Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 24 September 2026 | 03.29 WIB

7 Alasan Mengapa Semakin Banyak Perempuan Memilih untuk Tidak Memiliki Anak Menurut Psikologi

seseorang yang memilih tidak ingin memiliki anak / foto: Magnific/jcomp

 

JawaPos.com - Keputusan untuk memiliki anak merupakan salah satu keputusan terbesar dalam kehidupan seseorang. Bagi sebagian perempuan, menjadi ibu adalah impian yang ingin diwujudkan. Namun, bagi sebagian lainnya, kehidupan yang bermakna tidak selalu harus melibatkan peran sebagai orang tua.

Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak perempuan yang secara terbuka mengatakan bahwa mereka tidak ingin memiliki anak. Fenomena ini sering kali memunculkan berbagai komentar dari lingkungan sosial. Ada yang menganggap keputusan tersebut sebagai bentuk egoisme, ada yang menganggapnya sebagai akibat perubahan zaman, sementara yang lain melihatnya sebagai bentuk kebebasan individu dalam menentukan arah hidup.

Dari perspektif psikologi, keputusan untuk tidak memiliki anak tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu alasan. Pilihan tersebut dapat dipengaruhi oleh kepribadian, pengalaman masa lalu, kebutuhan akan otonomi, kondisi emosional, persepsi terhadap tanggung jawab, nilai-nilai pribadi, hingga cara seseorang membayangkan masa depan.

Penting juga untuk membedakan antara tidak ingin memiliki anak dan belum ingin memiliki anak. Keduanya merupakan kondisi psikologis yang berbeda. Ada perempuan yang memang merasa tidak memiliki keinginan menjadi ibu, sementara yang lain mungkin hanya belum menemukan situasi kehidupan yang membuat mereka siap.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (23/9), terdapat tujuh alasan yang dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian perempuan memilih untuk tidak memiliki anak.

1. Mereka Menghargai Kebebasan dan Otonomi Pribadi

Salah satu kebutuhan psikologis manusia adalah merasa memiliki kendali terhadap kehidupannya sendiri.

Bagi sebagian perempuan, kebebasan bukan sekadar kemampuan untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Kebebasan juga berarti dapat menentukan bagaimana mereka menggunakan waktu, energi, uang, karier, hubungan sosial, serta ruang pribadi.

Memiliki anak membawa perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari. Ada tanggung jawab jangka panjang, kebutuhan emosional yang harus diperhatikan, serta berbagai keputusan yang harus mempertimbangkan kepentingan anak.

Perempuan yang memiliki kebutuhan tinggi terhadap otonomi mungkin memandang perubahan tersebut sebagai sesuatu yang tidak sesuai dengan kehidupan yang mereka inginkan.

Misalnya, seseorang mungkin sangat menikmati kehidupan yang fleksibel. Ia dapat berpindah tempat tinggal, bekerja dengan jadwal tertentu, mengejar pendidikan, melakukan perjalanan, atau mengembangkan berbagai proyek pribadi tanpa harus mempertimbangkan kebutuhan seorang anak.

Ketika membayangkan menjadi orang tua, ia mungkin merasa bahwa sebagian besar fleksibilitas tersebut akan berkurang.

Ini bukan berarti ia tidak menyukai anak-anak.

Ia mungkin menyayangi keponakan, senang bermain dengan anak teman, atau bahkan memiliki hubungan yang sangat baik dengan anak-anak. Namun, menyukai anak dan ingin menjadi orang tua merupakan dua hal yang berbeda.

Secara psikologis, seseorang dapat memiliki keinginan untuk berinteraksi dengan anak tanpa memiliki keinginan untuk menjalankan tanggung jawab sebagai orang tua selama bertahun-tahun.

Karena itu, kalimat seperti:

"Kalau kamu suka anak-anak, mengapa tidak punya anak sendiri?"

sebenarnya menyederhanakan keputusan yang sangat kompleks.

Bagi sebagian perempuan, mempertahankan otonomi merupakan bagian penting dari kehidupan yang mereka anggap bermakna.

2. Mereka Menyadari Besarnya Tanggung Jawab Menjadi Orang Tua

Menjadi orang tua bukan hanya tentang melahirkan seorang anak.

Ada tanggung jawab emosional, finansial, pendidikan, kesehatan, waktu, serta pengasuhan yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Sebagian perempuan justru memilih tidak memiliki anak karena mereka menyadari betapa besar tanggung jawab tersebut.

Dari sudut pandang psikologi, kesadaran terhadap konsekuensi jangka panjang dapat membuat seseorang lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Mereka mungkin berpikir:

"Apakah saya benar-benar siap menjadi orang tua?"

"Apakah saya mampu memberikan lingkungan yang sehat bagi anak?"

"Apakah saya sanggup menghadapi perubahan besar dalam kehidupan saya?"

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak selalu menunjukkan ketakutan yang tidak rasional.

Dalam beberapa kasus, pertanyaan tersebut justru menunjukkan kemampuan seseorang untuk mempertimbangkan konsekuensi sebelum mengambil keputusan besar.

Menjadi orang tua merupakan keputusan yang sulit dibatalkan. Seseorang dapat mengakhiri pekerjaan, pindah rumah, atau mengubah gaya hidup. Namun, menjadi orang tua merupakan tanggung jawab yang tidak dapat begitu saja dihentikan ketika seseorang merasa lelah.

Kesadaran inilah yang membuat sebagian perempuan memilih untuk tidak mengambil peran tersebut.

Mereka mungkin merasa lebih bertanggung jawab dengan mengatakan "saya tidak ingin menjadi orang tua" daripada memiliki anak hanya karena tekanan sosial, kemudian menyadari bahwa mereka tidak menginginkan kehidupan tersebut.

3. Pengalaman Masa Kecil Membentuk Pandangan Mereka tentang Menjadi Orang Tua

Pengalaman masa kecil dapat memengaruhi cara seseorang melihat hubungan, keluarga, dan pengasuhan ketika dewasa.

Seorang perempuan yang tumbuh dalam keluarga penuh konflik mungkin memiliki pandangan berbeda tentang pernikahan dan menjadi orang tua dibandingkan seseorang yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang stabil.

Misalnya, seseorang yang sejak kecil melihat konflik orang tua secara terus-menerus mungkin mengembangkan keyakinan bahwa kehidupan keluarga merupakan sesuatu yang sangat melelahkan.

Ada pula perempuan yang sejak kecil harus mengambil terlalu banyak tanggung jawab di rumah.

Mereka mungkin terbiasa mengurus adik, menenangkan orang tua, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, atau menjadi tempat bergantung bagi anggota keluarga lainnya.

Pengalaman semacam itu terkadang dapat membuat seseorang ketika dewasa berpikir:

"Saya sudah terlalu lama menjadi orang yang harus mengurus orang lain. Saya tidak ingin mengulanginya."

Namun, penting untuk tidak menyimpulkan bahwa semua perempuan yang tidak ingin memiliki anak pasti memiliki trauma masa kecil.

Tidak demikian.

Banyak perempuan yang tumbuh dalam keluarga penuh kasih sayang dan tetap memilih tidak memiliki anak.

Pengalaman masa kecil hanyalah salah satu faktor yang mungkin berperan.

Psikologi manusia tidak bekerja seperti rumus sederhana. Pengalaman yang sama dapat menghasilkan keputusan yang berbeda pada orang yang berbeda.

4. Mereka Memiliki Prioritas Hidup yang Berbeda

Setiap manusia memiliki definisi berbeda mengenai kehidupan yang bermakna.

Bagi sebagian orang, kebahagiaan terbesar berasal dari membangun keluarga dan membesarkan anak.

Bagi orang lain, kehidupan yang bermakna mungkin berasal dari pekerjaan, pendidikan, kreativitas, hubungan sosial, perjalanan, kegiatan kemanusiaan, atau pengembangan diri.

Seorang perempuan mungkin memiliki banyak tujuan yang ingin dicapai dalam hidup.

Ia mungkin ingin membangun perusahaan.

Ia mungkin ingin menempuh pendidikan lebih tinggi.

Ia mungkin ingin menjadi seniman.

Ia mungkin ingin mengembangkan karier profesional.

Ia mungkin ingin melakukan perjalanan dan tinggal di berbagai tempat.

Atau ia mungkin hanya menginginkan kehidupan sederhana dengan lebih banyak waktu untuk dirinya sendiri.

Tidak semua tujuan hidup tersebut harus berjalan bersamaan dengan menjadi orang tua.

Inilah mengapa psikologi modern semakin memperhatikan konsep personal values, yaitu nilai-nilai pribadi yang menjadi dasar seseorang dalam menentukan pilihan hidup.

Jika seseorang sangat menghargai kebebasan, kreativitas, ketenangan, atau pencapaian profesional, ia mungkin membuat keputusan yang berbeda dari orang yang sangat menghargai kehidupan keluarga dan pengasuhan.

Tidak ada satu pola kehidupan yang secara otomatis cocok untuk semua orang.

5. Mereka Tidak Ingin Memiliki Anak Hanya Karena Tekanan Sosial

Salah satu perubahan besar dalam masyarakat adalah semakin banyak perempuan yang mempertanyakan norma lama.

Pada masa lalu, dalam banyak lingkungan sosial, perempuan sering diasumsikan akan menikah dan memiliki anak.

Seolah-olah terdapat urutan kehidupan yang sudah ditentukan:

sekolah → bekerja → menikah → memiliki anak → membesarkan anak → menjadi kakek atau nenek.

Namun, semakin banyak perempuan mempertanyakan apakah pola tersebut benar-benar harus diikuti oleh semua orang.

Tekanan sosial dapat muncul dalam bentuk pertanyaan sederhana:

"Kapan menikah?"

"Kapan punya anak?"

"Sudah lama menikah, kok belum punya anak?"

"Kalau tua nanti siapa yang merawat?"

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terdengar biasa bagi orang yang mengucapkannya. Namun, bagi orang yang menerimanya berulang kali, tekanan tersebut dapat terasa berat.

Sebagian perempuan akhirnya menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak menginginkan anak. Mereka hanya merasa bahwa keinginan tersebut sebelumnya dianggap sebagai sesuatu yang wajib.

Ketika tekanan sosial mulai berkurang, seseorang mungkin memiliki ruang untuk bertanya kepada dirinya sendiri:

"Kalau tidak ada seorang pun yang menuntut saya punya anak, apakah saya tetap menginginkannya?"

Bagi sebagian perempuan, jawabannya adalah tidak.

Dan kesadaran tersebut dapat menjadi dasar keputusan untuk hidup tanpa anak.

6. Mereka Memiliki Kekhawatiran terhadap Kondisi Dunia dan Masa Depan

Cara seseorang melihat masa depan juga dapat memengaruhi keputusan mengenai anak.

Sebagian perempuan memiliki kekhawatiran mengenai kondisi ekonomi, ketidakstabilan sosial, perubahan lingkungan, biaya pendidikan, keamanan, atau kualitas kehidupan di masa depan.

Memiliki anak berarti membawa seseorang baru ke dunia yang penuh ketidakpastian.

Bagi sebagian orang, ketidakpastian tersebut merupakan bagian alami dari kehidupan.

Namun, bagi orang lain, hal tersebut menjadi pertimbangan serius.

Mereka mungkin berpikir:

"Apakah dunia akan menjadi tempat yang baik bagi anak saya?"

"Apakah saya mampu memberikan kehidupan yang layak?"

"Bagaimana jika kondisi ekonomi semakin sulit?"

"Bagaimana jika saya tidak mampu memenuhi kebutuhan anak?"

Pertimbangan tersebut dapat membuat seseorang memilih kehidupan tanpa anak.

Namun sekali lagi, tidak semua orang yang memilih childfree memiliki ketakutan terhadap masa depan.

Sebagian hanya merasa bahwa mereka tidak memiliki keinginan menjadi orang tua.

Artinya, alasan seseorang memilih tidak memiliki anak dapat berasal dari berbagai kombinasi faktor.

7. Mereka Menemukan Makna Hidup di Luar Peran sebagai Ibu

Mungkin ini merupakan salah satu alasan paling mendasar.

Dalam banyak budaya, perempuan sering dikaitkan dengan peran sebagai ibu. Seorang perempuan terkadang dianggap belum sepenuhnya menjalani kehidupannya apabila belum memiliki anak.

Padahal, identitas manusia jauh lebih luas.

Seorang perempuan dapat menjadi pasangan, sahabat, anak, saudara, profesional, pengusaha, seniman, akademisi, relawan, mentor, atau berbagai peran lainnya.

Menjadi ibu merupakan salah satu kemungkinan identitas dalam kehidupan seorang perempuan, bukan satu-satunya.

Dalam psikologi, makna hidup dapat dibangun melalui banyak sumber.

Seseorang dapat menemukan makna melalui pekerjaan yang dianggap penting, hubungan yang sehat, kontribusi kepada masyarakat, kreativitas, pembelajaran, spiritualitas, persahabatan, atau aktivitas yang memberikan rasa tujuan.

Karena itu, perempuan yang tidak memiliki anak tetap dapat memiliki kehidupan yang penuh kasih sayang, hubungan yang mendalam, dan tujuan yang kuat.

Tidak memiliki anak juga tidak otomatis berarti seseorang hidup sendirian.

Seseorang dapat memiliki keluarga, pasangan, teman, komunitas, serta hubungan sosial yang bermakna.

Yang berubah hanyalah bentuk kehidupan yang dipilih.

Tidak Ingin Memiliki Anak Bukan Berarti Tidak Menyukai Anak

Salah satu kesalahpahaman terbesar adalah menganggap perempuan yang tidak ingin memiliki anak pasti membenci anak-anak.

Padahal keduanya sangat berbeda.

Seseorang dapat menyukai anak-anak tetapi tidak ingin menjadi orang tua.

Analoginya sederhana.

Kita bisa menyukai anjing tanpa ingin memelihara anjing.

Kita bisa menyukai kehidupan di kota tanpa ingin tinggal di kota.

Kita bisa menyukai pekerjaan tertentu tanpa ingin menjalani pekerjaan tersebut sepanjang hidup.

Begitu juga dengan anak.

Menyukai keberadaan anak dan memilih menjadi orang tua adalah dua keputusan berbeda.

Tidak Memiliki Anak Juga Tidak Selalu Berarti Takut atau Trauma

Ketika seorang perempuan mengatakan tidak ingin memiliki anak, orang lain terkadang langsung mencari "masalah" di balik keputusan tersebut.

"Mungkin dia trauma."

"Mungkin dia takut."

"Mungkin dia belum bertemu pasangan yang tepat."

"Mungkin nanti dia akan berubah pikiran."

Padahal, keputusan tersebut tidak selalu membutuhkan penjelasan patologis.

Seseorang dapat membuat keputusan hidup karena memang sesuai dengan nilai dan preferensinya.

Tidak semua pilihan yang berbeda dari norma merupakan tanda adanya masalah psikologis.

Yang lebih penting adalah apakah keputusan tersebut dibuat secara sadar dan sesuai dengan keinginan individu, bukan semata-mata karena tekanan, paksaan, atau ketakutan yang tidak terkendali.

Perbedaan antara Childfree dan Belum Memiliki Anak

Istilah childfree biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang secara sadar memilih untuk tidak memiliki anak.

Sementara itu, seseorang yang belum memiliki anak belum tentu childfree.

Ada perempuan yang ingin memiliki anak tetapi belum menikah.

Ada yang ingin memiliki anak tetapi masih mempersiapkan kondisi finansial.

Ada yang sedang menunggu pasangan.

Ada yang menghadapi kondisi biologis tertentu.

Ada pula yang belum yakin dengan keputusan tersebut.

Karena itu, kita sebaiknya berhati-hati ketika memberikan label kepada orang lain.

Tidak semua perempuan tanpa anak memiliki alasan yang sama.

Mengapa Keputusan Ini Sering Menimbulkan Perdebatan?

Salah satu alasan keputusan untuk tidak memiliki anak sering menimbulkan perdebatan adalah karena keputusan tersebut menyentuh nilai-nilai yang sangat pribadi.

Bagi sebagian orang, keluarga dan anak merupakan bagian penting dari identitas mereka.

Ketika seseorang mengatakan tidak ingin memiliki anak, keputusan tersebut terkadang dianggap sebagai kritik terhadap pilihan hidup orang lain.

Padahal, seseorang dapat memilih kehidupan berbeda tanpa mengatakan bahwa pilihan orang lain salah.

Seorang perempuan dapat mengatakan:

"Saya tidak ingin menjadi ibu."

Sementara perempuan lain dapat mengatakan:

"Saya sangat ingin menjadi ibu."

Kedua pernyataan tersebut tidak harus bertentangan.

Keduanya menggambarkan preferensi kehidupan yang berbeda.

Yang Perlu Dipahami: Tidak Ada Satu Jalan Hidup yang Cocok untuk Semua Orang

Pada akhirnya, keputusan memiliki anak atau tidak memiliki anak merupakan keputusan yang sangat personal.

Psikologi dapat membantu kita memahami berbagai faktor yang mungkin berada di balik keputusan tersebut, tetapi psikologi tidak seharusnya digunakan untuk memberi label bahwa seseorang "normal" atau "tidak normal" hanya karena memilih jalan hidup yang berbeda.

Sebagian perempuan mendapatkan kebahagiaan melalui peran sebagai ibu.

Sebagian lainnya menemukan kebahagiaan melalui karier, hubungan, kreativitas, kebebasan, komunitas, atau berbagai bentuk kehidupan lainnya.

Yang penting bukan apakah seseorang mengikuti pola hidup yang dianggap umum.

Yang lebih penting adalah apakah kehidupannya dibangun secara sadar, bertanggung jawab, dan sesuai dengan nilai-nilai yang benar-benar ia yakini.

Karena pada akhirnya, menjadi perempuan bukan berarti seseorang harus memenuhi satu peran tertentu.

Menjadi perempuan juga berarti memiliki hak untuk mengenal dirinya sendiri, memahami kebutuhannya, mempertimbangkan konsekuensi pilihannya, dan menentukan seperti apa kehidupan yang ingin ia jalani.

Tidak semua perempuan ingin menjadi ibu. Dan tidak semua perempuan yang menjadi ibu harus memiliki alasan yang sama.

Perbedaan tersebut merupakan bagian dari keragaman pengalaman manusia.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore