seseorang yang dunianya terbatasi oleh bahasa./Magnific/seventyfour
JawaPos.com - Pernahkah Anda mengalami sesuatu yang sebenarnya Anda rasakan dengan sangat kuat, tetapi kesulitan menjelaskannya dengan kata-kata?
Anda tahu ada sesuatu yang berbeda dalam diri Anda. Ada rasa kecewa, tetapi bukan sekadar kecewa. Ada kerinduan, tetapi bukan sekadar rindu. Ada kecemasan yang tidak sepenuhnya dapat disebut sebagai takut. Ada pengalaman yang begitu kompleks sehingga ketika mencoba menceritakannya, bahasa terasa terlalu sederhana untuk mewakilinya.
Situasi semacam ini menunjukkan sesuatu yang sangat menarik tentang hubungan antara bahasa, pikiran, dan pengalaman manusia.
Kita sering menganggap bahasa hanya sebagai alat komunikasi. Seolah-olah pikiran sudah terbentuk sempurna di dalam kepala, kemudian bahasa digunakan untuk mengirimkan pikiran tersebut kepada orang lain.
Namun, psikologi menunjukkan bahwa hubungan antara bahasa dan pikiran jauh lebih kompleks.
Bahasa bukan sekadar alat untuk mengungkapkan apa yang kita pikirkan. Bahasa juga dapat membantu kita membentuk, mengorganisasi, mengingat, membedakan, dan memahami apa yang kita pikirkan.
Karena itu, semakin terbatas perangkat bahasa yang kita miliki untuk memahami suatu pengalaman, semakin sulit pula kita membangun representasi mental yang jelas mengenai pengalaman tersebut.
Inilah yang membuat gagasan Ludwig Wittgenstein—bahwa “batas-batas bahasaku berarti batas-batas duniaku”—menjadi sangat menarik jika dibaca melalui perspektif psikologi.
Tentu, kalimat tersebut tidak harus dipahami secara harfiah bahwa manusia hanya dapat melihat sesuatu jika memiliki satu kata khusus untuknya. Kenyataannya, manusia dapat mempersepsi dan mengalami banyak hal sebelum memiliki istilah untuk menamakannya.
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (24/9), secara psikologis, bahasa memang dapat berfungsi seperti peta mental. Ia membantu kita memberikan kategori pada pengalaman, membedakan satu keadaan dari keadaan lain, menyusun pengalaman menjadi narasi, dan membicarakan sesuatu kepada diri sendiri maupun orang lain.
Dengan perspektif tersebut, berikut tujuh alasan mengapa keterbatasan bahasa dapat menjadi keterbatasan tertentu dalam dunia psikologis kita.
1. Bahasa Membantu Otak Memberi Kategori pada Pengalaman
Dunia yang kita alami sebenarnya sangat kompleks.
Setiap detik, manusia menerima begitu banyak informasi melalui penglihatan, pendengaran, sentuhan, ingatan, sensasi tubuh, dan interaksi sosial. Namun kita tidak mengalami semuanya sebagai kumpulan data yang terpisah.
Otak melakukan proses kategorisasi.
Kita mengelompokkan sesuatu sebagai “wajah”, “suara”, “ancaman”, “teman”, “makanan”, “tempat aman”, “kegagalan”, atau “kesempatan”.
Bahasa kemudian menyediakan label yang membantu proses kategorisasi tersebut.
Misalnya, seseorang mungkin hanya memiliki kategori emosional yang sangat sederhana:
senang
sedih
marah
takut
Dengan kategori yang terbatas, berbagai pengalaman emosional yang berbeda dapat akhirnya dimasukkan ke dalam kelompok yang sama.
Padahal “sedih karena kehilangan seseorang” berbeda dengan “sedih karena gagal mencapai sesuatu”.
Begitu pula “marah karena diperlakukan tidak adil” berbeda dengan “marah karena merasa malu”.
Ketika seseorang mulai mengenal istilah seperti kecewa, frustrasi, malu, bersalah, cemas, iri, kesepian, nostalgia, lega, kewalahan, atau hampa, ia memperoleh lebih banyak kategori untuk memahami keadaan batinnya.
Dalam psikologi, kemampuan mengenali dan membedakan keadaan emosional berkaitan dengan apa yang sering disebut sebagai granularitas emosi.
Semakin halus seseorang dapat membedakan pengalaman emosionalnya, semakin banyak nuansa yang dapat ia gunakan untuk memahami apa yang sedang terjadi dalam dirinya.
Bayangkan dua orang menghadapi situasi yang sama.
Orang pertama berkata:
“Aku merasa buruk.”
Orang kedua berkata:
“Aku sebenarnya bukan sedih. Aku merasa malu karena ekspektasiku terhadap diriku sendiri terlalu tinggi, dan sekarang aku takut orang lain melihat kegagalanku.”
Keduanya sama-sama mengalami ketidaknyamanan.
Namun orang kedua memiliki peta psikologis yang lebih rinci.
Ia dapat membedakan:
emosi utama,
penyebab emosi,
penilaian terhadap diri,
kekhawatiran sosial,
dan ekspektasi yang mendasarinya.
Bahasa tidak menciptakan pengalaman tersebut dari nol.
Tetapi bahasa dapat membantu memetakan pengalaman yang sebelumnya terasa kabur.
Karena itu, keterbatasan kosakata emosional dapat membuat dunia batin terasa lebih sederhana daripada sebenarnya.
Bukan karena emosinya lebih sedikit.
Melainkan karena alat untuk membedakannya lebih sedikit.
2. Apa yang Tidak Bisa Kita Namai Sering Lebih Sulit Kita Pahami
Ada pengalaman psikologis yang terasa seperti “ada sesuatu yang salah”, tetapi kita tidak tahu apa.
Kita gelisah.
Kita tidak nyaman.
Kita merasa kosong.
Namun ketika ditanya:
“Sebenarnya apa yang kamu rasakan?”
kita hanya mampu menjawab:
“Aku juga tidak tahu.”
Jawaban tersebut sangat manusiawi.
Sering kali pengalaman internal muncul sebelum kita mampu menyusunnya menjadi konsep yang jelas.
Bahasa membantu proses tersebut dengan memberikan struktur.
Misalnya, seseorang yang awalnya hanya merasa “tidak nyaman” kemudian menemukan bahwa yang sebenarnya ia rasakan adalah:
“Aku takut mengecewakan orang lain.”
Atau:
“Aku bukan marah. Aku merasa tidak dihargai.”
Atau:
“Aku bukan tidak suka pekerjaanku. Aku kehilangan rasa memiliki terhadap apa yang aku kerjakan.”
Perubahan kecil dalam bahasa dapat menghasilkan perubahan besar dalam pemahaman.
Mengapa?
Karena ketika pengalaman diberi nama yang lebih spesifik, kita dapat mulai melakukan sesuatu terhadapnya.
Jika seseorang hanya berpikir:
“Aku buruk.”
maka masalahnya terlalu luas.
Tetapi jika ia dapat mengatakan:
“Aku sedang merasa gagal karena target yang kutetapkan terlalu tinggi.”
maka masalahnya menjadi lebih spesifik.
Dan sesuatu yang spesifik lebih mudah dianalisis.
Inilah salah satu alasan mengapa psikoterapi sangat bergantung pada bahasa.
Terapi bukan sekadar percakapan.
Dalam banyak pendekatan psikologis, seseorang dibantu untuk mengubah pengalaman yang samar menjadi sesuatu yang dapat diamati, dibicarakan, dan dipahami.
Bahasa membuat pengalaman mental menjadi lebih “terlihat”.
Bukan terlihat secara fisik, tentu saja.
Tetapi menjadi lebih mudah untuk diperiksa oleh pikiran itu sendiri.
3. Bahasa Membentuk Cara Kita Mengingat Masa Lalu
Kita sering membayangkan ingatan seperti rekaman video.
Kejadian terjadi.
Otak menyimpannya.
Kemudian suatu hari kita memutar kembali rekaman tersebut.
Namun penelitian psikologi memori menunjukkan bahwa ingatan manusia jauh lebih konstruktif daripada itu.
Ketika mengingat sesuatu, kita tidak sekadar mengambil salinan masa lalu.
Kita merekonstruksinya.
Dan bahasa memainkan peran penting dalam proses tersebut.
Bayangkan seseorang mengingat masa kecilnya.
Ia mungkin tidak hanya mengingat gambar rumah lama, suara orang tua, atau suasana sekolah.
Ia juga mengingat cerita tentang dirinya:
“Aku dulu anak yang pemalu.”
“Aku selalu dianggap pintar.”
“Aku memang tidak pernah cocok dengan lingkungan itu.”
“Aku adalah anak yang selalu membuat masalah.”
Kalimat-kalimat semacam itu dapat menjadi bagian dari narasi diri.
Masalahnya, narasi dapat menyederhanakan kehidupan.
Seseorang mungkin memiliki masa kecil yang sebenarnya penuh dengan berbagai pengalaman—keberhasilan, kegagalan, konflik, kasih sayang, ketakutan, persahabatan, dan perubahan.
Namun semuanya kemudian dirangkum menjadi satu label:
“Aku memang anak yang gagal.”
Ketika label tersebut terus digunakan, pengalaman masa lalu dapat diorganisasikan di sekitar label tersebut.
Peristiwa yang mendukung cerita lebih mudah diperhatikan.
Peristiwa yang bertentangan dengannya dapat menjadi kurang menonjol.
Dengan demikian, bahasa tidak hanya membantu kita menceritakan masa lalu.
Bahasa juga dapat memengaruhi cara kita mengorganisasi masa lalu dalam ingatan.
Karena itu, perubahan cara seseorang berbicara tentang masa lalu terkadang dapat mengubah cara ia memahami dirinya sekarang.
Perhatikan perbedaan antara:
“Aku gagal.”
dan
“Aku mengalami kegagalan.”
Kalimat pertama menjadikan kegagalan sebagai identitas.
Kalimat kedua menjadikannya sebagai peristiwa.
Perbedaannya tampak kecil.
Tetapi secara psikologis, keduanya memberikan struktur yang berbeda terhadap pengalaman.
4. Bahasa Membentuk Narasi tentang Siapa Diri Kita
Manusia bukan hanya makhluk yang mengalami kehidupan.
Manusia juga makhluk yang menceritakan kehidupan.
Kita memiliki kecenderungan untuk menyusun pengalaman menjadi cerita.
Siapa aku?
Dari mana aku berasal?
Apa yang pernah terjadi padaku?
Mengapa aku menjadi seperti sekarang?
Ke mana hidupku akan pergi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membentuk apa yang dapat disebut sebagai narasi identitas.
Dan bahasa merupakan bahan utama untuk membangunnya.
Seseorang mungkin memiliki narasi:
“Aku adalah orang yang selalu harus kuat.”
Orang lain:
“Aku tidak pernah cukup baik.”
Yang lain:
“Aku selalu menjadi orang yang merawat orang lain.”
Atau:
“Aku adalah seseorang yang berhasil bangkit dari banyak kegagalan.”
Narasi tersebut bukan sekadar deskripsi.
Ia dapat memengaruhi apa yang kita perhatikan, bagaimana kita menafsirkan peristiwa, dan bagaimana kita memprediksi masa depan.
Di sinilah bahasa dapat menjadi semacam “bingkai” bagi identitas.
Jika seseorang hanya memiliki bahasa untuk menggambarkan dirinya sebagai:
gagal,
lemah,
bodoh,
tidak berharga,
maka ruang psikologis untuk membangun identitas alternatif menjadi lebih sempit.
Sebaliknya, jika seseorang mampu menggunakan kategori yang lebih kompleks:
sedang belajar,
pernah gagal,
sedang berubah,
memiliki keterbatasan,
memiliki kekuatan tertentu,
pernah terluka,
tetapi mampu bertahan,
maka identitasnya menjadi lebih fleksibel.
Ini penting karena manusia membutuhkan kemampuan untuk melihat dirinya bukan sebagai benda yang selesai, tetapi sebagai sesuatu yang dapat berubah.
Bahasa dapat membantu menciptakan fleksibilitas tersebut.
Alih-alih:
“Aku seperti ini.”
seseorang dapat belajar mengatakan:
“Saat ini aku seperti ini.”
Perbedaannya sederhana.
Tetapi kata “saat ini” membuka kemungkinan adanya masa depan yang berbeda.
5. Bahasa Mempengaruhi Cara Kita Memahami Dunia Sosial
Dunia manusia bukan hanya dunia benda.
Sebagian besar kehidupan kita berlangsung di dalam dunia sosial.
Kita hidup dengan konsep seperti:
status,
kehormatan,
penghinaan,
kepercayaan,
kewajiban,
pengkhianatan,
persahabatan,
cinta,
tanggung jawab,
aturan,
keadilan.
Sebagian besar konsep tersebut tidak dapat disentuh atau dilihat seperti meja dan kursi.
Namun bahasa membuatnya dapat dibicarakan.
Bayangkan sebuah situasi.
Seseorang tidak membalas pesan Anda.
Apa artinya?
Tanpa konteks, mungkin tidak berarti apa-apa.
Namun pikiran manusia dapat memberikan interpretasi:
“Dia mengabaikanku.”
Interpretasi tersebut kemudian menghasilkan emosi.
Jika seseorang memiliki konsep:
“Dia sedang sibuk.”
emosinya mungkin berbeda.
Jika konsepnya:
“Dia tidak menghargai aku.”
emosinya dapat berbeda lagi.
Peristiwa yang sama dapat memperoleh makna psikologis yang berbeda karena diberi label dan interpretasi berbeda.
Bahasa dengan demikian menjadi bagian dari proses sense-making, yaitu proses manusia dalam membuat pengalaman terasa masuk akal.
Ini menjelaskan mengapa konflik interpersonal sering bukan hanya masalah “apa yang terjadi”.
Dua orang dapat menyaksikan kejadian yang sama tetapi memiliki cerita yang berbeda mengenai kejadian tersebut.
Orang pertama mengatakan:
“Kamu mengkritikku.”
Orang kedua:
“Aku sedang membantumu.”
Keduanya mungkin merasa benar karena masing-masing memiliki kerangka interpretasi yang berbeda.
Dengan demikian, dunia sosial kita sebagian dibangun melalui kategori dan cerita yang kita gunakan untuk menjelaskan perilaku manusia.
6. Bahasa Memengaruhi Cara Kita Mengatur Pikiran tentang Masa Depan
Bahasa tidak hanya digunakan untuk membicarakan masa lalu dan masa kini.
Bahasa juga memungkinkan manusia berbicara tentang sesuatu yang belum terjadi.
Kita dapat mengatakan:
“Besok aku akan mencoba lagi.”
“Lima tahun lagi aku ingin tinggal di tempat lain.”
“Jika aku mengambil keputusan itu, mungkin hidupku berubah.”
Kemampuan untuk menggunakan bahasa secara hipotetis membuat manusia mampu membayangkan berbagai kemungkinan.
Kita dapat membuat skenario mental.
Kita dapat membandingkan alternatif.
Kita dapat membuat rencana.
Kita bahkan dapat membayangkan sesuatu yang belum pernah terjadi.
Di sinilah keterbatasan bahasa dapat membatasi kemampuan tertentu dalam membayangkan masa depan.
Misalnya, seseorang mungkin hanya memiliki konsep hidup yang sangat sempit:
sekolah → bekerja → menikah → punya anak → pensiun.
Jika itu adalah satu-satunya kerangka kehidupan yang ia kenal, pilihan lain mungkin sulit dibayangkan.
Namun ketika ia memperoleh lebih banyak konsep—misalnya kehidupan yang lebih sederhana, karier yang berbeda, kerja mandiri, hidup berpindah tempat, komunitas alternatif, atau bentuk relasi yang berbeda—ruang kemungkinan mentalnya dapat meluas.
Sekali lagi, bahasa bukan satu-satunya faktor.
Kondisi ekonomi, lingkungan sosial, pendidikan, budaya, pengalaman, dan kesempatan nyata juga sangat menentukan.
Tetapi bahasa dapat membantu manusia membuat kemungkinan menjadi dapat dipikirkan.
Ada sesuatu yang sangat kuat dalam kemampuan mengatakan:
“Mungkin ada cara lain.”
Kalimat tersebut secara psikologis membuka pintu.
7. Memperluas Bahasa Dapat Memperluas Dunia Psikologis
Inilah inti dari semuanya.
Jika bahasa membantu kita:
mengategorikan pengalaman,
membedakan emosi,
mengorganisasi ingatan,
membangun identitas,
memahami hubungan sosial,
dan membayangkan masa depan,
maka memperluas bahasa dapat memperluas kemampuan tertentu dalam memahami kehidupan.
Bukan berarti semakin banyak kosakata otomatis membuat seseorang semakin cerdas.
Dan bukan berarti seseorang yang tidak mengetahui suatu kata tidak dapat mengalami fenomena yang dirujuk kata tersebut.
Manusia dapat merasakan sesuatu sebelum mampu menamainya.
Namun ketika sebuah pengalaman memiliki konsep yang lebih jelas, kita memperoleh alat baru untuk memperhatikannya dan membicarakannya.
Contohnya sederhana.
Ada perbedaan antara mengatakan:
“Aku capek.”
dengan:
“Aku kelelahan secara fisik.”
“Aku jenuh secara emosional.”
“Aku kehilangan motivasi.”
“Aku kewalahan.”
“Aku merasa pekerjaanku tidak lagi bermakna.”
Kelima kalimat tersebut mungkin muncul dari seseorang yang mengatakan “aku capek”.
Tetapi masing-masing menunjuk pada kemungkinan pengalaman yang berbeda.
Semakin tepat bahasa yang digunakan, semakin banyak kemungkinan untuk menemukan pertanyaan yang tepat.
Dan pertanyaan yang tepat sering kali lebih penting daripada jawaban yang cepat.
Tetapi Apakah Benar Bahasa Menentukan Dunia?
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Ungkapan “batas-batas bahasaku adalah batas-batas duniaku” dapat disalahpahami sebagai klaim bahwa manusia secara literal tidak dapat berpikir tentang sesuatu jika tidak memiliki kata untuknya.
Psikologi modern memberikan gambaran yang jauh lebih kompleks.
Manusia dapat berpikir melalui banyak bentuk representasi:
gambar,
sensasi,
ingatan,
emosi,
gerakan,
persepsi,
simbol,
dan tentu saja bahasa.
Seorang anak dapat merasa takut sebelum mengetahui kata “takut”.
Seorang bayi dapat membedakan wajah sebelum memahami konsep verbal tentang wajah.
Seseorang dapat mengenali melodi tanpa mengetahui teori musik.
Artinya, bahasa bukan satu-satunya batas dunia mental manusia.
Namun bahasa adalah salah satu alat paling kuat yang kita miliki untuk membuat pengalaman menjadi eksplisit, dapat dikomunikasikan, dikategorikan, dan direnungkan.
Karena itu, mungkin versi psikologis yang lebih hati-hati dari gagasan Wittgenstein adalah:
Semakin terbatas bahasa yang kita gunakan untuk memahami pengalaman, semakin terbatas pula cara tertentu yang kita miliki untuk memetakan pengalaman tersebut.
Ini bukan berarti dunia objektif kita mengecil.
Yang menyempit adalah peta mental kita tentang dunia.
Dan peta bukanlah wilayah.
Bahasa sebagai Peta, Bukan Dunia Itu Sendiri
Bayangkan Anda memasuki sebuah kota yang sangat besar.
Anda memiliki peta yang hanya menunjukkan jalan utama.
Anda masih dapat berjalan ke banyak tempat.
Tetapi Anda tidak memiliki banyak informasi tentang gang kecil, taman, restoran, jalan alternatif, atau bangunan tertentu.
Kemudian seseorang memberikan peta yang lebih rinci.
Tiba-tiba kota yang sama terasa berbeda.
Kota tersebut sebenarnya tidak berubah.
Yang berubah adalah kemampuan Anda untuk membedakan dan menavigasinya.
Bahasa bekerja dengan cara yang agak mirip.
Dunia tidak selalu menjadi lebih kompleks karena kita mempelajari kata baru.
Namun kemampuan kita untuk membedakan aspek-aspek dunia dapat menjadi lebih kompleks.
Itulah mengapa membaca, berdiskusi, belajar bahasa baru, mempelajari psikologi, mempelajari seni, atau mendengarkan pengalaman orang lain dapat terasa seperti “membuka dunia baru”.
Sering kali dunia fisiknya sama.
Tetapi kita mendapatkan kategori baru untuk melihatnya.
Penutup: Memperluas Bahasa Berarti Memperluas Cara Melihat Kehidupan
Mungkin alasan terdalam mengapa bahasa begitu penting bagi psikologi bukan karena manusia terkurung sepenuhnya oleh kata-kata.
Melainkan karena manusia membutuhkan cara untuk mengubah pengalaman menjadi sesuatu yang dapat dipikirkan.
Kita mengalami dunia.
Kemudian kita mencoba memahaminya.
Kita memberikan nama.
Kita membuat kategori.
Kita membangun cerita.
Kita menghubungkan pengalaman masa lalu dengan masa kini.
Kita menggunakan bahasa untuk membayangkan masa depan.
Dan perlahan-lahan, dari semua itu, terbentuklah sesuatu yang kita sebut sebagai “dunia kita”.
Karena itu, seseorang yang memperluas bahasanya tidak sekadar menghafal lebih banyak kata.
Ia berpotensi memperoleh lebih banyak cara untuk:
membedakan apa yang ia rasakan,
memahami apa yang terjadi,
menceritakan siapa dirinya,
memahami orang lain,
mempertanyakan keyakinannya,
dan membayangkan kemungkinan yang sebelumnya tidak terlihat.
Namun kita juga perlu mengingat satu hal penting:
Bahasa adalah peta. Ia bukan wilayah.
Ada dunia yang jauh lebih besar daripada kata-kata kita.
Kadang-kadang kita merasakan sesuatu sebelum mampu menjelaskannya.
Kadang-kadang kita memahami sesuatu tanpa kata.
Dan terkadang pengalaman manusia terlalu kompleks untuk dirangkum oleh satu istilah.
Justru di situlah bahasa menjadi menarik.
Kita terus menciptakan kata baru, metafora baru, cerita baru, dan konsep baru karena dunia pengalaman manusia selalu lebih besar daripada bahasa yang kita miliki saat ini.
Maka mungkin pertanyaannya bukan hanya:
“Seberapa luas dunia yang kita miliki?”
Tetapi:
“Seberapa luas bahasa yang kita gunakan untuk melihat dunia tersebut?”
Karena ketika bahasa bertambah kaya, bukan berarti dunia tiba-tiba menjadi lebih besar.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Landsliðið Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat
Prediksi Skor Slovenia vs Makedonia Utara di Liga Nations UEFA: Fantje Kalahkan Tim Tamu
Prediksi Skor Skotlandia vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Kalahkan Tuan Rumah dengan Skor Telak
Prediksi Skor Skor Lithuania vs Andorra, Laga Persahabatan: Tuan Rumah Berpeluang Menang
Prediksi Skor San Marino vs Albania di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjte Menang Telak di Dogana
Prediksi Skor Filipina vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: The Azkals Menang Tipis Atas The Shaheens
Prediksi Skor Jamaika vs Honduras di CONCACAF Nations League: Reggae Boyz Menang Meyakinkan?
Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Tuan Rumah Dibayangi Rapuhnya Lini Pertahanan
Prediksi Finlandia vs Belarus di UEFA Nations League: Pohjanpalo Siap Lanjutkan Ketajaman

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022