Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 12 Oktober 2026 | 21.21 WIB

6 Alasan Mengapa Work-Life Balance Itu Mitos dan Apa yang Sebaiknya Dilakukan Menurut Psikologi

seseorang yang melakukan work-life balance / foto: Magnific/yanalya

 

JawaPos.com - Kita sering mendengar nasihat seperti, “Kamu harus punya work-life balance.”

Seolah-olah kehidupan yang ideal adalah kehidupan di mana pekerjaan berada di satu sisi timbangan, kehidupan pribadi di sisi lainnya, lalu keduanya selalu berada dalam posisi yang sama berat.

Bekerja delapan jam, berolahraga satu jam, menghabiskan waktu bersama keluarga, bersosialisasi dengan teman, memiliki hobi, tidur delapan jam, membaca buku, merawat diri, dan tetap punya waktu untuk sekadar duduk diam menikmati hidup.

Kedengarannya sempurna.

Masalahnya, kehidupan manusia tidak berjalan seperti itu.

Ada periode ketika pekerjaan memang membutuhkan perhatian lebih besar. Ada masa ketika keluarga membutuhkan kita. Ada saat ketika kesehatan harus menjadi prioritas utama. Ada fase ketika kita sedang membangun karier, membesarkan anak, menyelesaikan pendidikan, merawat orang tua, atau menghadapi perubahan besar dalam hidup.

Karena itu, mungkin persoalannya bukan bahwa kita gagal mencapai work-life balance.

Mungkin standar keseimbangannya yang sejak awal terlalu sederhana.

Dalam psikologi, kehidupan yang sehat tidak selalu berarti setiap bagian hidup mendapatkan porsi waktu yang sama. Yang lebih penting adalah apakah seseorang mampu mengelola tuntutan, menjaga sumber daya psikologis, memiliki waktu pemulihan, dan menjalani hidup yang sesuai dengan nilai serta kebutuhannya.

Dengan kata lain, daripada mengejar keseimbangan sempurna, kita mungkin perlu belajar menciptakan kehidupan yang berkelanjutan.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (12/10), terdapat enam alasan mengapa konsep work-life balance sering menjadi mitos—dan apa yang sebaiknya dilakukan sebagai gantinya.

1. Hidup Tidak Pernah Berjalan Dalam Kondisi yang Seimbang

Masalah pertama dengan konsep work-life balance adalah asumsi bahwa kehidupan seharusnya selalu berada dalam keadaan seimbang.

Padahal, kehidupan manusia bersifat dinamis.

Bayangkan seseorang yang baru memulai bisnis.

Pada tahun pertama, mungkin ia harus bekerja lebih lama. Waktu bersama teman berkurang. Akhir pekan tidak selalu benar-benar bebas. Fokusnya lebih banyak tercurah pada pekerjaan.

Apakah itu otomatis berarti hidupnya tidak sehat?

Belum tentu.

Bandingkan dengan seseorang yang bekerja 40 jam seminggu, tetapi setiap hari merasa pekerjaannya tidak bermakna, terus-menerus cemas, tidak mendapatkan waktu pemulihan, dan merasa terjebak.

Secara matematis, hidup orang kedua mungkin terlihat lebih “seimbang”.

Namun secara psikologis, belum tentu lebih sehat.

Ini menunjukkan sesuatu yang penting:

Kesehatan psikologis tidak bisa diukur hanya dari pembagian waktu.

Dalam kehidupan nyata, prioritas berubah sesuai dengan fase kehidupan.

Ketika seseorang sedang mengejar pendidikan, belajar mungkin mendapatkan porsi lebih besar.

Ketika memiliki bayi, keluarga bisa menjadi pusat perhatian.

Ketika sedang mengalami masalah kesehatan, pemulihan mungkin menjadi prioritas.

Ketika mendapatkan kesempatan karier yang sangat penting, pekerjaan mungkin untuk sementara mengambil lebih banyak energi.

Yang menjadi masalah bukanlah ketidakseimbangan sementara.

Yang menjadi masalah adalah ketika ketidakseimbangan tersebut menjadi kronis, tidak terkendali, dan menguras kemampuan seseorang untuk pulih.

Jadi, kita tidak perlu bertanya:

“Apakah hidup saya sudah seimbang?”

Pertanyaan yang lebih berguna adalah:

“Apakah cara saya menjalani hidup saat ini masih bisa saya pertahankan dalam jangka panjang?”

Ini adalah perbedaan besar.

Karena hidup yang sehat tidak harus terlihat seimbang setiap hari.

Ia harus berkelanjutan dalam jangka panjang.

2. Kita Tidak Bisa Memisahkan “Work” dan “Life” Sepenuhnya

Istilah work-life balance juga memberi kesan bahwa pekerjaan dan kehidupan pribadi adalah dua dunia yang terpisah.

Di dunia nyata, batasnya sering jauh lebih kabur.

Ketika mengalami konflik dengan atasan, kita mungkin membawa stres itu pulang.

Ketika memiliki masalah keluarga, konsentrasi di kantor bisa menurun.

Ketika mendapatkan promosi, kita mungkin pulang dengan perasaan bahagia.

Ketika pekerjaan memberikan rasa pencapaian, kepercayaan diri kita di luar pekerjaan juga bisa meningkat.

Artinya, pekerjaan tidak hanya tinggal di kantor.

Begitu pula kehidupan pribadi tidak selalu berhenti ketika kita masuk ke tempat kerja.

Psikologi mengenal fenomena spillover, yaitu ketika pengalaman dalam satu domain kehidupan memengaruhi domain lainnya.

Stres pekerjaan dapat terbawa ke rumah.

Kepuasan dalam pekerjaan dapat meningkatkan suasana hati.

Masalah keluarga dapat mengurangi energi untuk bekerja.

Sebaliknya, hubungan sosial yang sehat dapat membantu seseorang menghadapi tekanan pekerjaan.

Jadi, membayangkan bahwa kita dapat membuat tembok sempurna antara pekerjaan dan kehidupan pribadi sering kali tidak realistis.

Yang lebih masuk akal adalah belajar mengelola hubungan antara keduanya.

Misalnya:

tidak memeriksa email pekerjaan sebelum tidur;

membuat ritual transisi setelah bekerja;

berjalan kaki atau mandi sebelum masuk ke rutinitas rumah;

tidak membawa konflik kantor langsung ke interaksi dengan pasangan;

menyediakan waktu tertentu tanpa perangkat kerja;

dan belajar mengenali kapan stres pekerjaan mulai memengaruhi kehidupan pribadi.

Tujuannya bukan membuat pekerjaan dan kehidupan pribadi benar-benar terpisah.

Tujuannya adalah mencegah satu bagian kehidupan mengambil alih seluruh sistem psikologis kita.

3. “Seimbang” Tidak Berarti Semua Hal Harus Mendapatkan Waktu yang Sama

Ini mungkin salah satu kesalahpahaman terbesar.

Banyak orang mengartikan balance sebagai pembagian waktu yang sama.

Misalnya:

8 jam bekerja + 8 jam tidur + 8 jam untuk kehidupan pribadi.

Secara teori terlihat indah.

Namun manusia tidak hidup dalam spreadsheet.

Kebutuhan kita berbeda-beda.

Ada orang yang membutuhkan lebih banyak waktu sendirian untuk memulihkan energi.

Ada yang merasa lebih hidup ketika bersosialisasi.

Ada orang yang sangat menikmati pekerjaannya sehingga bekerja sedikit lebih lama tidak selalu terasa sebagai beban.

Ada orang lain yang membutuhkan batas kerja yang sangat ketat karena pekerjaan menguras energinya.

Karena itu, ukuran yang lebih penting bukan:

“Berapa jam saya memberikan kepada masing-masing aspek hidup?”

Melainkan:

“Apakah hidup saya menyediakan cukup ruang untuk hal-hal yang benar-benar penting bagi saya?”

Dalam psikologi positif dan penelitian tentang kesejahteraan, kualitas pengalaman jauh lebih kompleks daripada sekadar jumlah waktu.

Satu jam berkualitas bersama keluarga dapat terasa lebih bermakna daripada lima jam bersama keluarga sambil terus memeriksa ponsel.

Dua puluh menit olahraga yang konsisten mungkin lebih realistis dan bermanfaat daripada rencana olahraga dua jam yang hanya bertahan selama satu minggu.

Begitu juga dengan pekerjaan.

Delapan jam bekerja dengan fokus dan batas yang jelas bisa lebih sehat daripada sepuluh jam bekerja sambil terus merasa bersalah, terdistraksi, dan tidak pernah benar-benar selesai.

Jadi, jangan hanya mengejar kuantitas waktu.

Perhatikan juga:

kualitas perhatian;

energi;

makna;

kepuasan;

pemulihan;

dan apakah aktivitas tersebut sesuai dengan nilai pribadi.

Karena waktu yang banyak tidak selalu berarti kehidupan yang berkualitas.

4. Obsesi Terhadap Balance Justru Bisa Menjadi Sumber Stres

Ini bagian yang ironis.

Kita mengejar work-life balance agar lebih sehat.

Namun dalam prosesnya, kita justru bisa menjadi lebih stres.

Kita mulai membuat daftar:

“Harus olahraga.”

“Harus tidur delapan jam.”

“Harus punya waktu untuk pasangan.”

“Harus membaca.”

“Harus punya hobi.”

“Harus produktif.”

“Harus bekerja maksimal.”

“Harus punya kehidupan sosial.”

Akhirnya, kehidupan pribadi berubah menjadi proyek produktivitas lain.

Bahkan waktu istirahat pun terasa seperti sesuatu yang harus “dioptimalkan”.

Kita tidak lagi beristirahat karena membutuhkan istirahat.

Kita beristirahat karena merasa seharusnya beristirahat.

Ini dapat menciptakan tekanan psikologis baru.

Masalahnya bukan pada olahraga, tidur, hubungan sosial, atau hobi. Semua itu dapat sangat bermanfaat.

Masalah muncul ketika semuanya berubah menjadi standar yang harus dipenuhi secara sempurna.

Kita akhirnya bukan hanya mengalami stres karena pekerjaan.

Kita juga mengalami stres karena merasa gagal menjalani kehidupan dengan benar.

Ini berkaitan dengan kecenderungan perfeksionistik.

Orang yang memiliki standar sangat tinggi terhadap dirinya sendiri dapat mengubah hampir semua aspek kehidupan menjadi target yang harus dicapai.

Bahkan kebahagiaan bisa berubah menjadi tugas.

“Kenapa saya belum bahagia?”

“Kenapa saya belum punya keseimbangan?”

“Kenapa orang lain bisa mengatur waktunya sedangkan saya tidak?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat memperkuat rasa bersalah.

Padahal, kehidupan tidak perlu dijalani dengan sempurna untuk menjadi kehidupan yang baik.

Terkadang kita membutuhkan prinsip yang lebih sederhana:

Cukup baik lebih berkelanjutan daripada sempurna.

Tidak setiap minggu harus produktif.

Tidak setiap hari harus seimbang.

Tidak semua target harus tercapai sekaligus.

Ada hari ketika pekerjaan berantakan.

Ada hari ketika rumah berantakan.

Ada hari ketika kita hanya ingin tidur.

Dan itu tidak otomatis berarti kita gagal.

5. Yang Sebenarnya Kita Butuhkan Bukan Balance, Melainkan Recovery

Salah satu hal yang sering hilang dalam pembicaraan tentang work-life balance adalah pemulihan.

Padahal, tubuh dan pikiran tidak hanya membutuhkan waktu di luar pekerjaan.

Kita membutuhkan waktu untuk benar-benar pulih dari tuntutan.

Ada perbedaan antara:

tidak bekerja

dan

pulih dari pekerjaan.

Misalnya, seseorang berhenti bekerja pukul 18.00.

Tetapi setelah itu ia menghabiskan tiga jam memikirkan deadline besok.

Secara fisik ia tidak sedang bekerja.

Namun secara psikologis, pekerjaannya masih aktif.

Sebaliknya, seseorang mungkin hanya memiliki waktu luang satu jam, tetapi benar-benar hadir di dalam aktivitas tersebut. Ia berjalan, berbicara dengan orang yang disayanginya, melakukan sesuatu yang menyenangkan, atau sekadar menikmati ketenangan.

Secara psikologis, satu jam itu mungkin jauh lebih restoratif.

Karena itu, kita perlu memikirkan empat bentuk pemulihan.

1. Psychological detachment

Kemampuan untuk benar-benar melepaskan diri secara mental dari pekerjaan.

Bukan hanya menutup laptop, tetapi berhenti memikirkan pekerjaan untuk sementara.

2. Relaxation

Aktivitas yang menurunkan ketegangan psikologis.

Misalnya membaca, mandi, berjalan santai, mendengarkan musik, atau melakukan sesuatu yang menenangkan.

3. Mastery

Melakukan aktivitas di luar pekerjaan yang memberikan pengalaman belajar dan berkembang.

Contohnya memasak, belajar bahasa, bermain musik, atau olahraga.

4. Autonomy

Memiliki kebebasan menentukan bagaimana menggunakan waktu pribadi.

Ini penting.

Waktu luang yang dipenuhi kewajiban belum tentu terasa sebagai waktu pemulihan.

Karena itu, daripada hanya bertanya:

“Berapa banyak waktu yang saya punya setelah bekerja?”

Cobalah bertanya:

“Apakah waktu setelah bekerja benar-benar membuat saya pulih?”

Itu pertanyaan yang jauh lebih berguna.

6. Masalah Terbesar Bukan Ketidakseimbangan, tetapi Ketidakmampuan Mengatur Batas

Pada akhirnya, work-life balance sering kali bukan persoalan membagi waktu secara matematis.

Persoalannya adalah batas.

Batas antara pekerjaan dan waktu pribadi.

Batas antara tanggung jawab dan kapasitas.

Batas antara membantu orang lain dan mengorbankan diri sendiri.

Batas antara ambisi dan kelelahan.

Batas antara “ini penting” dan “ini hanya terasa mendesak”.

Tanpa batas, hampir selalu ada sesuatu yang akan mengambil lebih banyak waktu.

Pekerjaan selalu bisa memberikan tugas tambahan.

Email selalu bisa diperiksa.

Notifikasi selalu bisa dibuka.

Proyek selalu bisa dibuat lebih sempurna.

Orang lain selalu bisa meminta bantuan.

Karena itu, salah satu keterampilan psikologis yang penting adalah kemampuan mengatakan:

“Cukup untuk hari ini.”

Bukan karena kita malas.

Tetapi karena manusia memiliki kapasitas terbatas.

Energi mental, perhatian, dan kemampuan regulasi emosi tidak tidak terbatas.

Ketika kita terus memaksa diri melewati batas tersebut, kualitas keputusan dapat menurun, emosi menjadi lebih mudah tersulut, dan kemampuan menikmati kehidupan dapat berkurang.

Maka, work-life balance seharusnya tidak hanya berbicara tentang bagaimana mendapatkan lebih banyak waktu.

Kita juga perlu belajar melindungi waktu yang sudah kita miliki.

Lalu, Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

Jika work-life balance bukan target yang harus dicapai setiap hari, lalu apa alternatifnya?

Salah satu pendekatan yang lebih realistis adalah mengganti konsep balance dengan konsep alignment, boundaries, dan recovery.

Dengan kata lain:

Selaraskan hidup dengan nilai → buat batas → pulihkan energi → evaluasi secara berkala.

Berikut cara praktis menerapkannya.

1. Tentukan Apa yang Benar-Benar Penting

Tidak semua hal memiliki nilai yang sama.

Tanyakan kepada diri sendiri:

Apa yang paling penting bagi saya?

Orang seperti apa yang ingin saya menjadi?

Apa yang ingin saya pertahankan dalam hidup saya?

Jika pekerjaan sedang sangat sibuk, apa yang tetap tidak boleh hilang?

Jika saya mendapatkan lebih banyak uang tetapi kehilangan hal tersebut, apakah saya masih menginginkannya?

Jawaban terhadap pertanyaan ini membantu menentukan prioritas.

Karena tanpa mengetahui apa yang penting, kita akan mudah menganggap semua hal penting.

Dan ketika semuanya penting, akhirnya tidak ada yang benar-benar menjadi prioritas.

2. Gunakan Konsep “Minimum yang Bisa Dipertahankan”

Daripada membuat rutinitas ideal, buatlah standar minimum.

Misalnya:

Tidur: minimal tujuh jam ketika memungkinkan.

Olahraga: minimal 20–30 menit beberapa kali seminggu.

Keluarga: satu waktu makan bersama tanpa ponsel.

Teman: menghubungi satu atau dua orang secara rutin.

Hobi: menyediakan waktu meskipun hanya satu jam.

Tujuannya bukan menjadi manusia super.

Tujuannya menciptakan sistem yang masih bisa berjalan bahkan ketika hidup sedang kacau.

Karena kebiasaan yang sederhana tetapi konsisten sering lebih berguna daripada rutinitas sempurna yang hanya bertahan dua minggu.

3. Bedakan “Urgent” dan “Important”

Salah satu penyebab kita merasa hidup tidak pernah cukup adalah karena semua hal terasa mendesak.

Pesan masuk terasa mendesak.

Email terasa mendesak.

Permintaan orang lain terasa mendesak.

Deadline terasa mendesak.

Tetapi sesuatu yang mendesak belum tentu penting.

Cobalah membuat dua kategori:

Penting dan mendesak

Kerjakan segera.

Penting tetapi tidak mendesak

Jadwalkan.

Tidak penting tetapi mendesak

Jika memungkinkan, delegasikan atau batasi.

Tidak penting dan tidak mendesak

Kurangi atau hilangkan.

Ini sederhana, tetapi dapat membantu kita mengambil kembali kendali atas perhatian.

4. Buat Ritual Transisi dari Kerja ke Kehidupan Pribadi

Karena pekerjaan dan kehidupan pribadi saling memengaruhi, kita membutuhkan “jembatan” di antara keduanya.

Misalnya, setelah selesai bekerja:

tutup laptop;

tulis tiga tugas utama untuk besok;

rapikan meja;

berjalan selama 10–15 menit;

mandi;

berganti pakaian;

lalu mulai aktivitas pribadi.

Ritual seperti ini memberikan sinyal kepada otak:

“Pekerjaan untuk hari ini selesai.”

Ini membantu menciptakan psychological detachment.

Anda tidak harus langsung merasa santai.

Yang penting adalah menciptakan transisi yang konsisten.

5. Berhenti Mengukur Kehidupan Hanya dengan Produktivitas

Tidak semua aktivitas harus menghasilkan sesuatu.

Anda tidak harus membaca buku untuk menjadi lebih pintar.

Tidak harus olahraga untuk menjadi lebih produktif.

Tidak harus bertemu teman untuk membangun jaringan.

Tidak harus pergi liburan agar bisa memposting foto.

Terkadang melakukan sesuatu karena menyenangkan sudah cukup.

Manusia bukan mesin produksi.

Nilai kehidupan tidak hanya berasal dari berapa banyak hal yang berhasil kita selesaikan.

Ada nilai dalam hubungan.

Ada nilai dalam pengalaman.

Ada nilai dalam istirahat.

Ada nilai dalam bermain.

Ada nilai dalam menikmati sesuatu yang tidak memiliki tujuan praktis.

6. Evaluasi Hidup Secara Mingguan, Bukan Setiap Jam

Jika kita mengevaluasi hidup setiap hari, kita mudah panik.

Hari Senin terlalu banyak bekerja.

Hari Selasa kurang olahraga.

Hari Rabu tidak sempat bertemu keluarga.

Hari Kamis tidur terlambat.

Lalu kita menyimpulkan:

“Work-life balance saya gagal.”

Padahal, satu hari tidak bisa menggambarkan kehidupan secara keseluruhan.

Lebih baik melihat pola dalam rentang waktu yang lebih panjang.

Setiap akhir minggu, tanyakan:

Apa yang menguras energi saya?

Apa yang memberikan energi?

Apakah saya cukup tidur?

Apakah saya memiliki waktu untuk orang-orang yang penting?

Apakah pekerjaan mulai mengambil terlalu banyak ruang?

Apa satu hal yang bisa saya ubah minggu depan?

Tidak perlu mengubah semuanya.

Satu perubahan kecil yang konsisten sering lebih berharga daripada sepuluh perubahan yang tidak bertahan.

Jangan Mengejar “Balance”, Kejar Kehidupan yang Berkelanjutan

Pada akhirnya, mungkin work-life balance bukanlah konsep yang sepenuhnya salah.

Yang bermasalah adalah ketika kita mengartikannya sebagai kondisi ideal di mana setiap aspek kehidupan selalu mendapatkan porsi yang sama.

Kehidupan manusia tidak seperti timbangan.

Ia lebih mirip ekosistem.

Ada musim untuk bekerja keras.

Ada musim untuk beristirahat.

Ada masa untuk mengejar sesuatu.

Ada masa untuk melepaskan sesuatu.

Ada periode ketika karier menjadi prioritas.

Ada periode ketika keluarga membutuhkan lebih banyak perhatian.

Ada saat ketika kita mampu melakukan banyak hal.

Ada saat ketika kemampuan kita turun dan kita hanya perlu bertahan.

Itu semua bagian dari kehidupan.

Karena itu, pertanyaan yang lebih sehat bukan:

“Apakah hidup saya sudah seimbang?”

Tetapi:

“Apakah cara saya menjalani hidup ini selaras dengan nilai saya, memiliki batas yang sehat, dan masih memungkinkan saya untuk pulih?”

Jika jawabannya ya, mungkin Anda tidak membutuhkan work-life balance yang sempurna.

Anda membutuhkan kehidupan yang cukup fleksibel untuk berubah, tetapi cukup terstruktur untuk tidak menghabiskan diri sendiri.

Dan mungkin itulah bentuk keseimbangan yang lebih realistis.

Bukan keseimbangan setiap hari.

Bukan pembagian waktu 50:50.

Bukan kehidupan tanpa stres.

Melainkan kemampuan untuk mengetahui kapan harus maju, kapan harus berhenti, kapan harus mengatakan tidak, dan kapan harus memberi sesuatu yang penting lebih banyak ruang.

Karena tujuan akhirnya bukan memiliki hidup yang terlihat seimbang dari luar.

Tujuannya adalah memiliki hidup yang masih terasa layak dijalani ketika tidak ada yang melihat.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore