seseorang yang hidupnya dikendalikan inner child./Magnific/syda_productions
JawaPos.com - Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa ada situasi tertentu yang terasa jauh lebih menyakitkan daripada seharusnya?
Seseorang hanya terlambat membalas pesan, tetapi kamu langsung merasa tidak dianggap.
Atasan memberikan kritik kecil, tetapi sepanjang hari kamu memikirkannya dan merasa dirimu tidak cukup baik.
Pasangan meminta sedikit ruang, tetapi pikiranmu langsung dipenuhi ketakutan bahwa dia akan meninggalkanmu.
Atau ketika seseorang menaikkan nada suaranya, tubuhmu tiba-tiba tegang, jantung berdebar, dan kamu merasa seperti ingin menghilang.
Secara logika, kamu mungkin sadar bahwa situasinya tidak sebesar itu.
Namun secara emosional, reaksimu terasa sangat nyata.
Di sinilah istilah inner child sering digunakan dalam psikologi populer. Inner child bukan istilah diagnosis resmi dalam psikologi klinis. Istilah ini lebih banyak digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan bagian dari pengalaman emosional masa kanak-kanak yang masih memengaruhi cara seseorang memahami dirinya, berhubungan dengan orang lain, serta merespons situasi tertentu ketika dewasa.
Pengalaman masa kecil memang dapat berkontribusi terhadap pembentukan pola hubungan, cara mengelola emosi, keyakinan tentang diri sendiri, dan cara seseorang menghadapi tekanan. Namun, bukan berarti setiap masalah orang dewasa pasti disebabkan oleh "inner child".
Kadang-kadang penyebabnya adalah stres saat ini. Kadang karena pengalaman traumatis. Kadang karena pola hubungan yang sedang dijalani. Bisa juga karena kombinasi berbagai faktor.
Jadi, ketika kita berbicara tentang "inner child sedang mengendalikan hidupmu", yang dimaksud bukan ada sosok anak kecil secara harfiah yang mengambil alih pikiranmu.
Maksudnya adalah:
reaksi emosional yang terbentuk dari pengalaman masa lalu mungkin sedang memengaruhi keputusan dan perilaku masa kini lebih kuat daripada yang kamu sadari.
Lalu, apa saja tandanya?
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (26/9), terdapat lima pola yang patut kamu perhatikan.
1. Kamu Terlalu Takut Ditolak, Bahkan Ketika Tidak Ada Alasan yang Jelas
Salah satu tanda yang sering dikaitkan dengan luka emosional masa kecil adalah rasa takut yang sangat kuat terhadap penolakan.
Misalnya, seseorang tidak membalas pesanmu selama beberapa jam.
Secara objektif, ada banyak kemungkinan.
Dia sedang bekerja.
Ponselnya tertinggal.
Dia sedang beristirahat.
Atau memang belum sempat membuka pesan.
Tetapi pikiranmu mungkin langsung membuat kesimpulan:
"Dia sudah bosan denganku."
"Aku pasti melakukan kesalahan."
"Dia tidak menyukaiku lagi."
"Sebentar lagi dia akan meninggalkanku."
Masalahnya bukan sekadar merasa khawatir.
Yang perlu diperhatikan adalah seberapa besar respons emosionalmu dibandingkan dengan situasi yang sebenarnya terjadi.
Ketika seseorang memiliki pengalaman masa kecil di mana kasih sayang terasa tidak konsisten, penerimaan harus "diperjuangkan", atau kesalahan sering diikuti oleh penolakan, ia mungkin menjadi sangat sensitif terhadap tanda-tanda kehilangan hubungan.
Dalam psikologi, pola keterikatan atau attachment menjadi salah satu kerangka yang dapat membantu memahami fenomena semacam ini.
Anak belajar tentang hubungan melalui pengalaman berulang.
Jika kebutuhan emosionalnya sering mendapatkan respons yang aman dan konsisten, anak dapat mengembangkan ekspektasi bahwa hubungan adalah tempat yang relatif aman.
Sebaliknya, pengalaman hubungan yang tidak konsisten atau penuh ketidakpastian dapat membuat seseorang menjadi lebih waspada terhadap kemungkinan ditolak atau ditinggalkan.
Ketika dewasa, kewaspadaan tersebut bisa muncul dalam bentuk:
terlalu sering mencari kepastian dari pasangan,
merasa panik ketika seseorang berubah sedikit,
sulit menikmati hubungan karena terus takut kehilangan,
membaca terlalu banyak makna dari pesan singkat,
merasa harus selalu menyenangkan orang lain,
atau meminta maaf bahkan ketika sebenarnya tidak melakukan kesalahan.
Yang menarik, seseorang sering kali sadar bahwa reaksinya "berlebihan".
Tetapi mengetahui bahwa reaksimu berlebihan tidak selalu membuat rasa takut itu langsung hilang.
Karena reaksi tersebut bukan hanya berasal dari pikiran rasional.
Tubuh dan sistem emosimu juga ikut bereaksi.
Coba tanyakan kepada dirimu:
"Apakah aku sedang merespons apa yang benar-benar terjadi sekarang, atau aku sedang bereaksi terhadap ketakutan lama yang terasa familiar?"
Pertanyaan sederhana ini bisa menjadi langkah awal untuk membedakan antara fakta dan ketakutan.
2. Kritik Kecil Terasa Seperti Serangan terhadap Harga Dirimu
Pernahkah seseorang memberikan masukan sederhana, tetapi kamu langsung merasa hancur?
Contohnya:
"Bagian ini sepertinya masih perlu diperbaiki."
Kalimat tersebut sebenarnya tidak mengatakan bahwa kamu adalah orang yang buruk.
Namun di dalam pikiranmu, kalimat itu berubah menjadi:
"Aku tidak kompeten."
"Aku selalu gagal."
"Mereka pasti menganggap aku bodoh."
"Aku memang tidak pernah cukup baik."
Jika pola ini sering terjadi, mungkin ada sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar tidak suka dikritik.
Bagi sebagian orang, kritik dapat terasa seperti ancaman terhadap identitas diri.
Hal ini dapat terjadi ketika seseorang sejak kecil belajar bahwa kesalahan memiliki konsekuensi emosional yang berat.
Misalnya, anak sering dipermalukan ketika melakukan kesalahan.
Atau ia hanya mendapatkan pujian ketika berprestasi.
Atau ia tumbuh dengan standar yang sangat tinggi sehingga merasa bahwa "menjadi baik" berarti tidak boleh gagal.
Lama-kelamaan, anak dapat mengembangkan keyakinan:
"Aku berharga kalau aku berhasil."
Masalahnya, keyakinan tersebut bisa terbawa hingga dewasa.
Akhirnya, kritik terhadap pekerjaan terasa seperti kritik terhadap diri.
Kesalahan kecil terasa seperti bukti bahwa kamu tidak berharga.
Kegagalan dalam satu proyek terasa seperti kegagalan sebagai manusia.
Dan ketika seseorang memuji orang lain, kamu mungkin langsung membandingkan diri.
Ada dua respons yang sering muncul.
Pertama, perfeksionisme.
Kamu berusaha melakukan semuanya dengan sempurna agar tidak mendapatkan kritik.
Kedua, menghindari tantangan.
Kamu memilih tidak mencoba karena takut gagal.
Keduanya terlihat berbeda, tetapi bisa memiliki akar yang sama:
ketakutan bahwa kesalahan akan membuatmu kehilangan penerimaan atau nilai diri.
Di sinilah pentingnya belajar memisahkan:
"Aku melakukan kesalahan"
dari
"Aku adalah sebuah kesalahan."
Keduanya sangat berbeda.
Satu adalah evaluasi terhadap perilaku.
Yang lainnya adalah penilaian terhadap seluruh identitas diri.
3. Kamu Terlalu Sering Menjadi "People Pleaser"
Kamu sulit mengatakan tidak.
Orang meminta bantuan, kamu mengiyakan meskipun sebenarnya kelelahan.
Teman membutuhkan sesuatu, kamu langsung meninggalkan kebutuhanmu sendiri.
Pasangan marah, kamu buru-buru meminta maaf.
Ada konflik, kamu lebih memilih mengalah meskipun sebenarnya kamu tidak setuju.
Dan yang paling melelahkan:
kamu merasa bersalah ketika mencoba memikirkan dirimu sendiri.
Jika ini terdengar familiar, mungkin kamu pernah belajar bahwa menjaga hubungan berarti mengorbankan kebutuhanmu.
Dalam konteks pengalaman masa kecil, seorang anak dapat belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan agar merasa aman.
Misalnya, ketika suasana rumah mudah berubah, anak mungkin menjadi sangat peka terhadap ekspresi wajah, nada suara, atau suasana hati orang dewasa.
Ia belajar membaca:
"Apakah mereka sedang marah?"
"Apakah aku melakukan sesuatu yang salah?"
"Apa yang harus kulakukan agar suasana kembali baik?"
Kemampuan membaca situasi seperti ini sebenarnya dapat menjadi bentuk adaptasi.
Namun ketika terbawa ke masa dewasa, adaptasi tersebut bisa berubah menjadi kebiasaan mengabaikan kebutuhan sendiri.
Kamu mungkin menjadi sangat pandai memahami perasaan orang lain.
Tetapi kesulitan memahami perasaanmu sendiri.
Kamu tahu kapan temanmu membutuhkan ruang.
Kamu tahu kapan pasanganmu sedang kesal.
Kamu tahu bagaimana membuat orang lain merasa nyaman.
Namun ketika ditanya:
"Sebenarnya kamu sendiri maunya apa?"
Kamu justru bingung.
Karena selama bertahun-tahun, perhatianmu lebih banyak diarahkan ke luar.
People pleasing bukan selalu berarti kamu terlalu baik.
Kadang-kadang, di balik perilaku tersebut ada ketakutan:
"Kalau aku mengecewakan mereka, mereka akan meninggalkanku."
Atau:
"Kalau aku mengatakan tidak, mereka akan marah."
Atau:
"Aku harus berguna supaya tetap disukai."
Inilah bagian yang penting untuk disadari.
Menjadi orang yang baik bukan masalah.
Membantu orang lain juga bukan masalah.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika kebaikan berubah menjadi kebutuhan untuk terus-menerus mendapatkan penerimaan.
Karena hubungan yang sehat seharusnya memberikan ruang untuk dua hal sekaligus:
peduli kepada orang lain dan tetap peduli kepada diri sendiri.
4. Kamu Bereaksi Sangat Kuat terhadap Konflik
Ada orang yang ketika menghadapi konflik langsung menyerang.
Ada yang menangis.
Ada yang diam.
Ada yang pergi.
Ada pula yang langsung meminta maaf meskipun belum tentu bersalah.
Jika konflik membuat tubuhmu terasa sangat terancam, mungkin ada pengalaman masa lalu yang membuat otakmu belajar bahwa konflik berarti bahaya.
Sekali lagi, ini bukan berarti pasti berasal dari masa kecil.
Namun pengalaman sebelumnya memang dapat memengaruhi cara seseorang merespons stres dan hubungan.
Bayangkan seorang anak yang sering menyaksikan pertengkaran di rumah.
Atau anak yang terbiasa menghadapi kemarahan orang dewasa.
Anak mungkin tidak memiliki kemampuan untuk memahami konteks masalah tersebut.
Yang ia pahami hanyalah:
"Ketika suara menjadi keras, sesuatu yang buruk mungkin terjadi."
Pengalaman semacam itu dapat membuat seseorang menjadi sangat sensitif terhadap konflik ketika dewasa.
Suara yang sedikit meninggi mungkin terasa sangat mengancam.
Perdebatan kecil terasa seperti akhir hubungan.
Ketidaksepakatan terasa seperti penolakan.
Dan akhirnya, kamu melakukan apa pun agar konflik segera berhenti.
Bahkan jika itu berarti mengorbankan kebutuhanmu sendiri.
Perhatikan respons tubuhmu.
Ketika konflik terjadi, apakah kamu:
jantung berdebar,
sulit berpikir jernih,
tangan gemetar,
ingin melarikan diri,
tiba-tiba diam,
merasa ingin menangis,
atau justru menjadi sangat defensif?
Reaksi seperti melawan, melarikan diri, membeku, atau berusaha meredakan situasi dapat muncul ketika sistem tubuh merasakan ancaman.
Yang menarik, ancaman itu tidak selalu berarti bahaya fisik.
Bagi seseorang yang sangat takut kehilangan hubungan, konflik emosional juga bisa terasa seperti ancaman besar.
Karena itu, ketika sedang konflik, mungkin yang kamu perlukan bukan langsung mencari siapa yang benar.
Tetapi terlebih dahulu membantu dirimu merasa cukup aman untuk berpikir.
Tarik napas.
Berikan jeda.
Kenali apa yang sedang terjadi di dalam tubuh.
Kemudian tanyakan:
"Apakah aku sedang menghadapi masalah yang ada di depanku, atau tubuhku sedang mengingat sesuatu yang pernah terjadi?"
5. Kamu Terus Mengulang Pola Hubungan yang Sama
Ini mungkin tanda yang paling membingungkan.
Kamu sudah berjanji tidak akan mengulangi hubungan seperti sebelumnya.
Tetapi entah bagaimana, kamu kembali menemukan dirimu dalam situasi yang serupa.
Pasangan berbeda.
Tempat berbeda.
Waktu berbeda.
Namun perasaannya terasa sama.
Kamu kembali menjadi orang yang mengejar.
Kembali takut ditinggalkan.
Kembali merasa tidak cukup.
Kembali berusaha mendapatkan perhatian seseorang.
Atau kembali memilih orang yang membuatmu harus bekerja keras untuk mendapatkan kasih sayang.
Mengapa?
Salah satu kemungkinan adalah manusia cenderung tertarik pada pola yang terasa familiar.
Familiar tidak selalu berarti sehat.
Sesuatu bisa terasa familiar karena sejak dulu kita terbiasa dengannya.
Jika seseorang tumbuh dengan pola hubungan tertentu, pola itu dapat menjadi sesuatu yang dikenali oleh sistem emosinya.
Bukan berarti seseorang secara sadar mencari penderitaan.
Bukan pula berarti semua pasangan yang dipilih pasti merupakan "pengganti orang tua".
Realitas hubungan manusia jauh lebih kompleks.
Namun pengalaman sebelumnya dapat memengaruhi ekspektasi, batasan, cara memilih pasangan, serta cara seseorang menafsirkan perilaku orang lain.
Misalnya, seseorang mungkin menganggap perhatian yang tidak konsisten sebagai sesuatu yang sangat menarik.
Mengapa?
Karena perhatian tersebut terasa seperti sesuatu yang harus diperjuangkan.
Sementara hubungan yang stabil justru terasa "membosankan".
Ini bukan aturan universal.
Tetapi pola semacam itu layak diperhatikan.
Karena terkadang kita tidak mengejar apa yang paling baik untuk kita.
Kita mengejar apa yang paling familiar bagi sistem emosional kita.
Jadi, Apa Sebenarnya "Inner Child"?
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Istilah inner child sering digunakan di media sosial seolah-olah merupakan bagian ilmiah yang berdiri sendiri dalam diri manusia.
Padahal, dalam psikologi akademik dan klinis, "inner child" bukan diagnosis resmi.
Istilah tersebut lebih tepat dipahami sebagai metafora.
Metafora untuk bagian pengalaman emosional masa lalu yang mungkin masih terasa hidup dalam diri seseorang.
Ketika orang berkata:
"Inner child-ku terluka."
Mereka mungkin sedang mencoba menjelaskan bahwa pengalaman masa lalu masih memengaruhi emosi dan perilaku mereka saat ini.
Misalnya:
"Aku masih sangat takut ditolak."
"Aku merasa harus selalu sempurna."
"Aku sulit percaya kepada orang lain."
"Aku merasa harus menyenangkan semua orang."
"Aku takut marah karena konflik terasa berbahaya."
Semua pengalaman tersebut bisa dibahas secara lebih ilmiah menggunakan berbagai konsep psikologi seperti pembelajaran, regulasi emosi, pengalaman masa kecil, pola keterikatan, skema kognitif, respons terhadap stres, dan mekanisme pertahanan.
Jadi, jangan buru-buru menyimpulkan:
"Aku seperti ini berarti inner child-ku rusak."
Kamu bukan manusia yang rusak.
Kamu mungkin memiliki pola yang terbentuk melalui pengalaman.
Dan pola dapat dipahami.
Pola juga dapat berubah.
Masa Kecil Tidak Harus "Buruk" untuk Memengaruhi Dirimu
Ini juga penting.
Ketika membahas inner child, kita sering melihat masa kecil secara hitam-putih.
Seolah-olah seseorang harus mengalami kekerasan atau trauma besar agar memiliki luka emosional.
Padahal pengalaman manusia jauh lebih kompleks.
Seseorang dapat tumbuh dalam keluarga yang penuh kasih sayang tetapi tetap membawa pola tertentu.
Orang tua dapat mencintai anaknya tetapi tetap melakukan kesalahan.
Anak dapat mengalami pengalaman yang sangat berbeda dengan saudaranya dalam keluarga yang sama.
Dan sebuah pengalaman yang dianggap biasa oleh orang dewasa bisa terasa sangat besar bagi seorang anak.
Namun, ini bukan alasan untuk menyalahkan orang tua atas seluruh masalah kehidupan seseorang.
Masa lalu penting.
Tetapi masa lalu bukan satu-satunya faktor.
Genetik, lingkungan sosial, kepribadian, pengalaman remaja, hubungan dewasa, kondisi kehidupan saat ini, dan berbagai faktor lainnya juga dapat memengaruhi kesehatan psikologis.
Dengan kata lain:
memahami masa lalu bukan berarti menyalahkan masa lalu.
Bagaimana Jika Kamu Menemukan Kelima Tanda Ini dalam Dirimu?
Jangan langsung panik.
Dan jangan buru-buru memberi label kepada diri sendiri.
Kesadaran sebenarnya adalah langkah pertama.
Mulailah dengan memperhatikan pola.
Ketika emosimu tiba-tiba sangat kuat, berhenti sejenak dan tanyakan:
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Pisahkan fakta dari interpretasi.
Fakta:
"Dia belum membalas pesanku selama enam jam."
Interpretasi:
"Dia sudah tidak peduli kepadaku."
Keduanya bukan hal yang sama.
Kemudian tanyakan:
"Apa yang sedang kurasakan?"
Bukan hanya:
"Aku marah."
Cobalah lebih spesifik.
Apakah sebenarnya kamu takut?
Kecewa?
Malu?
Tidak aman?
Merasa ditolak?
Merasa tidak cukup?
Semakin mampu memberi nama pada emosi, semakin mudah memahami kebutuhan yang ada di baliknya.
Lalu tanyakan:
"Apa yang sebenarnya kubutuhkan?"
Mungkin kamu membutuhkan kepastian.
Mungkin membutuhkan istirahat.
Mungkin membutuhkan batasan.
Mungkin membutuhkan komunikasi yang lebih jelas.
Atau mungkin membutuhkan bantuan profesional.
Belajar Menjadi Orang Dewasa bagi Dirimu Sendiri
Salah satu cara sehat memahami konsep inner child bukan dengan terus menyalahkan masa lalu.
Tetapi dengan belajar memberikan kepada dirimu sendiri sesuatu yang mungkin dulu sulit kamu dapatkan:
rasa aman.
Ketika kamu gagal, katakan:
"Aku memang melakukan kesalahan. Tapi kesalahan ini tidak menentukan seluruh nilai diriku."
Ketika seseorang menolakmu:
"Ditolak seseorang memang menyakitkan. Tapi itu tidak berarti aku tidak layak dicintai."
Ketika kamu merasa bersalah karena mengatakan tidak:
"Aku boleh memiliki batasan. Mengatakan tidak tidak otomatis membuatku menjadi orang jahat."
Ketika konflik terjadi:
"Aku sedang tidak nyaman, tetapi aku masih bisa berhenti, bernapas, dan memilih bagaimana merespons."
Inilah yang sering disebut sebagai self-compassion atau belas kasih kepada diri sendiri.
Bukan memanjakan diri.
Bukan membenarkan semua kesalahan.
Tetapi memperlakukan diri dengan cara yang lebih manusiawi ketika mengalami kesulitan.
Kamu Tidak Harus Menyembuhkan Semuanya Sendirian
Ada kalanya refleksi diri cukup membantu.
Tetapi ada pula kondisi ketika masalah emosional sudah sangat mengganggu kehidupan sehari-hari.
Misalnya:
hubungan terus-menerus rusak karena pola yang sama,
kecemasan sangat sulit dikendalikan,
pengalaman masa lalu terus muncul secara intens,
kamu mengalami gejala trauma,
tidur dan pekerjaan terganggu,
atau kamu merasa tidak mampu mengatasi semuanya sendiri.
Dalam situasi seperti itu, berbicara dengan psikolog atau profesional kesehatan mental dapat menjadi pilihan yang masuk akal.
Terapi bukan berarti kamu "rusak".
Justru terapi dapat menjadi tempat untuk memahami pola dengan lebih aman dan terstruktur.
Seorang profesional juga dapat membantu membedakan apakah masalah yang kamu alami berkaitan dengan pengalaman masa lalu, stres saat ini, pola hubungan, kecemasan, depresi, trauma, atau faktor lainnya.
Karena itu, jangan mencoba mendiagnosis diri hanya berdasarkan video media sosial atau daftar tanda di internet.
Pada Akhirnya, Masa Lalu Bisa Menjelaskanmu, Tetapi Tidak Harus Mengendalikanmu
Mungkin ada bagian dari dirimu yang masih takut ditolak.
Mungkin ada bagian yang masih merasa harus sempurna.
Mungkin ada bagian yang selalu ingin membuat semua orang bahagia.
Mungkin ada bagian yang panik ketika seseorang menjauh.
Dan mungkin kamu baru menyadari bahwa beberapa reaksimu hari ini terasa seperti sesuatu yang sudah sangat lama kamu bawa.
Tidak apa-apa.
Kesadaran itu bukan kegagalan.
Justru dari sana perubahan bisa dimulai.
Kamu tidak perlu membenci versi dirimu yang dulu.
Anak kecil dalam dirimu, jika istilah itu membantumu memahami pengalamanmu, tidak perlu dimusuhi.
Ia mungkin hanya mewakili bagian dari dirimu yang pernah belajar bertahan dengan cara yang tersedia pada saat itu.
Tetapi kamu sekarang sudah dewasa.
Kamu memiliki lebih banyak pilihan.
Kamu bisa belajar mengatakan tidak.
Kamu bisa belajar membuat batasan.
Kamu bisa belajar menerima kritik tanpa menghancurkan harga diri.
Kamu bisa belajar menghadapi konflik tanpa langsung melarikan diri.
Kamu bisa belajar bahwa seseorang yang tidak membalas pesan bukan otomatis berarti kamu tidak berharga.
Dan yang paling penting:
kamu bisa belajar bahwa rasa takut yang muncul hari ini tidak selalu merupakan gambaran tentang apa yang sedang terjadi hari ini.
Mungkin ada masa lalu di balik reaksimu.
Tetapi masa lalu bukan satu-satunya penentu masa depanmu.
Karena memahami diri bukan tentang mencari siapa yang harus disalahkan.
Memahami diri adalah tentang menyadari:
"Oh, ternyata selama ini aku bereaksi seperti ini karena ada pola yang sudah lama terbentuk."
Dan ketika sebuah pola sudah bisa kamu lihat, kamu mulai memiliki kesempatan untuk memilih respons yang berbeda.
Bukan karena masa lalu tiba-tiba hilang.
Tetapi karena sekarang kamu memiliki kesadaran yang sebelumnya mungkin belum kamu miliki.