Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 24 September 2026 | 03.01 WIB

Jika Kamu Melihat 7 Tanda Ini pada Pasangan, Bisa Jadi Itu Tanda Hubungan Sedang Menuju Kegagalan

seseorang yang hubungannya menuju kegagalan / foto: Magnific/yanalya

 

JawaPos.com - Tidak semua hubungan berakhir karena adanya perselingkuhan, pertengkaran besar, atau kejadian dramatis.

Kadang-kadang, hubungan justru mulai kehilangan fondasinya melalui hal-hal kecil yang terjadi berulang kali.

Percakapan yang semakin dingin.
Pertengkaran yang tidak pernah benar-benar selesai.
Perasaan tidak dihargai.
Salah satu pihak mulai menarik diri.
Atau keduanya masih bersama, tetapi sudah tidak merasa benar-benar terhubung.

Yang lebih sulit, tanda-tanda seperti ini sering kali terlihat normal pada awalnya.

Setiap pasangan pasti pernah bertengkar. Setiap orang juga pernah membutuhkan ruang. Bahkan hubungan yang sehat pun tidak selalu penuh dengan romantisme dan komunikasi yang sempurna.

Namun, psikologi hubungan menunjukkan bahwa bukan satu kejadian yang biasanya menjadi masalah utama, melainkan pola yang terus berulang tanpa adanya usaha untuk memperbaikinya.

Psikolog hubungan John Gottman dan para peneliti yang bekerja dalam bidang hubungan romantis telah banyak mempelajari pola interaksi pasangan dan kaitannya dengan stabilitas hubungan. Salah satu temuan yang terkenal adalah adanya pola komunikasi destruktif yang dapat menjadi tanda hubungan sedang berada dalam kondisi tidak sehat.

Karena itu, jika kamu melihat beberapa tanda berikut dalam hubunganmu, jangan langsung menyimpulkan bahwa hubungan tersebut pasti akan berakhir.

Anggaplah tanda-tanda ini sebagai alarm untuk melakukan evaluasi.

Sebab sebuah hubungan yang sedang bermasalah belum tentu merupakan hubungan yang sudah tidak bisa diselamatkan.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (23/9), terdapat tujuh tanda yang patut diperhatikan.

1. Setiap Pertengkaran Berubah Menjadi Ajang untuk Menentukan Siapa yang Benar

Salah satu tanda yang sering tidak disadari adalah ketika konflik tidak lagi bertujuan mencari solusi, melainkan memenangkan perdebatan.

Awalnya mungkin hanya masalah sederhana.

“Kamu tadi lupa mengabariku.”

Lalu berubah menjadi:

“Memangnya kamu selalu mengabariku?”

Kemudian berkembang menjadi:

“Kamu memang dari dulu tidak pernah peduli.”

Dan akhirnya, masalah yang sebenarnya kecil berubah menjadi pertarungan mengenai siapa yang paling benar.

Dalam kondisi seperti ini, pasangan tidak lagi bertanya:

“Bagaimana kita menyelesaikan masalah ini?”

Melainkan:

“Bagaimana caranya supaya aku bisa membuktikan bahwa aku benar?”

Perbedaannya sangat besar.

Dalam hubungan yang sehat, dua orang bisa memiliki pandangan berbeda tanpa harus menjadikan perbedaan tersebut sebagai ancaman terhadap harga diri masing-masing.

Sebaliknya, ketika setiap konflik menjadi kompetisi, seseorang bisa mulai merasa bahwa mengakui kesalahan berarti kalah.

Padahal dalam hubungan, kemenangan satu orang sering kali bukan berarti kemenangan bersama.

Bayangkan pasangan berkata:

“Aku salah. Seharusnya aku memberitahumu lebih awal.”

Kalimat sederhana seperti itu sebenarnya bisa menghentikan konflik sebelum berkembang.

Tetapi jika responsnya selalu:

“Ya, tapi kamu juga pernah melakukan hal yang sama!”

Maka pembicaraan tidak lagi berorientasi pada penyelesaian.

Keduanya hanya saling mengumpulkan bukti.

Dan semakin lama, hubungan bisa berubah menjadi ruang persidangan.

Yang satu menjadi jaksa. Yang lain menjadi terdakwa.

Jika pola seperti ini terus berulang, masalah sebenarnya bukan lagi siapa yang benar.

Masalahnya adalah hubungan tersebut mulai kehilangan kemampuan untuk menyelesaikan konflik secara aman.

2. Kritik terhadap Perilaku Berubah Menjadi Serangan terhadap Kepribadian

Ada perbedaan besar antara mengatakan:

“Aku kecewa karena kamu terlambat.”

dan mengatakan:

“Kamu memang orang yang tidak bisa diandalkan.”

Kalimat pertama membahas perilaku tertentu.

Kalimat kedua menyerang identitas seseorang.

Dalam psikologi hubungan, pola kritik yang menyerang karakter pasangan dapat menjadi jauh lebih merusak dibandingkan keluhan yang spesifik terhadap suatu perilaku.

Mengatakan:

“Aku tidak suka ketika kamu membatalkan rencana tanpa memberi tahu.”

masih membuka ruang untuk perubahan.

Tetapi:

“Kamu egois.”

“Kamu selalu seperti itu.”

“Kamu memang tidak pernah bisa berubah.”

“Tidak heran tidak ada orang yang tahan denganmu.”

membuat konflik menjadi jauh lebih personal.

Lambat laun, pasangan tidak lagi merasa bahwa dirinya sedang diminta memperbaiki suatu perilaku.

Ia merasa bahwa dirinya secara keseluruhan dianggap sebagai masalah.

Inilah yang membuat konflik semakin sulit diselesaikan.

Sebab ketika seseorang merasa identitasnya diserang, ia cenderung lebih fokus mempertahankan diri daripada mendengarkan pesan pasangannya.

Akhirnya muncul siklus:

kritik → pertahanan diri → serangan balik → kritik lebih keras.

Dan siklus tersebut dapat berlangsung bertahun-tahun jika tidak disadari.

Hubungan yang sehat bukan berarti tidak boleh mengkritik.

Tetapi kritik yang sehat biasanya lebih spesifik:

“Aku terluka ketika kamu mengatakan itu di depan teman-teman kita.”

bukan:

“Kamu memang suka mempermalukan aku.”

Perbedaannya mungkin terlihat kecil.

Namun secara emosional, dampaknya bisa sangat besar.

3. Kamu Mulai Merasa Harus Berjalan di Atas Kulit Telur

Pernahkah kamu merasa harus berhati-hati terhadap hampir semua perkataanmu karena takut pasangan marah?

Kamu berpikir berkali-kali sebelum menyampaikan pendapat.

Kamu takut membicarakan sesuatu karena khawatir pembicaraan tersebut berubah menjadi pertengkaran.

Akhirnya kamu memilih diam.

Bukan karena masalahnya sudah selesai.

Tetapi karena kamu merasa lebih aman jika tidak membicarakannya.

Jika ini menjadi pola yang terus-menerus, hubungan sedang kehilangan salah satu fondasi penting: rasa aman secara emosional.

Hubungan yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi kedua orang untuk mengatakan:

“Aku tidak setuju.”

“Aku terluka.”

“Aku membutuhkan sesuatu.”

“Aku merasa tidak nyaman.”

tanpa harus selalu takut akan konsekuensi emosional yang berlebihan.

Tentu saja, tidak berarti pasangan harus selalu menerima semua pendapat kita.

Perbedaan pendapat adalah hal normal.

Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang mulai merasa bahwa kejujuran lebih berbahaya daripada diam.

Pada titik tertentu, ia mungkin berhenti menyampaikan kebutuhan.

Berhenti bercerita.

Berhenti meminta bantuan.

Berhenti mengungkapkan perasaan.

Dan ketika komunikasi berhenti, kedekatan emosional biasanya ikut terkikis.

Ironisnya, hubungan tersebut mungkin masih terlihat baik dari luar.

Masih makan bersama.

Masih pergi bersama.

Masih mengunggah foto bersama.

Tetapi secara emosional, kedua orang tersebut bisa semakin jauh.

4. Pasangan Lebih Sering Meremehkan daripada Menghargai

Ada perbedaan antara bercanda dengan pasangan dan merendahkan pasangan.

Candaan biasanya membuat kedua orang merasa dekat.

Merendahkan membuat salah satu orang merasa lebih kecil.

Misalnya:

“Kamu benar-benar bodoh kalau soal beginian.”

“Kamu terlalu sensitif.”

“Ah, kamu memang tidak pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar.”

“Atas dasar apa kamu merasa pendapatmu penting?”

Jika perkataan seperti ini terjadi terus-menerus, dampaknya bisa jauh lebih dalam daripada satu pertengkaran.

Karena penghinaan tidak hanya mengatakan:

“Aku tidak setuju dengan tindakanmu.”

Tetapi dapat menyampaikan pesan:

“Aku merasa lebih tinggi darimu.”

Dalam hubungan romantis, munculnya rasa superioritas seperti ini merupakan pola yang patut diperhatikan.

Hubungan membutuhkan rasa saling menghormati.

Bahkan ketika sedang marah.

Bahkan ketika kecewa.

Bahkan ketika berbeda pendapat.

Seseorang boleh mengatakan:

“Aku sangat marah dengan apa yang kamu lakukan.”

Tetapi itu berbeda dengan:

“Kamu memang manusia yang menyebalkan.”

Perasaan marah dapat berubah.

Tetapi penghinaan yang terus-menerus dapat merusak cara seseorang memandang pasangannya.

Dan ketika rasa hormat mulai hilang, hubungan menjadi jauh lebih sulit untuk dipertahankan.

5. Salah Satu dari Kalian Mulai Menarik Diri Setiap Kali Terjadi Konflik

Tidak semua orang menghadapi konflik dengan cara yang sama.

Ada orang yang ingin langsung membicarakan masalah.

Ada juga yang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.

Membutuhkan jeda bukanlah sesuatu yang otomatis buruk.

Justru dalam kondisi emosi yang sangat tinggi, mengambil waktu untuk menenangkan diri dapat membantu seseorang kembali berbicara dengan lebih rasional.

Masalah muncul ketika menarik diri menjadi bentuk penghindaran permanen.

Misalnya setiap kali masalah muncul:

“Aku tidak mau membicarakannya.”

Kemudian pergi.

Tidak menjawab.

Mengabaikan pasangan.

Menolak komunikasi.

Dan tidak pernah kembali untuk menyelesaikan masalah.

Ini berbeda dengan mengatakan:

“Aku sedang terlalu emosi. Aku butuh satu jam untuk menenangkan diri. Setelah itu kita bicarakan.”

Kalimat kedua masih menunjukkan komitmen terhadap penyelesaian.

Kalimat pertama bisa menjadi pintu menuju kebuntuan.

Dalam psikologi hubungan, pola seseorang yang mengejar pembicaraan sementara pasangannya terus menarik diri dapat menciptakan dinamika yang melelahkan.

Semakin satu pihak merasa diabaikan, semakin keras ia mengejar.

Semakin keras ia mengejar, semakin pihak lain menarik diri.

Akhirnya terbentuk siklus:

mengejar → menarik diri → mengejar lebih keras → menarik diri lebih jauh.

Jika pola ini tidak dipahami dan diubah, konflik kecil pun bisa terasa sangat besar.

6. Kalian Tidak Lagi Memperbaiki Konflik setelah Bertengkar

Pertengkaran sebenarnya bukan satu-satunya ukuran kesehatan sebuah hubungan.

Pasangan yang sehat pun bisa bertengkar.

Yang sangat penting adalah:

Apa yang terjadi setelah pertengkaran?

Apakah kalian bisa kembali berbicara?

Apakah ada usaha meminta maaf?

Apakah ada usaha memahami perspektif pasangan?

Apakah ada perubahan setelah masalah dibicarakan?

Atau semuanya hanya berakhir dengan:

“Sudahlah.”

Kemudian beberapa hari kemudian masalah yang sama muncul lagi.

Dan lagi.

Dan lagi.

Hubungan bisa menjadi sangat melelahkan ketika konflik tidak pernah benar-benar selesai, melainkan hanya ditunda.

Pasangan mungkin berhenti membicarakan masalah bukan karena masalah tersebut sudah selesai, tetapi karena keduanya sudah kehabisan energi.

Ini adalah perbedaan yang penting.

Diam bukan selalu berarti damai.

Kadang-kadang diam hanya berarti:

“Aku sudah tidak punya tenaga untuk menjelaskan lagi.”

Jika pola ini terjadi terus-menerus, konflik yang tidak terselesaikan dapat menumpuk menjadi kebencian, jarak emosional, atau ketidakpedulian.

Karena itu, salah satu pertanyaan penting dalam sebuah hubungan bukan:

“Apakah kita pernah bertengkar?”

Tetapi:

“Apakah kita tahu bagaimana memperbaiki hubungan setelah bertengkar?”

7. Kamu Tidak Lagi Merasa Menjadi Tim

Mungkin ini adalah tanda yang paling halus.

Hubungan mulai terasa seperti:

aku melawan kamu.

Bukan:

kita melawan masalah.

Ketika pasangan mulai melihat satu sama lain sebagai lawan, masalah apa pun dapat berubah menjadi konflik personal.

Masalah keuangan menjadi:

“Kamu memang tidak bertanggung jawab.”

Masalah pekerjaan rumah menjadi:

“Kamu selalu memanfaatkan aku.”

Masalah keluarga menjadi:

“Kamu tidak pernah membela aku.”

Masalah komunikasi menjadi:

“Kamu memang tidak peduli.”

Lama-kelamaan, pasangan berhenti merasa bahwa mereka berada di sisi yang sama.

Padahal salah satu fondasi penting dalam hubungan jangka panjang adalah kemampuan untuk melihat masalah sebagai sesuatu yang harus dihadapi bersama.

Bukan berarti kedua orang harus selalu setuju.

Justru pasangan bisa berbeda pendapat.

Namun mereka masih bisa berkata:

“Aku tidak setuju dengan caramu melihat masalah ini, tetapi kita akan mencari jalan keluarnya bersama.”

Itulah perbedaannya.

Hubungan yang kuat bukan hubungan tanpa konflik.

Hubungan yang kuat adalah hubungan yang mampu mempertahankan rasa saling menghormati meskipun sedang menghadapi konflik.

Lalu, Apakah 7 Tanda Ini Berarti Hubungan Pasti Akan Gagal?

Tidak.

Ini bagian yang sangat penting.

Jangan menggunakan tujuh tanda di atas sebagai alat untuk langsung memberikan vonis terhadap hubungan.

Melihat satu atau dua tanda tersebut sesekali tidak berarti hubunganmu pasti akan berakhir.

Manusia bisa marah.

Manusia bisa defensif.

Manusia bisa salah bicara.

Manusia juga bisa menarik diri ketika sedang kewalahan.

Yang lebih penting adalah frekuensi, intensitas, durasi, dan kesediaan kedua orang untuk memperbaikinya.

Misalnya, pasangan pernah mengatakan sesuatu yang menyakitkan.

Itu adalah masalah.

Tetapi kemudian ia menyadarinya, meminta maaf, mendengarkan dampaknya terhadapmu, dan berusaha mengubah perilakunya.

Itu berbeda dengan seseorang yang terus mengulangi perilaku yang sama dan menolak mengakui adanya masalah.

Dengan kata lain:

Kesalahan tidak selalu menghancurkan hubungan. Ketidakmauan untuk memperbaiki pola yang merusaklah yang patut diperhatikan.

Hubungan yang Sehat Bukan Berarti Tidak Pernah Bertengkar

Ada anggapan bahwa pasangan yang benar-benar cocok seharusnya jarang bertengkar.

Padahal kenyataannya lebih kompleks.

Dua manusia dengan pengalaman, kebutuhan, kepribadian, kebiasaan, dan harapan yang berbeda hampir pasti akan mengalami konflik.

Yang membedakan hubungan bukan sekadar ada atau tidaknya konflik.

Melainkan bagaimana konflik tersebut dikelola.

Apakah kalian bisa mendengarkan?

Apakah kalian bisa meminta maaf?

Apakah kalian bisa mengakui kesalahan?

Apakah kalian masih menghormati pasangan ketika marah?

Apakah kalian berusaha memperbaiki keadaan?

Apakah kalian merasa aman untuk menjadi diri sendiri?

Dan yang paling penting:

Apakah kalian masih merasa bahwa kalian berada di pihak yang sama?

Karena pada akhirnya, hubungan bukan tentang menemukan seseorang yang tidak pernah membuat kita kecewa.

Hubungan adalah tentang dua orang yang bersedia belajar menghadapi kekecewaan tanpa kehilangan rasa hormat satu sama lain.

Cobalah Bertanya kepada Dirimu Sendiri

Jika kamu sedang mempertanyakan kondisi hubunganmu, jangan hanya bertanya:

“Apakah dia mencintaiku?”

Coba tanyakan juga:

Apakah aku merasa dihargai?
Apakah aku bisa menyampaikan perasaanku dengan aman?
Apakah kami bisa menyelesaikan konflik tanpa saling merendahkan?
Apakah kami bisa meminta maaf?
Apakah kesalahan yang sama terus berulang tanpa perubahan?
Apakah aku merasa didengarkan?
Apakah kami masih saling mendukung?
Apakah aku masih merasa bahwa kami adalah sebuah tim?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin jauh lebih berguna daripada sekadar menghitung seberapa sering kalian bertengkar.

Sebab terkadang, hubungan tidak rusak karena satu masalah besar.

Hubungan rusak karena masalah-masalah kecil yang terus dibiarkan sampai akhirnya menjadi pola.

Dan kabar baiknya, ketika sebuah pola disadari lebih awal, pasangan masih memiliki kesempatan untuk membicarakannya, mencari bantuan, atau membangun cara berkomunikasi yang lebih sehat.

Jadi, jika kamu melihat tujuh tanda di atas dalam hubunganmu, jangan buru-buru bertanya:

“Apakah hubungan ini akan gagal?”

Pertanyaan yang mungkin lebih berguna adalah:

“Apakah kami masih bersedia memperbaiki cara kami berhubungan satu sama lain?”

Karena masa depan sebuah hubungan tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak masalah yang pernah terjadi.

Ia juga dipengaruhi oleh bagaimana dua orang menghadapi masalah tersebut.

Bukan hubungan yang tanpa konflik yang selalu bertahan, tetapi hubungan yang memiliki kemampuan untuk memperbaiki kerusakan, memulihkan kepercayaan, dan kembali menjadi satu tim setelah konflik terjadi.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore