlu tahu:

“Aku boleh pergi mencoba sendiri, tetapi ada tempat yang aman untuk kembali.”

Karena itu, jangan merasa bersalah ketika anak masih membutuhkan pelukan, bantuan, atau dukungan.

Tujuannya bukan membuat anak secepat mungkin tidak membutuhkan orang tua.

Tujuannya adalah memberikan dukungan secara bertahap sampai anak memiliki kemampuan untuk melakukan semakin banyak hal sendiri.

Hari ini mungkin orang tua membantu anak memakai sepatu.

Besok anak mencoba sendiri.

Beberapa waktu kemudian, anak sudah bisa menyiapkan barang-barangnya tanpa diminta.

Begitulah kemandirian tumbuh.

Sedikit demi sedikit.

Pada Akhirnya, Anak Tidak Membutuhkan Orang Tua yang Sempurna

Tidak ada orang tua yang selalu sabar.

Tidak ada orang tua yang selalu mengatakan kalimat yang tepat.

Ada hari ketika kita terlalu lelah.

Ada hari ketika kita kehilangan kesabaran.

Ada saat ketika kita terlalu banyak membantu.

Dan itu manusiawi.

Yang penting bukan menjadi orang tua yang tidak pernah melakukan kesalahan.

Yang lebih penting adalah mampu memperbaiki hubungan setelah terjadi kesalahan.

Jika tadi kita membentak anak, kita bisa mengatakan:

“Maaf, tadi Ayah terlalu keras. Ayah sedang marah, tetapi seharusnya Ayah tidak membentakmu.”

Jika kita terlalu cepat mengambil alih:

“Tadi Mama langsung mengerjakan untukmu. Besok kita coba lagi, ya. Mama akan membiarkan kamu mencoba lebih dulu.”

Anak pun belajar sesuatu yang sangat berharga:

Hubungan dapat diperbaiki. Kesalahan dapat diperbaiki. Dan seseorang tidak harus sempurna untuk tetap menjadi pribadi yang berharga.

Pada akhirnya, membesarkan anak yang percaya diri dan mandiri bukanlah tentang membuat mereka selalu kuat.

Ini tentang memberikan mereka cukup rasa aman untuk mencoba menjadi kuat.

Berikan kesempatan untuk mencoba.

Berikan ruang untuk mengambil keputusan.

Biarkan mereka mengalami kegagalan yang aman.

Ajarkan mereka bahwa kesalahan bukan identitas.

Dengarkan mereka.

Dan yang paling penting, tunjukkan melalui tindakan bahwa Anda percaya pada kemampuan mereka.

Karena mungkin suatu hari nanti, ketika anak sudah dewasa dan menghadapi dunia tanpa Anda di sampingnya, hal yang paling ia butuhkan bukanlah ingatan tentang semua nasihat yang pernah diberikan.

Melainkan keyakinan yang telah tumbuh dalam dirinya:

“Aku mungkin belum tahu caranya, tetapi aku bisa belajar. Aku mungkin gagal, tetapi aku bisa mencoba lagi. Dan aku tahu kapan harus meminta bantuan.”

Itulah salah satu bentuk kepercayaan diri dan kemandirian yang paling sehat.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore