seseorang yang mengubah hidup yang sulit./Magnific/DC Studio
JawaPos.com - Ada masa ketika seseorang merasa tidak puas dengan hidupnya.
ia tahu kebiasaan tertentu sudah tidak baik. Ia tahu pekerjaan yang dijalani mungkin tidak lagi membuatnya berkembang. Ia ingin lebih sehat, lebih disiplin, lebih percaya diri, lebih produktif, atau ingin meninggalkan hubungan dan lingkungan yang membuatnya tidak bahagia.
Secara logika, semuanya tampak sederhana.
“Kalau memang tidak suka, ubah saja.”
“Kalau ingin sukses, mulai disiplin.”
“Kalau ingin hidup sehat, olahraga dan makan lebih baik.”
“Kalau ingin bahagia, tinggalkan hal-hal yang membuatmu menderita.”
Namun dalam kehidupan nyata, perubahan hampir tidak pernah sesederhana itu.
Seseorang bisa benar-benar ingin berubah, tetapi tetap mengulangi kebiasaan lama. Ia bisa membaca banyak buku tentang pengembangan diri, membuat daftar tujuan, memasang target baru, bahkan berjanji kepada dirinya sendiri untuk memulai kembali setiap Senin pagi—tetapi beberapa minggu kemudian kembali ke pola yang sama.
Apakah itu berarti ia malas?
Belum tentu.
Dalam psikologi, kesulitan mengubah hidup bukan semata-mata persoalan kurangnya kemauan. Perilaku manusia dibentuk oleh kebiasaan, lingkungan, emosi, pengalaman masa lalu, cara berpikir, kebutuhan akan rasa aman, serta berbagai mekanisme psikologis yang bekerja bahkan ketika kita tidak menyadarinya.
Itulah sebabnya perubahan sering terasa seperti pertarungan antara diri kita yang ingin maju dan bagian lain dari diri kita yang ingin tetap berada di tempat yang familiar.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (26/9), terdapat tujuh alasan mengapa mengubah hidup bisa begitu sulit bagi hampir siapa pun.
1. Otak Manusia Cenderung Menyukai Hal yang Familiar
Salah satu alasan paling mendasar mengapa perubahan terasa berat adalah karena manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan pola yang sudah dikenal.
Kita sering menganggap sesuatu yang familiar sebagai sesuatu yang lebih mudah diprediksi. Bahkan ketika sebuah kondisi tidak ideal, kondisi tersebut tetap memberikan semacam kepastian.
Seseorang mungkin mengeluh tentang pekerjaannya setiap hari, tetapi ia sudah mengetahui bagaimana pekerjaannya berlangsung. Ia tahu siapa rekan kerjanya, kapan harus datang, apa yang harus dikerjakan, berapa penghasilannya, dan seperti apa rutinitasnya.
Ketika muncul kesempatan untuk memulai pekerjaan baru, situasinya berbeda.
Ada ketidakpastian.
Apakah akan cocok dengan lingkungan baru?
Apakah akan mampu menjalankan tanggung jawab baru?
Apakah penghasilannya cukup?
Bagaimana jika ternyata keputusan tersebut salah?
Dengan demikian, seseorang dapat merasa tidak puas terhadap kehidupan lama sekaligus takut meninggalkannya.
Inilah salah satu paradoks perubahan manusia: sesuatu yang tidak menyenangkan tetapi familiar terkadang terasa lebih aman daripada sesuatu yang lebih baik tetapi belum dikenal.
Hal serupa terjadi pada kebiasaan.
Menonton video sebelum tidur mungkin membuat seseorang tidur lebih larut. Ia tahu kebiasaan tersebut tidak baik. Namun otaknya sudah mengenali pola tersebut. Setelah seharian bekerja, membuka ponsel memberikan aktivitas yang mudah dilakukan dan tidak membutuhkan banyak usaha.
Sebaliknya, mengganti kebiasaan tersebut dengan membaca buku, bermeditasi, atau tidur lebih awal membutuhkan tindakan yang berbeda dari rutinitas sebelumnya.
Perubahan berarti keluar dari pola yang sudah otomatis.
Karena itu, ketika seseorang ingin mengubah hidup, tantangannya bukan hanya mengetahui apa yang harus dilakukan. Ia juga harus membangun pola baru sampai pola tersebut menjadi semakin familiar.
Perubahan sering terasa sulit bukan karena tujuan baru itu buruk, tetapi karena jalan menuju tujuan tersebut belum terasa familiar.
2. Kebiasaan Lama Bisa Berjalan Secara Otomatis
Banyak perilaku manusia tidak dilakukan setelah melalui pertimbangan sadar yang panjang.
Kita melakukan banyak hal secara otomatis.
Bangun tidur lalu memeriksa ponsel.
Merasa bosan lalu membuka media sosial.
Merasa stres lalu mencari makanan tertentu.
Pulang kerja lalu langsung berbaring.
Mendapat tugas sulit lalu menundanya.
Merasa tidak percaya diri lalu menghindari situasi yang membuat tidak nyaman.
Kebiasaan terbentuk ketika perilaku tertentu berulang dalam konteks yang serupa. Seiring waktu, perilaku tersebut dapat menjadi semakin otomatis.
Ini menjelaskan mengapa seseorang kadang mengatakan:
“Saya tahu kebiasaan ini buruk, tetapi saya seperti melakukannya tanpa berpikir.”
Masalahnya adalah pengetahuan dan perilaku merupakan dua hal yang berbeda.
Seseorang bisa mengetahui bahwa olahraga bermanfaat tanpa otomatis menjadi orang yang rajin berolahraga.
Seseorang bisa mengetahui bahwa tidur cukup penting tanpa otomatis berhenti menggunakan ponsel pada tengah malam.
Seseorang bisa memahami bahwa menunda pekerjaan membuat stres semakin besar, tetapi tetap menunda ketika menghadapi tugas yang terasa berat.
Pengetahuan memberikan arah, tetapi kebiasaan menentukan banyak perilaku sehari-hari.
Karena itu, perubahan yang bertahan lama biasanya tidak cukup hanya mengandalkan motivasi.
Kita perlu mengubah pola yang memicu kebiasaan.
Misalnya, jika seseorang selalu membuka media sosial ketika merasa bosan, ia mungkin perlu mengubah akses terhadap aplikasi tersebut, mengganti aktivitas saat bosan, atau membuat aturan penggunaan yang lebih konkret.
Dengan kata lain, perubahan bukan hanya tentang berkata:
“Saya harus lebih disiplin.”
Tetapi juga bertanya:
“Apa yang biasanya terjadi beberapa menit sebelum saya melakukan kebiasaan ini?”
Pertanyaan tersebut membantu seseorang melihat bahwa perilakunya memiliki pola.
Dan ketika pola sudah terlihat, pola tersebut lebih mudah untuk diubah.
3. Perubahan Sering Membuat Kita Kehilangan Rasa Aman
Manusia tidak hanya mencari kesenangan. Kita juga mencari keamanan dan kestabilan.
Inilah mengapa perubahan besar dapat menimbulkan kecemasan bahkan ketika perubahan tersebut sebenarnya diinginkan.
Bayangkan seseorang ingin pindah kota untuk mendapatkan kesempatan yang lebih baik.
Secara rasional, ia mungkin mengetahui bahwa kesempatan tersebut bagus.
Namun secara emosional, ada banyak hal yang harus ditinggalkan:
rumah yang familiar, teman, keluarga, rutinitas, tempat makan favorit, lingkungan yang sudah dikenal, bahkan identitas sosial yang selama ini melekat padanya.
Artinya, perubahan tidak hanya menawarkan sesuatu yang baru.
Perubahan juga meminta kita melepaskan sesuatu yang lama.
Dan kehilangan, sekecil apa pun, dapat menimbulkan respons emosional.
Inilah salah satu alasan seseorang dapat mengalami ambivalensi.
Ia ingin berubah, tetapi sekaligus ingin kembali ke kondisi sebelumnya.
Ia ingin mandiri, tetapi takut sendirian.
Ia ingin memulai hubungan baru, tetapi masih takut terluka.
Ia ingin keluar dari pekerjaan yang tidak disukai, tetapi takut kehilangan stabilitas finansial.
Ia ingin menjadi lebih percaya diri, tetapi takut dinilai ketika mulai tampil berbeda.
Perasaan semacam ini bukan berarti seseorang tidak sungguh-sungguh ingin berubah.
Sering kali, dua kebutuhan psikologis sedang bekerja sekaligus:
keinginan untuk berkembang dan keinginan untuk merasa aman.
Perubahan menjadi lebih mudah ketika seseorang tidak memaksa dirinya untuk menghilangkan rasa takut sepenuhnya.
Tujuannya bukan menunggu sampai tidak takut.
Tujuannya adalah belajar bergerak meskipun masih ada ketidakpastian.
4. Kita Sering Terjebak dalam Identitas Lama
Ada perbedaan antara mengatakan:
“Saya sedang kesulitan disiplin.”
dan:
“Saya memang orang yang tidak disiplin.”
Kalimat pertama menggambarkan perilaku.
Kalimat kedua menggambarkan identitas.
Perbedaannya sangat penting.
Ketika sebuah perilaku sudah dianggap sebagai bagian dari identitas, perubahan menjadi lebih sulit karena seseorang tidak lagi merasa sedang mengubah kebiasaan.
Ia merasa sedang mengubah siapa dirinya.
Misalnya, seseorang mungkin mengatakan:
“Saya memang pemalu.”
“Saya memang orang yang malas.”
“Saya bukan orang yang pintar.”
“Saya memang tidak pandai bersosialisasi.”
“Saya dari dulu seperti ini.”
Kalimat-kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi dapat menciptakan batas psikologis.
Jika seseorang percaya bahwa suatu karakter merupakan bagian tetap dari dirinya, ia mungkin lebih mudah menemukan alasan untuk mempertahankan perilaku lama.
Sebaliknya, jika seseorang memandang dirinya sebagai individu yang dapat berkembang, perilaku baru menjadi lebih mudah diterima.
Misalnya:
“Saya belum terbiasa berbicara di depan banyak orang.”
berbeda secara psikologis dari:
“Saya tidak bisa berbicara di depan orang.”
Yang pertama membuka kemungkinan perubahan.
Yang kedua terdengar seperti keputusan final.
Ini bukan berarti seseorang harus berpura-pura menjadi orang lain.
Perubahan yang sehat justru sering dimulai dengan menerima kondisi sekarang sambil menyadari bahwa kondisi tersebut tidak harus menjadi kondisi selamanya.
Masa lalu menjelaskan mengapa kita menjadi seperti sekarang, tetapi tidak selalu menentukan seperti apa kita selamanya.
5. Kita Sering Menginginkan Hasil Baru dengan Cara Lama
Salah satu kesalahan paling umum dalam usaha mengubah hidup adalah berharap hasil berubah tanpa mengubah sistem yang menghasilkan hasil tersebut.
Seseorang ingin lebih sehat tetapi mempertahankan pola makan yang sama.
Ia ingin lebih produktif tetapi mempertahankan lingkungan yang penuh gangguan.
Ia ingin memiliki hubungan yang lebih sehat tetapi tetap menggunakan pola komunikasi yang sama.
Ia ingin menghemat uang tetapi tidak mengubah kebiasaan belanja.
Ia ingin lebih tenang tetapi tetap mengisi setiap waktu kosong dengan informasi, notifikasi, dan aktivitas.
Secara psikologis, perubahan seperti ini sulit karena perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh konteks.
Kita bukan hanya produk dari niat.
Kita juga merupakan produk dari lingkungan.
Jika seseorang bekerja di lingkungan yang penuh gangguan, memiliki akses tanpa batas terhadap hiburan digital, tidur tidak teratur, dan tidak memiliki batasan yang jelas antara pekerjaan dan istirahat, maka mengandalkan kemauan saja mungkin tidak cukup.
Karena itu, salah satu prinsip penting dalam perubahan perilaku adalah:
jangan hanya mengubah tujuan; ubah juga lingkungan yang mendukung perilaku lama.
Jika ingin membaca lebih banyak, letakkan buku di tempat yang mudah terlihat.
Jika ingin mengurangi penggunaan ponsel, kurangi pemicu yang membuat kita terus membukanya.
Jika ingin berolahraga, buat akses terhadap olahraga menjadi lebih mudah.
Jika ingin mengerjakan tugas penting, kurangi gangguan ketika waktu kerja dimulai.
Perubahan menjadi lebih realistis ketika lingkungan ikut membantu.
6. Kita Cenderung Menghindari Ketidaknyamanan Jangka Pendek
Banyak perubahan yang bermanfaat dalam jangka panjang justru terasa tidak menyenangkan dalam jangka pendek.
Berolahraga bisa melelahkan.
Belajar sesuatu yang baru bisa membuat frustrasi.
Mengakui kesalahan bisa memalukan.
Mengakhiri kebiasaan buruk bisa membuat tidak nyaman.
Mengatakan “tidak” bisa menimbulkan rasa bersalah.
Memulai pekerjaan baru bisa membuat cemas.
Berbicara secara jujur dalam sebuah hubungan bisa terasa menakutkan.
Sementara itu, kebiasaan lama sering menawarkan kenyamanan instan.
Menunda pekerjaan memberikan rasa lega untuk sementara.
Membeli sesuatu dapat memberikan kesenangan sesaat.
Menonton video mengalihkan perhatian dari stres.
Menghindari percakapan sulit membuat seseorang tidak perlu menghadapi konflik pada saat itu.
Masalahnya, otak manusia tidak selalu memilih berdasarkan apa yang paling bermanfaat dalam jangka panjang.
Kita juga sangat dipengaruhi oleh konsekuensi yang terasa sekarang.
Inilah mengapa seseorang dapat mengetahui bahwa sebuah kebiasaan buruk akan merugikan dirinya beberapa bulan lagi, tetapi tetap melakukannya karena kebiasaan tersebut memberikan kenyamanan sekarang.
Perubahan membutuhkan kemampuan untuk mentoleransi ketidaknyamanan sementara demi tujuan yang lebih panjang.
Bukan berarti seseorang harus menyiksa diri.
Sebaliknya, perubahan yang realistis justru perlu dilakukan secara bertahap sehingga ketidaknyamanan tidak menjadi terlalu besar.
Jika target terlalu ekstrem, seseorang mungkin bertahan beberapa hari kemudian menyerah.
Jika target cukup kecil tetapi konsisten, perilaku baru memiliki peluang lebih besar untuk menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
7. Kita Sering Mengharapkan Perubahan Terjadi Lebih Cepat daripada Kenyataannya
Alasan terakhir mungkin yang paling sering membuat orang menyerah.
Kita ingin perubahan terlihat segera.
Mulai olahraga beberapa hari, berharap tubuh langsung berubah.
Mulai membaca, berharap langsung menjadi jauh lebih pintar.
Mulai menabung, berharap kondisi finansial segera berubah.
Mulai terapi atau refleksi diri, berharap masalah emosional langsung selesai.
Mulai membangun bisnis, berharap langsung mendapatkan hasil besar.
Padahal perubahan manusia biasanya bersifat bertahap.
Dalam banyak kasus, kemajuan bahkan tidak terlihat setiap hari.
Seseorang mungkin menjalani proses yang benar selama berminggu-minggu tetapi merasa tidak ada perubahan berarti.
Kemudian, setelah beberapa bulan, ia baru menyadari bahwa sesuatu memang telah berubah.
Inilah mengapa konsistensi sering lebih penting daripada ledakan motivasi sesaat.
Motivasi dapat membantu seseorang memulai.
Tetapi kehidupan sehari-hari membutuhkan sistem yang dapat dipertahankan ketika motivasi sedang rendah.
Ada hari ketika kita bersemangat.
Ada hari ketika kita lelah.
Ada hari ketika semuanya berjalan sesuai rencana.
Ada pula hari ketika satu-satunya keberhasilan adalah tetap melakukan sedikit hal yang sudah direncanakan.
Karena itu, perubahan yang sehat tidak harus selalu terlihat spektakuler.
Kadang-kadang perubahan terlihat seperti:
bangun sedikit lebih awal,
mengurangi satu kebiasaan buruk,
menyelesaikan satu tugas penting,
berjalan selama beberapa menit,
mengatakan tidak ketika biasanya selalu mengiyakan,
atau mencoba kembali setelah sebelumnya gagal.
Hal-hal kecil tersebut mungkin tampak tidak berarti.
Namun perubahan besar dalam hidup sering dibangun dari perilaku kecil yang dilakukan berulang kali.
Jadi, Mengapa Mengubah Hidup Begitu Sulit?
Karena manusia bukan mesin yang cukup diberi instruksi lalu langsung berubah.
Kita memiliki kebiasaan.
Kita memiliki kebutuhan akan keamanan.
Kita memiliki emosi.
Kita memiliki pengalaman masa lalu.
Kita dipengaruhi lingkungan.
Kita memiliki identitas dan cerita tentang diri sendiri.
Dan kita sering menginginkan hasil jangka panjang tanpa harus merasakan ketidaknyamanan jangka pendek.
Itulah sebabnya kegagalan dalam mengubah kebiasaan tidak otomatis berarti seseorang lemah atau malas.
Sering kali, ia sedang berhadapan dengan sistem psikologis yang memang kompleks.
Yang perlu diubah bukan hanya satu keputusan.
Yang perlu dibangun adalah pola baru.
Dan pola baru membutuhkan waktu.
Perubahan Tidak Harus Dimulai dengan Mengubah Segalanya
Ada kecenderungan untuk menganggap perubahan hidup harus dimulai dengan keputusan besar.
Besok harus menjadi orang baru.
Mulai olahraga setiap hari.
Bangun pukul lima pagi.
Tidak boleh menggunakan media sosial lagi.
Harus membaca satu buku setiap minggu.
Harus langsung produktif.
Harus langsung percaya diri.
Pendekatan seperti itu memang terdengar penuh semangat, tetapi sering kali tidak realistis.
Perubahan yang bertahan lama justru bisa dimulai dari pertanyaan yang lebih sederhana:
“Apa satu hal kecil yang bisa saya lakukan secara berbeda hari ini?”
Bukan:
“Bagaimana saya mengubah seluruh hidup saya?”
Tetapi:
“Apa satu pola yang ingin saya ubah?”
Bukan:
“Bagaimana saya menjadi manusia yang sepenuhnya berbeda?”
Tetapi:
“Perilaku kecil apa yang ingin saya ulangi sampai menjadi bagian dari diri saya?”
Pertanyaan tersebut mengubah perubahan dari sesuatu yang terasa seperti proyek raksasa menjadi proses yang dapat dijalani.
Pada akhirnya, mengubah hidup bukan berarti menjadi orang yang sama sekali berbeda.
Sering kali, perubahan berarti membangun cara hidup yang lebih sesuai dengan nilai, tujuan, dan kebutuhan kita—sedikit demi sedikit.
Dan mungkin itulah alasan mengapa perubahan membutuhkan kesabaran.
Kita tidak sedang mengubah sebuah kebiasaan dalam satu hari. Kita sedang membangun pola hidup baru yang suatu hari nanti terasa normal.
Jadi, jika hari ini seseorang merasa sulit berubah, itu tidak selalu berarti ia gagal.
Bisa jadi ia sedang berada di bagian proses yang memang paling tidak nyaman: meninggalkan sesuatu yang sudah familiar sambil belajar membangun sesuatu yang baru.
Perubahan memang sulit.
Tetapi sulit bukan berarti mustahil.
Kadang-kadang, langkah paling penting bukanlah bergerak jauh.
Melainkan berhenti sejenak, memahami mengapa kita terus kembali ke tempat yang sama, lalu memilih satu langkah kecil untuk mencoba lagi.