Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 29 September 2026 | 22.59 WIB

7 Tanda Kamu Membuat Standar Diri yang Terlalu Rendah Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang membuat standar diri terlalu rendah / foto: Magnific/DC Studio

 

JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa bahwa kamu sebenarnya menginginkan lebih dari hidupmu, tetapi setiap kali kesempatan datang, kamu justru berkata dalam hati, “Sudahlah, segini juga sudah cukup”?

Kamu mungkin menerima perlakuan yang sebenarnya menyakitkan karena takut kehilangan seseorang.

Kamu mungkin terus berada dalam pekerjaan yang tidak membuatmu berkembang karena merasa belum pantas mendapatkan sesuatu yang lebih baik.

Atau mungkin kamu sering membandingkan dirimu dengan orang lain, lalu menyimpulkan bahwa mereka memang layak mendapatkan kehidupan yang lebih baik, sementara kamu cukup dengan apa yang ada.

Sekilas, semua itu terlihat seperti sikap sederhana, rendah hati, realistis, atau bahkan bersyukur.

Namun dalam psikologi, ada perbedaan antara menerima kenyataan dengan sehat dan menurunkan standar terhadap diri sendiri karena merasa tidak layak mendapatkan sesuatu yang lebih baik.

Standar diri yang terlalu rendah tidak selalu terlihat seperti membenci diri sendiri. Kadang justru muncul dalam bentuk yang sangat halus.

Kamu menjadi orang yang selalu mengerti orang lain, tetapi jarang membela kebutuhanmu sendiri.

Kamu mudah memaafkan orang lain, tetapi sangat sulit memaafkan kesalahanmu sendiri.

Kamu tidak banyak menuntut, bukan karena memang tidak membutuhkan apa-apa, tetapi karena sejak awal kamu sudah yakin bahwa meminta lebih adalah sesuatu yang tidak pantas kamu lakukan.

Dan yang paling berbahaya, setelah bertahun-tahun hidup seperti itu, kamu mungkin mulai menganggapnya sebagai kepribadian.

“Memang aku orangnya begini.”

Padahal mungkin bukan begitu.

Mungkin kamu sedang hidup berdasarkan standar yang jauh lebih rendah daripada kemampuan, kebutuhan, dan nilai dirimu yang sebenarnya.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (28/9), terdapat 7 tanda bahwa kamu mungkin sedang membuat standar diri terlalu rendah, dilihat dari beberapa konsep dalam psikologi seperti self-esteem, self-worth, boundaries, learned helplessness, dan pola pikir negatif.

1. Kamu Terlalu Mudah Menerima Perlakuan yang Sebenarnya Tidak Layak

Salah satu tanda yang paling jelas adalah ketika kamu terus menerima sesuatu yang sebenarnya membuatmu terluka.

Seseorang berbicara kasar kepadamu.

Teman hanya mencarimu ketika membutuhkan sesuatu.

Pasangan tidak menghargai batasanmu.

Atasan terus memberikan beban yang tidak masuk akal tanpa menghargai kontribusimu.

Tetapi setiap kali merasa diperlakukan tidak adil, kamu justru mencari alasan untuk memakluminya.

“Mungkin dia sedang banyak masalah.”

“Mungkin aku terlalu sensitif.”

“Setidaknya dia masih peduli.”

“Namanya juga hidup, tidak mungkin semuanya sesuai keinginan.”

Kemampuan memahami orang lain sebenarnya merupakan hal yang baik.

Masalahnya muncul ketika memahami orang lain membuatmu terus mengabaikan dirimu sendiri.

Dalam psikologi, self-worth berkaitan dengan bagaimana seseorang menilai nilai dirinya sebagai manusia. Ketika seseorang memiliki penilaian diri yang rendah, ia dapat lebih mudah menganggap kebutuhan dan perasaannya sendiri sebagai sesuatu yang tidak terlalu penting.

Akibatnya, standar yang diterapkan kepada orang lain berbeda dengan standar yang diterapkan kepada dirinya sendiri.

Kamu mungkin berpikir:

“Kalau orang lain diperlakukan seperti ini, aku akan menyuruhnya pergi.”

Tetapi ketika hal itu terjadi kepadamu, kamu berkata:

“Tidak apa-apa. Aku bisa tahan.”

Di sinilah masalahnya.

Bukan karena kamu terlalu kuat.

Mungkin karena kamu sudah terlalu terbiasa menganggap rasa tidak nyaman sebagai sesuatu yang harus kamu terima.

Standar diri yang sehat bukan berarti menuntut semua orang untuk memperlakukanmu dengan sempurna.

Standar yang sehat berarti kamu mengetahui batas minimum perlakuan yang masih bisa kamu terima tanpa kehilangan penghargaan terhadap dirimu sendiri.

2. Kamu Selalu Merasa Harus "Menerima Apa Adanya"

Ada perbedaan besar antara bersyukur dan menyerah terhadap sesuatu yang sebenarnya bisa diperbaiki.

Kamu bisa bersyukur dengan pekerjaanmu sekarang sambil tetap ingin mengembangkan karier.

Kamu bisa bersyukur memiliki pasangan sambil tetap mengharapkan komunikasi yang sehat.

Kamu bisa menerima kekurangan dirimu sambil tetap berusaha menjadi lebih baik.

Namun ketika standar diri terlalu rendah, kata “menerima” bisa berubah menjadi alasan untuk berhenti memperjuangkan kebutuhan sendiri.

Kamu mengatakan:

“Ya sudah, memang segini kemampuan saya.”

“Aku memang tidak sepintar mereka.”

“Aku memang tidak cocok mendapatkan hal seperti itu.”

“Mungkin kehidupan seperti ini memang sudah menjadi bagian saya.”

Kalimat-kalimat tersebut terdengar realistis.

Tetapi coba tanyakan sesuatu kepada dirimu:

Apakah aku benar-benar menerima kenyataan, atau sebenarnya aku sudah berhenti percaya bahwa aku mampu mengubahnya?

Ini merupakan perbedaan yang sangat penting.

Dalam psikologi, konsep learned helplessness menggambarkan kondisi ketika pengalaman berulang yang terasa tidak dapat dikendalikan dapat membuat seseorang belajar bahwa usahanya tidak akan menghasilkan perubahan. Akibatnya, seseorang bisa berhenti mencoba bahkan ketika sebenarnya masih ada kemungkinan untuk bertindak.

Jika kamu terlalu sering gagal, ditolak, diremehkan, atau mengalami situasi yang membuatmu merasa tidak berdaya, kamu mungkin akhirnya menurunkan ekspektasi terhadap hidup.

Bukan karena kamu benar-benar tidak menginginkan sesuatu.

Tetapi karena menginginkannya terasa terlalu menyakitkan.

Lebih mudah berkata:

“Aku tidak butuh itu.”

daripada mengakui:

“Aku sebenarnya menginginkannya, tetapi aku takut tidak akan pernah mendapatkannya.”

Dan terkadang, standar diri yang rendah adalah cara psikologis untuk melindungi diri dari kekecewaan.

Kalau kamu tidak berharap terlalu banyak, kamu merasa tidak akan terlalu sakit ketika gagal.

Namun ada harga yang harus dibayar.

Kamu mungkin menjadi aman dari kekecewaan, tetapi juga menjauh dari kemungkinan berkembang.

3. Kamu Merasa Tidak Nyaman Ketika Mendapatkan Sesuatu yang Baik

Ini adalah tanda yang sering tidak disadari.

Bayangkan seseorang memberikan pujian kepadamu.

Dia mengatakan:

“Kamu hebat. Aku kagum dengan cara kamu menyelesaikan masalah itu.”

Tetapi bukannya menerima pujian tersebut, kamu langsung menjawab:

“Ah, biasa saja.”

“Kebetulan saja.”

“Sebenarnya tidak sebagus itu.”

“Kalau dibandingkan orang lain, aku masih jauh.”

Sekali atau dua kali tentu bukan masalah.

Namun jika hampir setiap pencapaian selalu kamu kecilkan, ada sesuatu yang menarik untuk diperhatikan.

Apakah kamu memang rendah hati?

Atau kamu merasa tidak nyaman mengakui bahwa dirimu memang memiliki kualitas tertentu?

Orang dengan self-esteem yang rendah terkadang memiliki kesulitan dalam menerima evaluasi positif tentang dirinya karena informasi tersebut tidak sesuai dengan gambaran dirinya yang sudah terbentuk.

Misalnya, kamu telah lama percaya:

“Aku bukan orang pintar.”

Ketika orang lain mengatakan kamu pintar, pujian tersebut bertentangan dengan keyakinanmu tentang dirimu sendiri.

Akibatnya, kamu mencari penjelasan lain.

“Aku cuma beruntung.”

“Soalnya pertanyaannya mudah.”

“Dia cuma sedang baik.”

Dengan kata lain, keberhasilan dianggap sebagai kebetulan, sedangkan kegagalan dianggap sebagai bukti bahwa kamu memang tidak cukup baik.

Perhatikan pola ini.

Jika ketika berhasil kamu berkata:

“Cuma keberuntungan.”

Tetapi ketika gagal kamu berkata:

“Memang aku tidak mampu.”

maka kamu sedang menggunakan standar penilaian yang tidak seimbang terhadap dirimu sendiri.

Keberhasilanmu selalu memiliki alasan eksternal.

Kegagalanmu selalu kamu jadikan identitas.

4. Kamu Lebih Takut Kehilangan Orang daripada Kehilangan Dirimu Sendiri

Pernahkah kamu mempertahankan hubungan hanya karena takut sendirian?

Kamu tahu hubungan itu melelahkan.

Kamu tahu komunikasi di dalamnya tidak sehat.

Kamu tahu kebutuhanmu sering diabaikan.

Namun ketika berpikir untuk pergi, muncul ketakutan:

“Kalau aku meninggalkannya, nanti siapa yang akan bersamaku?”

Ini bukan berarti setiap hubungan yang sulit harus segera diakhiri.

Hubungan manusia memang kompleks. Setiap orang memiliki kekurangan, dan konflik merupakan bagian dari hubungan.

Namun ada perbedaan antara berkompromi dan mengorbankan harga diri secara terus-menerus.

Kompromi berarti kedua pihak menyesuaikan diri.

Standar diri yang terlalu rendah terjadi ketika hanya kamu yang terus menyesuaikan diri.

Kamu meminta lebih sedikit.

Berharap lebih sedikit.

Mengeluh lebih sedikit.

Memahami lebih banyak.

Memaafkan lebih banyak.

Dan perlahan-lahan, kebutuhanmu sendiri menghilang dari hubungan tersebut.

Dalam konteks hubungan interpersonal, kemampuan menetapkan boundaries sangat penting. Batasan membantu seseorang menentukan perilaku apa yang dapat ia terima dan apa yang tidak.

Memiliki batasan bukan berarti egois.

Bukan pula berarti kamu tidak peduli kepada orang lain.

Justru batasan membantu hubungan menjadi lebih jelas.

Kamu bisa mengatakan:

“Aku memahami kamu sedang marah, tetapi aku tidak bersedia terus berbicara jika kamu menghina aku.”

Kalimat seperti itu bukan tanda bahwa kamu terlalu menuntut.

Itu adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.

5. Kamu Sering Membandingkan Dirimu dengan Orang Lain, Lalu Selalu Menempatkan Dirimu di Bawah

Membandingkan diri dengan orang lain merupakan hal yang sangat manusiawi.

Kita semua melakukannya.

Masalahnya adalah ketika hampir setiap perbandingan selalu berakhir dengan kesimpulan yang sama:

“Aku kalah.”

Temanmu membeli rumah.

Kamu berkata:

“Dia lebih sukses.”

Temanmu mendapatkan pekerjaan baru.

“Dia lebih pintar.”

Orang lain menikah.

“Hidupnya lebih bahagia.”

Seseorang memiliki penampilan menarik.

“Aku tidak mungkin seperti dia.”

Kamu melihat keberhasilan orang lain sebagai bukti kekurangan dirimu sendiri.

Padahal kehidupan orang lain yang terlihat olehmu biasanya hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan cerita mereka.

Psikologi sosial mengenal konsep social comparison, yaitu kecenderungan manusia mengevaluasi dirinya dengan membandingkan diri dengan orang lain.

Perbandingan tersebut tidak selalu buruk.

Perbandingan bisa membantu kita belajar, menetapkan tujuan, dan memahami posisi kita.

Tetapi perbandingan ke atas yang terus-menerus tanpa konteks dapat membuat seseorang merasa kurang jika hasilnya selalu ditafsirkan sebagai bukti ketidakmampuan pribadi.

Coba ubah satu pertanyaan.

Daripada:

“Kenapa hidupku tidak seperti dia?”

cobalah bertanya:

“Apa yang bisa kupelajari dari perjalanan dia tanpa menjadikan keberhasilannya sebagai bukti bahwa aku gagal?”

Orang lain boleh menjadi inspirasi.

Tetapi jangan menjadikan hidup orang lain sebagai alat untuk menghukum dirimu sendiri.

6. Kamu Menetapkan Target yang Sangat Rendah karena Takut Gagal

Ada orang yang sebenarnya memiliki kemampuan untuk berkembang lebih jauh, tetapi memilih target yang sangat aman.

Bukan karena tidak memiliki ambisi.

Melainkan karena takut gagal.

Misalnya kamu sebenarnya ingin mencoba pekerjaan baru.

Tetapi kamu berpikir:

“Aku mungkin tidak diterima.”

Akhirnya kamu tidak melamar.

Kamu ingin memulai bisnis.

“Bagaimana kalau rugi?”

Akhirnya kamu tidak pernah memulai.

Kamu ingin belajar sesuatu yang baru.

“Aku mungkin terlalu tua untuk memulainya.”

Akhirnya kamu menunda.

Ini adalah bentuk self-limiting belief—keyakinan tentang diri sendiri yang membatasi perilaku dan pilihan.

Yang menarik, standar diri yang terlalu rendah sering terasa sangat rasional.

Kamu merasa sedang “realistis”.

Padahal mungkin kamu sedang membuat keputusan berdasarkan ketakutan terhadap kegagalan.

Ada perbedaan antara:

“Aku sudah menghitung risikonya dan memutuskan belum waktunya.”

dengan:

“Aku tidak akan mencoba karena orang seperti aku biasanya tidak berhasil.”

Yang pertama adalah pertimbangan.

Yang kedua adalah keyakinan tentang identitas diri.

Dan keyakinan seperti itu bisa menjadi sangat kuat jika terus diulang.

Pada akhirnya, kamu bukan hanya takut gagal.

Kamu takut membuktikan bahwa keyakinan burukmu tentang dirimu sendiri mungkin benar.

Karena itu kamu memilih tidak mencoba.

Dengan begitu, kamu tidak gagal.

Tetapi kamu juga tidak pernah tahu seberapa jauh sebenarnya kamu bisa berkembang.

7. Kamu Menganggap Kebutuhanmu sebagai "Terlalu Banyak"

Ini mungkin tanda yang paling dalam.

Kamu ingin dihargai.

Kamu ingin didengarkan.

Kamu ingin memiliki waktu untuk diri sendiri.

Kamu ingin pasangan yang komunikatif.

Kamu ingin pekerjaan yang memberikan penghargaan yang layak.

Kamu ingin lingkungan yang tidak terus-menerus merendahkanmu.

Tetapi setiap kali menginginkan sesuatu, kamu merasa bersalah.

“Apa aku terlalu banyak menuntut?”

“Apa aku terlalu sensitif?”

“Apa aku terlalu egois?”

“Orang lain saja bisa bertahan, kenapa aku tidak?”

Perasaan seperti ini bisa membuat seseorang terus-menerus mengecilkan kebutuhannya sendiri.

Padahal kebutuhan bukanlah tuntutan.

Memiliki kebutuhan emosional bukan berarti kamu lemah.

Menginginkan penghargaan bukan berarti kamu sombong.

Memiliki batasan bukan berarti kamu egois.

Dan ingin berkembang bukan berarti kamu tidak bersyukur.

Tentu saja, tidak semua keinginan harus dipenuhi.

Kita tetap hidup dalam dunia yang memiliki keterbatasan. Orang lain juga memiliki kebutuhan, batasan, dan kebebasan sendiri.

Namun ada perbedaan antara mengatakan:

“Aku memahami bahwa tidak semua keinginanku bisa terpenuhi.”

dengan:

“Aku tidak pantas menginginkan apa pun.”

Kalimat kedua menunjukkan masalah yang lebih mendalam.

Karena persoalannya bukan lagi tentang apa yang bisa kamu dapatkan.

Persoalannya adalah bagaimana kamu memandang nilai dirimu sendiri.

Mengapa Kita Bisa Memiliki Standar Diri yang Terlalu Rendah?

Standar diri tidak muncul begitu saja.

Cara seseorang memandang dirinya dapat terbentuk melalui berbagai pengalaman hidup.

Pengalaman ditolak.

Kegagalan.

Kritik berulang.

Hubungan yang tidak sehat.

Pengalaman dibanding-bandingkan.

Lingkungan yang membuat seseorang merasa harus selalu sempurna.

Atau pengalaman ketika kebutuhan emosionalnya terus diabaikan.

Jika seseorang berkali-kali mendapatkan pesan bahwa dirinya tidak cukup baik, pesan tersebut bisa perlahan berubah menjadi suara internal.

Awalnya orang lain yang berkata:

“Kamu tidak cukup baik.”

Lama-kelamaan, kamu sendiri yang mengatakannya.

Tidak ada lagi orang yang perlu merendahkanmu.

Kamu sudah melakukannya sendiri.

Dan ini yang membuat standar diri yang rendah begitu sulit dikenali.

Karena suara itu terdengar seperti suara kita sendiri.

Padahal belum tentu keyakinan tersebut benar.

Standar Diri yang Sehat Bukan Berarti Harus Merasa Hebat Setiap Saat

Ada kesalahpahaman bahwa self-esteem yang sehat berarti selalu percaya diri.

Tidak.

Kamu boleh merasa tidak yakin.

Kamu boleh gagal.

Kamu boleh merasa takut.

Kamu boleh mengakui bahwa ada orang yang lebih baik darimu dalam bidang tertentu.

Self-esteem yang sehat bukan berarti:

“Aku lebih baik daripada semua orang.”

Melainkan sesuatu yang lebih sederhana:

“Aku tetap memiliki nilai meskipun aku tidak sempurna.”

Ini penting.

Karena jika nilai dirimu hanya bergantung pada prestasi, kamu akan merasa berharga ketika berhasil dan merasa tidak berharga ketika gagal.

Standar diri yang sehat lebih stabil.

Kamu bisa berkata:

“Aku gagal dalam hal ini.”

tanpa mengubahnya menjadi:

“Aku adalah orang gagal.”

Kamu bisa berkata:

“Aku masih perlu belajar.”

tanpa menyimpulkan:

“Aku bodoh.”

Kamu bisa berkata:

“Hubungan ini tidak berjalan dengan baik.”

tanpa berpikir:

“Berarti aku tidak layak dicintai.”

Inilah salah satu perbedaan penting antara mengevaluasi perilaku dan menyerang identitas diri.

Lalu, Bagaimana Cara Menaikkan Standar Diri?

Menaikkan standar diri bukan berarti menjadi sombong.

Bukan berarti menuntut orang lain mengikuti semua keinginanmu.

Dan bukan berarti tiba-tiba mengatakan:

“Aku pantas mendapatkan yang terbaik.”

lalu berharap semuanya berubah.

Menaikkan standar diri lebih sering dimulai dari hal-hal kecil.

Mulailah dengan bertanya:

“Apa yang sebenarnya tidak lagi ingin aku toleransi?”

Bukan:

“Apa yang bisa aku dapatkan?”

Tetapi:

“Apa yang tidak sehat jika terus aku terima?”

Kemudian tanyakan:

“Kalau sahabatku mengalami hal yang sama, apa yang akan aku katakan kepadanya?”

Pertanyaan ini sering membantu karena kita biasanya memberikan nasihat yang jauh lebih baik kepada orang lain daripada kepada diri sendiri.

Jika sahabatmu terus dihina, kamu mungkin menyuruhnya menetapkan batasan.

Jika sahabatmu gagal, kamu mungkin mengatakan bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya.

Jika sahabatmu mendapatkan pekerjaan baru, kamu mungkin mengatakan bahwa dia memang layak mendapatkannya.

Sekarang coba berikan nasihat yang sama kepada dirimu sendiri.

Mulai Bedakan antara "Tidak Mampu" dan "Belum Mampu"

Ini perubahan bahasa yang sederhana, tetapi penting.

“Aku tidak mampu.”

terdengar seperti identitas.

Sedangkan:

“Aku belum mampu.”

mengandung kemungkinan.

Kalimat kedua tidak menjamin kamu akan berhasil.

Tetapi membuka ruang untuk belajar.

Daripada:

“Aku memang bukan orang pintar.”

cobalah:

“Aku belum menguasai hal ini.”

Daripada:

“Aku tidak mungkin mendapatkan pekerjaan seperti itu.”

cobalah:

“Aku belum memiliki kualifikasi yang dibutuhkan.”

Daripada:

“Aku memang tidak pantas mendapatkan hubungan yang sehat.”

cobalah:

“Aku perlu belajar membangun hubungan dengan batasan yang lebih sehat.”

Perhatikan perbedaannya.

Yang pertama mengunci identitas.

Yang kedua membuka kemungkinan perubahan.

Jangan Menyamakan Rendah Hati dengan Merendahkan Diri

Rendah hati berarti kamu mengetahui bahwa kamu tidak sempurna.

Merendahkan diri berarti kamu menganggap dirimu tidak memiliki nilai.

Rendah hati berkata:

“Aku masih punya banyak hal untuk dipelajari.”

Merendahkan diri berkata:

“Aku tidak mungkin bisa seperti mereka.”

Rendah hati berkata:

“Aku punya kelebihan dan kekurangan.”

Merendahkan diri berkata:

“Kelebihanku sebenarnya tidak berarti.”

Rendah hati tidak membutuhkan kamu untuk mengecilkan dirimu sendiri.

Kamu boleh mengakui pencapaianmu tanpa menjadi sombong.

Kamu boleh mengatakan bahwa kamu bekerja keras.

Kamu boleh merasa bangga.

Kamu boleh menginginkan kehidupan yang lebih baik.

Dan kamu boleh mengatakan tidak ketika sesuatu sudah melewati batasmu.

Pada Akhirnya, Pertanyaannya Bukan "Apakah Aku Cukup Baik?"

Mungkin selama ini kamu terlalu sering bertanya:

“Apakah aku cukup pintar?”

“Apakah aku cukup sukses?”

“Apakah aku cukup menarik?”

“Apakah aku cukup disukai?”

“Apakah aku cukup berharga?”

Namun mungkin ada pertanyaan yang lebih berguna:

“Apakah cara aku memperlakukan diriku sendiri sudah mencerminkan nilai yang ingin aku miliki?”

Karena kamu tidak perlu menjadi sempurna untuk memperlakukan dirimu dengan hormat.

Kamu tidak harus sukses untuk memiliki batasan.

Kamu tidak harus memiliki banyak pencapaian untuk mengatakan bahwa kebutuhanmu penting.

Dan kamu tidak harus mendapatkan persetujuan semua orang untuk mulai menghargai dirimu sendiri.

Menaikkan standar diri bukan tentang merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Ini tentang berhenti menempatkan dirimu sendiri selalu di posisi paling rendah.

Jadi jika kamu menemukan tujuh tanda tadi dalam dirimu, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri.

Justru lihat itu sebagai kesempatan untuk bertanya:

“Di bagian mana dalam hidupku aku sudah terlalu lama menerima lebih sedikit daripada yang sebenarnya kubutuhkan?”

Mungkin jawabannya ada dalam hubunganmu.

Mungkin dalam pekerjaanmu.

Mungkin dalam cara kamu berbicara kepada dirimu sendiri.

Atau mungkin dalam mimpi-mimpi yang sudah lama kamu kubur karena takut kecewa.

Dan mungkin, langkah pertama untuk mengubah hidup bukanlah menjadi orang yang sama sekali berbeda.

Mungkin langkah pertamanya hanya satu:

berhenti meyakini bahwa kamu harus menerima kehidupan yang lebih kecil hanya karena selama ini kamu terbiasa dengannya.

Kamu tetap boleh realistis.

Tetap boleh bersyukur.

Tetap boleh menerima bahwa hidup tidak selalu sesuai harapan.

Tetapi jangan sampai “menerima kenyataan” menjadi alasan untuk berhenti menghargai diri sendiri.

Karena standar diri yang sehat bukan tentang mendapatkan semuanya.

Standar diri yang sehat adalah mengetahui apa yang penting bagimu, apa yang tidak sehat untuk terus kamu toleransi, dan kapan kamu perlu memperjuangkan dirimu sendiri.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore