seseorang yang mengatur ulang hari sibuk / foto: Magnific/wichayada
Baru membuka laptop, sudah ada beberapa pesan masuk. Belum sempat menyelesaikan satu pekerjaan, muncul rapat baru. Setelah rapat selesai, ada email yang harus dibalas. Ketika akhirnya ingin fokus mengerjakan tugas utama, notifikasi kembali berbunyi.
Akhirnya, hari kerja berlalu dengan cepat.
Namun anehnya, ketika malam tiba, kita justru merasa seperti belum melakukan cukup banyak hal.
Masalahnya sering kali bukan karena kita malas, kurang disiplin, atau tidak mampu bekerja keras. Bisa jadi, cara kita mengatur perhatian, energi, dan tuntutan pekerjaan memang membuat otak terus berada dalam kondisi "siaga".
Dalam psikologi, produktivitas bukan sekadar persoalan berapa banyak tugas yang bisa diselesaikan. Produktivitas juga berkaitan dengan bagaimana seseorang mengelola perhatian, mengambil keputusan, memulihkan energi, serta menciptakan batas antara pekerjaan dan waktu pribadi.
Karena itu, jika kamu ingin mengatur ulang hari-hari kerja yang sibuk, mungkin jawabannya bukan menambahkan lebih banyak pekerjaan ke dalam jadwal.
Justru sebaliknya.
Kamu mungkin perlu mengurangi kekacauan, membatasi gangguan, dan memberi otak ruang untuk bekerja dengan lebih terarah.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (12/10), terdapat tujuh strategi yang bisa membantu.
1. Jangan Memulai Hari dengan Langsung Bereaksi terhadap Semua Hal
Salah satu kebiasaan yang terlihat produktif tetapi sebenarnya dapat membuat hari terasa kacau adalah langsung memeriksa email, pesan, notifikasi, dan berbagai permintaan begitu mulai bekerja.
Begitu melihat sebuah pesan, kita merasa harus membalas.
Begitu melihat email, kita merasa harus membukanya.
Begitu melihat permintaan dari rekan kerja, kita mulai memikirkan bagaimana menyelesaikannya.
Dalam beberapa menit pertama, perhatian kita sudah berpindah ke berbagai arah.
Padahal, ada perbedaan besar antara memulai hari dengan menentukan prioritas dan memulai hari dengan bereaksi terhadap tuntutan orang lain.
Otak tidak selalu bekerja paling baik dalam mode reaktif
Ketika kita terus berpindah dari satu stimulus ke stimulus lainnya, perhatian menjadi terfragmentasi. Kita mungkin masih merasa sibuk, tetapi sibuk tidak selalu berarti produktif.
Bayangkan kamu memiliki tiga tugas penting:
menyelesaikan laporan,
membuat presentasi,
dan mempersiapkan proposal.
Tetapi ketika mulai bekerja, kamu membuka email terlebih dahulu.
Ada pesan dari atasan.
Kamu membalasnya.
Lalu ada pesan dari rekan kerja.
Kamu membacanya.
Kemudian muncul notifikasi dari grup kerja.
Kamu melihatnya sebentar.
Lima belas menit kemudian, kamu kembali ke laporan.
Namun sekarang kamu harus mengingat kembali: "Tadi saya sedang mengerjakan bagian mana?"
Inilah salah satu alasan mengapa pekerjaan yang sebenarnya bisa selesai dalam satu jam terasa membutuhkan dua atau tiga jam.
Strategi yang lebih baik
Sebelum membuka semua kanal komunikasi, luangkan beberapa menit untuk menentukan:
"Apa satu hal yang paling penting jika saya selesaikan hari ini?"
Tidak harus selalu satu tugas besar. Yang penting adalah menentukan prioritas sebelum dunia luar menentukan prioritas untukmu.
Kamu bisa membuat tiga kategori sederhana:
Penting: harus dikerjakan hari ini.
Bisa ditunda: penting, tetapi tidak mendesak.
Tidak perlu saya tangani sekarang: bisa didelegasikan, dijadwalkan, atau diabaikan.
Dengan cara ini, kamu tidak memulai hari sebagai seseorang yang hanya bereaksi terhadap permintaan.
Kamu memulainya sebagai seseorang yang memiliki arah.
2. Kurangi Jumlah Keputusan Kecil yang Harus Kamu Ambil
Hari kerja yang sibuk tidak hanya menguras tenaga karena banyaknya pekerjaan.
Ia juga menguras tenaga karena banyaknya keputusan kecil.
Apa yang harus dikerjakan dulu?
Balas email ini atau nanti?
Ikut rapat atau tidak?
Makan siang sekarang atau setelah tugas selesai?
Mulai dari laporan atau presentasi?
Harus membalas pesan ini sekarang?
Keputusan-keputusan tersebut terlihat sepele.
Namun jika muncul puluhan kali sepanjang hari, semuanya membutuhkan perhatian mental.
Mengapa rutinitas bisa membantu?
Otak menyukai pola yang dapat diprediksi.
Semakin banyak bagian dari hari yang sudah ditentukan sebelumnya, semakin sedikit energi mental yang harus digunakan untuk membuat keputusan sederhana.
Karena itu, kamu bisa membuat beberapa aturan pribadi.
Misalnya:
Email diperiksa pada waktu tertentu.
Rapat yang tidak memiliki agenda jelas tidak otomatis dihadiri.
Pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi dilakukan pada jam tertentu.
Tugas administratif dikumpulkan dalam satu blok waktu.
Setelah jam kerja selesai, notifikasi pekerjaan dimatikan kecuali benar-benar mendesak.
Tujuannya bukan membuat hidup menjadi kaku.
Justru tujuannya adalah membebaskan kapasitas mental untuk hal-hal yang benar-benar penting.
Bayangkan jika kamu tidak perlu berulang kali bertanya kepada diri sendiri kapan harus memeriksa email.
Kamu sudah memiliki waktu khusus.
Tidak perlu berdebat dengan diri sendiri.
Tidak perlu membuat keputusan baru.
Tinggal lakukan.
Rutinitas sederhana seperti ini dapat membuat hari terasa jauh lebih ringan.
3. Gunakan Blok Fokus, Bukan Jadwal yang Penuh dari Pagi sampai Sore
Banyak orang mengira mengatur waktu berarti memenuhi kalender dengan berbagai aktivitas.
Jam 08.00 mengerjakan laporan.
Jam 09.00 membalas email.
Jam 10.00 rapat.
Jam 11.00 mengerjakan proposal.
Jam 12.00 makan.
Jam 13.00 rapat lagi.
Sekilas terlihat sangat produktif.
Masalahnya, jadwal seperti ini tidak selalu memberi ruang bagi kenyataan bahwa pekerjaan manusia tidak berjalan seperti mesin.
Rapat bisa molor.
Tugas membutuhkan waktu lebih lama.
Ada masalah yang tiba-tiba muncul.
Dan yang paling penting, perhatian kita membutuhkan waktu untuk benar-benar masuk ke dalam sebuah pekerjaan.
Cobalah membuat blok fokus
Alih-alih membagi hari menjadi puluhan aktivitas kecil, kelompokkan pekerjaan berdasarkan jenis perhatian yang dibutuhkan.
Misalnya:
08.30–10.00 — Fokus mendalam
Menulis laporan, membuat analisis, mengerjakan proyek penting.
10.00–10.30 — Komunikasi
Email, pesan, koordinasi.
10.30–12.00 — Pekerjaan utama
Melanjutkan proyek prioritas.
13.00–14.00 — Rapat dan kolaborasi
Diskusi dengan tim.
14.00–15.00 — Pekerjaan administratif
Dokumen, laporan ringan, pengarsipan.
15.00–16.00 — Penyelesaian
Mengecek hasil, menyelesaikan tugas kecil, dan mempersiapkan hari berikutnya.
Struktur ini membuat otak tidak perlu terus-menerus berganti mode.
Karena berpindah dari menulis menjadi rapat, kemudian membaca dokumen, lalu menganalisis data, sebenarnya bukan sekadar berpindah aktivitas.
Kita juga perlu mengubah cara berpikir.
Dan perubahan konteks tersebut memiliki biaya mental.
Karena itu, mengelompokkan pekerjaan yang serupa dapat membuat hari kerja terasa lebih teratur.
4. Berhenti Menganggap Istirahat sebagai Musuh Produktivitas
Ada budaya kerja yang secara tidak sadar mengajarkan:
"Kalau masih bisa bekerja, berarti harus bekerja."
Akibatnya, seseorang merasa bersalah ketika mengambil istirahat.
Minum kopi sambil bekerja.
Makan siang sambil membuka laptop.
Pergi ke toilet sambil memikirkan email.
Bahkan ketika sudah selesai bekerja, pikiran masih terus memikirkan pekerjaan.
Padahal, manusia bukan mesin yang bisa beroperasi pada tingkat konsentrasi yang sama selama delapan atau sepuluh jam tanpa jeda.
Istirahat bukan berarti kehilangan waktu
Istirahat yang tepat dapat membantu menjaga perhatian dan energi.
Namun istirahat bukan berarti mengganti satu bentuk stimulasi dengan stimulasi lainnya.
Jika kamu bekerja selama dua jam kemudian menghabiskan lima belas menit menggulir media sosial tanpa henti, otak belum tentu mendapatkan pemulihan yang berkualitas.
Cobalah bentuk istirahat yang benar-benar mengubah kondisi mental dan fisik.
Misalnya:
berjalan sebentar,
melihat ke luar jendela,
minum air,
melakukan peregangan,
menarik napas dengan tenang,
berbicara sebentar dengan orang lain,
atau sekadar menjauh dari layar.
Kuncinya adalah memberikan sinyal:
"Untuk beberapa menit, saya tidak perlu menyelesaikan apa pun."
Bahkan jeda singkat yang disengaja bisa terasa berbeda dibandingkan bekerja terus-menerus sampai benar-benar kelelahan.
5. Gunakan Aturan "Satu Halaman Berikutnya", Bukan Memikirkan Seluruh Beban Sekaligus
Salah satu alasan pekerjaan terasa sangat berat adalah karena kita tidak hanya mengerjakan tugas saat ini.
Kita juga memikirkan semua tugas lain yang belum selesai.
Saat menulis laporan, kita teringat presentasi.
Saat mengerjakan presentasi, kita memikirkan email.
Saat membalas email, kita teringat deadline minggu depan.
Akhirnya, secara fisik kita berada di satu pekerjaan, tetapi secara mental berada di sepuluh pekerjaan.
Ini dapat menciptakan rasa kewalahan.
Pisahkan "mengerjakan" dari "mengingat"
Kamu tidak harus mengingat semua hal di kepala.
Gunakan daftar tugas atau sistem pencatatan sederhana.
Ketika sebuah pekerjaan muncul di pikiran, tuliskan.
Misalnya:
"Besok hubungi klien."
Catat.
Kemudian kembali ke pekerjaan sekarang.
Dengan begitu, otak tidak perlu terus menjaga informasi tersebut agar tidak terlupakan.
Ini adalah prinsip sederhana tetapi sangat penting:
Jika sesuatu penting, letakkan di sistem, bukan hanya di kepala.
Kemudian, ketika mengerjakan tugas besar, jangan selalu bertanya:
"Bagaimana saya menyelesaikan semuanya?"
Pertanyaan tersebut terlalu besar.
Gantilah dengan:
"Apa langkah berikutnya yang konkret?"
Bukan:
"Saya harus menyelesaikan laporan."
Tetapi:
"Saya akan membuat kerangka tiga bagian laporan."
Bukan:
"Saya harus mempersiapkan presentasi."
Tetapi:
"Saya akan menentukan lima poin utama presentasi."
Bukan:
"Saya harus membereskan semua pekerjaan."
Tetapi:
"Saya akan menyelesaikan bagian pertama selama 30 menit."
Otak lebih mudah menghadapi sesuatu yang konkret daripada sesuatu yang abstrak dan sangat besar.
6. Buat Batas yang Jelas antara Waktu Kerja dan Waktu Pribadi
Salah satu penyebab hari kerja terasa tidak pernah selesai adalah karena secara psikologis pekerjaan tidak pernah benar-benar berakhir.
Laptop ditutup, tetapi pikiran masih bekerja.
Kita sedang makan malam, tetapi memikirkan email.
Sedang bersama keluarga, tetapi memikirkan pekerjaan besok.
Sudah berada di tempat tidur, tetapi tiba-tiba teringat tugas yang belum selesai.
Tubuh sudah berhenti bekerja.
Namun pikiran belum mendapatkan sinyal bahwa hari kerja telah berakhir.
Buat ritual penutupan pekerjaan
Ritual sederhana dapat membantu.
Misalnya, 15 menit sebelum selesai bekerja:
Periksa tugas yang sudah selesai.
Catat tugas yang masih terbuka.
Tentukan tiga prioritas untuk besok.
Periksa kalender.
Tutup aplikasi pekerjaan.
Rapikan meja.
Kemudian berhenti.
Langkah ini terlihat sederhana, tetapi memiliki fungsi psikologis yang penting.
Kamu memberi otak sebuah pesan:
"Tidak semua hal harus diselesaikan hari ini. Hal-hal yang belum selesai sudah memiliki tempat untuk dilanjutkan besok."
Dengan demikian, kamu tidak perlu membawa seluruh daftar pekerjaan ke dalam kepala sepanjang malam.
Jangan mengejar perasaan "semuanya sudah selesai"
Perasaan tersebut mungkin tidak pernah datang.
Dalam pekerjaan modern, hampir selalu ada email yang belum dibalas, dokumen yang belum sempurna, atau tugas yang bisa diperbaiki.
Karena itu, definisi selesai sebaiknya bukan:
"Semua pekerjaan sudah selesai."
Tetapi:
"Saya sudah melakukan bagian yang memang harus saya lakukan hari ini."
Itu jauh lebih realistis.
7. Jangan Hanya Mengatur Waktu—Atur Energi dan Perhatian
Ini mungkin strategi yang paling penting.
Kita sering bertanya:
"Bagaimana saya bisa mendapatkan lebih banyak waktu?"
Padahal waktu setiap orang tetap terbatas.
Yang berbeda adalah bagaimana kita menggunakan energi dan perhatian dalam waktu tersebut.
Ada tugas yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
Ada tugas yang hanya membutuhkan sedikit energi mental.
Ada waktu ketika kita sangat fokus.
Ada waktu ketika kita mulai lelah.
Maka, jangan selalu menjadwalkan pekerjaan hanya berdasarkan jam kosong.
Pertimbangkan juga:
"Kapan saya berada dalam kondisi mental terbaik untuk melakukan pekerjaan ini?"
Jika pagi hari adalah waktu ketika kamu paling fokus, gunakan untuk pekerjaan yang paling membutuhkan kemampuan berpikir.
Jika sore hari energi mulai turun, gunakan untuk tugas administratif, koordinasi, atau pekerjaan rutin.
Dengan kata lain:
Jangan hanya bertanya kapan sebuah tugas bisa dikerjakan. Tanyakan kapan kamu paling mampu mengerjakannya dengan baik.
Bagaimana Jika Hari Kerja Sudah Terlanjur Berantakan?
Tidak semua hari akan berjalan sesuai rencana.
Ada hari ketika rapat muncul tiba-tiba.
Ada klien yang membutuhkan respons cepat.
Ada masalah teknis.
Ada pekerjaan darurat.
Ada hari ketika konsentrasi benar-benar buruk.
Karena itu, jangan membuat sistem produktivitas yang terlalu sempurna.
Sistem yang baik harus mampu bertahan ketika kehidupan tidak berjalan sesuai rencana.
Ketika semuanya berantakan, kembali ke tiga pertanyaan sederhana:
1. Apa yang benar-benar harus selesai hari ini?
Bukan apa yang idealnya selesai.
Tetapi apa yang benar-benar memiliki konsekuensi jika tidak selesai.
2. Apa yang bisa ditunda?
Tidak semua hal harus diselesaikan sekarang.
3. Apa langkah terkecil yang bisa saya lakukan sekarang?
Kemudian lakukan langkah tersebut.
Jangan mencoba mengembalikan seluruh hari sekaligus.
Kembalikan satu bagian kecil terlebih dahulu.
Setelah itu, lanjutkan ke bagian berikutnya.
Contoh Rutinitas untuk Hari Kerja yang Lebih Teratur
Jika kamu ingin menerapkan semua strategi di atas, kamu bisa memulai dengan struktur sederhana seperti berikut.
08.00 — Mulai dengan menentukan prioritas
Jangan langsung membuka semua notifikasi.
Tentukan satu sampai tiga hal paling penting.
08.15 — Fokus pada tugas utama
Kerjakan pekerjaan yang paling membutuhkan konsentrasi.
Matikan notifikasi yang tidak diperlukan.
09.45 — Istirahat singkat
Bangun dari meja.
Berjalan.
Minum air.
Berikan perhatian kesempatan untuk beristirahat.
10.00 — Komunikasi
Periksa email dan pesan.
Balas hal-hal penting.
Kelompokkan hal-hal yang membutuhkan tindakan lebih lanjut.
11.00 — Kembali ke pekerjaan utama
Lanjutkan proyek yang memiliki dampak terbesar.
12.00 — Makan siang tanpa pekerjaan jika memungkinkan
Berikan tubuh dan pikiran kesempatan untuk keluar dari mode kerja.
13.00 — Rapat atau pekerjaan kolaboratif
Gunakan waktu ini untuk aktivitas yang memang membutuhkan orang lain.
14.30 — Pekerjaan administratif
Selesaikan tugas yang tidak membutuhkan konsentrasi maksimal.
15.30 — Fokus terakhir
Gunakan energi yang tersisa untuk menyelesaikan satu tugas penting.
16.30 — Ritual penutupan
Periksa apa yang selesai.
Catat apa yang belum.
Tentukan prioritas besok.
Kemudian tutup pekerjaan.
Tidak perlu membuat hari kerja sempurna.
Yang dibutuhkan adalah struktur yang cukup baik untuk mencegah kekacauan mengambil alih seluruh perhatian.
Mengatur Hari Bukan Berarti Memaksimalkan Setiap Menit
Ini adalah kesalahpahaman yang sering terjadi.
Kita membeli planner.
Membuat daftar tugas.
Menggunakan aplikasi produktivitas.
Mengatur kalender sampai penuh.
Namun akhirnya justru merasa lebih stres.
Mengapa?
Karena tujuan mengatur hari bukanlah membuat setiap menit menjadi produktif.
Tujuannya adalah membuat hal-hal yang penting mendapatkan perhatian yang cukup.
Ada waktu untuk bekerja.
Ada waktu untuk berpikir.
Ada waktu untuk beristirahat.
Ada waktu untuk berkomunikasi.
Ada waktu untuk berhenti.
Kehidupan yang teratur bukan berarti kehidupan tanpa kekacauan.
Kehidupan yang teratur adalah kehidupan di mana kita memiliki cara untuk kembali ke jalur ketika keadaan mulai berantakan.
Mulailah dengan Satu Perubahan, Bukan Tujuh Sekaligus
Kamu mungkin membaca tujuh strategi ini lalu merasa ingin mengubah seluruh rutinitas mulai besok.
Namun itu justru bisa menjadi jebakan baru.
Perubahan kebiasaan membutuhkan waktu.
Karena itu, pilih satu strategi yang paling relevan dengan masalahmu sekarang.
Jika kamu sering terdistraksi, mulai dengan blok fokus.
Jika kamu selalu kewalahan oleh pesan dan email, mulai dengan waktu komunikasi yang terjadwal.
Jika kamu sulit berhenti bekerja, mulai dengan ritual penutupan hari.
Jika kamu sering lupa tugas, mulai dengan memindahkan pekerjaan dari kepala ke sistem pencatatan.
Jika kamu merasa lelah sepanjang hari, mulai dengan memperhatikan pola energi dan waktu istirahat.
Tidak perlu memperbaiki semuanya sekaligus.
Satu perubahan kecil yang konsisten jauh lebih berguna daripada sistem produktivitas yang sangat rumit tetapi hanya bertahan tiga hari.
Penutup: Hari yang Sibuk Tidak Harus Menjadi Hari yang Kacau
Kesibukan mungkin tidak bisa sepenuhnya dihilangkan.
Akan selalu ada pekerjaan.
Akan selalu ada pesan.
Akan selalu ada deadline.
Dan akan selalu ada sesuatu yang belum selesai.
Tetapi kamu tidak harus membiarkan semua hal tersebut mendapatkan perhatianmu pada saat yang bersamaan.
Mengatur ulang hari kerja berarti belajar mengatakan:
Ini penting.
Ini bisa menunggu.
Ini bukan tanggung jawab saya sekarang.
Saya akan mengerjakan ini nanti.
Dan untuk saat ini, saya hanya perlu fokus pada langkah berikutnya.
Jika ingin mulai hari ini, jangan mencoba mengubah seluruh hidupmu.
Besok pagi, sebelum membuka email dan notifikasi, ambil beberapa menit.
Tulis satu hal yang paling penting.
Kerjakan selama satu blok waktu tanpa gangguan.
Kemudian berikan dirimu jeda.
Ulangi.
Karena produktivitas yang sehat bukan tentang seberapa banyak yang bisa kamu paksa masuk ke dalam satu hari.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Racing Santander vs Valencia: Catatan Buruk Los Che Bisa Berlanjut di El Sardinero
Prediksi Skor Atalanta vs Venezia: La Dea Diburu Krisis, Tim Tamu Lebih Mengenaskan
Prediksi Skor Troyes vs Marseille: Les Phoceens Bidik Pesta Gol, Misi Keluar dari Zona Degradasi!
Prediksi Skor Real Betis vs Osasuna: Rekor Pertemuan Berpihak kepada Los Verdiblancos
Prediksi Skor Persela Lamongan vs Deltras: Duel Sengit Dua Tim Teratas Grup B Championship
Prediksi Skor PSS Sleman vs PSM Makassar: Super Elang Jawa Berambisi Raih Kemenangan Pertama
Prediksi Skor Real Sociedad vs Deportivo La Coruna: Tuan Rumah Bidik Kemenangan di La Liga
Prediksi Skor Racing Santander vs Valencia: Los Che Terdesak, Hasil Imbang Jadi Skenario Realistis
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Freiburg vs Schalke 04 di Bundesliga: Tim Tamu Punya Misi Memutus Tren Buruk

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022