seseorang yang lebih memilih sendirian saat berduka / foto: Magnific/sevendeman
Namun, kenyataannya tidak selalu demikian.
Sebagian orang justru memilih menarik diri ketika sedang menghadapi kehilangan. Mereka lebih banyak berada di kamar, mengurangi percakapan, tidak ingin menerima kunjungan, bahkan terkadang sengaja mematikan ponsel dan menjauh dari lingkungan sosial untuk sementara waktu.
Bagi orang lain, perilaku tersebut mungkin terlihat aneh.
“Kenapa dia malah ingin sendirian?”
“Bukankah seharusnya dia ditemani?”
“Apakah dia sedang menjauh dari semua orang?”
Padahal, keinginan untuk menyendiri ketika berduka tidak selalu berarti seseorang membenci orang lain, tidak membutuhkan kasih sayang, atau sedang mengalami masalah psikologis. Dalam banyak kasus, menarik diri untuk sementara dapat menjadi salah satu cara seseorang mengatur emosi dan menghadapi kenyataan dari kehilangan yang dialaminya.
Tentu saja, pengalaman berduka setiap orang berbeda. Tidak ada satu pola yang berlaku untuk semua orang. Ada orang yang membutuhkan banyak teman ketika berduka, sementara orang lain membutuhkan ruang dan kesunyian.
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (23/9), terdapat tujuh alasan psikologis yang dapat menjelaskan mengapa sebagian orang lebih memilih untuk sendirian saat berduka.
1. Sendirian membuat mereka lebih mudah memproses emosi
Duka bukan hanya perasaan sedih. Kehilangan seseorang atau sesuatu yang sangat berarti dapat memunculkan berbagai emosi sekaligus.
Seseorang mungkin merasa sedih, marah, kecewa, takut, bersalah, kosong, bingung, atau bahkan mati rasa. Emosi tersebut juga dapat muncul secara bergantian tanpa pola yang jelas.
Dalam situasi seperti ini, berada di tengah banyak orang terkadang terasa melelahkan.
Ketika bersama orang lain, seseorang mungkin merasa harus berbicara, menjawab pertanyaan, tersenyum, atau menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja. Padahal, di dalam dirinya sedang terjadi proses emosional yang sangat berat.
Kesendirian dapat memberikan kesempatan untuk berhenti sejenak dari tuntutan sosial tersebut.
Di dalam ruang yang lebih tenang, seseorang dapat menangis tanpa merasa diperhatikan, mengingat orang yang telah pergi, menulis pikirannya, berdoa, atau sekadar duduk diam sambil membiarkan emosinya muncul.
Dengan kata lain, kesendirian terkadang memberikan ruang psikologis untuk merasakan emosi tanpa harus mengelolanya demi orang lain.
Ini berbeda dengan mengisolasi diri secara ekstrem. Menyendiri untuk mendapatkan ruang emosional dapat menjadi hal yang berbeda dari memutus semua hubungan sosial dalam jangka panjang.
2. Mereka tidak ingin harus menjelaskan perasaannya
Salah satu hal yang melelahkan ketika berduka adalah harus menjawab pertanyaan yang sebenarnya sederhana, tetapi terasa sangat berat.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Sudah lebih baik?”
“Kamu masih sedih?”
“Kenapa kamu diam saja?”
Bagi seseorang yang sedang berduka, pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membuat mereka merasa harus menjelaskan sesuatu yang bahkan belum mereka pahami sendiri.
Duka tidak selalu mudah diterjemahkan menjadi kata-kata.
Seseorang mungkin tahu bahwa dirinya sedang terluka, tetapi tidak tahu persis mengapa hari ini terasa lebih berat daripada kemarin. Ia mungkin ingin menangis, tetapi tidak tahu apa yang sebenarnya sedang ia tangisi.
Karena itu, sebagian orang memilih sendirian bukan karena tidak menghargai perhatian orang lain, melainkan karena mereka tidak memiliki energi untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.
Kesunyian dapat terasa lebih sederhana daripada percakapan.
Tidak ada pertanyaan yang harus dijawab. Tidak ada ekspresi yang harus dipertahankan. Tidak ada kewajiban untuk mengatakan, “Aku baik-baik saja.”
Mereka hanya bisa menjadi dirinya sendiri.
3. Interaksi sosial dapat terasa terlalu melelahkan
Berduka dapat menguras energi psikologis.
Bahkan aktivitas sederhana yang biasanya tidak terasa berat dapat menjadi melelahkan. Membalas pesan, menerima telepon, bertemu orang, pergi ke suatu tempat, atau sekadar berbincang dapat terasa seperti pekerjaan besar.
Ini berkaitan dengan beban emosional yang sedang dialami.
Ketika pikiran terus memproses kehilangan, kapasitas seseorang untuk menghadapi rangsangan lain dapat terasa berkurang. Percakapan yang biasanya menyenangkan mungkin terasa menguras tenaga.
Bayangkan seseorang yang sedang membawa beban berat. Ketika beban tersebut sudah memenuhi sebagian besar kapasitasnya, aktivitas kecil pun dapat terasa lebih sulit.
Karena itu, beberapa orang membutuhkan lebih sedikit stimulasi sosial selama masa tertentu.
Mereka mungkin berkata:
“Aku ingin di rumah saja.”
“Aku belum ingin bertemu siapa-siapa.”
“Aku ingin sendiri dulu.”
Kalimat tersebut tidak selalu merupakan penolakan terhadap orang lain. Terkadang itu adalah cara sederhana untuk mengatakan bahwa energi emosional mereka sedang sangat terbatas.
4. Kesendirian memberi mereka rasa aman dan kontrol
Kehilangan dapat membuat seseorang merasa bahwa hidupnya berubah secara tiba-tiba.
Hal-hal yang sebelumnya terasa pasti menjadi tidak pasti.
Rutinitas berubah. Hubungan berubah. Masa depan mungkin terasa berbeda. Bahkan identitas seseorang dapat mengalami perubahan ketika orang yang sangat penting dalam hidupnya tidak lagi ada.
Dalam kondisi seperti itu, memiliki kendali atas lingkungan sekitar dapat terasa menenangkan.
Kesendirian memberikan kesempatan untuk menentukan sendiri:
Kapan ingin berbicara.
Kapan ingin diam.
Kapan ingin menangis.
Kapan ingin tidur.
Kapan ingin mengingat.
Dan kapan ingin keluar dari kamar.
Tidak ada orang lain yang mengatur ritme tersebut.
Bagi sebagian orang, ruang pribadi dapat memberikan perasaan bahwa setidaknya ada satu bagian kecil dari hidup mereka yang masih dapat mereka kendalikan.
Inilah sebabnya seseorang yang berduka mungkin menjadi sangat membutuhkan privasi.
Bukan karena ia tidak membutuhkan orang lain, tetapi karena ia membutuhkan kendali atas bagaimana dirinya menghadapi kehilangan tersebut.
5. Mereka takut menjadi beban bagi orang lain
Ada pula orang yang memilih menyendiri karena tidak ingin merepotkan orang lain.
Mereka mungkin berpikir:
“Aku tidak ingin membuat keluargaku ikut sedih.”
“Aku tidak ingin teman-temanku khawatir.”
“Aku tidak mau terus-menerus bercerita tentang masalahku.”
“Aku takut orang lain bosan mendengarkan keluhanku.”
Pikiran seperti ini dapat membuat seseorang menahan diri untuk meminta bantuan.
Padahal, orang-orang di sekitarnya mungkin sebenarnya bersedia membantu.
Masalahnya, orang yang sedang berduka belum tentu mampu melihat dirinya sebagai seseorang yang “boleh membutuhkan orang lain”.
Ada yang terbiasa mandiri. Ada yang sejak kecil diajarkan untuk kuat. Ada pula yang merasa harus menyelesaikan masalah sendiri.
Akibatnya, ketika menghadapi kehilangan besar, mereka memilih diam.
Dalam kondisi seperti ini, pendekatan yang terlalu memaksa justru dapat membuat mereka semakin menarik diri.
Daripada berkata, “Jangan sendirian terus,” terkadang lebih membantu jika seseorang mengatakan:
“Aku tidak akan memaksamu bercerita. Tapi kalau suatu saat kamu membutuhkan teman, aku ada.”
Kalimat sederhana seperti itu memberikan dua hal sekaligus: ruang dan rasa aman.
6. Mereka membutuhkan tempat untuk mengenang tanpa gangguan
Duka juga merupakan proses mempertahankan hubungan emosional dengan seseorang yang telah hilang.
Kenangan dapat muncul dalam bentuk yang sangat sederhana.
Sebuah lagu.
Foto lama.
Aroma tertentu.
Tempat yang pernah dikunjungi bersama.
Percakapan lama.
Barang pribadi.
Atau bahkan makanan yang dulu sering dimakan bersama.
Bagi sebagian orang, menghadapi kenangan tersebut membutuhkan ruang pribadi.
Mereka mungkin ingin melihat foto selama berjam-jam. Mereka mungkin ingin membaca pesan lama. Mereka mungkin ingin mengunjungi tempat tertentu sendirian.
Jika dilakukan dalam ruang yang nyaman dan tidak mengganggu kehidupan sehari-hari secara berlebihan, aktivitas seperti itu dapat menjadi bagian dari proses menghadapi kehilangan.
Kesendirian memungkinkan seseorang berinteraksi dengan kenangan sesuai ritmenya sendiri.
Ia tidak perlu khawatir jika tiba-tiba menangis ketika melihat sebuah foto.
Ia tidak perlu menjelaskan mengapa sebuah lagu membuatnya sedih.
Ia tidak perlu menyembunyikan air mata.
Dalam kesendirian, kenangan dapat hadir tanpa harus segera dihentikan.
7. Setiap orang memiliki cara berduka yang berbeda
Mungkin ini adalah alasan yang paling penting.
Tidak semua orang menunjukkan duka dengan cara yang sama.
Ada orang yang banyak menangis.
Ada yang banyak berbicara.
Ada yang ingin terus ditemani.
Ada yang sibuk bekerja.
Ada yang banyak tidur.
Ada yang ingin bepergian.
Ada yang memilih beribadah lebih sering.
Dan ada yang membutuhkan kesendirian.
Perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh kepribadian, pengalaman hidup, hubungan dengan orang yang meninggal, budaya, kebiasaan keluarga, cara seseorang mengelola emosi, serta kondisi kehilangan yang sedang dihadapi.
Karena itu, tidak tepat jika kita langsung menyimpulkan bahwa orang yang menyendiri pasti sedang “tidak baik-baik saja”.
Kesendirian dalam masa duka dapat memiliki banyak arti.
Bagi seseorang, itu mungkin cara untuk memulihkan energi.
Bagi orang lain, itu mungkin cara untuk menangis.
Bagi yang lain lagi, itu mungkin cara untuk menerima kenyataan secara perlahan.
Yang penting bukan sekadar apakah seseorang sedang sendirian, tetapi bagaimana kesendirian tersebut memengaruhi kehidupannya.
Sendirian Tidak Selalu Berarti Ingin Ditinggalkan
Ada perbedaan penting antara membutuhkan ruang dan merasa tidak memiliki siapa pun.
Seseorang dapat memilih menyendiri tetapi tetap merasa dicintai dan mengetahui bahwa ada orang yang bisa dihubungi ketika membutuhkan bantuan.
Sebaliknya, seseorang dapat berada di tengah banyak orang tetapi tetap merasa sangat kesepian.
Karena itu, ketika seseorang yang sedang berduka meminta ruang, kita tidak selalu perlu langsung menariknya keluar dari kesendirian.
Terkadang yang dibutuhkan bukan orang yang terus-menerus berada di sampingnya, tetapi orang yang tetap tersedia tanpa memaksa.
Misalnya dengan mengirim pesan sederhana:
“Aku tahu kamu mungkin butuh waktu sendiri. Tidak perlu membalas pesan ini. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku ada kalau kamu membutuhkan sesuatu.”
Pesan seperti ini dapat memberikan rasa aman tanpa mengambil alih proses berdukanya.
Kapan Kesendirian Perlu Mendapat Perhatian Lebih?
Meskipun menarik diri dapat menjadi bagian dari proses berduka, penting untuk memperhatikan ketika seseorang benar-benar terputus dari kehidupan sehari-hari atau mengalami penderitaan yang semakin berat.
Hal yang perlu diperhatikan misalnya ketika seseorang dalam waktu yang berkepanjangan tidak mampu menjalankan aktivitas dasar, sama sekali memutus hubungan dengan orang-orang terdekat, mengalami keputusasaan yang sangat berat, atau menunjukkan tanda-tanda ingin menyakiti dirinya sendiri.
Dalam situasi seperti itu, dukungan dari orang terdekat dan bantuan profesional kesehatan mental dapat menjadi sangat penting.
Tujuannya bukan untuk “mempercepat” seseorang agar berhenti berduka.
Tujuannya adalah memastikan bahwa ia tidak harus menghadapi penderitaan yang berat sendirian.
Pada Akhirnya, Berduka Tidak Memiliki Satu Cara yang Benar
Kita sering memiliki gambaran tertentu tentang bagaimana seseorang “seharusnya” berduka.
Seharusnya menangis.
Seharusnya bercerita.
Seharusnya menerima bantuan.
Seharusnya segera kembali beraktivitas.
Namun, kenyataan psikologis manusia jauh lebih kompleks.
Sebagian orang menemukan kenyamanan dalam percakapan. Sebagian lainnya menemukan ketenangan dalam kesunyian.
Keduanya dapat menjadi bagian dari perjalanan menghadapi kehilangan.
Jika seseorang memilih untuk sendirian ketika berduka, mungkin yang paling dibutuhkan bukan nasihat panjang atau paksaan untuk kembali bersosialisasi.
Mungkin ia hanya membutuhkan seseorang yang memahami bahwa diam tidak selalu berarti menolak, menjauh tidak selalu berarti tidak peduli, dan membutuhkan ruang tidak selalu berarti ingin ditinggalkan.
Terkadang, bentuk dukungan yang paling berarti adalah memberikan ruang sambil tetap membuka pintu.
Tidak memaksa.
Tidak menghakimi.
Tidak terburu-buru.
Hanya memastikan bahwa ketika orang tersebut siap kembali mencari hubungan dengan dunia di sekitarnya, ada seseorang yang masih bersedia menyambutnya.
Karena dalam proses berduka, seseorang mungkin memang membutuhkan waktu untuk sendirian.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Andorra vs Malta di Liga Nations UEFA: The Reds Menang Tipis di Encamp
Prediksi Skor Laos vs Brunei di FIFA ASEAN Cup: Thim Xad Menang di Laga Perdana
Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis di Ullevaal Stadion
Prediksi Skor Austria vs Israel di Liga Nations UEFA: Das Team Menang Telak di Raiffeisen Arena
Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Prediksi Skor Liechtenstein vs Lithuania di Liga Nations UEFA: Rinktinė Menang di Kandang Lawan
Prediksi Skor Myanmar vs Timor Leste di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Gasak Lawan di Laga Perdana
Prediksi Skor Jepang vs Uruguay: Ko Itakura Targetkan Kemenangan
Prediksi Skor Kosovo vs Irlandia di Liga Nations UEFA: The Green Army Curi Poin di Fadil Vokrri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022