Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 29 September 2026 | 23.34 WIB

Jika Kamu Ingin Membantu Teman yang Sedang Menghadapi Perceraian, Lakukan 7 Cara Ini

seseorang yang membantu teman yang sedang menghadapi perceraian / foto: Magnific/magnific

 

JawaPos.com - Perceraian bukan hanya tentang berakhirnya sebuah hubungan. Bagi banyak orang, perceraian bisa berarti kehilangan pasangan, perubahan rutinitas, perubahan kondisi ekonomi, kekhawatiran terhadap anak, perubahan lingkungan sosial, hingga munculnya pertanyaan besar tentang masa depan.

Karena itu, ketika seorang teman sedang menghadapi perceraian, mungkin kita ingin membantu tetapi tidak tahu harus melakukan apa.

Kita mungkin takut salah bicara. Takut terlalu ikut campur. Atau justru terlalu bersemangat memberikan nasihat, padahal teman sebenarnya hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

Dalam kondisi seperti ini, bantuan terbaik tidak selalu berupa solusi besar.

Terkadang, hal yang paling berarti adalah kehadiran sederhana: mendengarkan tanpa menghakimi, membantu ketika ia kewalahan, menghormati keputusannya, dan mengingatkannya bahwa ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Lantas, bagaimana cara membantu teman yang sedang menghadapi perceraian?

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (28/9), terdapat tujuh cara yang bisa dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip psikologi tentang dukungan sosial, regulasi emosi, dan proses menghadapi kehilangan.

1. Dengarkan tanpa buru-buru memberikan nasihat

Ketika seseorang sedang berada dalam masalah, respons alami kita sering kali adalah mencari solusi.

Teman berkata, "Aku sudah tidak tahu harus bagaimana."

Kita mungkin langsung menjawab:

"Sudahlah, kamu harus kuat."

"Menurutku, lebih baik kamu..."

"Kalau aku jadi kamu, aku akan..."

"Jangan dipikirkan terus."

Maksudnya mungkin baik. Namun, bagi orang yang sedang mengalami tekanan emosional, nasihat yang datang terlalu cepat justru dapat membuatnya merasa tidak benar-benar didengarkan.

Dalam situasi seperti perceraian, seseorang sering kali membutuhkan ruang untuk menceritakan apa yang dirasakan sebelum mampu memikirkan langkah berikutnya.

Karena itu, cobalah menjadi pendengar terlebih dahulu.

Tidak perlu selalu memberikan jawaban.

Kamu bisa mengatakan:

"Aku dengar kamu."

"Kalau kamu mau cerita, aku ada di sini."

"Kedengarannya ini memang berat."

"Kamu tidak harus menjelaskan semuanya sekarang."

Kalimat-kalimat sederhana seperti itu dapat memberikan pesan penting: perasaan mereka diterima dan mereka tidak sendirian.

Dengarkan, bukan menginterogasi

Ada perbedaan antara menunjukkan perhatian dan meminta terlalu banyak informasi.

Hindari pertanyaan seperti:

"Memangnya siapa yang salah?"

"Kenapa sampai cerai?"

"Pasanganmu selingkuh?"

"Anak-anak bagaimana?"

"Kamu masih cinta atau tidak?"

"Sudah dapat pengacara?"

Tidak semua pertanyaan perlu dijawab saat itu juga.

Jika temanmu ingin menceritakan detailnya, biarkan ia melakukannya berdasarkan kesiapannya sendiri.

Kamu tidak perlu mengetahui seluruh cerita untuk menjadi teman yang baik.

2. Validasi perasaannya, tanpa harus membenarkan semua keputusannya

Salah satu bentuk dukungan emosional yang penting adalah validasi.

Validasi bukan berarti mengatakan bahwa semua tindakan seseorang pasti benar.

Validasi berarti mengakui bahwa emosi yang sedang mereka rasakan memang nyata dan layak didengarkan.

Misalnya, temanmu mengatakan:

"Aku merasa gagal sebagai pasangan."

Daripada langsung menjawab:

"Jangan berpikir begitu!"

Kamu bisa mengatakan:

"Aku bisa mengerti kenapa kamu merasa seperti itu setelah semua yang terjadi."

Atau:

"Situasi ini pasti membuatmu mempertanyakan banyak hal tentang dirimu sendiri."

Perbedaan kecil ini penting.

Ketika seseorang sedang emosional, menyangkal perasaannya sering kali tidak membuat perasaan itu hilang.

Sebaliknya, ketika perasaannya diterima, seseorang bisa memiliki ruang yang lebih aman untuk memproses pengalaman tersebut.

Hindari kalimat yang mengecilkan masalah

Beberapa kalimat terdengar seperti motivasi, tetapi dapat terasa menyakitkan bagi orang yang sedang berada dalam krisis.

Contohnya:

"Masih banyak orang lain."

"Anggap saja ini jalan terbaik."

"Setidaknya kamu masih punya anak."

"Semua orang juga pernah mengalami masalah."

"Kamu harus move on."

"Kamu harus bersyukur."

Mungkin suatu hari temanmu memang akan menemukan kembali kebahagiaannya.

Namun, ia tidak harus sampai di sana hari ini.

Biarkan ia memproses kehilangan dengan kecepatannya sendiri.

3. Jangan memaksa temanmu untuk segera "move on"

Ada anggapan bahwa setelah perceraian selesai secara hukum, masalah juga selesai secara emosional.

Padahal keduanya tidak selalu berjalan bersamaan.

Dokumen mungkin sudah ditandatangani.

Status hukum mungkin sudah berubah.

Namun, perasaan seseorang terhadap hubungan yang berakhir dapat membutuhkan waktu lebih lama untuk diproses.

Ada kenangan yang harus diterima. Ada rutinitas yang berubah. Ada harapan tentang masa depan yang mungkin harus dilepaskan.

Karena itu, jangan membuat teman merasa memiliki tenggat waktu untuk pulih.

Hindari mengatakan:

"Sudah berapa bulan, kok masih sedih?"

"Kamu harus mulai cari pasangan baru."

"Jangan terus memikirkan mantan."

"Kapan kamu mau bahagia lagi?"

Pemulihan emosional bukan perlombaan.

Setiap orang dapat memiliki proses yang berbeda.

Yang bisa kamu lakukan adalah menemani proses tersebut tanpa membuatnya merasa bersalah karena belum pulih secepat yang diharapkan orang lain.

4. Tawarkan bantuan yang konkret, bukan hanya berkata "kalau butuh apa-apa bilang"

Ketika seseorang sedang mengalami tekanan berat, bahkan hal-hal sederhana bisa terasa melelahkan.

Mengurus pekerjaan.

Mengurus anak.

Mengatur keuangan.

Menghadapi keluarga.

Mengurus rumah.

Menghadapi proses hukum.

Menjawab pesan.

Semua itu dapat menghabiskan energi mental.

Karena itu, tawaran bantuan yang terlalu umum terkadang sulit dimanfaatkan.

Daripada mengatakan:

"Kalau kamu butuh bantuan, kabari aku."

Cobalah menawarkan sesuatu yang lebih spesifik.

Misalnya:

"Aku bisa menemani kamu ke tempat itu kalau kamu mau."

"Aku bisa mengajak anak-anak bermain Sabtu ini supaya kamu punya waktu istirahat."

"Aku mau membawakan makanan malam ini. Kamu mau apa?"

"Kalau kamu sedang tidak sanggup mengurus sesuatu, bilang. Kita bisa pikirkan bersama."

Bantuan konkret membuat seseorang tidak perlu memikirkan sendiri apa yang harus diminta.

Jangan membuat bantuan terasa seperti utang

Penting juga untuk membantu tanpa membuat teman merasa berutang.

Kalimat seperti:

"Aku sudah banyak membantu kamu."

atau

"Kalau bukan karena aku..."

dapat membuat dukungan berubah menjadi tekanan.

Bantuan yang sehat tetap menghormati kemandirian dan batasan orang yang dibantu.

5. Hormati keputusan dan batasan pribadinya

Perceraian sering kali melibatkan banyak keputusan yang rumit.

Kapan harus berpisah.

Bagaimana berkomunikasi dengan mantan pasangan.

Bagaimana mengatur anak.

Bagaimana membagi waktu.

Bagaimana menghadapi keluarga besar.

Bagaimana menata kembali kehidupan setelah perceraian.

Sebagai teman, kamu mungkin memiliki pendapat.

Namun, memiliki pendapat tidak berarti harus mengambil alih keputusan.

Kamu dapat membantu teman berpikir tanpa menentukan pilihan untuknya.

Misalnya, daripada mengatakan:

"Kamu harus melakukan ini."

Kamu bisa mengatakan:

"Kalau kamu mau, kita bisa melihat pilihan yang kamu punya."

"Apa yang paling kamu khawatirkan dari pilihan itu?"

"Menurutmu, apa yang paling penting untuk kamu dan anak-anak sekarang?"

Pertanyaan semacam ini membantu seseorang melihat situasinya dengan lebih jelas tanpa membuatmu mengambil alih hidupnya.

Hindari menjadikan perceraian sebagai perang

Jika kamu mengenal kedua pihak, situasinya bisa menjadi lebih rumit.

Kamu mungkin hanya mendengar satu sisi cerita.

Karena itu, berhati-hatilah untuk tidak memperburuk konflik dengan mendorong kebencian, penghinaan, atau tindakan balas dendam.

Kamu bisa mendukung temanmu tanpa harus ikut membenci mantan pasangannya.

Dukungan yang sehat berfokus pada kesejahteraan temanmu, bukan memperpanjang konflik.

6. Bantu dia tetap terhubung dengan kehidupan sehari-hari

Saat menghadapi kehilangan besar, seseorang bisa menarik diri dari lingkungan sosial.

Ia mungkin malas bertemu orang.

Tidak ingin keluar rumah.

Tidak ingin membalas pesan.

Atau merasa semua aktivitas yang dulu menyenangkan sekarang tidak berarti.

Sebagai teman, kamu dapat membantu menjaga hubungan sosial tanpa memaksanya.

Tidak perlu selalu mengajak ke acara besar.

Hal sederhana bisa lebih efektif:

"Ngopi sebentar sore ini?"

"Mau jalan kaki 20 menit?"

"Aku mampir, ya. Kita tidak perlu membicarakan masalahmu kalau kamu tidak mau."

"Malam ini kita makan bersama?"

Pesannya sederhana: kehidupan masih memiliki ruang untuk aktivitas kecil yang aman dan menyenangkan.

Namun, jangan menjadikan aktivitas sosial sebagai kewajiban.

Jika ia menolak, hormati.

Kamu dapat menghubunginya lagi beberapa hari kemudian.

Konsistensi sering kali lebih berarti daripada satu kali bantuan besar.

7. Perhatikan tanda-tanda bahwa ia membutuhkan bantuan profesional

Teman memang dapat memberikan dukungan emosional yang sangat berarti.

Namun, teman bukan pengganti psikolog, psikiater, konselor, atau profesional lain yang kompeten.

Jika tekanan yang dialami temanmu mulai mengganggu kehidupan sehari-hari secara serius atau berlangsung terus-menerus, kamu dapat mendorongnya untuk mencari bantuan profesional.

Misalnya, jika ia terus mengalami kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari, mengalami perubahan tidur atau nafsu makan yang berat, terus-menerus merasa putus asa, atau tidak mampu mengatasi tekanan yang dihadapinya.

Sampaikan dengan cara yang tidak menghakimi.

Bukan:

"Kamu kayaknya sudah tidak normal."

Melainkan:

"Aku melihat kamu sedang menghadapi banyak hal. Mungkin akan membantu kalau kamu punya seseorang yang memang terlatih untuk mendampingi proses ini."

Jika ia menunjukkan tanda-tanda ingin menyakiti diri sendiri, tidak ingin hidup, atau berada dalam bahaya, jangan menghadapinya sendirian. Cari bantuan darurat atau layanan profesional setempat dan, jika memungkinkan, tetap dampingi dia sampai bantuan tersedia.

Yang Sering Dilupakan: Kamu Juga Perlu Menjaga Batasan

Membantu teman yang sedang menghadapi perceraian bukan berarti kamu harus tersedia 24 jam sehari.

Kamu juga memiliki kehidupan, pekerjaan, keluarga, dan kebutuhan emosional sendiri.

Jika setiap percakapan selalu berisi masalah yang sama dan kamu mulai merasa kewalahan, kamu boleh membuat batasan.

Misalnya:

"Aku ingin mendengarkan kamu, tapi malam ini aku sedang tidak bisa lama. Besok kita ngobrol lagi, ya."

Batasan bukan berarti tidak peduli.

Justru hubungan pertemanan yang sehat membutuhkan ruang bagi kedua orang di dalamnya.

Kamu dapat menjadi tempat yang aman tanpa menjadikan dirimu satu-satunya tempat bergantung.

Jangan Merasa Harus Memperbaiki Hidup Temanmu

Mungkin ini bagian yang paling penting.

Ketika melihat orang yang kita sayangi sedang terluka, kita ingin segera membuat rasa sakitnya hilang.

Namun, tidak semua rasa sakit bisa kita hilangkan.

Kamu tidak harus memperbaiki pernikahannya.

Kamu tidak harus menentukan apakah ia harus bercerai atau bertahan.

Kamu tidak harus membuatnya melupakan mantan pasangan.

Kamu bahkan tidak harus selalu memiliki jawaban.

Peranmu bisa jauh lebih sederhana.

Hadir. Dengarkan. Validasi. Bantu ketika diperlukan. Hormati pilihannya. Dan ingatkan bahwa ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Terkadang, seseorang tidak membutuhkan teman yang memiliki solusi untuk semua masalah.

Ia hanya membutuhkan seseorang yang tetap ada ketika hidupnya sedang berantakan.

Penutup

Perceraian dapat menjadi pengalaman yang sangat kompleks. Di satu sisi, seseorang mungkin merasa sedih, kehilangan, marah, bingung, atau takut terhadap masa depan. Di sisi lain, ia mungkin juga merasakan kelegaan, kebebasan, atau harapan baru.

Semua emosi tersebut dapat muncul bersamaan.

Karena itu, jika seorang teman sedang menghadapi perceraian, jangan merasa harus menemukan kata-kata yang sempurna.

Mulailah dengan menjadi manusia yang hadir.

Dengarkan tanpa menghakimi.

Validasi tanpa mengambil alih.

Tawarkan bantuan yang konkret.

Hormati batasan dan keputusan.

Jaga hubungan sosial.

Dan bila diperlukan, bantu dia menemukan dukungan profesional.

Sebab pada akhirnya, membantu seseorang melewati masa sulit bukan selalu tentang membawa mereka keluar dari masalah.

Kadang-kadang, bantuan terbaik adalah berjalan bersama mereka sampai mereka cukup kuat untuk menemukan jalan mereka sendiri.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore