seseorang yang tidak mendapatkan kencan lanjutan / foto: Magnific/nensuria
Kadang-kadang, percakapan terasa menyenangkan, tidak ada pertengkaran, dan bahkan kedua orang tersebut tertawa bersama. Tetapi setelah berpisah, salah satu pihak tidak lagi menghubungi. Tidak ada kencan kedua. Tidak selalu karena seseorang melakukan kesalahan besar.
Dalam psikologi hubungan, ketertarikan romantis merupakan sesuatu yang kompleks. Keputusan untuk melanjutkan hubungan tidak hanya dipengaruhi oleh penampilan atau percakapan selama beberapa jam, tetapi juga oleh persepsi terhadap kecocokan, rasa aman, ketertarikan emosional, ekspektasi, gaya komunikasi, dan pengalaman masa lalu.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (27/9), terdapat delapan alasan yang secara psikologis dapat membantu menjelaskan mengapa seseorang tidak mendapatkan kencan lanjutan setelah first date.
1. Tidak Terbentuk Perasaan “Klik” atau Ketertarikan yang Cukup
Salah satu alasan paling sederhana adalah tidak munculnya ketertarikan romantis yang cukup.
Ini bukan berarti seseorang tidak menarik, tidak pintar, atau tidak menyenangkan. Masalahnya bisa jauh lebih subjektif: interaksi tersebut tidak menghasilkan perasaan romantis yang dibutuhkan untuk membuat seseorang ingin bertemu kembali.
Ketertarikan bukan sekadar daftar kualitas positif.
Seseorang bisa berpikir:
“Dia baik, pintar, sopan, dan menyenangkan.”
Namun pada saat yang sama:
“Tapi saya tidak merasakan sesuatu yang lebih.”
Perbedaan ini penting.
Dalam interaksi romantis, seseorang tidak hanya menilai apakah lawan kencannya merupakan orang yang baik. Mereka juga secara tidak sadar mengevaluasi apakah ada kemungkinan hubungan tersebut berkembang menjadi sesuatu yang lebih intim.
Karena itu, first date yang berjalan “baik” belum tentu menghasilkan second date.
Bahkan, tidak adanya konflik bukan berarti adanya ketertarikan.
Kencan dapat berjalan dengan lancar secara sosial tetapi tetap tidak menghasilkan chemistry romantis.
Mengapa ini terjadi?
Ketertarikan dipengaruhi banyak faktor: penampilan, suara, bahasa tubuh, kesamaan nilai, humor, cara berbicara, rasa nyaman, pengalaman pribadi, hingga konteks ketika kedua orang tersebut bertemu.
Sebagian faktor bahkan sulit dijelaskan secara sadar.
Seseorang mungkin mengatakan, “Entah kenapa, saya tidak merasa cocok,” tanpa mampu memberikan alasan yang lebih spesifik.
Itu sebabnya tidak mendapatkan kencan kedua tidak selalu berarti seseorang melakukan kesalahan.
Kadang-kadang, interaksi tersebut memang tidak menghasilkan ketertarikan yang cukup pada pihak lain.
2. Percakapan Terlalu Berpusat pada Diri Sendiri
First date pada dasarnya adalah proses saling mengenal.
Namun, salah satu kesalahan yang cukup umum adalah percakapan berubah menjadi presentasi diri.
Seseorang terlalu banyak berbicara tentang pekerjaan, pencapaian, pengalaman, masalah pribadi, hobi, atau pendapatnya sendiri tanpa memberikan ruang yang cukup bagi lawan bicara.
Misalnya:
“Di kantor saya sebenarnya saya yang paling dipercaya.”
“Saya sudah pernah pergi ke banyak negara.”
“Saya punya banyak teman karena saya memang orang yang gampang bergaul.”
Kalimat-kalimat tersebut belum tentu buruk. Masalahnya muncul ketika hampir seluruh percakapan memiliki pola yang sama.
Secara psikologis, interaksi sosial yang sehat membutuhkan reciprocity, yaitu adanya timbal balik.
Jika seseorang bertanya:
“Bagaimana pekerjaanmu?”
Kemudian setelah mendapat jawaban, dia tidak benar-benar menanggapi dan langsung kembali membicarakan dirinya sendiri, lawan bicara bisa merasa bahwa percakapan tersebut tidak benar-benar merupakan proses saling mengenal.
Mendengarkan bukan sekadar diam
Menjadi pendengar yang baik bukan berarti hanya membiarkan orang lain berbicara.
Pendengar yang terlibat biasanya menunjukkan bahwa mereka memperhatikan.
Contohnya:
“Kamu tadi bilang baru pindah pekerjaan. Apa yang membuat kamu memutuskan pindah?”
Pertanyaan seperti itu menunjukkan adanya rasa ingin tahu.
Sebaliknya, jika seseorang hanya menunggu giliran untuk berbicara, interaksi dapat terasa seperti dua monolog yang berlangsung bersamaan.
Pada first date, orang biasanya tidak hanya memperhatikan apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana mereka merasa ketika berbicara dengan orang tersebut.
Jika seseorang merasa didengarkan, percakapan cenderung terasa lebih personal.
3. Terlalu Berusaha Membuktikan Diri
Ironisnya, keinginan untuk memberikan kesan yang baik kadang justru menghasilkan efek sebaliknya.
Ketika seseorang sangat ingin disukai, mereka mungkin mulai mengatur setiap perkataan, menyembunyikan pendapat asli, melebih-lebihkan pencapaian, atau terus berusaha terlihat sempurna.
Contohnya adalah seseorang yang sebenarnya sederhana tetapi selama kencan terus membicarakan betapa suksesnya dirinya.
Atau seseorang yang sebenarnya memiliki selera tertentu tetapi selalu menjawab:
“Aku ikut kamu saja.”
Semua dilakukan agar terlihat menyenangkan.
Dalam psikologi sosial, pengelolaan kesan atau impression management merupakan hal yang normal. Hampir semua orang menggunakannya sampai batas tertentu.
Masalah muncul ketika usaha tersebut terlalu besar sehingga interaksi kehilangan spontanitas.
Lawan bicara mungkin kemudian merasa:
“Kenapa saya merasa dia seperti sedang melakukan wawancara kerja?”
Menarik tidak sama dengan sempurna
Orang tidak selalu mencari manusia yang tanpa kekurangan.
Sering kali, yang membuat seseorang terasa autentik justru kemampuan untuk menjadi dirinya sendiri dengan tetap menghormati orang lain.
Mengatakan:
“Aku sebenarnya agak gugup kalau first date.”
bisa terasa jauh lebih manusiawi daripada terus berusaha terlihat sangat percaya diri.
Kerentanan kecil yang sesuai konteks dapat membuat interaksi terasa lebih natural.
Tentu, ini bukan berarti seseorang harus menceritakan seluruh masalah hidupnya pada pertemuan pertama.
Intinya adalah keseimbangan.
Berusaha memberikan kesan baik adalah wajar.
Tetapi jika seseorang terlalu sibuk membuktikan bahwa dirinya layak disukai, lawan bicara mungkin justru kesulitan mengenali siapa dirinya sebenarnya.
4. Terlalu Cepat Membahas Hal yang Sangat Pribadi
Ada perbedaan antara menjadi terbuka dan membuka diri terlalu cepat.
Keterbukaan diri atau self-disclosure merupakan bagian penting dalam membangun kedekatan. Namun, kedekatan biasanya berkembang secara bertahap.
Pada first date, seseorang mungkin mulai menceritakan pengalaman hidup, keluarga, hubungan sebelumnya, atau tujuan hidup.
Itu bisa menjadi percakapan yang menarik.
Namun, jika pembicaraan terlalu cepat masuk ke wilayah yang sangat berat—misalnya trauma mendalam, konflik keluarga, mantan pasangan secara intens, masalah finansial, atau persoalan pribadi yang sangat sensitif—lawan bicara mungkin merasa hubungan tersebut bergerak terlalu cepat.
Bukan karena membicarakan hal tersebut selalu salah.
Persoalannya adalah timing dan konteks.
Bayangkan seseorang baru bertemu selama satu jam tetapi sudah menjadi tempat mencurahkan seluruh luka dari hubungan sebelumnya.
Lawan bicara mungkin berpikir:
“Apakah dia benar-benar siap mengenal orang baru, atau saya sedang dijadikan tempat untuk memproses hubungan masa lalunya?”
Kedekatan membutuhkan waktu
Hubungan yang sehat biasanya berkembang melalui tahapan.
Pertama, orang mulai merasa nyaman.
Kemudian muncul rasa percaya.
Setelah itu, keterbukaan meningkat.
Dan semakin banyak pengalaman bersama, semakin dalam pula percakapan yang dapat dibangun.
First date tidak harus dangkal, tetapi juga tidak harus langsung menjadi sesi terapi.
Ada ruang di antara keduanya.
5. Terlalu Banyak Membicarakan Mantan
Membicarakan hubungan masa lalu bukan sesuatu yang otomatis buruk.
Masa lalu merupakan bagian dari kehidupan seseorang.
Namun, ada perbedaan besar antara:
“Saya pernah menjalani hubungan yang cukup lama, dan dari pengalaman itu saya belajar bahwa komunikasi penting.”
dengan:
“Mantan saya dulu selalu melakukan ini, dia begini, keluarganya begitu, saya masih tidak mengerti kenapa dia memperlakukan saya seperti itu...”
Jika sebagian besar first date dihabiskan untuk membicarakan mantan, lawan bicara mungkin menangkap pesan bahwa hubungan sebelumnya masih memiliki ruang emosional yang besar.
Hal tersebut dapat membuat orang bertanya-tanya apakah mereka sedang bertemu dengan seseorang yang benar-benar siap memulai hubungan baru.
Masalahnya bukan sekadar topik mantan
Yang lebih penting adalah cara seseorang membicarakan masa lalunya.
Jika seseorang dapat membicarakan mantan secara proporsional dan reflektif, hal tersebut bisa menunjukkan kematangan.
Misalnya:
“Saya menyadari bahwa saya dulu kurang pandai mengomunikasikan kebutuhan saya. Sekarang saya mencoba memperbaikinya.”
Itu berbeda dengan:
“Semua mantan saya selalu bermasalah.”
Pernyataan terakhir juga dapat membuat lawan bicara bertanya-tanya tentang bagaimana orang tersebut memahami kontribusinya sendiri dalam sebuah hubungan.
First date bukan tempat untuk menyelesaikan seluruh sejarah romantis seseorang.
6. Bahasa Tubuh dan Sikap Menunjukkan Ketidaktertarikan
Kadang-kadang seseorang mengatakan hal yang benar, tetapi bahasa tubuhnya menyampaikan pesan berbeda.
Komunikasi manusia tidak hanya terjadi melalui kata-kata.
Kontak mata, ekspresi wajah, posisi tubuh, perhatian terhadap ponsel, respons terhadap cerita lawan bicara, dan berbagai sinyal nonverbal dapat memengaruhi bagaimana sebuah interaksi dirasakan.
Misalnya, seseorang terus memeriksa ponselnya.
Secara verbal dia mengatakan:
“Seru kok ngobrol sama kamu.”
Tetapi perilakunya mungkin membuat lawan bicara menangkap pesan:
“Sepertinya dia ingin cepat pulang.”
Hal seperti ini dapat menciptakan ketidakpastian.
Kesan “tidak tertarik” bisa muncul tanpa disengaja
Seseorang mungkin sebenarnya gugup.
Orang yang gugup bisa berbicara terlalu sedikit, jarang melakukan kontak mata, terlihat kaku, atau sulit menunjukkan ekspresi.
Sayangnya, lawan bicara tidak selalu mengetahui penyebab sebenarnya.
Mereka hanya melihat perilaku yang muncul.
Karena itu, first date bukan hanya tentang memilih kata-kata yang tepat. Cara seseorang hadir secara fisik dalam percakapan juga memiliki pengaruh.
Namun, penting untuk tidak menganggap satu bahasa tubuh tertentu sebagai bukti pasti seseorang tidak tertarik.
Perilaku nonverbal selalu bergantung pada konteks.
7. Ekspektasi Terhadap First Date Terlalu Tinggi
Ada orang yang datang ke first date dengan ekspektasi bahwa mereka harus langsung merasakan sesuatu yang luar biasa.
Harus ada chemistry.
Harus ada percikan.
Harus terasa seperti adegan film romantis.
Ketika hal itu tidak terjadi, mereka langsung menyimpulkan:
“Berarti tidak cocok.”
Padahal, ketertarikan tidak selalu muncul sebagai pengalaman dramatis.
Ada hubungan yang berkembang dari percakapan biasa menjadi ketertarikan yang lebih kuat setelah beberapa kali bertemu.
Sebaliknya, ada juga hubungan yang terasa sangat intens pada awalnya tetapi kemudian tidak berkembang.
Masalahnya adalah manusia sering menggunakan pengalaman masa lalu, fantasi, media populer, dan ekspektasi pribadi sebagai standar untuk menilai sebuah kencan.
“Tidak buruk” juga bukan berarti “harus dilanjutkan”
Di sisi lain, tidak semua first date yang cukup menyenangkan perlu dilanjutkan.
Jika seseorang merasa nyaman tetapi tidak memiliki ketertarikan romantis, mereka tetap berhak memilih untuk tidak melanjutkan.
Karena itu, ekspektasi perlu realistis.
First date bukan ujian yang harus menghasilkan kesimpulan final tentang masa depan sebuah hubungan.
Fungsi utamanya sering kali jauh lebih sederhana:
Apakah saya ingin mengenal orang ini sedikit lebih jauh?
Jika jawabannya tidak, kencan kedua mungkin memang tidak terjadi.
8. Ada Ketidakcocokan yang Tidak Terlihat sebagai “Kesalahan”
Ini mungkin alasan yang paling sulit diterima.
Kadang-kadang seseorang tidak mendapatkan kencan kedua bukan karena mereka melakukan sesuatu yang salah.
Mereka hanya tidak cocok dengan orang tersebut.
Dua orang bisa sama-sama baik, sama-sama sopan, sama-sama menarik, bahkan sama-sama menikmati percakapan—tetapi tetap tidak cocok sebagai pasangan.
Misalnya, seseorang menginginkan hubungan yang sangat serius sementara pihak lain belum memiliki tujuan yang sama.
Seseorang mungkin sangat sosial, sementara orang lain membutuhkan kehidupan yang jauh lebih tenang.
Seseorang menganggap komunikasi setiap hari penting, sementara pihak lain lebih nyaman dengan komunikasi yang tidak terlalu sering.
Tidak ada pihak yang otomatis salah.
Mereka hanya memiliki kebutuhan atau preferensi yang berbeda.
Kecocokan lebih kompleks daripada “orang baik bertemu orang baik”
Hubungan romantis membutuhkan lebih dari sekadar kualitas individual.
Ada pertanyaan tentang:
nilai-nilai hidup,
tujuan hubungan,
gaya komunikasi,
kebutuhan emosional,
batas pribadi,
gaya hidup,
ekspektasi terhadap komitmen,
dan ketertarikan romantis.
Karena itu, seseorang bisa menjadi pasangan yang sangat baik bagi orang tertentu tetapi tidak cocok bagi orang lain.
Penolakan setelah first date tidak selalu merupakan penilaian menyeluruh terhadap nilai diri seseorang.
Sering kali, itu hanya merupakan informasi tentang kecocokan antara dua individu.
Jadi, Apa yang Sebenarnya Bisa Dipelajari dari First Date yang Tidak Berlanjut?
Ketika seseorang tidak mendapatkan kencan kedua, respons yang paling mudah adalah mencari satu kesalahan.
“Apakah saya terlalu banyak bicara?”
“Apakah saya kurang menarik?”
“Apakah saya salah memilih pakaian?”
“Apakah saya terlalu gugup?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa berguna jika digunakan untuk refleksi.
Tetapi ada risiko ketika seseorang mengubah satu pengalaman menjadi kesimpulan besar tentang dirinya sendiri.
Satu first date tidak cukup untuk membuktikan bahwa seseorang “buruk dalam berkencan”.
Begitu pula satu penolakan tidak membuktikan bahwa seseorang tidak menarik atau tidak layak dicintai.
Yang lebih konstruktif adalah melihat pola.
Jika satu orang tidak tertarik, mungkin itu sekadar ketidakcocokan.
Jika berkali-kali terjadi situasi yang sama, barulah seseorang dapat menggunakan pengalaman tersebut sebagai bahan evaluasi.
Misalnya, seseorang menyadari bahwa setiap first date selalu berubah menjadi monolog tentang pekerjaannya.
Atau mereka sadar selalu membicarakan mantan.
Atau mereka terlalu takut ditolak sehingga berusaha terlihat sempurna dan tidak pernah menunjukkan kepribadian sebenarnya.
Pola seperti itu dapat diperbaiki.
First Date Bukan Audisi untuk Membuktikan Nilai Diri
Salah satu perspektif paling sehat adalah berhenti melihat first date sebagai proses “membuat seseorang menyukai kita”.
Tentu saja ketertarikan penting.
Tetapi prosesnya sebenarnya dua arah.
Bukan hanya:
“Apakah dia menyukai saya?”
Melainkan juga:
“Apakah saya nyaman menjadi diri sendiri di dekat dia?”
“Apakah saya menikmati cara kami berkomunikasi?”
“Apakah nilai dan tujuan kami memiliki titik temu?”
“Apakah saya ingin mengenalnya lebih jauh?”
Perspektif ini mengubah first date dari sebuah ujian menjadi proses eksplorasi.
Anda tidak sedang berusaha memenangkan persetujuan seseorang.
Anda sedang mencari tahu apakah dua orang yang berbeda memiliki cukup banyak kesamaan untuk membangun sesuatu bersama.
Dan terkadang jawabannya adalah ya.
Terkadang jawabannya adalah tidak.
Keduanya merupakan bagian normal dari proses mengenal orang lain.
Kesimpulan
Tidak mendapatkan kencan lanjutan setelah first date dapat terjadi karena banyak alasan.
Tidak munculnya ketertarikan, percakapan yang kurang seimbang, usaha berlebihan untuk memberikan kesan tertentu, keterbukaan yang terlalu cepat, terlalu banyak membicarakan mantan, sinyal nonverbal yang membingungkan, ekspektasi yang tidak realistis, hingga ketidakcocokan mendasar dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk melanjutkan hubungan.
Yang penting adalah membedakan antara “saya melakukan sesuatu yang bisa diperbaiki” dan “saya tidak cocok dengan orang ini.”
Keduanya bukan hal yang sama.
Kencan yang tidak berlanjut tidak selalu membutuhkan kambing hitam.
Kadang-kadang, tidak ada yang salah.
Dua orang hanya bertemu, berbicara, saling mengenal sedikit, lalu menyadari bahwa mereka tidak ingin melanjutkan.
Dan justru kemampuan menerima kenyataan tersebut dapat menjadi bagian penting dari kedewasaan emosional dalam kehidupan romantis.
Pada akhirnya, tujuan first date bukan membuat semua orang menyukai kita.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Prediksi Skor Hong Kong vs Laos di FIFA ASEAN Cup: Duel Seru Berpotensi Imbang di Kai Tak Stadium
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu
Prediksi Skor Bulgaria vs Luksemburg: Duel Ketat, Tuan Rumah Diunggulkan
Prediksi Skor Kamboja vs Myanmar di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Kuwait vs Irak di Arabian Gulf Cup: Laga Sengit Rawan Berakhir Imbang
Prediksi Skor Makedonia Utara vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Pesta Gol di Kandang Lawan
Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UEFA Nations League: Duel Ketat Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Slovenia vs Skotlandia: Sesko Absen, Era Baru Pocognoli Dimulai di Ljubljana

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022