seseorang yang senang kerja jarak jauh / foto: Magnific/tonefotografia
Menariknya, ketertarikan terhadap kerja jarak jauh bukan semata-mata persoalan kenyamanan. Dari sudut pandang psikologi, ada sejumlah mekanisme yang dapat menjelaskan mengapa lingkungan kerja yang lebih fleksibel terasa lebih menyenangkan bagi sebagian orang.
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (23/9), tidak semua orang lebih produktif ketika bekerja dari rumah. Kepribadian, jenis pekerjaan, kondisi rumah, hubungan dengan rekan kerja, kebutuhan sosial, dan kemampuan mengatur diri dapat membuat pengalaman setiap orang berbeda.
Namun, jika kita melihatnya melalui psikologi, ada setidaknya enam alasan mengapa kerja jarak jauh begitu menarik bagi banyak orang.
1. Manusia menyukai rasa memiliki kendali atas kehidupannya
Salah satu alasan paling mendasar adalah otonomi—perasaan bahwa kita memiliki kendali atas bagaimana menjalani pekerjaan.
Dalam lingkungan kantor tradisional, banyak hal ditentukan oleh sistem: kapan harus datang, kapan makan siang, di mana harus bekerja, bagaimana mengatur waktu istirahat, bahkan terkadang bagaimana seseorang harus menjalankan proses pekerjaannya.
Kerja jarak jauh dapat memberikan ruang yang lebih besar untuk membuat keputusan sendiri.
Misalnya, seseorang mungkin memilih untuk mulai bekerja lebih awal ketika pikirannya masih segar. Orang lain mungkin lebih produktif pada siang atau sore hari. Selama tuntutan pekerjaan memungkinkan, fleksibilitas seperti ini membuat seseorang dapat menyesuaikan pekerjaan dengan ritme hidupnya.
Dalam psikologi motivasi, kebutuhan akan otonomi merupakan salah satu kebutuhan psikologis yang penting. Ketika seseorang merasa memiliki pilihan dan kendali, aktivitas yang sama dapat terasa berbeda.
Bayangkan dua orang mengerjakan tugas yang identik.
Orang pertama berpikir:
"Saya harus melakukan ini karena aturan mengharuskannya."
Orang kedua berpikir:
"Saya memilih cara terbaik untuk menyelesaikan pekerjaan ini."
Tugasnya sama, tetapi pengalaman psikologisnya berbeda.
Inilah salah satu daya tarik terbesar kerja jarak jauh. Bukan sekadar bekerja di rumah, melainkan memiliki lebih banyak kendali terhadap cara bekerja.
Ketika seseorang merasa memiliki kendali, pekerjaan juga dapat terasa lebih selaras dengan kebutuhan dan preferensinya.
Namun, ada sisi lain.
Otonomi yang lebih besar juga berarti tanggung jawab yang lebih besar. Tidak semua orang nyaman dengan kebebasan tanpa struktur. Sebagian orang justru membutuhkan jadwal, lingkungan kerja, dan pengawasan eksternal agar tetap fokus.
Jadi, daya tarik kerja jarak jauh bukan berarti manusia secara universal ingin bekerja tanpa aturan. Yang lebih tepat adalah bahwa banyak orang menghargai kesempatan untuk memiliki kontrol yang lebih besar terhadap cara mereka bekerja.
2. Berkurangnya perjalanan membuat energi mental lebih terjaga
Bagi pekerja kantor, pekerjaan sebenarnya sering dimulai sebelum mereka tiba di kantor.
Mereka harus bangun, bersiap, menghadapi perjalanan, menghadapi kemacetan, mencari transportasi, dan kemudian baru memulai pekerjaan.
Perjalanan pulang juga membutuhkan energi.
Jika seseorang menghabiskan satu atau dua jam setiap hari untuk perjalanan, dalam satu minggu jumlahnya dapat menjadi sangat besar.
Kerja jarak jauh menghilangkan atau mengurangi sebagian besar aktivitas tersebut.
Dari perspektif psikologi, hal ini penting karena manusia memiliki kapasitas perhatian dan energi mental yang terbatas.
