seseorang yang membuat batasan dengan teman kerja / foto: Magnific/pixel-shot.com
Namun, kedekatan yang terlalu jauh terkadang justru membuat hubungan kerja menjadi rumit.
Ada teman kerja yang mulai merasa berhak mengetahui urusan pribadi kita. Ada yang terbiasa meminta bantuan di luar tanggung jawab kita. Ada pula yang menganggap kedekatan sebagai alasan untuk menghubungi kita kapan saja, bahkan ketika jam kerja sudah selesai.
Pada awalnya mungkin kita merasa tidak enak untuk menolak.
Kita takut dianggap sombong. Takut hubungan menjadi canggung. Takut dianggap tidak peduli. Akhirnya kita terus mengatakan "iya", meskipun sebenarnya kita merasa terganggu.
Dalam psikologi, kemampuan menetapkan batas bukan berarti menjadi orang yang dingin atau tidak ramah. Batas yang sehat justru membantu seseorang menjaga keseimbangan antara kebutuhan pribadi, hubungan sosial, dan tuntutan pekerjaan.
Batasan profesional juga bukan tentang menjauh dari semua orang. Ini tentang memahami bahwa hubungan yang baik tetap membutuhkan ruang yang sehat.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (18/9), jika kamu merasa perlu membuat batasan yang lebih jelas dengan teman kerja, berikut enam langkah yang bisa dilakukan.
1. Tentukan Terlebih Dahulu Batasan Apa yang Sebenarnya Kamu Butuhkan
Kesalahan yang sering terjadi adalah seseorang merasa terganggu, tetapi tidak benar-benar mengetahui apa yang membuatnya terganggu.
Misalnya, kamu merasa teman kerja terlalu dekat denganmu.
Tetapi apa sebenarnya masalahnya?
Apakah dia terlalu sering menghubungimu di luar jam kerja?
Apakah dia terlalu banyak bertanya tentang kehidupan pribadi?
Apakah dia sering meminta bantuan untuk pekerjaan yang sebenarnya menjadi tanggung jawabnya?
Atau apakah dia terlalu sering mengajakmu membicarakan masalah pribadi ketika kamu sedang bekerja?
Sebelum menetapkan batas, kamu perlu mengidentifikasi masalahnya secara spesifik.
Secara psikologis, hal ini penting karena batas yang jelas lebih mudah diterapkan dibandingkan batas yang masih samar.
Daripada berpikir:
"Aku ingin menjaga jarak dari dia."
cobalah mengubahnya menjadi:
"Aku tidak ingin membicarakan masalah pribadi di kantor."
atau:
"Aku hanya ingin membalas pesan pekerjaan setelah jam kerja jika memang benar-benar mendesak."
atau:
"Aku bersedia membantu sesekali, tetapi aku tidak ingin mengambil alih tanggung jawab pekerjaannya."
Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar.
Batas bukan sekadar tentang menjauh dari seseorang. Batas adalah aturan tentang bagaimana kamu ingin diperlakukan dan apa yang bersedia kamu lakukan.
Karena itu, langkah pertama bukan mengubah perilaku orang lain.
Langkah pertama adalah memahami kebutuhanmu sendiri.
Tanyakan kepada diri sendiri:
Apa yang membuat saya merasa tidak nyaman?
Perilaku apa yang ingin saya kurangi?
Apa yang masih bisa saya toleransi?
Apa yang sudah melewati batas?
Bagaimana saya ingin hubungan ini berjalan ke depannya?
Semakin jelas jawabanmu, semakin mudah kamu menyampaikan batas tanpa terdengar menyerang.
2. Bedakan Antara Bersikap Ramah dan Terlalu Banyak Memberi Akses
Banyak orang mengira bahwa menjadi profesional berarti harus menjaga jarak dengan semua orang.
Padahal tidak demikian.
Kamu tetap bisa ramah, bercanda, membantu, dan memiliki hubungan yang menyenangkan dengan teman kerja tanpa harus memberikan akses penuh terhadap kehidupan pribadimu.
Inilah salah satu hal penting dalam membangun batas.
Keramahan tidak sama dengan keterbukaan tanpa batas.
Kamu boleh dekat dengan seseorang tanpa harus menceritakan semua masalah pribadi.
Kamu boleh berteman tanpa harus selalu tersedia.
Kamu boleh membantu tanpa harus menyelesaikan semua masalahnya.
Dan kamu boleh mengatakan tidak tanpa harus merasa bersalah.
Dalam hubungan kerja, sering kali kita memberikan terlalu banyak akses karena takut mengecewakan orang lain.
Misalnya, seorang teman kerja meminta bantuan.
Kamu sebenarnya sedang sibuk, tetapi kamu menjawab:
"Ya sudah, sini biar aku yang kerjakan."
Hal itu terjadi sekali.
Kemudian menjadi kebiasaan.
Lama-kelamaan orang tersebut belajar bahwa setiap kali ia membutuhkan sesuatu, kamu akan membantunya.
Pada akhirnya, masalahnya bukan hanya pada permintaan orang tersebut.
Masalahnya juga terletak pada pola interaksi yang terbentuk.
Karena itu, batas profesional tidak selalu harus dibuat dengan perubahan besar.
Kadang-kadang batas dimulai dari kebiasaan kecil:
"Aku sedang menyelesaikan pekerjaan ini. Mungkin kamu bisa coba dulu, nanti kalau ada bagian yang benar-benar sulit aku bantu."
Kalimat seperti ini menunjukkan bahwa kamu tetap kooperatif, tetapi tidak mengambil alih tanggung jawab orang lain.
Itulah bentuk batas yang sehat.
3. Belajar Mengatakan "Tidak" Tanpa Memberikan Penjelasan Berlebihan
Salah satu tantangan terbesar dalam menetapkan batas adalah rasa bersalah.
Kita mengatakan "tidak", lalu merasa harus memberikan penjelasan panjang agar orang lain memahami alasan kita.
Padahal, semakin panjang kita menjelaskan, terkadang semakin banyak ruang untuk orang lain bernegosiasi dengan batas yang kita buat.
Contohnya:
"Maaf, sebenarnya aku mau membantu, tetapi kemarin aku juga banyak pekerjaan, terus minggu ini ada beberapa tugas yang harus diselesaikan, dan aku juga sedang agak capek, jadi mungkin..."
Kemudian orang tersebut menjawab:
"Cuma sebentar kok."
Akhirnya kamu kembali mengatakan iya.
Kamu tidak benar-benar menetapkan batas.
Kamu hanya meminta izin untuk memiliki batas.
Padahal keduanya berbeda.
Dalam komunikasi asertif, seseorang dapat menyampaikan penolakannya secara jelas tanpa harus bersikap kasar.
Misalnya:
"Maaf, kali ini aku tidak bisa membantu karena sedang mengejar deadline."
Atau:
"Aku tidak bisa mengerjakan bagian itu karena bukan tanggung jawabku."
Atau:
"Setelah jam kerja aku biasanya tidak membahas urusan kantor, jadi kita lanjutkan besok."
Kalimat tersebut tidak agresif.
Namun juga tidak memberikan terlalu banyak ruang untuk orang lain mengabaikan kebutuhanmu.
Tentu saja, konteks pekerjaan tetap penting. Dalam situasi tertentu, ada tugas yang memang harus dikerjakan bersama atau ada kebutuhan mendesak dari tim.
Batas profesional bukan berarti menolak semua permintaan.
Yang penting adalah kamu mampu membedakan antara membantu karena memang diperlukan dan selalu mengiyakan karena takut mengecewakan orang lain.
Jika kamu terbiasa selalu berkata iya, perubahan kecil mungkin awalnya terasa tidak nyaman.
Itu normal.
Rasa tidak nyaman bukan selalu tanda bahwa kamu melakukan sesuatu yang salah.
Kadang rasa tidak nyaman muncul karena kamu sedang membentuk kebiasaan baru.
4. Gunakan Bahasa yang Fokus pada Perilaku, Bukan Menyerang Kepribadian
Ketika seseorang melewati batas, kita mungkin tergoda mengatakan:
"Kamu memang terlalu kepo."
"Kamu egois banget."
"Kamu tidak pernah menghargai orang lain."
Masalahnya, kalimat seperti ini menyerang identitas seseorang.
Akibatnya, orang tersebut kemungkinan besar akan mempertahankan diri daripada memahami pesan yang ingin kamu sampaikan.
Untuk menjaga hubungan profesional, cobalah membicarakan perilaku spesifik dan dampaknya, bukan karakter orang tersebut.
Misalnya:
Daripada:
"Kamu selalu mengganggu aku."
lebih baik:
"Aku agak sulit berkonsentrasi kalau sering mendapat pesan ketika sedang mengerjakan tugas. Kalau tidak mendesak, kita bahas setelah aku selesai, ya."
Daripada:
"Kamu terlalu ikut campur urusan pribadiku."
lebih baik:
"Aku lebih nyaman kalau urusan pribadi tidak terlalu banyak dibicarakan di tempat kerja."
Daripada:
"Kamu memanfaatkan aku."
lebih baik:
"Aku bisa membantu menjelaskan caranya, tetapi untuk pengerjaannya sebaiknya kamu lanjutkan sendiri."
Perubahan bahasa ini mungkin terlihat kecil.
Namun, fokus pada perilaku membuat pembicaraan menjadi lebih konkret.
Orang lain jadi tahu apa yang perlu diubah, bukan sekadar merasa bahwa dirinya sedang diserang.
Ini juga membantu kamu tetap profesional ketika menghadapi konflik.
Kamu tidak perlu membuktikan bahwa seseorang adalah orang yang buruk.
Kamu hanya perlu menjelaskan perilaku apa yang tidak cocok dengan batas yang ingin kamu tetapkan.
5. Jangan Membuat Batas Hanya Ketika Kamu Sudah Sangat Marah
Banyak orang baru menetapkan batas setelah terlalu lama menahan diri.
Awalnya mereka diam.
Kemudian merasa terganggu.
Tetapi tetap diam.
Gangguan semakin sering terjadi.
Mereka masih diam.
Sampai akhirnya emosi menumpuk dan keluar dalam bentuk kemarahan.
Akibatnya, batas yang sebenarnya sederhana disampaikan dengan cara yang terlalu keras.
Misalnya, selama berbulan-bulan seseorang terus meminta bantuan.
Kamu selalu mengiyakan.
Kemudian suatu hari kamu berkata:
"Kamu jangan terus-terusan bergantung sama aku! Aku juga punya pekerjaan sendiri!"
Mungkin perasaanmu valid.
Tetapi dari sudut pandang orang tersebut, perubahan itu bisa terasa tiba-tiba.
Padahal, masalah sebenarnya sudah berlangsung lama.
Karena itu, batas yang sehat sebaiknya dibuat sebelum frustrasi menumpuk.
Tidak perlu menunggu sampai kamu benar-benar marah.
Ketika pertama kali merasa ada sesuatu yang mulai tidak nyaman, kamu bisa menyampaikannya dengan tenang.
Misalnya:
"Aku bisa bantu kali ini, tapi ke depannya mungkin lebih baik kamu coba kerjakan sendiri dulu."
Dengan begitu, orang tersebut mendapatkan informasi lebih awal tentang batas yang kamu miliki.
Hal ini juga membantu mencegah pola yang tidak sehat berkembang terlalu jauh.
Batas yang disampaikan dengan tenang biasanya lebih mudah dipertahankan daripada batas yang baru muncul setelah ledakan emosi.
6. Terima Bahwa Menetapkan Batas Bisa Membuat Hubungan Sedikit Canggung
Ini mungkin bagian yang paling sulit untuk diterima.
Ketika kamu mulai membuat batas, tidak semua orang akan langsung merasa nyaman.
Teman kerja yang sebelumnya terbiasa mendapatkan respons cepat mungkin akan bertanya:
"Kok sekarang susah dihubungi?"
Orang yang terbiasa meminta bantuan mungkin berkata:
"Sekarang kamu berubah, ya."
Orang yang terbiasa mengetahui kehidupan pribadimu mungkin merasa heran ketika kamu mulai lebih tertutup.
Reaksi seperti itu tidak selalu berarti batasmu salah.
Kadang-kadang orang hanya sedang menyesuaikan diri dengan perubahan pola hubungan.
Bayangkan seseorang terbiasa membuka pintu rumahmu kapan saja.
Kemudian suatu hari kamu mengatakan:
"Kalau mau datang, kabari aku dulu."
Orang tersebut mungkin merasa perubahan itu merepotkan.
Tetapi batas tersebut bukan berarti kamu membencinya.
Kamu hanya mengubah aturan akses.
Hal yang sama dapat terjadi dalam hubungan profesional.
Ketika kamu mulai menjaga jam kerja, mengurangi pembicaraan pribadi, atau menolak pekerjaan yang bukan tanggung jawabmu, hubungan mungkin terasa sedikit berbeda.
Dan itu tidak selalu buruk.
Hubungan yang sehat seharusnya mampu menyesuaikan diri dengan batas yang wajar.
Yang perlu diperhatikan adalah konsistensi.
Jika hari ini kamu mengatakan:
"Aku tidak membahas pekerjaan setelah jam kerja."
tetapi besok kamu tetap membalas semua pesan tengah malam hanya karena merasa tidak enak, batas tersebut menjadi tidak jelas.
Orang lain akan kesulitan memahami aturan yang sebenarnya.
Jadi, setelah menetapkan batas, berusahalah menerapkannya secara konsisten.
Tidak harus sempurna.
Tetapi cukup konsisten sehingga orang lain memahami pola baru yang kamu buat.
Batas Profesional Bukan Berarti Menjadi Dingin
Ada kesalahpahaman bahwa orang yang memiliki batas kuat adalah orang yang tidak peduli pada orang lain.
Padahal, batas justru dapat membantu hubungan menjadi lebih sehat.
Ketika kamu tahu kapan harus bekerja, kapan harus beristirahat, apa yang ingin dibagikan, dan apa yang ingin disimpan sebagai ranah pribadi, kamu tidak perlu terus-menerus merasa terpaksa.
Kamu bisa membantu karena memang ingin membantu.
Kamu bisa berteman karena memang menikmati pertemanan tersebut.
Dan kamu bisa mengatakan tidak ketika memang tidak sanggup.
Hubungan profesional yang sehat bukan hubungan di mana semua orang harus dekat.
Hubungan profesional yang sehat adalah hubungan di mana kedekatan tidak menghilangkan rasa saling menghormati.
Kamu tidak harus menjadi teman dekat semua orang di tempat kerja.
Kamu juga tidak harus menceritakan kehidupan pribadi agar dianggap ramah.
Dan kamu tidak perlu selalu tersedia agar dianggap sebagai rekan kerja yang baik.
Pada Akhirnya, Batas Adalah Tentang Kejelasan
Membuat batas profesional bukan tentang menghukum seseorang.
Bukan juga tentang menunjukkan bahwa kamu lebih penting daripada orang lain.
Batas adalah cara untuk menjelaskan:
"Inilah yang nyaman bagiku."
"Inilah yang bisa aku berikan."
"Dan inilah yang tidak bisa aku berikan."
Semakin jelas kamu mengenali kebutuhanmu sendiri, semakin mudah kamu menyampaikannya tanpa agresivitas.
Mulailah dari hal kecil.
Tentukan batas yang paling penting bagimu.
Sampaikan dengan bahasa yang tenang.
Fokus pada perilaku, bukan karakter.
Belajar mengatakan tidak tanpa penjelasan berlebihan.
Dan yang tidak kalah penting, bersiaplah menghadapi sedikit rasa tidak nyaman ketika pola hubungan mulai berubah.
Karena terkadang, menjaga hubungan yang sehat bukan berarti selalu membuat orang lain merasa nyaman.
Terkadang, hubungan yang sehat justru membutuhkan keberanian untuk mengatakan:
"Aku menghargaimu sebagai teman kerja, tetapi aku juga perlu menjaga batas yang membuatku tetap nyaman dan profesional."
Dan ketika batas tersebut disampaikan dengan jelas, tenang, serta konsisten, kamu tidak sedang menjauh dari orang lain.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Groningen vs PEC Zwolle di Liga Belanda: Trots van het Noorden Menang Tipis di Kandang
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Liga Inggris: The Toffees Kunci 3 Poin di Kandang
Prediksi Skor Espanyol vs Elche di Liga Spanyol: Los Franjiverdes Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Liga Inggris: The Lilywhites Bakal Sulit Menang!
Prediksi Susunan Pemain Persebaya vs Garudayaksa FC: Risto Mitrevski Pantang Remehkan Tim Promosi
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022