Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 24 September 2026 | 02.45 WIB

7 Alasan Mengapa Sebagian Orang Tertarik pada Orang-Orang Tegas dan Kejam Menurut Psikologi

seseorang yang tertarik dengan orang yang tegas / foto: Magnific/magnific

 

JawaPos.com - Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa ada orang yang justru tertarik pada seseorang yang terlihat keras, dominan, sulit ditebak, bahkan cenderung kejam?

Di satu sisi, kita mungkin berharap orang yang kita sukai adalah pribadi yang hangat, penuh perhatian, sabar, dan mudah diajak berkomunikasi. Namun dalam kehidupan nyata, ketertarikan manusia tidak selalu mengikuti logika sederhana seperti itu.

Sebagian orang justru merasa tertarik pada pribadi yang tegas, dingin, dominan, atau memiliki sisi keras. Bahkan, dalam situasi tertentu, seseorang bisa mengetahui bahwa perilaku orang tersebut tidak selalu baik, tetapi tetap merasa penasaran dan sulit melepaskan ketertarikannya.

Apakah itu berarti mereka menyukai perlakuan buruk?

Tidak selalu.

Psikologi menunjukkan bahwa ketertarikan manusia dipengaruhi oleh banyak hal: pengalaman masa lalu, kebutuhan emosional, persepsi terhadap kekuatan, rasa aman, kepribadian, dinamika sosial, hingga cara seseorang menafsirkan perilaku orang lain.

Hal penting yang perlu dibedakan adalah ketegasan dan kekejaman bukanlah hal yang sama.

Orang tegas mampu menetapkan batas, mengatakan tidak, mengambil keputusan, dan mempertahankan prinsip tanpa harus merendahkan orang lain. Sementara itu, kekejaman melibatkan perilaku yang sengaja menyakiti, mengintimidasi, mengeksploitasi, atau mengabaikan kesejahteraan orang lain.

Jadi, ketika seseorang tertarik pada pribadi yang "keras", bisa jadi yang sebenarnya menarik perhatian bukan kekejamannya, melainkan kualitas tertentu yang terlihat di baliknya.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (23/9), terdapat tujuh kemungkinan penjelasannya.

1. Ketegasan Sering Disalahartikan sebagai Kekuatan

Salah satu alasan seseorang tertarik pada pribadi yang tegas adalah karena ketegasan mudah terlihat sebagai tanda kekuatan.

Bayangkan seseorang yang memasuki sebuah ruangan dengan sikap tenang. Ia berbicara singkat, tidak banyak meminta persetujuan, mampu mengambil keputusan, dan tidak terlihat takut menghadapi konflik.

Bagi sebagian orang, karakter seperti itu dapat terlihat sangat menarik.

Mengapa?

Karena manusia secara sosial cenderung memperhatikan tanda-tanda status, kompetensi, dan kemampuan seseorang dalam menghadapi situasi sulit.

Masalahnya, ada perbedaan besar antara kekuatan psikologis dan agresi.

Orang yang mampu mengatakan:

"Saya tidak setuju dengan keputusan itu."

belum tentu sama dengan orang yang mengatakan:

"Kalau kamu tidak mengikuti saya, kamu bodoh."

Keduanya sama-sama menunjukkan ketegasan, tetapi kualitas interpersonalnya sangat berbeda.

Dalam beberapa kasus, seseorang dapat melihat perilaku dominan sebagai bukti bahwa orang tersebut percaya diri dan mampu melindungi dirinya sendiri.

Ketika persepsi ini muncul, sisi negatif dari perilaku tersebut mungkin pada awalnya kurang diperhatikan.

Seseorang mungkin berpikir:

"Dia keras, tetapi setidaknya dia tahu apa yang dia inginkan."

"Dia tidak takut siapa pun."

"Dia tidak mudah dipengaruhi."

"Dia kelihatan kuat."

Dengan kata lain, yang menarik mungkin bukan kekejamannya, tetapi persepsi tentang kekuatan yang muncul bersamaan dengan perilaku tersebut.

Inilah mengapa penting membedakan antara seseorang yang memiliki batas yang sehat dengan seseorang yang menggunakan intimidasi untuk mengendalikan orang lain.

Ketegasan yang sehat memberikan ruang bagi orang lain.

Kekejaman justru sering menghilangkan ruang tersebut.

2. Sikap Sulit Ditebak Dapat Menciptakan Rasa Penasaran

Manusia sering kali tertarik pada sesuatu yang belum sepenuhnya mereka pahami.

Seseorang yang selalu ramah dan mudah ditebak mungkin terasa nyaman. Namun bagi sebagian orang, pribadi yang dingin, misterius, atau sulit dibaca justru menimbulkan rasa penasaran.

"Dia sebenarnya seperti apa?"

"Mengapa dia bersikap seperti itu?"

"Apakah dia sebenarnya peduli?"

"Kenapa dia hanya lembut kepada orang tertentu?"

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membuat perhatian seseorang terus tertuju pada pribadi tersebut.

Dalam psikologi, ketidakpastian dapat membuat seseorang terus mencari informasi untuk memahami situasi yang belum jelas.

Karena itu, seseorang yang awalnya hanya penasaran dapat semakin sering memikirkan orang tersebut.

Yang menarik bukan lagi hanya orangnya.

Rasa ingin tahu itu sendiri menjadi bagian dari pengalaman emosional.

Namun di sinilah jebakannya.

Rasa penasaran tidak selalu berarti hubungan tersebut sehat.

Seseorang dapat merasa sangat tertarik kepada pribadi yang sulit dipahami karena terus berharap suatu hari ia berhasil "membuka" sisi lembut orang tersebut.

Akibatnya, hubungan berubah menjadi semacam teka-teki.

Dan manusia terkadang sangat sulit meninggalkan teka-teki yang belum terpecahkan.

3. Sebagian Orang Mengasosiasikan Dominasi dengan Rasa Aman

Ini mungkin terdengar paradoks.

Bagaimana seseorang yang keras atau dominan bisa terasa aman?

Jawabannya berkaitan dengan cara seseorang menafsirkan dominasi.

Bagi sebagian orang, pribadi dominan dapat terlihat seperti seseorang yang mampu mengambil alih situasi ketika keadaan menjadi kacau.

Misalnya ketika menghadapi masalah, ia tidak panik.

Ia mengambil keputusan.

Ia berani menghadapi orang lain.

Ia tidak mudah menyerah.

Perilaku seperti ini dapat memberikan kesan:

"Kalau terjadi sesuatu, dia bisa menghadapinya."

Dalam konteks tertentu, persepsi tersebut dapat menimbulkan rasa aman.

Tetapi sekali lagi, ada garis yang sangat penting.

Dominasi tidak otomatis berarti perlindungan.

Seseorang bisa terlihat kuat di luar tetapi menggunakan kekuatannya untuk mengontrol pasangan, teman, atau anggota keluarga.

Karena itu, kemampuan menghadapi dunia harus dibedakan dari kecenderungan mengendalikan orang lain.

Pribadi yang sehat mampu bersikap kuat terhadap masalah tanpa harus menjadi kasar terhadap manusia.

4. Pengalaman Masa Lalu Dapat Membentuk Apa yang Terasa "Normal"

Ketertarikan manusia tidak muncul dalam ruang kosong.

Pengalaman masa kecil, keluarga, hubungan sebelumnya, dan lingkungan sosial dapat memengaruhi bagaimana seseorang memahami kedekatan dan hubungan interpersonal.

Jika seseorang sejak kecil terbiasa melihat bahwa komunikasi selalu disertai dengan bentakan, kritik, ancaman, atau sikap dingin, pola tersebut mungkin terasa familiar ketika ia dewasa.

Familiar bukan berarti sehat.

Namun sesuatu yang familiar terkadang lebih mudah dikenali oleh otak dibandingkan sesuatu yang benar-benar baru.

Karena itu, seseorang yang terbiasa dengan hubungan penuh konflik mungkin justru merasa aneh ketika bertemu orang yang sangat tenang dan konsisten.

Ia mungkin berkata:

"Kenapa dia terlalu baik?"

"Kenapa dia tidak pernah marah?"

"Apakah dia benar-benar peduli?"

Sementara orang yang memiliki pola hubungan lebih sehat mungkin justru melihat perilaku keras sebagai tanda bahaya.

Ini menunjukkan bahwa selera dalam hubungan dapat dipengaruhi oleh pengalaman belajar dan pola relasional.

Tetapi bukan berarti seseorang ditakdirkan mengulangi pola yang sama.

Kesadaran justru dapat membantu seseorang mengenali bahwa sesuatu yang terasa familiar belum tentu sesuatu yang baik.

5. Tantangan Dapat Disalahartikan sebagai Chemistry

Ada hubungan yang terasa sangat intens.

Percakapan penuh konflik.

Tarik-ulur.

Saling menghilang.

Kemudian kembali mendekat.

Kadang sangat perhatian, lalu tiba-tiba dingin.

Semua itu dapat menciptakan emosi yang naik turun.

Sebagian orang kemudian menganggap intensitas tersebut sebagai tanda bahwa hubungan mereka sangat kuat.

"Kalau tidak ada perasaan, mengapa aku terus memikirkannya?"

Namun intensitas emosional dan kualitas hubungan adalah dua hal yang berbeda.

Sebuah hubungan bisa sangat intens tetapi tidak sehat.

Sebaliknya, hubungan yang stabil bisa terasa jauh lebih tenang.

Masalahnya, ketenangan terkadang disalahartikan sebagai kurangnya chemistry.

Padahal hubungan yang sehat tidak harus membuat seseorang terus-menerus cemas untuk terasa berarti.

Inilah salah satu alasan mengapa seseorang dapat merasa tertarik pada pribadi yang sulit, keras, atau penuh konflik.

Bukan karena penderitaan itu sendiri menarik, melainkan karena emosi yang kuat dapat membuat sebuah hubungan terasa sangat signifikan.

6. Sebagian Orang Tertarik pada Fantasi "Aku Bisa Mengubahnya"

Ada pola psikologis yang cukup menarik: seseorang merasa bahwa di balik pribadi yang keras terdapat sisi lembut yang hanya bisa dilihat olehnya.

Misalnya:

"Dia kasar kepada semua orang, tetapi berbeda ketika bersamaku."

"Dia sebenarnya baik, hanya belum menemukan orang yang tepat."

"Aku tahu dia punya sisi lembut."

"Kalau aku cukup sabar, dia akan berubah."

Harapan semacam ini dapat membuat seseorang bertahan lebih lama dalam sebuah hubungan.

Yang dicintai akhirnya bukan hanya orang yang ada di depan mata, tetapi juga versi dirinya yang dibayangkan akan muncul di masa depan.

Ini sangat manusiawi.

Kita semua memiliki kecenderungan untuk melihat potensi dalam diri orang lain.

Namun ada perbedaan antara mendukung seseorang untuk berkembang dan mencoba menyelamatkan seseorang yang terus-menerus menyakiti kita.

Perubahan seseorang tidak dapat dipaksakan hanya karena kita mencintainya.

Seseorang yang benar-benar berubah biasanya harus memiliki kesadaran dan kemauan dari dirinya sendiri.

Karena itu, kalimat "dia akan berubah suatu hari nanti" sebaiknya tidak digunakan untuk mengabaikan perilaku buruk yang terjadi sekarang.

7. Ketegasan Dapat Memberikan Kontras yang Menarik dengan Kepribadian Seseorang

Ketertarikan sering kali muncul dari perbedaan.

Seseorang yang lembut mungkin tertarik pada pribadi yang lebih berani.

Seseorang yang sangat berhati-hati mungkin kagum kepada orang yang spontan.

Seseorang yang banyak mempertimbangkan keputusan mungkin tertarik pada orang yang cepat mengambil tindakan.

Dalam batas tertentu, perbedaan ini dapat saling melengkapi.

Pribadi yang tegas dapat terlihat menarik karena memiliki kualitas yang ingin dikembangkan oleh orang lain dalam dirinya sendiri.

Misalnya, seseorang yang sulit berkata "tidak" mungkin mengagumi orang yang mampu menetapkan batas.

Seseorang yang takut menghadapi konflik mungkin mengagumi orang yang berani berbicara.

Seseorang yang sering meragukan dirinya sendiri mungkin merasa kagum pada orang yang terlihat sangat yakin.

Namun sekali lagi, kekaguman terhadap kualitas tertentu tidak berarti seseorang harus menerima perilaku buruk yang mungkin menyertainya.

Kita bisa mengagumi keberanian seseorang tanpa menerima kekasarannya.

Kita bisa menyukai ketegasannya tanpa membenarkan penghinaan.

Kita bisa menghargai kepercayaan dirinya tanpa membiarkan diri dikontrol.

Dan justru di sinilah kematangan emosional mulai terlihat.

Tegas Tidak Sama dengan Kejam

Ada satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan.

Pribadi yang kuat tidak harus menjadi pribadi yang kejam.

Orang yang percaya diri tidak perlu merendahkan orang lain.

Orang yang tegas tidak harus mengancam.

Orang yang memiliki batas tidak harus menghukum.

Orang yang mampu memimpin tidak harus mengontrol semua orang.

Ketegasan yang sehat biasanya memiliki beberapa ciri:

mampu mengatakan tidak tanpa menghina;
mampu mempertahankan batas tanpa mengancam;
mampu menyampaikan ketidaksetujuan tanpa merendahkan;
mampu mengambil keputusan tanpa mengabaikan orang lain;
mampu menghadapi konflik tanpa sengaja menyakiti;
mampu bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan.

Sebaliknya, kekejaman melibatkan pola yang berbeda.

Seseorang mungkin sengaja mempermalukan, mengintimidasi, memanipulasi, atau menyakiti orang lain untuk mendapatkan kendali.

Keduanya mungkin sama-sama terlihat "kuat" dari luar.

Tetapi kualitas psikologisnya sangat berbeda.

Mengapa Kita Perlu Berhati-Hati dengan Ketertarikan seperti Ini?

Ketertarikan adalah sesuatu yang dapat muncul secara spontan.

Kita tidak selalu memilih siapa yang membuat jantung berdebar atau siapa yang membuat kita penasaran.

Tetapi ketertarikan tidak sama dengan keputusan untuk menjalin hubungan.

Ini adalah perbedaan yang sangat penting.

Kamu boleh tertarik kepada seseorang yang misterius.

Kamu boleh mengagumi seseorang yang sangat percaya diri.

Kamu boleh merasa bahwa pribadi dominan memiliki daya tarik tertentu.

Tetapi ketika harus menentukan apakah seseorang layak mendapatkan kepercayaan, ukuran yang lebih penting adalah perilakunya.

Bagaimana dia memperlakukan orang yang tidak bisa memberinya keuntungan?

Bagaimana dia menghadapi penolakan?

Bagaimana dia bersikap ketika marah?

Apakah dia menghormati batas?

Apakah dia mampu meminta maaf?

Apakah dia bisa menerima bahwa orang lain memiliki pendapat berbeda?

Apakah dia menggunakan kekuatannya untuk melindungi atau untuk mengendalikan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini jauh lebih informatif daripada sekadar bertanya:

"Apakah aku tertarik kepadanya?"

Pada Akhirnya, Ketertarikan Tidak Selalu Menunjukkan Apa yang Kita Butuhkan

Salah satu pelajaran menarik dari psikologi adalah bahwa sesuatu yang menarik bagi kita belum tentu sesuatu yang baik bagi kita.

Kita bisa tertarik pada misteri.

Kita bisa tertarik pada keberanian.

Kita bisa tertarik pada dominasi.

Kita bisa tertarik pada intensitas.

Kita bisa tertarik pada seseorang yang tampaknya sangat berbeda dari diri kita.

Semua itu adalah bagian dari kompleksitas manusia.

Namun hubungan yang sehat membutuhkan lebih dari sekadar ketertarikan.

Ia membutuhkan rasa hormat, batas yang sehat, komunikasi, konsistensi, rasa aman, dan kemampuan kedua pihak untuk memperlakukan satu sama lain sebagai manusia yang memiliki kehendak sendiri.

Jadi, jika kamu pernah bertanya mengapa sebagian orang tertarik pada pribadi yang tegas bahkan cenderung keras, jawabannya bukan sekadar karena mereka "suka orang jahat".

Ada kemungkinan mereka tertarik pada kualitas tertentu yang terlihat di balik perilaku tersebut: keberanian, ketegasan, rasa percaya diri, misteri, kemampuan mengambil keputusan, atau kesan mampu menghadapi dunia.

Tetapi penting untuk memisahkan kualitas tersebut dari kekejaman.

Kita tidak harus menjadi lemah untuk menjadi baik.

Dan kita juga tidak harus menjadi kejam untuk menjadi kuat.

Kekuatan yang paling matang justru memungkinkan seseorang berdiri teguh tanpa harus menginjak orang lain.

Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukanlah:

"Mengapa aku tertarik pada orang yang keras?"

Melainkan:

"Kualitas apa sebenarnya yang membuatku tertarik, dan apakah aku bisa menemukan kualitas itu pada seseorang yang juga memperlakukanku dengan hormat?"

Pertanyaan tersebut dapat mengubah cara kita memahami ketertarikan—dari sekadar mengikuti emosi menjadi kesempatan untuk memahami diri sendiri dengan lebih dalam.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore