Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 21 September 2026 | 02.44 WIB

6 Hal yang Harus Kita Ketahui tentang Pernikahan dan Perceraian Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang sedang mempelajari pernikahan dan perceraian / foto: Magnific/Wavebreak Media

 

JawaPos.com - Pernikahan sering dipandang sebagai awal dari kehidupan baru bersama seseorang yang kita cintai. Di dalamnya ada harapan, komitmen, kedekatan emosional, serta keinginan untuk membangun kehidupan bersama. Namun, pernikahan juga mempertemukan dua individu yang memiliki latar belakang, kebiasaan, kebutuhan, nilai, dan cara menghadapi masalah yang berbeda.

Karena itu, hubungan pernikahan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada pasangan yang mampu melewati konflik dan berkembang bersama. Ada pula yang akhirnya memutuskan untuk berpisah atau bercerai.

Dalam psikologi, pernikahan dan perceraian tidak sesederhana persoalan "masih cinta atau tidak". Kualitas hubungan dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari komunikasi, pola konflik, kebutuhan emosional, kemampuan mengatur emosi, kondisi ekonomi, dukungan sosial, hingga pengalaman masa lalu.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (20/9), terdapat enam hal penting yang perlu kita ketahui tentang pernikahan dan perceraian dari perspektif psikologi.

1. Pernikahan Bukan Sekadar tentang Cinta

Cinta merupakan salah satu unsur penting dalam hubungan romantis, tetapi cinta saja tidak selalu cukup untuk mempertahankan pernikahan.

Pada awal hubungan, pasangan biasanya mengalami ketertarikan yang kuat. Ada rasa ingin selalu bertemu, berbicara, dan mengenal satu sama lain. Fase ini dapat membuat seseorang lebih mudah memusatkan perhatian pada kelebihan pasangannya.

Seiring berjalannya waktu, hubungan memasuki tahap yang berbeda. Rutinitas muncul. Tanggung jawab bertambah. Pasangan mulai menghadapi persoalan nyata: pekerjaan, keuangan, keluarga besar, pengasuhan anak, pembagian pekerjaan rumah, kesehatan, serta perbedaan gaya hidup.

Pada tahap inilah kualitas hubungan sering kali diuji.

Dalam psikologi hubungan, keberlangsungan hubungan tidak hanya berkaitan dengan seberapa besar seseorang mencintai pasangannya, tetapi juga bagaimana pasangan tersebut mengelola hubungan sehari-hari.

Misalnya, dua orang bisa sama-sama saling mencintai tetapi memiliki cara yang sangat berbeda dalam menghadapi konflik. Satu orang ingin segera membicarakan masalah, sementara yang lain membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Jika perbedaan ini tidak dipahami, konflik kecil dapat berkembang menjadi pertengkaran yang berulang.

Karena itu, pernikahan membutuhkan keterampilan, bukan hanya perasaan.

Beberapa keterampilan yang penting antara lain:

kemampuan berkomunikasi secara terbuka;
kemampuan mendengarkan;
kemampuan mengelola emosi;
kemampuan bernegosiasi;
kemampuan meminta maaf;
kemampuan menetapkan batas yang sehat;
kemampuan menyelesaikan masalah bersama;
serta kemampuan menerima bahwa pasangan tidak akan selalu memenuhi seluruh kebutuhan kita.

Dengan kata lain, cinta dapat menjadi dasar hubungan, tetapi hubungan jangka panjang membutuhkan perilaku yang mendukung rasa aman, kepercayaan, dan kerja sama.

Pernikahan juga bukan berarti kehilangan identitas pribadi. Pasangan tetap merupakan dua individu yang memiliki kebutuhan, minat, teman, pekerjaan, dan ruang pribadi masing-masing.

Hubungan yang sehat justru memungkinkan kedekatan sekaligus mempertahankan batas pribadi.

2. Konflik dalam Pernikahan Tidak Selalu Berarti Hubungan Itu Buruk

Banyak orang menganggap pasangan yang jarang bertengkar berarti memiliki pernikahan yang lebih bahagia. Padahal, konflik merupakan bagian yang hampir tidak terhindarkan dari hubungan dekat.

Dua orang yang hidup bersama selama bertahun-tahun tentu akan mengalami perbedaan pendapat.

Masalahnya bukan semata-mata apakah pasangan pernah bertengkar, melainkan bagaimana konflik tersebut berlangsung.

Pertengkaran mengenai pembagian pekerjaan rumah, misalnya, dapat menjadi kesempatan untuk memahami kebutuhan masing-masing. Namun konflik yang sama dapat menjadi destruktif apabila berubah menjadi penghinaan, ancaman, manipulasi, atau kekerasan.

Ada perbedaan besar antara mengatakan:

"Aku merasa kewalahan karena pekerjaan rumah banyak yang harus aku kerjakan sendiri. Bisa kita bagi lagi tanggung jawabnya?"

dengan:

"Kamu memang selalu malas. Aku tidak pernah bisa mengandalkanmu."

Kalimat pertama berfokus pada masalah dan kebutuhan. Kalimat kedua menyerang karakter pasangan.

Dalam penelitian mengenai hubungan pasangan, pola komunikasi negatif yang berulang menjadi perhatian penting karena dapat merusak rasa aman dan kedekatan emosional.

Salah satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa pasangan tidak harus selalu sepakat. Hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa perbedaan, melainkan hubungan di mana perbedaan dapat dibicarakan tanpa menghancurkan harga diri atau rasa aman pasangan.

Karena itu, ketika konflik muncul, beberapa pertanyaan yang lebih berguna adalah:

Apa sebenarnya masalah yang sedang kami hadapi?

Kebutuhan apa yang ada di balik kemarahan masing-masing?

Apakah kami sedang berusaha menyelesaikan masalah atau sekadar memenangkan pertengkaran?

Apakah cara kami berbicara membuat pasangan merasa aman untuk jujur?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu pasangan mengubah konflik dari pertarungan menjadi proses pemecahan masalah.

Namun, penting juga membedakan konflik biasa dengan kekerasan dalam hubungan. Kekerasan fisik, seksual, psikologis, ancaman, intimidasi, atau kontrol yang membahayakan bukan sekadar "konflik rumah tangga biasa". Dalam situasi seperti itu, keselamatan dan dukungan profesional perlu menjadi prioritas.

3. Cara Kita Mencintai dan Berkonflik Sering Dipengaruhi Pengalaman Masa Lalu

Setiap orang membawa sejarah psikologisnya ke dalam pernikahan.

Cara seseorang memahami cinta, kedekatan, kepercayaan, dan konflik dapat dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil, hubungan dengan orang tua atau pengasuh, pengalaman romantis sebelumnya, serta berbagai pengalaman hidup lainnya.

Sebagai contoh, seseorang yang terbiasa dengan lingkungan keluarga yang sangat terbuka mungkin merasa bahwa membicarakan masalah adalah sesuatu yang normal.

Sebaliknya, seseorang yang tumbuh dalam lingkungan yang menghindari pembicaraan mengenai emosi mungkin merasa tidak nyaman ketika pasangan mengajaknya membahas perasaan.

Perbedaan tersebut tidak otomatis berarti salah satu orang lebih baik daripada yang lain. Mereka mungkin hanya belajar cara yang berbeda dalam menghadapi kedekatan dan konflik.

Konsep attachment atau kelekatan juga banyak digunakan dalam psikologi untuk memahami hubungan dekat. Secara sederhana, pengalaman relasional dapat memengaruhi cara seseorang mencari kedekatan, menghadapi jarak emosional, serta merespons ancaman terhadap hubungan.

Dalam kehidupan pernikahan, hal ini bisa terlihat dalam pola tertentu.

Seseorang mungkin menjadi sangat khawatir ketika pasangannya tidak membalas pesan. Orang lain mungkin justru menarik diri ketika merasa hubungan terlalu intens.

Jika pola tersebut tidak dipahami, pasangan dapat masuk ke dalam siklus yang berulang.

Satu pihak mengejar kepastian.

Pihak lainnya merasa tertekan lalu menjauh.

Pihak pertama semakin cemas dan semakin mengejar.

Pihak kedua semakin menarik diri.

Akhirnya, keduanya merasa tidak dipahami.

Menariknya, masalah seperti ini tidak selalu berarti pasangan tidak cocok. Terkadang, pasangan perlu memahami pola interaksi yang sedang terjadi.

Alih-alih hanya bertanya, "Siapa yang salah?", pasangan dapat bertanya:

"Pola apa yang terus terjadi di antara kami?"

Pertanyaan tersebut mengubah fokus dari menyalahkan individu menjadi memahami dinamika hubungan.

Kesadaran terhadap pengalaman masa lalu juga dapat membantu seseorang menyadari bahwa tidak semua respons emosionalnya berasal dari situasi saat ini. Kadang-kadang, pengalaman lama ikut memengaruhi cara kita menafsirkan perilaku pasangan.

Namun, memahami latar belakang psikologis bukan berarti membenarkan perilaku yang menyakiti. Pengalaman masa lalu dapat membantu menjelaskan suatu pola, tetapi seseorang tetap bertanggung jawab terhadap perilakunya sekarang.

4. Perceraian Tidak Selalu Berarti Pernikahan Itu "Gagal"

Perceraian sering kali dipandang secara hitam-putih.

Jika sebuah pernikahan berakhir, orang mungkin mengatakan bahwa pasangan tersebut gagal mempertahankan rumah tangga. Sebaliknya, orang yang bertahan lama dalam pernikahan kadang dianggap otomatis memiliki hubungan yang sehat.

Psikologi memberikan gambaran yang lebih kompleks.

Lamanya sebuah pernikahan tidak selalu sama dengan kualitas hubungan. Begitu pula perceraian tidak otomatis menjelaskan seluruh pengalaman yang terjadi di dalam sebuah rumah tangga.

Ada pasangan yang bercerai setelah bertahun-tahun mengalami konflik yang tidak terselesaikan. Ada yang berpisah setelah perubahan besar dalam kehidupan. Ada yang menghadapi ketidakcocokan yang semakin jelas seiring waktu.

Ada pula perceraian yang terjadi dalam konteks kekerasan atau kondisi yang membuat salah satu pasangan tidak lagi merasa aman.

Karena itu, memahami perceraian membutuhkan konteks.

Perceraian juga merupakan perubahan kehidupan yang besar. Bagi banyak orang, proses tersebut dapat disertai berbagai emosi: sedih, marah, lega, takut, bingung, kehilangan, atau bahkan perasaan campur aduk.

Seseorang bisa merasa sedih karena kehilangan hubungan sekaligus merasa lega karena keluar dari situasi yang penuh tekanan.

Emosi yang bertentangan tersebut bukan sesuatu yang aneh.

Perceraian juga bukan hanya berakhirnya status hukum sebuah pernikahan. Dalam kehidupan sehari-hari, perceraian dapat berarti perubahan tempat tinggal, kondisi keuangan, hubungan dengan keluarga besar, pola pengasuhan anak, pertemanan, dan identitas sosial.

Karena itu, proses adaptasi setelah perceraian membutuhkan waktu.

Bagi sebagian orang, dukungan keluarga, teman, komunitas, atau psikolog dapat membantu proses tersebut.

Yang penting adalah menghindari anggapan bahwa seseorang harus segera "move on". Setiap orang memiliki proses adaptasi yang berbeda.

5. Kehadiran Anak Membuat Situasi Perceraian Menjadi Lebih Kompleks

Ketika sebuah pernikahan melibatkan anak, keputusan mengenai hubungan pasangan juga memiliki dimensi tambahan.

Anak dapat mengalami perubahan besar ketika orang tua berpisah. Namun, pengalaman anak tidak hanya ditentukan oleh apakah orang tuanya tinggal bersama atau tidak.

Kualitas hubungan orang tua, tingkat konflik, stabilitas kehidupan sehari-hari, pola pengasuhan, serta kemampuan orang tua bekerja sama juga menjadi faktor penting.

Misalnya, anak dapat mengalami tekanan ketika terus-menerus menyaksikan pertengkaran orang tua. Dalam situasi tertentu, berkurangnya konflik setelah perpisahan dapat menjadi perubahan yang berarti bagi kehidupan anak.

Sebaliknya, perceraian yang disertai konflik berkepanjangan, saling menyalahkan, atau menjadikan anak sebagai perantara pesan dapat menciptakan tekanan tambahan.

Karena itu, ketika pasangan memutuskan untuk berpisah, salah satu pertanyaan penting bukan hanya:

"Apakah kami masih menjadi pasangan?"

tetapi juga:

"Bagaimana kami tetap menjalankan peran sebagai orang tua?"

Hubungan pasangan dan hubungan orang tua-anak merupakan dua hal yang berbeda.

Sebuah pernikahan dapat berakhir, tetapi tanggung jawab sebagai orang tua tetap ada.

Anak juga sebaiknya tidak ditempatkan sebagai hakim yang harus memilih siapa yang benar. Mereka tidak seharusnya dipaksa memilih pihak, menyampaikan pesan antarorang tua, atau merasa bertanggung jawab atas keputusan orang dewasa.

Dalam situasi perceraian, stabilitas, komunikasi yang sesuai usia, serta rasa aman sangat penting bagi anak.

Jika konflik pengasuhan sangat berat, bantuan profesional seperti konselor keluarga atau psikolog dapat membantu orang tua mencari pola komunikasi dan pengasuhan yang lebih konstruktif.

6. Mempertahankan Pernikahan dan Mengakhiri Pernikahan Sama-Sama Membutuhkan Kesadaran

Masyarakat sering memberikan dua pesan yang bertentangan.

Pesan pertama adalah: "Pertahankan pernikahan apa pun yang terjadi."

Pesan kedua adalah: "Kalau sudah tidak bahagia, langsung berpisah."

Keduanya terlalu sederhana untuk menggambarkan kenyataan hubungan manusia.

Dalam psikologi, keputusan mengenai hubungan perlu melihat situasi secara menyeluruh.

Ketika hubungan mengalami masalah, pasangan dapat mengevaluasi beberapa hal:

Apakah masalahnya dapat dibicarakan?

Ada perbedaan antara masalah yang sulit dengan masalah yang sama sekali tidak dapat dibahas.

Kemampuan untuk berdialog menjadi salah satu sumber daya penting dalam hubungan.

Apakah kedua pihak bersedia berubah?

Perbaikan hubungan sulit dilakukan jika hanya satu orang yang terus berusaha sementara pihak lainnya tidak bersedia terlibat.

Perubahan tidak harus selalu besar. Kadang-kadang perubahan dimulai dari kebiasaan sederhana seperti mendengarkan tanpa memotong pembicaraan, mengurangi kritik, atau membagi tanggung jawab secara lebih adil.

Apakah hubungan memberikan rasa aman?

Rasa aman merupakan dasar penting dalam hubungan.

Jika seseorang hidup dalam ketakutan terhadap ancaman, kekerasan, atau kontrol yang membahayakan, persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana memperbaiki komunikasi.

Keselamatan harus menjadi pertimbangan utama.

Apakah bantuan profesional diperlukan?

Pasangan tidak harus menunggu sampai hubungan berada pada titik yang sangat buruk sebelum mencari bantuan.

Konseling atau terapi pasangan dapat digunakan untuk memahami pola konflik, memperbaiki komunikasi, dan membicarakan masalah yang sulit secara lebih terstruktur.

Bantuan profesional juga dapat berguna ketika pasangan sedang mempertimbangkan perpisahan, terutama jika ada anak dan berbagai persoalan yang harus dikelola bersama.

Apa yang sebenarnya kita pertahankan?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi penting.

Apakah pasangan ingin mempertahankan hubungan karena masih memiliki tujuan bersama dan bersedia membangun kembali hubungan?

Ataukah mereka bertahan semata-mata karena takut terhadap penilaian orang lain?

Sebaliknya, apakah keputusan berpisah merupakan hasil pertimbangan yang matang, atau keputusan yang dibuat ketika emosi sedang sangat tinggi?

Tidak semua pertanyaan memiliki jawaban yang sama untuk setiap pasangan.

Pernikahan adalah Proses, Bukan Kondisi yang Sekali Jadi

Salah satu pelajaran penting dari psikologi hubungan adalah bahwa pernikahan bukan sesuatu yang selesai dibangun pada hari pernikahan.

Hubungan terus berubah.

Orang berubah. Kebutuhan berubah. Kondisi ekonomi berubah. Pekerjaan berubah. Keluarga berkembang. Anak lahir dan tumbuh. Orang tua menua. Prioritas kehidupan bergeser.

Karena itu, hubungan yang sehat membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi.

Pasangan mungkin perlu belajar kembali bagaimana berkomunikasi setelah memiliki anak. Mereka mungkin perlu menegosiasikan ulang pembagian pekerjaan ketika salah satu kehilangan pekerjaan. Mereka mungkin perlu membangun kembali kedekatan setelah melewati periode yang penuh tekanan.

Dengan kata lain, hubungan jangka panjang membutuhkan proses belajar yang berkelanjutan.

Tidak ada pernikahan yang sempurna.

Yang lebih realistis adalah mencari hubungan yang memungkinkan dua orang merasa dihargai, aman, didengar, dan memiliki ruang untuk berkembang.

Penutup

Pernikahan dan perceraian tidak dapat dipahami hanya melalui satu ukuran.

Cinta memang penting, tetapi hubungan membutuhkan lebih dari sekadar perasaan. Komunikasi, kemampuan mengelola konflik, rasa aman, kepercayaan, tanggung jawab, serta kesediaan untuk memahami diri sendiri dan pasangan juga memainkan peran besar.

Konflik dalam pernikahan tidak selalu berarti hubungan harus berakhir. Sebaliknya, mempertahankan pernikahan juga tidak selalu berarti hubungan tersebut sehat.

Begitu pula perceraian tidak otomatis berarti seseorang gagal. Dalam konteks tertentu, perceraian merupakan perubahan besar yang dapat membawa tantangan psikologis, sosial, dan praktis. Dalam konteks lain, perpisahan dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan kehidupan yang lebih aman dan stabil.

Karena itu, daripada bertanya apakah sebuah pernikahan "berhasil" atau "gagal", kita dapat mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam:

Apakah hubungan ini membuat kedua orang dapat berkembang?

Apakah mereka mampu menyelesaikan perbedaan dengan cara yang sehat?

Apakah ada rasa aman dan saling menghormati?

Dan jika hubungan berakhir, bagaimana kedua pihak dapat melewati perubahan tersebut dengan cara yang paling sehat, termasuk bagi anak-anak yang terlibat?

Pada akhirnya, psikologi tidak memberikan satu resep untuk semua pernikahan. Yang diberikan adalah kerangka untuk memahami perilaku, emosi, kebutuhan, dan pola hubungan manusia dengan lebih jernih.

Memahami hal-hal tersebut dapat membantu kita memasuki pernikahan dengan harapan yang lebih realistis, menghadapi konflik dengan lebih matang, dan mengambil keputusan besar mengenai hubungan dengan pertimbangan yang lebih sadar.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore