Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 12 Oktober 2026 | 21.25 WIB

6 Alasan Mengapa Kita Perlu Berbicara dengan Saudara-Saudara yang Lebih Tua di Keluarga

seseorang yang berbicara dengan saudara yang lebih tua / foto: Magnific/user31792867

 

JawaPos.com - Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, hubungan dengan keluarga sering kali menjadi sesuatu yang tanpa sadar kita abaikan. Kita mungkin masih tinggal serumah, saling mengikuti di media sosial, atau sesekali bertemu dalam acara keluarga. Namun, kedekatan secara fisik belum tentu berarti adanya kedekatan secara emosional.

Salah satu hubungan keluarga yang sering terabaikan adalah hubungan dengan saudara-saudara yang lebih tua. Mereka bisa berupa kakak, paman, bibi, sepupu yang lebih tua, atau anggota keluarga lain yang telah melewati lebih banyak fase kehidupan dibandingkan kita.

Padahal, berbicara dengan saudara yang lebih tua bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu. Dari sudut pandang psikologi, interaksi antargenerasi di dalam keluarga dapat memberikan berbagai manfaat emosional dan sosial. Percakapan sederhana tentang pengalaman hidup, pekerjaan, hubungan, kegagalan, maupun masa lalu keluarga dapat membantu seseorang memahami dirinya sendiri dan lingkungan sosialnya dengan lebih baik.

Tentu saja, bukan berarti semua saudara yang lebih tua selalu memiliki jawaban yang benar. Usia tidak otomatis membuat seseorang lebih bijaksana dalam segala hal. Namun, pengalaman hidup yang berbeda dapat memberikan perspektif yang mungkin belum pernah kita lihat sebelumnya.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (12/10), terdapat enam alasan mengapa kita perlu meluangkan waktu untuk berbicara dengan saudara-saudara yang lebih tua di keluarga menurut perspektif psikologi.

1. Kita Mendapatkan Perspektif dari Pengalaman Hidup yang Berbeda

Salah satu manfaat terbesar berbicara dengan orang yang lebih tua adalah kesempatan untuk melihat kehidupan dari perspektif yang berbeda.

Setiap manusia membentuk cara berpikir berdasarkan pengalaman yang dilaluinya. Seseorang yang telah menjalani kehidupan selama puluhan tahun tentu memiliki pengalaman menghadapi masalah, kehilangan, perubahan pekerjaan, konflik keluarga, hubungan, kegagalan, dan berbagai situasi lain yang mungkin belum pernah kita alami.

Dalam psikologi, pengalaman hidup berperan penting dalam pembentukan cara seseorang memahami suatu peristiwa. Dua orang dapat menghadapi masalah yang sama tetapi memberikan respons yang berbeda karena memiliki pengalaman dan cara menafsirkan situasi yang berbeda.

Karena itu, ketika kita sedang menghadapi masalah, berbicara dengan saudara yang lebih tua dapat membantu memperluas cara pandang.

Misalnya, seseorang berusia 25 tahun mungkin merasa bahwa kegagalan dalam pekerjaan merupakan akhir dari masa depannya. Kemudian ia berbicara dengan kakaknya yang berusia 40 tahun. Sang kakak menceritakan bahwa ia pernah kehilangan pekerjaan, mengalami masa sulit secara finansial, dan harus memulai kembali dari awal.

Cerita tersebut tidak otomatis menyelesaikan masalah. Namun, cerita itu dapat mengubah cara seseorang memandang kegagalan.

Ia mungkin mulai menyadari bahwa:

"Masalah yang saya hadapi sekarang memang berat, tetapi bukan berarti kehidupan saya akan selalu seperti ini."

Inilah salah satu fungsi penting percakapan dalam hubungan sosial. Kita tidak selalu membutuhkan orang lain untuk memberikan solusi. Kadang-kadang, kita hanya membutuhkan sudut pandang baru.

Saudara yang lebih tua dapat menjadi semacam "jendela" menuju pengalaman yang belum kita miliki.

Namun, tetap penting untuk menggunakan pertimbangan kritis. Pengalaman seseorang tidak selalu cocok diterapkan pada situasi kita. Dunia yang mereka hadapi ketika muda mungkin berbeda dengan dunia yang kita hadapi sekarang.

Jadi, tujuan berbicara dengan saudara yang lebih tua bukanlah menerima semua nasihat secara mentah, melainkan mendapatkan perspektif tambahan yang dapat kita pertimbangkan.

2. Percakapan Dapat Membantu Kita Merasa Tidak Sendirian

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Kita membutuhkan hubungan dengan orang lain, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan praktis, tetapi juga untuk mendapatkan rasa diterima dan dimengerti.

Ketika seseorang menghadapi masalah, salah satu hal yang sering memperberat beban psikologis adalah perasaan bahwa dirinya harus menghadapi semuanya sendirian.

Berbicara dengan saudara dapat mengurangi perasaan tersebut.

Menariknya, percakapan yang bermanfaat tidak selalu harus membahas masalah serius. Membicarakan pekerjaan, makanan, kenangan masa kecil, film, perjalanan, atau kejadian sehari-hari juga dapat memperkuat hubungan.

Yang membuatnya penting adalah adanya interaksi dan perhatian.

Ketika seseorang bertanya, "Bagaimana pekerjaanmu akhir-akhir ini?" atau "Kamu masih sering melakukan hobi itu?" sebenarnya ia sedang menunjukkan bahwa kehidupan kita diperhatikan.

Perasaan diperhatikan seperti ini memiliki nilai psikologis yang besar.

Dalam hubungan keluarga, komunikasi yang konsisten dapat membantu menciptakan rasa memiliki. Kita merasa bahwa ada kelompok sosial yang mengenal kita, mengetahui sebagian perjalanan hidup kita, dan dapat menjadi tempat untuk kembali ketika kehidupan terasa berat.

Hal ini menjadi semakin penting ketika seseorang memasuki masa dewasa.

Ketika masih kecil, kita biasanya secara alami bertemu dengan keluarga. Namun setelah dewasa, kesibukan pekerjaan, pasangan, tempat tinggal, dan berbagai tanggung jawab membuat interaksi tersebut berkurang.

Tanpa disadari, jarak emosional dapat terbentuk.

Karena itu, percakapan sederhana dengan saudara yang lebih tua dapat menjadi salah satu cara mempertahankan rasa keterhubungan tersebut.

Bukan berarti setiap percakapan harus menjadi sesi curhat.

Terkadang, duduk bersama sambil minum kopi dan membicarakan hal-hal sederhana sudah cukup untuk mengingatkan kita bahwa kita tidak hidup sendirian.

3. Kita Bisa Memahami Sejarah dan Identitas Keluarga dengan Lebih Baik

Saudara yang lebih tua sering kali menyimpan cerita keluarga yang tidak lagi diketahui oleh generasi yang lebih muda.

Mereka mungkin mengetahui bagaimana orang tua kita ketika masih muda, bagaimana keluarga menghadapi masa sulit, mengapa seseorang mengambil keputusan tertentu, atau bagaimana hubungan antaranggota keluarga terbentuk.

Cerita-cerita semacam ini bukan sekadar nostalgia.

Secara psikologis, pemahaman terhadap sejarah keluarga dapat membantu seseorang membangun rasa identitas.

Setiap manusia memiliki kebutuhan untuk memahami pertanyaan seperti:

Dari mana saya berasal?

Seperti apa kehidupan keluarga saya sebelum saya lahir?

Mengapa keluarga saya memiliki kebiasaan tertentu?

Mengapa hubungan antaranggota keluarga bisa seperti sekarang?

Nilai apa yang diwariskan dari generasi sebelumnya?

Percakapan dengan saudara yang lebih tua dapat membantu menjawab sebagian pertanyaan tersebut.

Bayangkan seorang anak muda mengetahui bahwa kakeknya dahulu bekerja keras membangun usaha kecil dari nol. Ia kemudian mengetahui bahwa orang tuanya pernah mengalami masa sulit sebelum akhirnya mampu membangun kehidupan yang lebih stabil.

Informasi tersebut dapat mengubah cara ia melihat keluarganya.

Ia mungkin menyadari bahwa kehidupan yang sekarang ia nikmati merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan banyak orang sebelum dirinya.

Kesadaran seperti itu dapat menumbuhkan rasa apresiasi dan keterhubungan dengan keluarga.

Selain itu, cerita keluarga juga dapat membantu kita memahami bahwa setiap keluarga memiliki perjalanan yang kompleks.

Orang tua bukan hanya "ayah" atau "ibu". Mereka juga pernah menjadi anak-anak, remaja, pekerja muda, pasangan, dan individu yang pernah membuat kesalahan.

Saudara yang lebih tua sering memiliki akses terhadap bagian cerita tersebut.

Dengan mendengarkannya, kita dapat melihat anggota keluarga bukan hanya berdasarkan perannya sekarang, tetapi juga sebagai manusia dengan perjalanan hidup yang panjang.

4. Kita Dapat Belajar dari Kesalahan Tanpa Harus Mengalaminya Sendiri

Salah satu keuntungan berbicara dengan orang yang lebih berpengalaman adalah kesempatan untuk belajar dari pengalaman mereka.

Tidak semua pembelajaran harus diperoleh melalui kesalahan pribadi.

Kita dapat belajar dari keberhasilan orang lain, tetapi kita juga dapat belajar dari kegagalan mereka.

Saudara yang lebih tua mungkin pernah membuat keputusan yang ternyata tidak berjalan sesuai rencana. Mereka mungkin pernah memilih pekerjaan yang salah, mengabaikan kesehatan, salah mengelola uang, mempertahankan hubungan yang tidak sehat, atau menunda sesuatu yang sebenarnya penting.

Cerita semacam ini dapat menjadi bahan refleksi.

Misalnya, seorang kakak mengatakan:

"Dulu saya terlalu takut mencoba karena takut gagal. Setelah beberapa tahun, justru saya menyesal karena tidak pernah mencoba."

Kalimat sederhana seperti itu dapat membuat adiknya berpikir mengenai kehidupannya sendiri.

Namun, manfaatnya bukan hanya pada isi nasihat tersebut. Proses mendengarkan pengalaman orang lain juga dapat membantu kita melakukan refleksi.

Kita dapat bertanya kepada diri sendiri:

"Apakah saya sedang melakukan kesalahan yang sama?"

"Apakah keputusan yang saya ambil sesuai dengan nilai yang saya miliki?"

"Apakah saya terlalu takut terhadap kegagalan?"

"Jika saya melihat kehidupan saya sepuluh tahun dari sekarang, apakah saya akan menyesali keputusan ini?"

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu dapat membantu seseorang mengambil keputusan dengan lebih sadar.

Tentu saja, pengalaman saudara yang lebih tua tidak harus menjadi aturan hidup bagi kita.

Generasi berbeda menghadapi kondisi sosial, ekonomi, teknologi, dan budaya yang berbeda. Apa yang berhasil bagi seseorang dua puluh tahun lalu belum tentu berhasil dengan cara yang sama sekarang.

Karena itu, dengarkan pengalaman mereka sebagai bahan pertimbangan, bukan sebagai perintah.

Kebijaksanaan sering kali muncul bukan karena seseorang memiliki semua jawaban, tetapi karena ia mampu menunjukkan kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya tidak kita pikirkan.

5. Hubungan Keluarga yang Terawat Dapat Menjadi Sumber Dukungan Emosional

Hubungan keluarga tidak otomatis dekat hanya karena memiliki hubungan darah.

Kedekatan membutuhkan komunikasi, perhatian, kepercayaan, dan waktu.

Inilah alasan mengapa berbicara secara rutin dengan saudara yang lebih tua dapat menjadi investasi emosional jangka panjang.

Bayangkan seseorang yang sejak muda jarang berkomunikasi dengan kakaknya. Mereka tidak memiliki konflik besar, tetapi juga tidak pernah benar-benar berbicara.

Bertahun-tahun kemudian, ketika salah satu menghadapi masalah serius, mereka mungkin merasa canggung untuk tiba-tiba meminta bantuan.

Sebaliknya, hubungan yang telah dirawat melalui percakapan-percakapan kecil cenderung memiliki dasar yang lebih kuat.

Mereka sudah mengetahui kehidupan masing-masing. Mereka sudah terbiasa berbicara. Mereka memiliki sejarah percakapan bersama.

Dengan kata lain, kedekatan emosional biasanya dibangun sedikit demi sedikit.

Tidak harus melalui percakapan besar.

Kadang-kadang hubungan dibangun melalui:

"Bagaimana kabarmu?"

"Sudah makan?"

"Bagaimana pekerjaan?"

"Kapan pulang?"

"Masih suka olahraga?"

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut mungkin terlihat sepele. Namun, jika dilakukan secara konsisten dan tulus, ia dapat menjadi bentuk perhatian.

Ketika suatu hari kita membutuhkan dukungan, hubungan tersebut sudah memiliki fondasi.

Ini juga berlaku sebaliknya.

Saudara yang lebih tua mungkin suatu hari membutuhkan teman bicara, terutama ketika menghadapi perubahan kehidupan, kehilangan, pensiun, perubahan peran dalam keluarga, atau masa transisi lainnya.

Maka, hubungan keluarga bukan hanya tentang apa yang bisa kita dapatkan dari orang lain. Ini juga tentang apa yang dapat kita berikan.

6. Berbicara dengan Saudara yang Lebih Tua Membantu Kita Memahami Bahwa Setiap Usia Memiliki Tantangannya Sendiri

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa semakin tua seseorang, semakin sedikit masalah yang mereka miliki.

Padahal, setiap tahap kehidupan memiliki tantangannya masing-masing.

Anak muda mungkin menghadapi tekanan pendidikan, pekerjaan, pencarian identitas, hubungan, dan masa depan.

Orang dewasa mungkin menghadapi tekanan pekerjaan, keluarga, keuangan, pengasuhan anak, atau tanggung jawab terhadap orang tua.

Orang yang lebih tua mungkin menghadapi perubahan kesehatan, kehilangan orang yang dicintai, pensiun, perubahan peran sosial, atau rasa kesepian.

Dengan berbicara kepada saudara yang lebih tua, kita dapat melihat bahwa kehidupan manusia selalu mengalami perubahan.

Kita mungkin mengira bahwa seseorang yang lebih tua "sudah mengetahui semuanya". Namun setelah berbicara dengannya, kita mungkin menemukan bahwa ia juga pernah takut, bingung, kecewa, dan tidak tahu harus mengambil keputusan apa.

Kesadaran ini dapat membuat hubungan keluarga menjadi lebih manusiawi.

Kita tidak lagi melihat kakak atau saudara yang lebih tua hanya sebagai orang yang harus memberikan nasihat.

Kita mulai melihat mereka sebagai manusia yang juga memiliki kerentanan.

Begitu pula sebaliknya, mereka dapat melihat kita bukan hanya sebagai "adik yang masih muda", tetapi sebagai individu dewasa dengan persoalan dan pandangan sendiri.

Di sinilah komunikasi dua arah menjadi penting.

Hubungan yang sehat bukan hubungan di mana satu orang selalu menjadi guru dan yang lain selalu menjadi murid.

Hubungan yang sehat memungkinkan kedua pihak saling belajar.

Bukan Berarti Semua Nasihat dari Saudara yang Lebih Tua Harus Diikuti

Meskipun berbicara dengan saudara yang lebih tua memiliki banyak manfaat, kita tetap perlu memberikan batasan yang sehat.

Usia dan pengalaman tidak selalu berarti seseorang benar.

Setiap orang memiliki bias, nilai, pengalaman traumatis, keterbatasan informasi, dan cara berpikir masing-masing.

Karena itu, kita perlu membedakan antara "mendengarkan" dan "harus mengikuti".

Kita dapat menghargai cerita seorang kakak tanpa harus mengambil keputusan yang sama.

Kita dapat memahami pengalaman seorang paman tanpa harus menyetujui semua pandangannya.

Kita dapat menghargai generasi sebelumnya tanpa menganggap semua kebiasaan masa lalu harus dipertahankan.

Komunikasi keluarga yang sehat justru memungkinkan adanya perbedaan pendapat.

Yang penting adalah bagaimana perbedaan tersebut dibicarakan.

Jika sebuah percakapan membuat seseorang merasa direndahkan, dikontrol, atau terus-menerus dihakimi, maka menjaga batasan emosional juga penting.

Berbicara dengan keluarga bukan berarti kita harus mengorbankan kesehatan psikologis sendiri.

Bagaimana Memulai Percakapan dengan Saudara yang Lebih Tua?

Bagi sebagian orang, memulai percakapan mungkin terasa canggung, terutama jika selama ini hubungan tidak terlalu dekat.

Tidak perlu langsung membicarakan topik yang sangat serius.

Mulailah dengan sesuatu yang sederhana.

Misalnya:

"Belakangan pekerjaan bagaimana?"

"Dulu waktu seumuranku, kamu sedang sibuk apa?"

"Menurutmu, apa keputusan yang paling banyak mengubah hidupmu?"

"Apa hal yang dulu kamu pikir penting, tapi sekarang ternyata tidak terlalu penting?"

"Kalau bisa kembali ke usia 25 tahun, apa yang ingin kamu lakukan secara berbeda?"

Pertanyaan semacam ini dapat membuka percakapan yang lebih dalam.

Yang terpenting bukan hanya bertanya, tetapi juga mendengarkan.

Jangan buru-buru membandingkan pengalaman mereka dengan pengalaman kita.

Jangan langsung mengatakan bahwa pilihan mereka salah.

Biarkan mereka bercerita.

Sering kali, orang akan membuka diri ketika merasa bahwa ceritanya benar-benar didengarkan.

Pada Akhirnya, yang Kita Bangun Bukan Sekadar Percakapan

Berbicara dengan saudara yang lebih tua mungkin tampak seperti kegiatan kecil.

Hanya beberapa menit melalui telepon.

Secangkir kopi bersama.

Percakapan saat berkumpul.

Pesan singkat untuk menanyakan kabar.

Namun hubungan manusia sering kali dibangun justru dari hal-hal kecil yang dilakukan berulang kali.

Kita tidak pernah tahu berapa banyak waktu yang masih kita miliki bersama anggota keluarga.

Orang-orang yang sekarang dapat kita hubungi mungkin suatu hari tidak lagi berada di sisi kita.

Karena itu, menjaga komunikasi bukan hanya tentang mencari nasihat atau mendapatkan bantuan ketika menghadapi masalah.

Ini juga tentang mengenal manusia yang memiliki sejarah bersama kita.

Saudara yang lebih tua membawa pengalaman yang tidak dapat kita peroleh dari buku. Mereka memiliki cerita tentang keluarga, masa lalu, keputusan, kegagalan, perubahan zaman, dan perjalanan hidup yang mungkin suatu hari akan menjadi bagian dari sejarah kita sendiri.

Dari sudut pandang psikologi, hubungan sosial yang bermakna dapat menjadi bagian penting dari kesejahteraan emosional. Dan keluarga, ketika hubungan di dalamnya sehat, dapat menjadi salah satu sumber rasa terhubung dan dukungan yang berharga.

Jadi, mungkin sesekali kita tidak perlu menunggu ada masalah untuk menghubungi saudara.

Tidak perlu menunggu hari raya.

Tidak perlu menunggu acara keluarga.

Tidak perlu menunggu mereka menghubungi lebih dulu.

Cukup tanyakan:

"Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?"

Mungkin percakapan itu hanya berlangsung sepuluh menit.

Tetapi bisa jadi, sepuluh menit tersebut adalah bagian kecil dari hubungan yang kelak kita syukuri pernah kita rawat.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore