seseorang yang memengaruhi anak-anaknya untuk suka membaca / foto: Magnific/prostooleh
Banyak orang tua sebenarnya memiliki niat baik. Mereka membelikan buku, mengingatkan anak untuk membaca, bahkan menetapkan target jumlah halaman setiap hari. Namun, jika membaca selalu dikaitkan dengan kewajiban, teguran, atau tuntutan prestasi, anak justru bisa menganggap buku sebagai sesuatu yang harus dihindari.
Dalam psikologi, ketertarikan terhadap suatu aktivitas sangat dipengaruhi oleh pengalaman yang menyertainya. Jika sebuah kegiatan memberikan rasa senang, memiliki makna pribadi, memberikan kesempatan untuk memilih, dan tidak terasa sebagai tekanan berlebihan, kemungkinan seseorang ingin mengulanginya akan semakin besar.
Hal yang sama berlaku pada anak-anak.
Jadi, jika kamu ingin memengaruhi anak agar menyukai membaca, fokusnya bukan sekadar membuat mereka membaca lebih banyak. Fokus utamanya adalah membuat mereka ingin membaca.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (27/9), terdapat tujuh cara yang bisa dilakukan.
1. Jadilah contoh, bukan hanya pemberi perintah
Anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan orang dewasa, tetapi juga dari apa yang mereka lihat dilakukan setiap hari.
Jika orang tua sering mengatakan, "Kamu harus membaca," tetapi sepanjang hari anak melihat orang tuanya lebih sering menatap layar ponsel daripada membaca, pesan yang diterima anak bisa menjadi tidak konsisten.
Sebaliknya, ketika anak melihat orang dewasa menikmati buku, membaca majalah, membuka koran, atau mencari informasi melalui bahan bacaan, aktivitas membaca menjadi bagian yang normal dari kehidupan sehari-hari.
Dalam psikologi sosial, pembelajaran melalui pengamatan merupakan salah satu mekanisme penting dalam perkembangan perilaku. Anak dapat mengamati perilaku orang lain, memperhatikan konsekuensinya, kemudian mengembangkan pola perilaku serupa.
Karena itu, daripada terus berkata:
"Ayo baca buku!"
Cobalah sesekali membuat anak melihat kamu menikmati aktivitas membaca.
Misalnya, luangkan 20–30 menit pada malam hari untuk membaca buku di ruang keluarga. Tidak perlu menjadikan momen tersebut sebagai pelajaran. Cukup membaca dengan tenang.
Ketika anak bertanya, "Baca apa?"
Jawab dengan antusias.
"Ini cerita tentang seseorang yang melakukan perjalanan ke tempat yang belum pernah ia datangi."
Percakapan sederhana seperti ini dapat membantu anak melihat bahwa membaca bukan hanya tugas sekolah. Membaca juga bisa menjadi aktivitas yang menarik bagi orang dewasa.
Yang penting, jangan berpura-pura menyukai membaca hanya demi memberikan contoh. Anak cukup peka untuk menangkap ketidaktulusan.
Jika kamu memang tidak terlalu suka membaca buku panjang, kamu tetap bisa menunjukkan kebiasaan membaca dalam bentuk lain: membaca artikel, komik, biografi pendek, resep, buku pengetahuan, atau bahan yang berkaitan dengan hobimu.
Pesan yang ingin ditanamkan adalah: membaca merupakan bagian alami dari kehidupan.
2. Berikan anak kebebasan memilih buku
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan orang dewasa adalah menganggap bahwa buku yang menurut kita bagus pasti merupakan buku yang ingin dibaca anak.
Padahal, minat anak sangat beragam.
Ada anak yang menyukai dinosaurus. Ada yang tertarik dengan luar angkasa. Ada yang senang membaca cerita misteri. Ada yang lebih tertarik pada komik, olahraga, hewan, kendaraan, eksperimen, sejarah, atau cerita fantasi.
Jika kamu ingin menumbuhkan minat membaca, berikan anak ruang untuk menentukan apa yang ingin mereka baca.
Misalnya, ketika pergi ke toko buku, jangan langsung berkata:
"Ambil buku yang mendidik."
Cobalah mengatakan:
"Kamu boleh memilih satu buku yang paling membuatmu penasaran."
Perubahan kalimat tersebut terlihat sederhana, tetapi dapat mengubah pengalaman membaca.
Anak tidak lagi merasa bahwa buku adalah sesuatu yang dipilihkan untuk mereka. Mereka memiliki rasa kepemilikan terhadap pilihannya sendiri.
Dalam teori self-determination, kebutuhan akan otonomi merupakan salah satu faktor yang berperan dalam munculnya motivasi intrinsik. Ketika seseorang merasa memiliki pilihan dan kendali terhadap aktivitasnya, motivasi untuk terlibat di dalamnya dapat menjadi lebih kuat.
Karena itu, jangan terlalu cepat menghakimi pilihan bacaan anak.
Jika anak ingin membaca komik, komik bisa menjadi pintu masuk.
Jika anak menyukai buku tentang sepak bola, biarkan ia membaca tentang sepak bola.
Jika anak hanya tertarik pada buku bergambar, manfaatkan ketertarikan tersebut.
Tujuannya pada tahap awal bukan membuat anak membaca buku yang paling "serius".
Tujuannya adalah membuat anak menikmati pengalaman membuka buku dan menemukan sesuatu di dalamnya.
Ketika kebiasaan itu sudah terbentuk, minat mereka dapat berkembang secara bertahap.
3. Hubungkan buku dengan sesuatu yang sudah disukai anak
Anak biasanya lebih mudah tertarik pada informasi baru jika informasi tersebut berhubungan dengan sesuatu yang sudah mereka kenal atau sukai.
Karena itu, jangan memulai dengan pertanyaan:
"Buku apa yang harus dibaca anak?"
Lebih baik mulai dengan:
"Anak ini sedang tertarik pada apa?"
Jika anak menyukai hewan, carikan buku tentang kehidupan hewan.
Jika anak menyukai sepak bola, berikan buku tentang pemain, sejarah klub, atau teknik permainan.
Jika anak senang memasak, berikan buku resep sederhana yang bisa dibaca bersama.
Jika anak tertarik dengan luar angkasa, gunakan buku bergambar tentang planet dan astronaut.
Jika anak suka cerita petualangan, carilah novel anak dengan tokoh yang melakukan perjalanan atau memecahkan masalah.
Prinsipnya sederhana: mulailah dari minat, lalu gunakan minat tersebut sebagai jembatan menuju membaca.
Hal ini juga membuat anak menemukan fungsi membaca secara nyata.
Mereka membaca bukan karena seseorang memerintahkannya, tetapi karena ada sesuatu yang ingin mereka ketahui.
Perasaan penasaran merupakan salah satu pendorong kuat dalam proses belajar. Ketika anak benar-benar ingin mengetahui jawaban atas sebuah pertanyaan, aktivitas membaca dapat terasa seperti proses menemukan sesuatu.
Misalnya, daripada berkata:
"Belajar tentang hewan, yuk."
Cobalah:
"Kamu penasaran nggak kenapa gurita punya tiga jantung?"
Jika anak menjawab iya, buku bisa menjadi sarana untuk menemukan jawabannya.
Dengan demikian, membaca berubah dari "tugas" menjadi "alat untuk memuaskan rasa ingin tahu."
4. Jangan menjadikan membaca sebagai hukuman
Ini adalah salah satu hal yang sangat penting.
Hindari menggunakan membaca sebagai hukuman.
Misalnya:
"Kalau kamu nakal, kamu harus membaca 20 halaman."
Atau:
"Karena kamu tidak membereskan mainan, sekarang kamu harus membaca."
Kalimat seperti ini dapat membuat anak mengasosiasikan membaca dengan pengalaman negatif.
Masalahnya bukan pada membaca itu sendiri, tetapi pada emosi yang menyertainya.
Bayangkan jika setiap kali seseorang mendengar kata "buku", yang muncul dalam pikirannya adalah teguran, kewajiban, tekanan, atau hukuman.
Tidak mengherankan jika ia kemudian berusaha menghindari buku.
Karena itu, ciptakan asosiasi yang positif.
Misalnya, membaca dilakukan sambil duduk nyaman di sofa.
Membaca dilakukan sebelum tidur.
Membaca dilakukan bersama orang tua.
Membaca ditemani camilan.
Membaca dilakukan setelah pulang dari perpustakaan.
Membaca menjadi waktu khusus ketika orang tua benar-benar hadir dan tidak sibuk dengan ponsel.
Dengan begitu, buku dapat menjadi bagian dari pengalaman yang menyenangkan dan aman.
Tentu saja, bukan berarti anak tidak boleh memiliki aturan membaca. Rutinitas tetap berguna.
Namun, ada perbedaan antara struktur dan tekanan.
Struktur mengatakan:
"Setiap malam kita punya waktu 20 menit untuk membaca."
Tekanan mengatakan:
"Kalau kamu tidak menghabiskan 20 halaman, kamu tidak boleh bermain."
Yang pertama membangun rutinitas. Yang kedua berpotensi membuat membaca terasa sebagai beban.
5. Bacakan cerita kepada anak, bahkan ketika mereka sudah bisa membaca sendiri
Banyak orang dewasa berhenti membacakan buku ketika anak sudah mampu membaca.
Padahal, membaca bersama tetap dapat memberikan manfaat sosial dan emosional.
Membaca bersama bukan hanya tentang kemampuan mengenali kata.
Di dalamnya terdapat percakapan, ekspresi, kedekatan, imajinasi, dan pengalaman emosional bersama.
Saat orang tua membacakan cerita, anak tidak hanya mendengar kalimat. Mereka juga belajar bagaimana sebuah cerita bekerja.
Mereka mendengar intonasi.
Mereka memahami emosi tokoh.
Mereka belajar kosakata baru.
Mereka mengembangkan kemampuan memahami alur.
Dan yang tidak kalah penting, mereka mendapatkan pengalaman bahwa buku dapat menjadi sarana untuk terhubung dengan orang lain.
Cobalah membuat sesi membaca menjadi interaktif.
Ketika membaca cerita, tanyakan:
"Menurutmu, kenapa tokohnya melakukan itu?"
"Kalau kamu berada di posisi dia, kamu akan bagaimana?"
"Menurutmu setelah ini apa yang akan terjadi?"
"Bagian mana yang paling kamu suka?"
Pertanyaan seperti ini membuat anak tidak hanya menerima cerita secara pasif.
Mereka diajak berpikir, memprediksi, menghubungkan cerita dengan pengalaman mereka sendiri, dan mengungkapkan pendapat.
Namun, jangan mengubah setiap sesi membaca menjadi ujian.
Tidak setiap halaman harus diikuti pertanyaan.
Terkadang cukup membaca dan menikmati cerita.
Anak juga perlu belajar bahwa buku tidak selalu harus menghasilkan jawaban, nilai, atau tugas.
Buku boleh dinikmati.
6. Jangan terlalu fokus pada jumlah halaman atau kecepatan membaca
Orang dewasa sering tergoda mengukur kemajuan dengan angka.
"Sudah berapa halaman?"
"Berapa buku yang kamu selesaikan bulan ini?"
"Kenapa membaca kamu lama sekali?"
Pengukuran seperti itu tidak selalu buruk. Dalam situasi tertentu, target dapat membantu membangun kebiasaan.
Namun, jika angka menjadi fokus utama, anak bisa kehilangan pengalaman membaca itu sendiri.
Bayangkan dua anak.
Anak pertama membaca 30 halaman karena benar-benar menikmati cerita.
Anak kedua membaca 50 halaman hanya karena ingin cepat selesai agar bisa bermain.
Secara angka, anak kedua terlihat lebih produktif.
Tetapi jumlah halaman tidak selalu menggambarkan kualitas pengalaman membaca.
Karena itu, sesekali tanyakan sesuatu yang lebih bermakna:
"Apa yang kamu temukan dari buku itu?"
"Ada bagian yang membuatmu penasaran?"
"Tokoh mana yang paling kamu sukai?"
"Apa hal paling aneh yang kamu pelajari?"
Pertanyaan semacam ini menggeser fokus dari berapa banyak yang dibaca menjadi apa yang dialami melalui bacaan.
Jika anak baru sanggup membaca beberapa halaman, jangan langsung menganggapnya sebagai kegagalan.
Kebiasaan membaca dapat dibangun secara bertahap.
Hari ini lima menit.
Besok sepuluh menit.
Kemudian 15 menit.
Yang dicari adalah konsistensi dan pengalaman positif.
7. Jadikan membaca sebagai pengalaman yang menyenangkan, bukan proyek untuk membuat anak menjadi "anak pintar"
Ini mungkin cara yang paling penting dari semuanya.
Kadang-kadang orang dewasa terlalu cepat mengaitkan membaca dengan prestasi.
"Kalau rajin membaca, kamu akan pintar."
"Anak pintar itu suka membaca."
"Kamu harus membaca supaya nilaimu bagus."
Motivasi seperti ini mungkin dapat mendorong perilaku dalam jangka pendek. Namun, jika tujuan akhirnya adalah membuat anak memiliki hubungan jangka panjang dengan membaca, pengalaman membaca itu sendiri perlu memiliki nilai.
Anak perlu menemukan bahwa buku dapat membuat mereka tertawa.
Buku bisa membuat mereka penasaran.
Buku bisa membuat mereka memahami sesuatu.
Buku bisa membawa mereka ke tempat yang belum pernah mereka kunjungi.
Buku bisa membuat mereka mengenal karakter yang berbeda.
Buku juga bisa menjadi tempat untuk beristirahat dari kesibukan sehari-hari.
Karena itu, ciptakan ritual membaca yang menyenangkan.
Misalnya, setiap Jumat malam keluarga memiliki "malam buku".
Semua anggota keluarga memilih bacaan masing-masing.
Tidak ada ujian.
Tidak ada target halaman.
Tidak ada hukuman.
Selama 30 menit, semua orang membaca bersama.
Setelah itu, siapa pun yang ingin bercerita tentang bacaannya boleh berbagi.
Aktivitas sederhana seperti ini dapat mengubah persepsi anak terhadap membaca.
Buku tidak lagi identik dengan sekolah dan pekerjaan rumah.
Buku menjadi bagian dari kehidupan keluarga.
Jangan khawatir jika anak belum langsung menyukai buku
Ada satu hal yang perlu diingat orang tua: minat membaca tidak selalu tumbuh secara instan.
Ada anak yang langsung jatuh cinta pada buku.
Ada yang membutuhkan waktu.
Ada yang baru menemukan minat membaca setelah bertemu dengan genre tertentu.
Ada pula yang pada awalnya lebih tertarik pada buku bergambar, komik, atau bacaan pendek sebelum akhirnya mampu menikmati bacaan yang lebih panjang.
Jangan membandingkan anak dengan anak lain.
Seorang anak yang belum menyukai novel 200 halaman bukan berarti dia tidak akan menjadi pembaca.
Mungkin dia hanya belum menemukan buku yang tepat.
Karena itu, daripada bertanya:
"Kenapa kamu tidak suka membaca?"
Cobalah bertanya:
"Hal apa yang paling kamu suka?"
Dari jawaban tersebut, kamu bisa menemukan pintu masuk menuju dunia buku.
Pada akhirnya, anak perlu menemukan alasan mereka sendiri untuk membaca
Mempengaruhi anak agar suka membaca bukan berarti memaksa mereka mencintai buku.
Orang tua tidak bisa memerintahkan munculnya rasa ingin tahu.
Yang bisa dilakukan adalah menciptakan lingkungan yang membuat rasa ingin tahu lebih mudah tumbuh.
Berikan contoh.
Berikan pilihan.
Ikuti minat mereka.
Bacakan cerita.
Ciptakan pengalaman positif.
Jangan terlalu fokus pada angka.
Dan yang terpenting, jangan membuat buku menjadi sumber tekanan.
Karena tujuan akhirnya bukan sekadar membuat anak menyelesaikan sebanyak mungkin buku.
Tujuan yang lebih besar adalah membantu anak menemukan bahwa membaca bisa memberi mereka sesuatu yang berharga: pengetahuan, imajinasi, hiburan, rasa ingin tahu, dan pemahaman tentang dunia.
Ketika anak menemukan alasan pribadinya untuk membaca, orang tua tidak perlu terus-menerus mengatakan, "Ayo baca."
Suatu hari, mungkin justru anak yang akan datang membawa sebuah buku dan berkata:
"Aku menemukan buku yang menarik. Mau baca bareng?"
Dan pada saat itu, membaca tidak lagi menjadi kewajiban.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Belgia vs Prancis di Liga Nations UEFA: Les Bleus Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Prediksi Susunan Pemain Prancis vs Belgia: Tanpa Mbappe, Zidane Hadapi Ujian Berat
Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Landsliðið Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat
Prediksi Skor Georgia vs Ukraina di UEFA Nations League: Misi Berat Kvaratskhelia Cs di Kandang
Prediksi Skor Armenia vs Montenegro di Liga Nations UEFA: Hrabri Sokoli Bakal Sulitkan Tuan Rumah
Prediksi Skor Slovenia vs Makedonia Utara di Liga Nations UEFA: Fantje Kalahkan Tim Tamu
Prediksi Skor Turki vs Italia di Liga Nations UEFA: Kans Ay-Yıldızlılar Hentikan Perlawanan Azzurri
Prediksi Skor Skotlandia vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Kalahkan Tuan Rumah dengan Skor Telak
Prediksi Skor Armenia vs Montenegro di UEFA Nations League: Siapa Paling Kuat?

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022