Perjalanan yang panjang tidak selalu melelahkan secara fisik saja. Kemacetan, kepadatan transportasi, keterlambatan, kebisingan, dan kebutuhan untuk terus memperhatikan lingkungan dapat menjadi sumber stres sehari-hari.
Ketika perjalanan tersebut hilang, waktu yang sebelumnya digunakan untuk berpindah tempat dapat digunakan untuk aktivitas lain.
Misalnya:
tidur lebih lama,
sarapan dengan tenang,
berolahraga,
mengurus keluarga,
membaca,
beristirahat,
atau mempersiapkan pekerjaan dengan lebih baik.
Yang berubah bukan hanya jumlah waktu yang tersedia, tetapi juga transisi psikologis antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.
Seseorang yang tidak perlu terburu-buru keluar rumah pada pagi hari mungkin memulai hari dengan kondisi mental yang berbeda.
Begitu pula setelah bekerja.
Alih-alih menghabiskan satu jam di jalan untuk pulang, seseorang dapat menutup laptop dan langsung beralih ke aktivitas pribadi.
Namun, hal ini juga menciptakan tantangan baru: batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi bisa menjadi kabur.
Jadi, kerja jarak jauh dapat mengurangi satu sumber kelelahan, tetapi sekaligus menciptakan kebutuhan baru untuk membuat batas yang sehat.
3. Lingkungan yang familiar dapat mengurangi sebagian stres
Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap pengalaman psikologis seseorang.
Kantor adalah ruang sosial yang penuh dengan rangsangan: percakapan, telepon, rapat, suara keyboard, orang yang berjalan di sekitar, notifikasi, dan berbagai gangguan lainnya.
Bagi sebagian orang, semua itu merupakan bagian normal dari pekerjaan.
Tetapi bagi orang lain, terlalu banyak rangsangan dapat membuat konsentrasi lebih sulit.
Ketika bekerja dari rumah, seseorang biasanya memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengontrol lingkungannya.
Ia dapat memilih:
tingkat kebisingan,
pencahayaan,
temperatur,
posisi duduk,
musik atau keheningan,
dan siapa saja yang berada di sekitarnya.
Kemampuan mengontrol lingkungan ini dapat memberikan rasa nyaman.
Bayangkan seseorang yang harus menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Di satu lingkungan, ia terus-menerus mendengar percakapan orang lain. Di lingkungan lain, ia dapat menggunakan headphone, menutup pintu, dan bekerja tanpa banyak gangguan.
Perbedaan kecil tersebut dapat memengaruhi pengalaman bekerja.
Inilah sebabnya mengapa preferensi terhadap kerja jarak jauh juga dapat berbeda berdasarkan jenis kepribadian dan jenis pekerjaan.
Seseorang yang menikmati interaksi sosial mungkin merasa kantor penuh energi dan menyenangkan.
Sebaliknya, seseorang yang membutuhkan periode panjang tanpa gangguan mungkin merasa lingkungan yang lebih tenang jauh lebih nyaman.
Dengan kata lain, kerja jarak jauh memungkinkan sebagian orang mendesain lingkungan kerja yang lebih sesuai dengan kebutuhan psikologis mereka.
4. Fleksibilitas membantu manusia mengintegrasikan pekerjaan dengan kehidupan
Salah satu perubahan terbesar yang dibawa kerja jarak jauh adalah fleksibilitas.
Dalam sistem kerja yang sangat kaku, kehidupan sering dibagi menjadi dua bagian:
waktu bekerja dan waktu tidak bekerja.
Namun kehidupan nyata tidak selalu bekerja seperti itu.
Ada anak yang perlu dijemput. Ada orang tua yang perlu diperhatikan. Ada janji dokter. Ada urusan rumah tangga. Ada kebutuhan untuk berolahraga. Ada pula hari ketika seseorang merasa jauh lebih produktif pada pagi hari dibandingkan sore hari.
Fleksibilitas dapat membantu seseorang mengatur berbagai tuntutan tersebut.
Misalnya, seseorang mungkin dapat menyelesaikan pekerjaan penting pada pagi hari, mengambil waktu sebentar untuk mengurus keluarga, kemudian kembali bekerja.
Kemampuan seperti ini dapat menciptakan perasaan bahwa pekerjaan tidak sepenuhnya menguasai kehidupan seseorang.
Dari sudut pandang psikologi, hal tersebut berkaitan dengan keseimbangan dan integrasi berbagai peran dalam kehidupan.
Manusia bukan hanya pekerja.
Seseorang juga bisa menjadi pasangan, orang tua, anak, teman, anggota komunitas, dan individu dengan kebutuhan pribadi.
Ketika sistem kerja memberikan sedikit ruang untuk berbagai peran tersebut, kehidupan dapat terasa lebih mudah dikelola.
Namun fleksibilitas tidak selalu menghasilkan keseimbangan.
Jika tidak ada batas yang jelas, seseorang justru dapat bekerja sampai malam karena merasa "masih bisa membuka laptop."
Karena itu, manfaat psikologis fleksibilitas sangat bergantung pada kemampuan seseorang untuk menetapkan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
5. Rasa nyaman dapat meningkatkan pengalaman psikologis saat bekerja
Ada alasan sederhana mengapa banyak orang menyukai bekerja dari rumah:
mereka merasa lebih nyaman.
Kenyamanan mungkin terdengar sepele, tetapi sebenarnya memiliki konsekuensi psikologis.
Di rumah, seseorang mungkin dapat menggunakan pakaian yang lebih santai, memilih makanan sendiri, mengatur posisi duduk, mengambil minuman kapan saja, atau beristirahat sejenak tanpa harus merasa sedang diamati oleh orang lain.
Hal-hal kecil tersebut dapat mengurangi friksi dalam aktivitas sehari-hari.
Dalam kehidupan modern, banyak stres bukan berasal dari satu masalah besar, tetapi dari akumulasi berbagai gangguan kecil.
Bangun terburu-buru.
Terjebak macet.
Mencari tempat parkir.
Datang terlambat.
Mengikuti rapat berturut-turut.
Mencari makan siang.
Kembali ke meja.
Menghadapi perjalanan pulang.
Masing-masing mungkin terlihat kecil.
Tetapi jika terjadi setiap hari, pengalaman tersebut dapat membentuk persepsi seseorang terhadap pekerjaan.
Kerja jarak jauh dapat menghilangkan sebagian dari friksi tersebut.
Akibatnya, pekerjaan yang sama bisa terasa lebih ringan.
Ini bukan berarti bekerja dari rumah selalu santai. Deadline tetap ada. Klien tetap menuntut. Rapat tetap berlangsung. Masalah pekerjaan tetap muncul.
Tetapi konteks di sekitar pekerjaan berubah.
Dan konteks tersebut dapat memengaruhi bagaimana otak dan tubuh merespons tuntutan pekerjaan.
6. Bagi sebagian orang, kerja jarak jauh memberikan lebih banyak ruang untuk menjadi diri sendiri
Ada aspek psikologis lain yang sering tidak dibicarakan: kebebasan dari pengawasan sosial yang terus-menerus.
Di kantor, seseorang sadar bahwa perilakunya berada dalam lingkungan sosial.
Ia mungkin berpikir tentang:
"Apakah saya terlihat sibuk?"
"Apakah orang lain menganggap saya bekerja keras?"
"Apakah saya harus ikut makan siang?"
"Apakah saya terlihat aneh kalau terlalu diam?"
"Apakah saya harus terlihat selalu tersedia?"
Bagi sebagian orang, tuntutan sosial seperti ini tidak terlalu mengganggu.
Namun bagi sebagian lainnya, hal tersebut menghabiskan energi mental.
Kerja jarak jauh dapat mengurangi sebagian kebutuhan untuk terus-menerus mengelola bagaimana diri kita terlihat di hadapan orang lain.
Seseorang dapat lebih fokus pada hasil pekerjaan daripada penampilan sosialnya.
Ini juga menjelaskan mengapa pengalaman kerja jarak jauh dapat sangat berbeda antara individu.
Orang yang mendapatkan energi dari interaksi sosial mungkin merindukan percakapan spontan di kantor.
Sementara orang yang lebih nyaman bekerja secara mandiri mungkin menikmati periode panjang tanpa interupsi sosial.
Tidak ada satu lingkungan kerja yang ideal untuk semua orang.
Yang ada adalah kecocokan antara karakteristik individu dan karakteristik lingkungan kerja.
Tetapi Mengapa Tidak Semua Orang Menyukai Kerja Jarak Jauh?
Jika kerja jarak jauh memiliki begitu banyak keuntungan psikologis, mengapa sebagian orang justru ingin kembali ke kantor?
Karena manusia memiliki kebutuhan yang berbeda.
Kantor menyediakan sesuatu yang sulit sepenuhnya digantikan oleh teknologi: interaksi sosial spontan.
Percakapan singkat dengan rekan kerja.
Bertemu orang baru.
Makan siang bersama.
Berdiskusi secara langsung.
Mendapatkan bantuan secara spontan.
Merasa menjadi bagian dari sebuah kelompok.
Semua pengalaman tersebut dapat memberikan rasa keterhubungan.
Kerja jarak jauh juga dapat menyebabkan masalah lain jika tidak dikelola dengan baik, seperti:
kesepian,
batas pekerjaan yang kabur,
sulit berhenti bekerja,
komunikasi yang kurang jelas,
gangguan dari lingkungan rumah,
dan berkurangnya interaksi sosial.
Jadi, pertanyaan yang lebih tepat bukanlah:
"Apakah kerja jarak jauh lebih baik daripada kerja di kantor?"
Melainkan:
"Lingkungan kerja seperti apa yang paling sesuai dengan kebutuhan psikologis, jenis pekerjaan, dan kondisi kehidupan seseorang?"
Jawabannya dapat berbeda bagi setiap orang.
Kesimpulan: Yang Dicari Banyak Orang Sebenarnya Bukan "Bekerja dari Rumah"
Jika keenam alasan di atas diperhatikan, ada satu pola yang muncul.
Banyak orang sebenarnya tidak semata-mata menyukai rumah.
Mereka menyukai hal-hal yang diberikan oleh kerja jarak jauh:
lebih banyak kendali, lebih sedikit perjalanan, lingkungan yang lebih nyaman, fleksibilitas, lebih sedikit gangguan sosial, dan kesempatan untuk mengatur pekerjaan sesuai kebutuhan pribadi.
Dengan kata lain, daya tarik kerja jarak jauh sebagian besar berkaitan dengan kualitas pengalaman bekerja, bukan sekadar lokasi.
Dan mungkin itulah perubahan terbesar dalam cara kita memandang pekerjaan.
Selama bertahun-tahun, kita terbiasa menganggap bahwa bekerja berarti berada di tempat tertentu selama jumlah jam tertentu.
Kerja jarak jauh menunjukkan bahwa kedua hal tersebut sebenarnya dapat dipisahkan.
Seseorang bisa tetap bekerja tanpa harus selalu berada di gedung kantor.
Pada akhirnya, psikologi membantu kita memahami mengapa fleksibilitas tersebut terasa begitu menarik bagi banyak orang: manusia cenderung lebih nyaman ketika memiliki kendali, mampu mengatur lingkungan, dan dapat menyesuaikan aktivitas dengan kebutuhan hidupnya.
Namun kebebasan tersebut datang bersama tanggung jawab.
Kerja jarak jauh membutuhkan disiplin, kemampuan menetapkan batas, komunikasi yang baik, dan kesadaran terhadap kebutuhan sosial.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kejam, Sopir Truk Dibakar Oleh Atasan dan Alami Luka Bakar Sampai 68 Persen
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri
MK Diminta Batalkan Jabatan Wapres Gibran, Syarat Pendidikan Dipersoalkan
Mahfud MD Balas Sindiran Prabowo: Banyak juga Presiden yang Goblok

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022