seseorang yang menyudahi konflik dengan pasangan / foto: Magnific/sodawhiskey
Awalnya mungkin hanya persoalan kecil. Cara membalas pesan, pekerjaan rumah, waktu bersama, masalah keuangan, keluarga, atau sesuatu yang sebenarnya bisa dibicarakan dengan tenang. Namun entah bagaimana, pembicaraan berubah menjadi saling menyalahkan.
Satu orang merasa tidak dimengerti. Yang lain merasa terus dituntut.
Kemudian suara meninggi.
Kata-kata lama kembali diungkit.
Masing-masing mulai mempertahankan diri.
Dan pada akhirnya, masalah yang dibicarakan justru tidak pernah benar-benar selesai.
Jika pola seperti ini berlangsung berulang kali, yang membuat hubungan terasa berat sering kali bukan hanya masalahnya, tetapi cara pasangan menghadapi masalah tersebut.
Konflik dalam hubungan sebenarnya tidak selalu berarti hubungan itu buruk. Perbedaan kebutuhan, karakter, kebiasaan, dan cara berpikir adalah hal yang wajar dalam hubungan dekat. Yang menjadi persoalan adalah ketika konflik berubah menjadi pola yang terus berulang tanpa penyelesaian.
Kabar baiknya, pola tersebut dapat diubah.
Menurut berbagai temuan dalam psikologi hubungan, kualitas hubungan tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering pasangan bertengkar, tetapi juga oleh bagaimana mereka merespons konflik, memperbaiki kerusakan setelah pertengkaran, dan membangun kembali rasa aman.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (27/9), jika kamu benar-benar ingin menyudahi siklus konflik yang terus berulang dengan pasangan, enam strategi berikut bisa menjadi titik awal.
1. Berhenti Berusaha Menang dan Mulailah Berusaha Memahami
Salah satu alasan konflik terus berlangsung adalah karena kedua orang masuk ke dalam percakapan dengan tujuan yang sama-sama salah: ingin membuktikan bahwa dirinya benar.
Ketika seseorang merasa diserang, otak dan tubuh dapat masuk ke kondisi defensif. Pada kondisi seperti ini, mendengarkan menjadi jauh lebih sulit.
Kamu tidak lagi benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan pasangan.
Kamu sibuk memikirkan jawaban.
Kamu mencari kesalahan dalam perkataannya.
Kamu mengingat kesalahan yang pernah dia lakukan.
Dan ketika dia selesai berbicara, kamu langsung membalas.
Akhirnya percakapan berubah menjadi kompetisi.
Padahal dalam hubungan, kemenangan dalam sebuah argumen belum tentu berarti hubungan menjadi lebih baik.
Cobalah mengubah pertanyaan di dalam kepala.
Bukan:
"Bagaimana caranya supaya dia mengerti bahwa aku benar?"
Tetapi:
"Apa sebenarnya yang sedang dia rasakan dan butuhkan?"
Perubahan kecil ini dapat mengubah arah percakapan.
Misalnya pasangan berkata:
"Kamu sekarang sudah tidak pernah punya waktu untukku."
Respons defensif mungkin:
"Aku sibuk kerja, bukan berarti aku tidak peduli. Kamu juga harus mengerti."
Respons yang lebih terbuka:
"Kamu merasa akhir-akhir ini aku terlalu sibuk sampai kamu merasa tidak menjadi prioritas, ya?"
Kalimat kedua bukan berarti kamu mengakui bahwa semua perkataannya benar.
Kamu hanya menunjukkan bahwa kamu berusaha memahami pengalaman emosionalnya.
Itulah perbedaan antara mendengarkan untuk membalas dan mendengarkan untuk memahami.
Dalam hubungan yang sehat, pasangan tidak harus selalu sepakat. Mereka tetap dapat memiliki pandangan berbeda sambil berusaha memahami perspektif satu sama lain.
2. Jangan Membahas Masalah Ketika Emosi Sedang Memuncak
Ada kalanya kamu ingin menyelesaikan masalah secepat mungkin.
Namun, "harus selesai sekarang" tidak selalu merupakan strategi yang baik.
Ketika emosi sudah sangat tinggi, kemampuan seseorang untuk berpikir jernih dan mengendalikan respons dapat menurun. Dalam keadaan tersebut, percakapan mudah berubah menjadi saling menyerang.
Kamu mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kamu katakan.
Pasangan membalas.
Kamu semakin tersinggung.
Kemudian masalah yang awalnya hanya satu berkembang menjadi lima masalah sekaligus.
Karena itu, salah satu keterampilan penting dalam menyelesaikan konflik adalah mengambil jeda secara sehat.
Jeda bukan berarti kabur dari masalah.
Jeda juga bukan silent treatment.
Jeda berarti mengatakan:
"Aku ingin menyelesaikan masalah ini, tetapi sekarang emosiku terlalu tinggi. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Kita lanjutkan pembicaraan setelah kita sama-sama lebih tenang."
Perbedaannya sangat penting.
Menghilang tanpa penjelasan dapat membuat pasangan semakin cemas.
Sebaliknya, jeda yang dikomunikasikan menunjukkan bahwa kamu masih memiliki niat untuk menyelesaikan masalah.
Gunakan waktu tersebut untuk menenangkan diri, bukan untuk menyusun daftar kesalahan pasangan.
Tarik napas.
Berjalan sebentar.
Minum air.
Jauhkan diri dari percakapan untuk sementara.
Dan ketika emosi sudah lebih stabil, kembali kepada masalah yang sedang dibahas.
Tujuannya bukan menghindari konflik.
Tujuannya adalah membicarakan konflik ketika kalian cukup tenang untuk menyelesaikannya.
3. Gunakan Kalimat "Aku Merasa", Bukan "Kamu Selalu"
Salah satu perubahan komunikasi yang sederhana tetapi sangat penting adalah mengganti kalimat yang menyerang karakter dengan kalimat yang menjelaskan pengalaman pribadi.
Perhatikan perbedaannya.
"Kamu memang egois."
Berbeda dengan:
"Aku merasa tidak didengarkan ketika keputusan itu dibuat tanpa membicarakannya denganku."
"Kamu selalu mengabaikanku."
Berbeda dengan:
"Aku merasa kesepian ketika kita jarang punya waktu untuk berbicara."
"Kamu nggak pernah peduli."
Berbeda dengan:
"Aku membutuhkan lebih banyak perhatian ketika sedang menghadapi masalah."
Kalimat seperti "kamu selalu" dan "kamu tidak pernah" sering membuat pasangan merasa sedang dihakimi.
Akibatnya, fokus percakapan berpindah dari masalah menjadi pembelaan diri.
Pasangan akhirnya sibuk membuktikan bahwa tuduhanmu tidak benar.
"Aku kan nggak selalu begitu."
Dan konflik pun kembali melebar.
Dengan menggunakan kalimat berbasis pengalaman pribadi, kamu memberikan informasi yang lebih spesifik tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Formula sederhananya bisa seperti ini:
Ketika [situasi terjadi], aku merasa [emosi], karena [alasan]. Aku berharap [kebutuhan atau permintaan].
Contohnya:
"Ketika kamu membatalkan rencana kita tanpa memberi tahu lebih awal, aku merasa kecewa karena aku sudah meluangkan waktu. Ke depannya aku berharap kamu memberi tahu aku lebih cepat."
Kalimat tersebut jauh lebih mudah dibicarakan daripada:
"Kamu memang nggak pernah menghargai waktuku."
Tujuan komunikasi bukan membuat pasangan merasa bersalah.
Tujuannya adalah membuat pasangan mengerti apa yang kamu rasakan dan apa yang kamu butuhkan.
4. Fokus pada Masalah yang Sedang Terjadi, Jangan Mengumpulkan Kesalahan Masa Lalu
Pernahkah kamu bertengkar karena satu masalah, tetapi akhirnya membicarakan sepuluh masalah lainnya?
Awalnya:
"Kenapa kamu tidak memberi kabar?"
Lima menit kemudian:
"Kamu juga dulu pernah melakukan hal yang sama."
Kemudian:
"Bulan lalu kamu juga melakukan ini."
Lalu:
"Kalau dipikir-pikir, dari awal hubungan kamu memang seperti ini."
Pada titik tersebut, kalian sebenarnya sudah tidak lagi menyelesaikan satu masalah.
Kalian sedang membuka seluruh arsip hubungan.
Kebiasaan ini membuat konflik menjadi semakin sulit diselesaikan karena setiap masalah baru membawa banyak luka lama.
Bukan berarti masa lalu harus dilupakan.
Ada masalah masa lalu yang memang perlu dibicarakan, terutama jika belum pernah diselesaikan.
Namun, ada perbedaan antara menyelesaikan masalah lama dan menggunakan kesalahan lama sebagai amunisi ketika sedang bertengkar.
Jika persoalannya adalah pasangan terlambat memberi kabar hari ini, fokuslah pada kejadian tersebut.
Apa yang terjadi?
Mengapa itu membuatmu terganggu?
Apa yang kamu butuhkan ke depannya?
Bagaimana kalian bisa membuat kesepakatan yang lebih baik?
Itulah percakapan yang memiliki peluang menghasilkan perubahan.
Hubungan tidak akan berkembang jika setiap konflik berubah menjadi persidangan tentang seluruh sejarah kesalahan masing-masing.
5. Belajar Melakukan "Repair" Setelah Pertengkaran
Tidak semua konflik dapat dihindari.
Bahkan pasangan yang memiliki hubungan baik pun dapat salah bicara, kehilangan kesabaran, atau mengalami perbedaan pendapat.
Karena itu, kemampuan memperbaiki hubungan setelah konflik menjadi sangat penting.
Dalam psikologi hubungan, konsep ini sering dikaitkan dengan repair attempts, yaitu upaya untuk menghentikan eskalasi konflik dan mengembalikan interaksi ke arah yang lebih positif.
Repair bisa sesederhana:
"Tunggu, aku rasa cara bicaraku tadi terlalu keras."
"Aku tidak bermaksud menyerang kamu."
"Boleh kita ulang pembicaraan ini?"
"Aku tetap marah, tetapi aku tidak ingin kita saling menyakiti."
"Aku mengerti sekarang kenapa kamu merasa seperti itu."
Kalimat-kalimat tersebut mungkin terlihat sederhana.
Namun, dalam konflik yang sudah memanas, kemampuan untuk mengatakan sesuatu seperti itu membutuhkan kerendahan hati.
Kamu tidak harus menunggu sampai semuanya sempurna untuk melakukan perbaikan.
Bahkan ketika kamu masih merasa kesal, kamu dapat mengatakan:
"Aku masih membutuhkan waktu untuk memproses ini, tetapi aku tidak ingin kita menjadi musuh."
Pesan yang disampaikan adalah:
"Kita sedang menghadapi masalah, tetapi kita bukan musuh."
Ini merupakan perbedaan yang sangat penting.
Dalam hubungan yang sehat, masalah seharusnya menjadi sesuatu yang dihadapi bersama, bukan alasan untuk saling menghancurkan.
6. Cari Pola di Balik Pertengkaran, Bukan Hanya Topik Pertengkarannya
Ini mungkin strategi yang paling penting.
Karena sering kali pasangan bertengkar tentang hal yang berbeda, tetapi sebenarnya memiliki pola emosional yang sama.
Hari ini bertengkar karena pesan yang tidak dibalas.
Besok karena pasangan terlalu lama bekerja.
Minggu depan karena rencana akhir pekan berubah.
Kelihatannya masalahnya berbeda.
Tetapi mungkin di balik semuanya terdapat kebutuhan yang sama.
Salah satu merasa:
"Aku takut kamu tidak menganggap aku penting."
Sementara yang lain mungkin merasa:
"Aku takut apa pun yang kulakukan tidak pernah cukup untukmu."
Kemudian terbentuk sebuah siklus.
Seseorang merasa tidak diperhatikan → dia menuntut lebih banyak perhatian → pasangannya merasa tertekan → dia menjauh → pasangan pertama merasa semakin tidak diperhatikan → tuntutannya semakin kuat → pasangan kedua semakin menjauh.
Dan siklus tersebut terus berulang.
Jika hanya membahas topiknya, konflik tidak akan pernah benar-benar selesai.
Kalian perlu melihat pola interaksi.
Tanyakan:
"Apa yang biasanya terjadi sebelum kita bertengkar?"
"Apa yang biasanya aku lakukan ketika merasa terluka?"
"Apa yang biasanya kamu lakukan ketika merasa diserang?"
"Apa yang kemudian membuat situasinya semakin buruk?"
"Apa yang sebenarnya kita butuhkan dari satu sama lain pada saat itu?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu pasangan melihat konflik dari sudut pandang yang berbeda.
Bukan lagi:
Aku melawan kamu.
Melainkan:
Kita melawan pola konflik yang terus muncul di antara kita.
Dan ketika kalian mulai melihat pola tersebut, perubahan menjadi lebih mungkin dilakukan.
Pada Akhirnya, Tujuannya Bukan Tidak Pernah Bertengkar
Banyak orang mengira hubungan yang sehat adalah hubungan yang tidak pernah bertengkar.
Padahal, dua manusia dengan latar belakang, pengalaman, kebutuhan, kebiasaan, dan cara berpikir yang berbeda hampir pasti akan mengalami ketidaksepakatan.
Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah ketidaksepakatan itu muncul.
Apakah kalian saling menghina?
Apakah kalian saling mengancam?
Apakah salah satu selalu mengalah karena takut?
Apakah masalah yang sama terus berulang tanpa pernah dibicarakan?
Atau kalian mampu berhenti sejenak, mendengarkan, memahami, meminta maaf ketika diperlukan, dan mencari solusi bersama?
Jika kamu ingin mengakhiri konflik yang terus-menerus, mungkin kamu tidak perlu mencari cara untuk memenangkan pertengkaran berikutnya.
Kamu perlu belajar menciptakan pola baru.
Dengarkan sebelum membalas.
Tenangkan diri sebelum berbicara.
Jelaskan perasaan tanpa menyerang.
Fokus pada masalah yang sedang terjadi.
Perbaiki hubungan setelah konflik.
Dan yang paling penting, cari pola yang sebenarnya berada di balik pertengkaran.
Karena terkadang masalah terbesar dalam sebuah hubungan bukanlah berapa banyak kalian bertengkar, melainkan apakah kalian berdua masih mau belajar memahami satu sama lain setelah pertengkaran itu terjadi.
Dan jika setelah berbagai upaya konflik tetap berlangsung dengan pola yang sama, terutama bila sudah melibatkan penghinaan, ancaman, kontrol, kekerasan, atau rasa takut, masalahnya mungkin membutuhkan bantuan profesional seperti konselor atau psikolog. Tidak semua konflik dapat diselesaikan hanya dengan komunikasi yang lebih baik.
Hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa masalah.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Prediksi Skor Hong Kong vs Laos di FIFA ASEAN Cup: Duel Seru Berpotensi Imbang di Kai Tak Stadium
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu
Prediksi Skor Bulgaria vs Luksemburg: Duel Ketat, Tuan Rumah Diunggulkan
Prediksi Skor Kamboja vs Myanmar di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Kuwait vs Irak di Arabian Gulf Cup: Laga Sengit Rawan Berakhir Imbang
Prediksi Skor Makedonia Utara vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Pesta Gol di Kandang Lawan
Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UEFA Nations League: Duel Ketat Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Slovenia vs Skotlandia: Sesko Absen, Era Baru Pocognoli Dimulai di Ljubljana

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022