seseorang yang masih menyimpan barang pemberian / foto: Magnific/dragonimages
Ada yang tidak sanggup membuang baju terakhir yang pernah diberikan ibunya.
Ada pula yang menyimpan surat, foto, dompet, parfum, buku, cincin, atau bahkan benda kecil yang bagi orang lain terlihat tidak memiliki nilai berarti.
Bagi orang lain, benda-benda tersebut mungkin hanyalah barang.
Tetapi bagi seseorang yang sedang berduka, benda itu bisa terasa seperti bagian kecil dari seseorang yang telah pergi.
Kadang-kadang, hanya dengan memegangnya, seseorang dapat mengingat suara, wajah, kebiasaan, perhatian, bahkan perasaan aman yang dulu hadir ketika orang yang dicintainya masih hidup.
Itulah sebabnya, setelah seseorang meninggal dunia, kita sering melihat orang-orang tetap menggenggam atau menyimpan benda-benda pemberian mereka selama bertahun-tahun. Bahkan ketika kehidupan sudah berjalan jauh ke depan, benda tersebut masih memiliki tempat khusus.
Dalam psikologi, hal ini dapat dipahami sebagai bagian dari hubungan manusia dengan kenangan, identitas, emosi, dan proses berduka.
Bukan semata-mata karena seseorang “tidak bisa move on”.
Justru, menyimpan benda peninggalan orang tercinta dapat menjadi salah satu cara manusia beradaptasi dengan kehilangan.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (10/10), terdapat tujuh alasan mengapa seseorang tetap mempertahankan benda-benda pemberian dari orang yang telah meninggal dunia.
1. Benda tersebut menjadi “jembatan” menuju orang yang telah tiada
Salah satu alasan paling kuat adalah karena benda dapat menjadi penghubung antara seseorang dengan sosok yang telah meninggal.
Ketika seseorang kehilangan orang yang dicintai, yang hilang bukan hanya kehadiran fisiknya. Rutinitas, percakapan, sentuhan, perhatian, dan berbagai pengalaman bersama juga ikut berubah.
Rumah mungkin masih sama.
Kamar mungkin masih ada.
Kursi favoritnya mungkin masih berada di tempat yang sama.
Tetapi orangnya sudah tidak ada.
Perubahan yang begitu besar dapat membuat seseorang mengalami kekosongan yang sulit dijelaskan.
Di tengah kekosongan tersebut, benda peninggalan dapat memberikan semacam “jembatan” psikologis.
Sebuah jam tangan mungkin mengingatkan seseorang pada ayahnya.
Sebuah syal mungkin mengingatkan seseorang pada ibunya.
Sebuah buku mungkin mengingatkan seseorang pada pasangan yang dulu sering membacanya.
Secara emosional, benda tersebut bukan lagi sekadar objek.
Ia telah menjadi bagian dari jaringan kenangan yang terhubung dengan orang yang telah meninggal.
Karena itu, ketika seseorang memegang benda tersebut, ingatan tentang orang yang dicintainya dapat muncul kembali dengan sangat kuat.
Bahkan terkadang hanya aroma sebuah parfum atau tekstur pakaian sudah cukup untuk memunculkan kenangan lama.
Inilah salah satu alasan mengapa seseorang bisa menangis ketika menemukan benda lama yang diberikan oleh orang yang telah meninggal.
Bukan karena bendanya.
Melainkan karena benda itu membawa seseorang kembali kepada hubungan yang pernah mereka miliki.
2. Benda tersebut membantu mempertahankan ikatan emosional
Kematian mengakhiri kehadiran fisik seseorang, tetapi tidak otomatis menghapus hubungan emosional dengannya.
Dalam psikologi modern tentang duka, terdapat konsep yang dikenal sebagai continuing bonds, atau ikatan yang terus berlanjut.
Gagasan ini membantu menjelaskan bahwa proses berduka tidak selalu berarti seseorang harus “melupakan” orang yang telah meninggal.
Sebaliknya, seseorang dapat belajar menjalani hidup sambil mempertahankan bentuk hubungan tertentu dengan orang tersebut.
Misalnya, seseorang mungkin masih berbicara dalam hati kepada ibunya.
Ada pula yang masih memasak makanan kesukaan ayahnya pada hari tertentu.
Sebagian orang menyimpan foto, surat, atau barang pemberian sebagai simbol hubungan tersebut.
Dengan demikian, menyimpan benda peninggalan tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang menolak kenyataan kematian.
Bisa jadi justru sebaliknya.
Orang tersebut sudah memahami bahwa orang yang dicintainya telah tiada, tetapi ia memilih untuk membawa sebagian hubungan itu ke dalam kehidupannya yang sekarang.
Benda tersebut menjadi pengingat:
“Dia memang sudah tidak ada di sini, tetapi hubungan kami pernah nyata dan tetap menjadi bagian dari hidup saya.”
Ini merupakan perbedaan penting.
Melupakan bukanlah satu-satunya cara untuk sembuh.
Terkadang, seseorang sembuh dengan cara belajar membawa kenangan tersebut tanpa harus terus-menerus hidup di masa lalu.
3. Benda pemberian memiliki nilai emosional yang jauh lebih besar daripada nilai materialnya
Sebuah benda bisa memiliki harga yang murah, tetapi nilai emosionalnya sangat mahal.
Misalnya, seseorang mungkin menyimpan sebuah pulpen yang diberikan oleh ayahnya ketika masih sekolah.
Secara ekonomi, pulpen tersebut mungkin tidak bernilai tinggi.
Bahkan mungkin sudah rusak.
Namun, bagi pemiliknya, pulpen itu bisa menjadi salah satu benda paling berharga di dunia.
Mengapa?
Karena manusia tidak memberikan makna pada benda hanya berdasarkan harga.
Kita juga memberikan makna berdasarkan pengalaman yang terkait dengan benda tersebut.
Sebuah cincin bukan hanya logam.
Ia mungkin berarti janji.
Sebuah foto bukan hanya selembar kertas.
Ia mungkin menyimpan sebuah masa.
Sebuah baju bukan hanya kain.
Ia mungkin mengingatkan seseorang pada pelukan terakhir.
Dalam psikologi, benda-benda seperti ini dapat menjadi objek simbolis. Nilainya berasal dari hubungan dan makna yang kita berikan kepadanya.
Itulah sebabnya seseorang bisa berkata:
“Kalau semua barang ini hilang, mungkin saya masih bisa menerima. Tapi kalau benda ini hilang, rasanya seperti kehilangan dia untuk kedua kalinya.”
Pernyataan seperti itu menunjukkan bahwa benda tersebut telah memperoleh makna emosional yang sangat kuat.
Ia menjadi simbol dari sebuah hubungan.
4. Benda tersebut membantu menjaga identitas dan sejarah pribadi
Kehilangan seseorang sering kali juga membuat kita merasa kehilangan sebagian dari diri sendiri.
Hal ini terutama dapat terjadi ketika orang yang meninggal memiliki peran besar dalam kehidupan kita.
Seorang anak mungkin kehilangan orang tua.
Seorang pasangan kehilangan teman hidup.
Seorang saudara kehilangan orang yang tumbuh bersamanya sejak kecil.
Dalam situasi seperti itu, hubungan dengan orang yang meninggal merupakan bagian dari identitas seseorang.
“Dia adalah ayah saya.”
“Dia adalah ibu saya.”
“Dia adalah pasangan saya.”
“Dia adalah orang yang menemani saya sejak kecil.”
Ketika orang tersebut meninggal, sebagian dari kehidupan yang membentuk identitas kita ikut berubah.
Benda pemberian dapat membantu mempertahankan kontinuitas tersebut.
Seseorang mungkin melihat sebuah benda dan mengingat:
“Ini diberikan kepadaku ketika aku pertama kali bekerja.”
“Atasannya dulu membelikan ini untukku.”
“Ibu memberikan ini sebelum aku pergi merantau.”
“Ayah memberikan jam ini ketika aku lulus.”
Dengan demikian, benda tersebut bukan hanya mengingatkan seseorang kepada orang yang telah meninggal, tetapi juga mengingatkan siapa dirinya pada masa ketika hubungan tersebut masih berlangsung.
Benda tersebut menjadi semacam arsip kehidupan.
Ia menyimpan cerita tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan orang-orang yang pernah membentuk diri kita.
5. Menyimpan benda dapat memberikan rasa aman ketika seseorang sedang berduka
Duka bukan hanya pengalaman emosional.
Kehilangan besar juga dapat mengubah perasaan seseorang terhadap dunia.
Seseorang yang sebelumnya merasa dunia aman mungkin tiba-tiba menyadari bahwa sesuatu yang sangat berharga bisa hilang kapan saja.
Dalam kondisi seperti itu, benda yang berhubungan dengan orang tercinta terkadang memberikan rasa nyaman.
Memegang benda tertentu dapat menghadirkan sensasi:
“Dia pernah ada.”
“Aku pernah dicintai.”
“Aku tidak sendirian sepanjang hidup ini.”
Benda tersebut dapat berfungsi sebagai sumber kenyamanan emosional, terutama pada masa-masa ketika rasa kehilangan terasa sangat kuat.
Misalnya, ketika seseorang sedang mengalami hari yang berat, ia mungkin membuka kotak berisi surat-surat lama.
Ia membaca tulisan tangan orang yang telah meninggal.
Kemudian, untuk beberapa saat, ia merasa lebih tenang.
Bukan karena benda tersebut benar-benar mengembalikan orang yang telah pergi.
Tetapi karena benda itu membantu otak mengakses kembali pengalaman emosional yang berkaitan dengan kasih sayang, kedekatan, dan rasa aman.
Hal ini juga menjelaskan mengapa benda tertentu sering menjadi sangat penting ketika seseorang sedang menghadapi hari-hari sulit seperti ulang tahun, hari raya, peringatan kematian, atau tanggal tertentu yang memiliki makna khusus.
6. Membuang benda tersebut dapat terasa seperti “kehilangan untuk kedua kalinya”
Ada alasan lain yang sangat manusiawi.
Kadang-kadang seseorang bukan sekadar takut kehilangan barang.
Ia takut kehilangan bagian terakhir yang masih terasa nyata dari orang tersebut.
Bayangkan seseorang memiliki satu-satunya surat yang ditulis tangan oleh ibunya.
Selama surat itu masih ada, ia merasa masih memiliki sesuatu yang benar-benar pernah disentuh dan ditulis oleh ibunya.
Jika surat tersebut dibuang, bisa muncul perasaan:
“Sekarang benar-benar tidak ada lagi.”
Perasaan tersebut dapat membuat proses melepaskan barang menjadi sangat berat.
Ini bukan berarti orang tersebut tidak memahami kematian.
Ia memahami bahwa orang yang dicintainya telah meninggal.
Tetapi secara emosional, membuang benda tertentu dapat terasa seperti tindakan simbolis untuk menghapus hubungan.
Karena itu, seseorang mungkin memilih menyimpannya.
Bahkan jika benda tersebut sudah tidak digunakan lagi.
Bahkan jika benda tersebut sudah tua.
Bahkan jika orang lain berkata:
“Untuk apa disimpan?”
Jawabannya mungkin sederhana:
“Karena benda ini berarti.”
Dalam konteks duka, makna tersebut jauh lebih penting daripada fungsi praktis.
7. Benda-benda tersebut menjadi cara untuk membawa masa lalu ke dalam kehidupan sekarang
Ada anggapan bahwa untuk sembuh dari kehilangan, seseorang harus meninggalkan masa lalu.
Namun, proses berduka tidak selalu bekerja seperti itu.
Manusia tidak memiliki tombol untuk menghapus kenangan.
Sebaliknya, kita belajar menempatkan kenangan tersebut di dalam kehidupan yang terus berjalan.
Seseorang bisa kembali bekerja.
Menikah.
Memiliki anak.
Pindah rumah.
Mencapai kesuksesan.
Menjalani kehidupan baru.
Tetapi tetap membawa kenangan tentang orang yang telah meninggal.
Benda pemberian dapat menjadi bagian dari proses tersebut.
Misalnya, seorang anak yang kehilangan ayahnya mungkin menggunakan jam tangan pemberian ayahnya ketika menghadiri wisuda.
Seorang perempuan mungkin menyimpan resep tulisan tangan ibunya dan kemudian memasak makanan tersebut untuk anak-anaknya.
Seorang laki-laki mungkin menyimpan buku milik istrinya dan suatu hari memberikannya kepada anak mereka.
Dalam situasi seperti ini, masa lalu tidak menghalangi masa depan.
Justru masa lalu menjadi bagian dari masa depan.
Benda tersebut menjadi semacam simbol bahwa cinta, nilai, kebiasaan, atau pelajaran dari orang yang telah meninggal masih dapat diteruskan.
Dengan kata lain, seseorang tidak harus memilih antara “melanjutkan hidup” dan “tetap mengingat”.
Keduanya bisa terjadi secara bersamaan.
Jadi, Apakah Menyimpan Benda Orang yang Telah Meninggal Itu Tidak Sehat?
Tidak selalu.
Menyimpan benda peninggalan orang yang dicintai pada dasarnya merupakan hal yang sangat manusiawi.
Tidak ada batas waktu universal kapan seseorang harus membuang barang-barang tersebut.
Ada orang yang mampu membereskan barang peninggalan setelah beberapa bulan.
Ada yang membutuhkan beberapa tahun.
Ada pula yang menyimpannya seumur hidup.
Tidak ada satu ukuran yang berlaku untuk semua orang.
Yang lebih penting adalah bagaimana hubungan seseorang dengan benda tersebut memengaruhi kehidupannya.
Jika benda tersebut menjadi sumber kenangan, kenyamanan, dan penghormatan, tidak ada alasan otomatis untuk menganggapnya sebagai sesuatu yang buruk.
Namun, situasinya bisa berbeda jika seseorang merasa sama sekali tidak mampu menjalani kehidupan karena terus terikat pada benda-benda tersebut, mengalami tekanan emosional yang sangat berat, atau tidak dapat menerima kenyataan kehilangan dalam jangka panjang.
Dalam kondisi seperti itu, berbicara dengan psikolog atau profesional kesehatan mental dapat membantu.
Tujuannya bukan untuk memaksa seseorang membuang barang.
Tujuannya adalah membantu seseorang memahami duka dan menemukan cara yang lebih sehat untuk hidup berdampingan dengan kehilangan tersebut.
Pada Akhirnya, Benda Itu Bukan Sekadar Benda
Ada alasan mengapa manusia menyimpan surat lama.
Mengapa sebuah foto yang sudah pudar tetap dimasukkan ke dalam dompet.
Mengapa sebuah baju yang sudah tidak dipakai masih dilipat dengan hati-hati.
Mengapa sebuah jam yang sudah berhenti tetap disimpan di dalam laci.
Karena manusia tidak hanya menyimpan benda.
Manusia menyimpan makna.
Benda-benda tersebut menjadi tempat bersemayamnya cerita.
Di dalam sebuah cincin mungkin ada sebuah janji.
Di dalam sebuah buku mungkin ada percakapan.
Di dalam sebuah pakaian mungkin ada kenangan tentang pelukan.
Di dalam sebuah foto mungkin ada masa ketika seseorang masih hadir.
Dan ketika seseorang yang kita cintai meninggal, benda-benda itu terkadang menjadi salah satu cara hati kita mengatakan:
“Aku tahu kamu sudah pergi. Tetapi apa yang kita miliki bersama tidak harus ikut hilang.”
Mungkin itulah sebabnya sebagian orang tetap menggenggam benda-benda pemberian orang tercinta selama bertahun-tahun.
Bukan karena mereka tidak mampu melanjutkan hidup.
Bukan pula karena mereka hidup di masa lalu.
Melainkan karena ada bagian dari masa lalu yang terlalu berarti untuk dibuang.
Pada akhirnya, berduka bukan selalu tentang belajar melupakan.
Kadang-kadang, berduka adalah belajar menerima bahwa seseorang tidak lagi hadir secara fisik, sambil tetap memberi ruang bagi cinta, kenangan, dan nilai-nilai yang pernah mereka tinggalkan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Racing Santander vs Valencia: Catatan Buruk Los Che Bisa Berlanjut di El Sardinero
Prediksi Skor Atalanta vs Venezia: La Dea Diburu Krisis, Tim Tamu Lebih Mengenaskan
Prediksi Skor Troyes vs Marseille: Les Phoceens Bidik Pesta Gol, Misi Keluar dari Zona Degradasi!
Prediksi Skor Real Betis vs Osasuna: Rekor Pertemuan Berpihak kepada Los Verdiblancos
Prediksi Skor Persela Lamongan vs Deltras: Duel Sengit Dua Tim Teratas Grup B Championship
Prediksi Skor PSS Sleman vs PSM Makassar: Super Elang Jawa Berambisi Raih Kemenangan Pertama
Prediksi Skor Real Sociedad vs Deportivo La Coruna: Tuan Rumah Bidik Kemenangan di La Liga
Prediksi Skor Racing Santander vs Valencia: Los Che Terdesak, Hasil Imbang Jadi Skenario Realistis
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Freiburg vs Schalke 04 di Bundesliga: Tim Tamu Punya Misi Memutus Tren Buruk

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022