Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 24 September 2026 | 02.57 WIB

Jika Kamu Melihat 7 Tanda Ini pada Atasanmu di Tempat Kerja, Dia Mungkin Melakukan Gaslighting

seseorang yang digaslighting oleh atasan / foto: Magnific/katemangostar

 

JawaPos.com - Pernahkah kamu keluar dari sebuah rapat bersama atasan dengan perasaan bingung, padahal sebelumnya kamu yakin bahwa kamu memahami apa yang terjadi?

Mungkin kamu baru saja menjelaskan sebuah masalah yang terjadi di tempat kerja. Namun, alih-alih membahas masalah tersebut, atasanmu justru mengatakan bahwa kamu terlalu sensitif. Atau mungkin dia menyangkal pernah memberikan instruksi tertentu, padahal kamu masih mengingat percakapan tersebut dengan jelas.

Lama-kelamaan, situasi seperti ini bisa membuat seseorang mulai mempertanyakan dirinya sendiri.

"Apakah aku memang salah ingat?"

"Apakah aku terlalu sensitif?"

"Jangan-jangan aku memang tidak cukup kompeten?"

Dalam psikologi, pola komunikasi yang secara konsisten membuat seseorang meragukan ingatan, persepsi, atau penilaiannya sendiri dapat berkaitan dengan gaslighting.

Istilah gaslighting berasal dari konsep manipulasi psikologis, yaitu ketika seseorang berusaha membuat orang lain mempertanyakan persepsi terhadap kenyataan. Dalam hubungan kerja, perilaku semacam ini dapat muncul dalam interaksi antara atasan dan bawahan, terutama ketika terdapat ketimpangan kekuasaan.

Namun, ada satu hal penting yang perlu dipahami: tidak setiap atasan yang menyangkal, mengkritik, lupa, atau melakukan kesalahan sedang melakukan gaslighting.

Kesalahan komunikasi bisa terjadi. Atasan bisa saja benar-benar lupa. Instruksi bisa berubah karena kondisi pekerjaan. Dua orang juga bisa memiliki ingatan berbeda mengenai percakapan yang sama.

Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya satu kejadian, melainkan pola perilaku yang berulang dan dampaknya terhadap kemampuanmu mempercayai penilaian diri sendiri.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (23/9), terdapat tujuh tanda yang patut diperhatikan.

1. Atasan Sering Menyangkal Pernah Mengatakan atau Memerintahkan Sesuatu

Salah satu tanda yang dapat terlihat dalam situasi kerja adalah ketika atasan berulang kali menyangkal bahwa dirinya pernah memberikan instruksi tertentu.

Misalnya, beberapa hari sebelumnya atasan mengatakan:

"Kerjakan laporan ini dengan format seperti yang biasa kita gunakan."

Kamu mengerjakannya berdasarkan pemahaman tersebut.

Namun ketika laporan selesai dan ternyata tidak sesuai dengan harapannya, dia berkata:

"Saya tidak pernah menyuruh kamu membuatnya seperti itu."

Satu kejadian seperti ini belum tentu merupakan gaslighting.

Bisa saja terjadi miskomunikasi.

Namun situasinya menjadi lebih mengkhawatirkan ketika pola tersebut terjadi berulang kali. Setiap kali terjadi masalah, instruksi yang sebelumnya diberikan seolah-olah tidak pernah ada.

Akibatnya, kamu mulai merasa harus selalu mengingat kembali setiap percakapan.

Bahkan kamu mungkin mulai berpikir:

"Mungkin memang aku yang salah dengar."

Di sinilah dampak psikologisnya dapat muncul.

Jika seseorang terus-menerus menerima pesan bahwa persepsinya tidak dapat dipercaya, ia dapat menjadi semakin ragu terhadap ingatan dan penilaiannya sendiri.

Apa yang bisa dilakukan?

Dalam konteks profesional, biasakan membuat dokumentasi.

Setelah menerima instruksi penting, kamu dapat mengirimkan pesan singkat seperti:

"Untuk memastikan saya memahami tugasnya dengan benar, berarti laporan ini akan dibuat menggunakan format A dan dikumpulkan hari Jumat, ya?"

Cara ini bukan hanya melindungi dirimu. Dokumentasi juga membantu seluruh tim mengurangi miskomunikasi.

2. Ketika Kamu Mengungkapkan Masalah, Dia Justru Membuatmu Meragukan Perasaanmu

Bayangkan kamu menyampaikan kepada atasan bahwa cara seseorang berbicara kepadamu dalam rapat membuatmu merasa direndahkan.

Alih-alih membahas perilaku tersebut, atasanmu menjawab:

"Kamu terlalu sensitif."

Atau:

"Kamu memang suka mengambil semuanya secara pribadi."

Sekali lagi, seseorang memang bisa salah memahami sebuah situasi. Perasaan seseorang juga tidak selalu menjadi bukti bahwa interpretasinya terhadap suatu kejadian sepenuhnya benar.

Namun ada perbedaan antara membantu seseorang melihat perspektif lain dan menggunakan label terhadap dirinya untuk menghindari pembahasan mengenai masalah yang sebenarnya.

Respons yang lebih konstruktif biasanya berusaha memahami fakta:

"Apa yang sebenarnya dikatakan?"

"Kapan itu terjadi?"

"Apa dampaknya terhadap pekerjaan?"

Sedangkan pola yang terus-menerus mengalihkan pembicaraan menjadi:

"Masalahnya ada pada kamu."

Jika hal ini terus terjadi, seseorang dapat mulai mengabaikan emosinya sendiri.

Ia mungkin berhenti menyampaikan keberatan karena takut dianggap terlalu sensitif.

Padahal, dalam lingkungan kerja yang sehat, seseorang tetap dapat mengungkapkan ketidaknyamanan secara profesional tanpa harus terlebih dahulu membuktikan bahwa dirinya tidak "terlalu sensitif".

3. Kesalahan Atasan Perlahan-Lahan Selalu Menjadi Kesalahanmu

Tanda berikutnya adalah ketika tanggung jawab atas berbagai masalah hampir selalu diarahkan kepadamu, bahkan ketika situasinya melibatkan keputusan atau instruksi dari atasan.

Misalnya, sebuah proyek terlambat karena perubahan prioritas yang datang dari atasan.

Ketika hasil akhirnya bermasalah, kamu justru diberi tahu:

"Kamu seharusnya bisa mengantisipasi ini."

Kemudian ketika kamu mengingatkan bahwa prioritas memang telah diubah, jawabannya:

"Kamu seharusnya lebih proaktif."

Jika pola ini berulang, kamu mungkin mulai merasa bahwa apa pun yang terjadi selalu merupakan bukti bahwa kamu tidak kompeten.

Hal tersebut dapat memengaruhi kepercayaan diri profesional.

Seseorang yang terus-menerus menerima kritik tanpa mendapatkan gambaran yang jelas mengenai tanggung jawabnya bisa menjadi terlalu berhati-hati, takut mengambil keputusan, dan terus mencari validasi.

Padahal, dalam pekerjaan, kesalahan seharusnya dapat dibahas berdasarkan fakta:

siapa yang bertanggung jawab,
keputusan apa yang dibuat,
informasi apa yang tersedia saat itu,
kapan perubahan terjadi,
dan apa yang dapat diperbaiki.

Jika semua persoalan secara otomatis diposisikan sebagai kegagalan pribadi bawahan, pembelajaran dari masalah tersebut menjadi jauh lebih sulit.

4. Dia Mengubah Cerita Setelah Kejadian, Lalu Membuatmu Merasa Seolah-olah Kamu yang Salah Memahaminya

Perubahan konteks bisa terjadi di tempat kerja.

Sebuah proyek dapat mengalami perubahan. Strategi dapat berubah. Atasan juga dapat mengubah keputusan berdasarkan informasi baru.

Masalahnya muncul ketika perubahan tersebut kemudian digambarkan seolah-olah tidak pernah ada perubahan sama sekali.

Misalnya:

Pada awal minggu, kamu diberi tahu bahwa prioritas utama adalah proyek A.

Kamu menghabiskan sebagian besar waktumu mengerjakan proyek tersebut.

Beberapa hari kemudian, atasan mengatakan:

"Bukankah sudah jelas dari awal bahwa proyek B adalah prioritas?"

Ketika kamu mengingatkan percakapan sebelumnya, dia mengatakan:

"Kamu salah memahami semuanya."

Jika situasi seperti ini terjadi terus-menerus, kamu mungkin mulai merasa kehilangan pijakan.

Karena itu, dokumentasi sangat penting.

Bukan untuk menciptakan konflik, melainkan untuk menciptakan rekam jejak objektif.

Email, catatan rapat, daftar tugas, pesan kerja, dan pembaruan proyek dapat membantu membedakan antara:

"Saya salah mengingat."

dan

"Memang terjadi perubahan instruksi."

Perbedaan tersebut sangat penting.

5. Dia Menggunakan Reaksi Emosionalmu sebagai Bukti Bahwa Kamu Tidak Dapat Dipercaya

Ini merupakan pola yang cukup halus.

Misalnya, kamu akhirnya merasa frustrasi setelah beberapa kali menerima instruksi yang berubah.

Kamu berbicara dengan nada tegas.

Kemudian atasan berkata:

"Lihat? Inilah masalahmu. Kamu tidak bisa mengendalikan emosi."

Akibatnya, perhatian berpindah dari masalah yang sedang dibahas menjadi reaksimu terhadap masalah tersebut.

Tentu saja, setiap orang bertanggung jawab atas cara mereka berkomunikasi.

Jika seseorang berteriak, menghina, atau bersikap agresif, perilaku tersebut tetap perlu dievaluasi.

Namun menjadi emosional ketika menghadapi tekanan tidak otomatis membuat seseorang salah mengenai masalah yang sedang dibicarakan.

Dalam psikologi, emosi dapat menjadi informasi mengenai bagaimana seseorang mengalami sebuah situasi. Emosi bukan selalu bukti bahwa interpretasi seseorang benar, tetapi juga bukan sesuatu yang otomatis harus diabaikan.

Karena itu, cobalah memisahkan dua hal:

"Apakah caraku menyampaikan masalah sudah tepat?"

dan

"Apakah masalah yang saya sampaikan memang terjadi?"

Keduanya merupakan pertanyaan yang berbeda.

6. Kamu Mulai Membutuhkan Bukti untuk Mempercayai Ingatanmu Sendiri

Ini mungkin merupakan salah satu dampak yang paling mengganggu.

Awalnya kamu yakin dengan apa yang kamu dengar.

Namun setelah beberapa kali mengalami percakapan yang membingungkan, kamu mulai menyimpan semuanya.

Kamu screenshot pesan.

Kamu mencatat setiap instruksi.

Kamu menulis tanggal dan waktu setiap percakapan.

Kamu bahkan mulai bertanya kepada rekan kerja:

"Tadi dia bilang apa, ya?"

Dokumentasi sebenarnya merupakan kebiasaan profesional yang baik.

Tetapi jika kebutuhan untuk mendokumentasikan semuanya muncul terutama karena kamu sudah tidak mempercayai kemampuanmu sendiri untuk mengingat atau menilai suatu kejadian, situasinya layak diperhatikan.

Kamu mungkin mulai mengalami keraguan seperti:

"Apakah aku memang salah?"

"Apakah aku terlalu banyak berpikir?"

"Apakah sebenarnya semuanya ada di kepalaku?"

Inilah salah satu alasan mengapa gaslighting sering terasa membingungkan.

Masalahnya bukan sekadar seseorang mengatakan sesuatu yang tidak benar.

Masalah yang lebih dalam adalah ketika interaksi tersebut membuat target mulai kehilangan kepercayaan terhadap penilaiannya sendiri.

7. Setelah Berinteraksi dengannya, Kamu Sering Merasa Bingung, Bersalah, dan Meragukan Diri Sendiri

Tidak semua perasaan tidak nyaman setelah berbicara dengan atasan berarti gaslighting.

Pekerjaan memang bisa membuat stres.

Atasan dapat memberikan kritik.

Rapat dapat berlangsung tegang.

Deadline dapat membuat seseorang cemas.

Namun jika setelah berulang kali berinteraksi dengan orang yang sama kamu hampir selalu keluar dengan perasaan:

"Jangan-jangan semuanya memang salahku."

"Aku tidak tahu lagi apa yang sebenarnya terjadi."

"Aku tidak bisa mempercayai penilaianku sendiri."

maka pola tersebut layak diperhatikan.

Perhatikan juga perubahan dalam dirimu.

Apakah kamu menjadi terlalu takut melakukan kesalahan?

Apakah kamu terus-menerus meminta orang lain memastikan bahwa ingatanmu benar?

Apakah kamu mulai menghindari menyampaikan pendapat?

Apakah kamu merasa harus meminta maaf bahkan ketika belum jelas apa kesalahanmu?

Apakah kepercayaan dirimu dalam bekerja semakin menurun?

Jika jawabannya sering kali iya, masalahnya mungkin bukan sekadar satu percakapan yang tidak menyenangkan.

Tetapi Ingat: Tidak Semua Konflik dengan Atasan adalah Gaslighting

Ini bagian yang sangat penting.

Istilah gaslighting sering digunakan terlalu luas.

Atasan yang tidak setuju denganmu belum tentu melakukan gaslighting.

Atasan yang memberikan kritik belum tentu melakukan gaslighting.

Atasan yang lupa pernah mengatakan sesuatu belum tentu melakukan gaslighting.

Atasan yang mengubah keputusan karena situasi berubah juga belum tentu melakukan gaslighting.

Bahkan perbedaan ingatan antara dua orang tidak otomatis berarti salah satu pihak sedang memanipulasi pihak lainnya.

Yang perlu diperhatikan adalah pola, konteks, frekuensi, dan dampaknya.

Pertanyaan yang lebih berguna bukan:

"Apakah atasanku seorang gaslighter?"

melainkan:

"Apa sebenarnya yang terjadi dalam interaksi kami?"

"Apakah ada pola menyangkal fakta?"

"Apakah instruksi sering berubah tanpa kejelasan?"

"Apakah masalah selalu dialihkan menjadi kesalahan pribadiku?"

"Apakah ada bukti tertulis yang dapat membantu memperjelas situasi?"

Pertanyaan seperti ini membantu kita tetap berpegang pada fakta daripada terburu-buru memberikan label.

Mengapa Gaslighting di Tempat Kerja Bisa Sangat Mengganggu?

Hubungan antara atasan dan bawahan memiliki ketimpangan kekuasaan.

Atasan biasanya memiliki kewenangan terkait pembagian tugas, evaluasi kinerja, kesempatan tertentu, dan keputusan organisasi.

Karena itu, ketika komunikasi membuat seorang pekerja meragukan dirinya sendiri, dampaknya dapat menjadi lebih besar dibandingkan konflik biasa antara dua rekan kerja yang memiliki posisi setara.

Seseorang dapat mulai takut menyampaikan pendapat.

Ia mungkin menerima keputusan yang sebenarnya ingin dipertanyakan.

Ia bisa menjadi terlalu berhati-hati.

Dalam jangka panjang, keraguan tersebut dapat memengaruhi pengalaman seseorang terhadap pekerjaannya dan dirinya sendiri sebagai seorang profesional.

Namun penting untuk tidak menyimpulkan penyebab psikologis hanya berdasarkan pengalaman subjektif.

Jika kamu merasa tertekan atau bingung, carilah cara untuk mengumpulkan informasi yang lebih objektif.

Apa yang Bisa Kamu Lakukan Jika Mengalami Pola Seperti Ini?
1. Dokumentasikan Hal-Hal Penting

Simpan komunikasi kerja yang relevan.

Catat:

tanggal,
instruksi,
perubahan keputusan,
deadline,
hasil rapat,
dan tindak lanjut.

Tidak perlu mencatat setiap percakapan kecil.

Fokus pada hal-hal yang berhubungan langsung dengan pekerjaan dan tanggung jawabmu.

2. Gunakan Komunikasi Tertulis

Setelah rapat atau percakapan penting, kamu dapat mengirimkan ringkasan.

Misalnya:

"Sebagai tindak lanjut pembicaraan tadi, saya memahami bahwa prioritas minggu ini adalah proyek A, sementara proyek B ditunda sampai Jumat."

Kalimat sederhana seperti ini dapat mengurangi ruang untuk kebingungan.

3. Fokus pada Fakta, Bukan Label

Daripada mengatakan:

"Anda sedang melakukan gaslighting kepada saya."

dalam situasi profesional, sering kali lebih efektif mengatakan:

"Pada rapat Senin, saya memahami bahwa deadline-nya Jumat. Namun pada hari Rabu saya mendapat informasi bahwa deadline sebenarnya Selasa. Saya ingin memastikan bagaimana perubahan prioritas seperti ini sebaiknya saya dokumentasikan ke depannya."

Pendekatan seperti ini menjaga percakapan tetap konkret.

4. Cari Perspektif dari Orang yang Dapat Dipercaya

Jika situasinya membuatmu bingung, bicaralah dengan seseorang yang dapat memberikan perspektif objektif.

Misalnya mentor, rekan kerja yang tepercaya, HR, atau pihak lain yang sesuai dengan struktur organisasi.

Tujuannya bukan mencari seseorang untuk langsung membenarkan bahwa kamu benar.

Tujuannya adalah mendapatkan perspektif tambahan.

5. Perhatikan Perubahan dalam Dirimu

Tanyakan kepada diri sendiri:

"Apakah saya semakin sering meragukan kemampuan saya?"

"Apakah saya menjadi takut berbicara?"

"Apakah saya selalu merasa bersalah setelah berinteraksi dengannya?"

"Apakah pola ini terjadi berulang kali?"

Pertanyaan tersebut dapat membantu melihat gambaran yang lebih besar.

Jangan Biarkan Label Menggantikan Fakta

Memahami gaslighting bukan berarti kita harus memberikan label tersebut kepada setiap orang yang membuat kita tidak nyaman.

Justru sebaliknya.

Pemahaman psikologis yang baik membantu kita menjadi lebih teliti.

Alih-alih langsung menyimpulkan:

"Atasanku sedang memanipulasiku."

kita dapat berkata:

"Ada pola komunikasi yang membuat saya terus-menerus meragukan pemahaman saya. Saya perlu melihat faktanya dengan lebih jelas."

Perbedaan kecil dalam cara berpikir ini sangat penting.

Karena tujuan akhirnya bukan sekadar mengetahui apakah seseorang dapat disebut "gaslighter".

Tujuan yang lebih penting adalah memahami apa yang terjadi, menjaga kemampuanmu mengambil keputusan berdasarkan fakta, dan melindungi kesejahteraanmu di tempat kerja.

Jika tujuh tanda di atas muncul berulang kali, jangan langsung menyalahkan diri sendiri.

Berhentilah sejenak.

Periksa kembali fakta.

Dokumentasikan hal-hal penting.

Cari perspektif dari orang yang dapat dipercaya.

Dan ingat bahwa melakukan kesalahan dalam pekerjaan adalah hal yang berbeda dari kehilangan kemampuan untuk mempercayai dirimu sendiri.

Lingkungan kerja yang sehat seharusnya memungkinkan seseorang menerima kritik, memperbaiki kesalahan, mengajukan pertanyaan, dan menyampaikan keberatan tanpa terus-menerus dibuat bingung mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

Pada akhirnya, mengenali pola bukan berarti terburu-buru memberikan diagnosis atau label kepada orang lain.

Mengenali pola berarti memberi dirimu kesempatan untuk melihat situasi dengan lebih jernih.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore