Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 21 September 2026 | 02.35 WIB

Jika Kamu Ingin Menjadi Pemimpin yang Adaptif, Lakukan 6 Cara Ampuh Ini Menurut Psikologi

seseorang yang menjadi pemimpin yang adaptif / foto: Magnific/seanpay52

 

JawaPos.com - Dunia berubah lebih cepat daripada sebelumnya. Teknologi berkembang, cara kerja bergeser, kebutuhan masyarakat berubah, dan organisasi menghadapi situasi yang sulit diprediksi.

Dalam kondisi seperti ini, seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki visi yang kuat. Ia juga perlu memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri.

Inilah yang sering disebut sebagai kepemimpinan adaptif.

Pemimpin adaptif bukan berarti pemimpin yang mudah berubah pendirian atau mengikuti semua keadaan tanpa prinsip. Sebaliknya, pemimpin adaptif adalah seseorang yang mampu mempertahankan nilai dan tujuan utamanya sambil mengubah cara, strategi, dan pendekatan ketika situasi menuntut demikian.

Dari sudut pandang psikologi, kemampuan tersebut berkaitan dengan sejumlah hal penting: regulasi emosi, keterbukaan terhadap pengalaman baru, kemampuan belajar, fleksibilitas kognitif, empati, dan kesadaran terhadap diri sendiri.

Dengan kata lain, menjadi pemimpin adaptif bukan sekadar persoalan strategi bisnis atau kemampuan mengambil keputusan. Ada pekerjaan psikologis yang harus dilakukan di dalam diri.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (20/9), jika kamu ingin mengembangkan gaya kepemimpinan yang lebih adaptif, enam cara berikut dapat menjadi titik awal.

1. Belajar Mengelola Reaksi Emosional Sebelum Mengambil Keputusan

Salah satu tantangan terbesar seorang pemimpin adalah menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan.

Target tidak tercapai. Anggota tim melakukan kesalahan. Strategi yang sudah dirancang berbulan-bulan ternyata tidak berhasil. Atau muncul masalah yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya.

Dalam situasi seperti itu, reaksi pertama seseorang sering kali bersifat emosional.

Ada yang langsung marah. Ada yang menyalahkan orang lain. Ada pula yang buru-buru mengambil keputusan hanya karena ingin segera menghilangkan rasa tidak nyaman.

Pemimpin adaptif belajar melakukan sesuatu yang berbeda: memberi jarak antara emosi dan tindakan.

Bukan berarti pemimpin harus menjadi orang yang tidak memiliki emosi. Justru sebaliknya, emosi perlu dikenali agar tidak secara otomatis mengendalikan perilaku.

Misalnya, ketika seorang anggota tim melakukan kesalahan besar, seorang pemimpin dapat merasakan marah atau kecewa. Perasaan tersebut valid. Namun, sebelum bertindak, ia dapat bertanya:

"Apa sebenarnya yang sedang saya rasakan?"

Kemudian:

"Apa penyebab saya bereaksi seperti ini?"

Dan yang paling penting:

"Apa tindakan yang paling membantu menyelesaikan masalah?"

Pertanyaan sederhana seperti ini dapat membantu seseorang berpindah dari respons impulsif menuju respons yang lebih terarah.

Dalam psikologi, kemampuan mengelola dan menyesuaikan respons emosional sering dikaitkan dengan emotion regulation atau regulasi emosi.

Pemimpin yang memiliki regulasi emosi lebih baik tidak berarti selalu tenang. Ia tetap bisa kecewa, takut, atau marah. Perbedaannya adalah ia tidak selalu membiarkan emosi sesaat menentukan keputusan jangka panjang.

Latihan sederhana

Ketika menghadapi masalah yang memicu emosi kuat, gunakan pola:

Berhenti → Kenali → Evaluasi → Bertindak.

Berhenti sejenak sebelum merespons.

Kenali emosi yang muncul.

Evaluasi fakta dan pilihan yang tersedia.

Barulah bertindak.

Kebiasaan sederhana ini dapat membuat keputusan menjadi lebih terukur, terutama ketika tekanan sedang tinggi.

2. Biasakan Diri Mengubah Cara Berpikir, Bukan Sekadar Mengubah Rencana

Pemimpin yang adaptif bukan hanya mampu mengganti strategi. Ia juga mampu mempertanyakan cara berpikir yang menghasilkan strategi tersebut.

Ini penting karena terkadang masalah bukan terletak pada rencana yang salah, tetapi pada asumsi yang digunakan ketika membuat rencana.

Bayangkan seorang pemimpin beranggapan bahwa produktivitas tim akan meningkat jika jam kerja diperpanjang.

Setelah diterapkan, produktivitas justru menurun.

Pemimpin yang kurang adaptif mungkin hanya bertanya:

"Bagaimana kita membuat orang bekerja lebih keras?"

Pemimpin yang lebih adaptif mungkin mengajukan pertanyaan berbeda:

"Jangan-jangan asumsi kita tentang produktivitas memang keliru?"

Perbedaan pertanyaan tersebut sangat penting.

Kemampuan untuk melihat sebuah masalah dari perspektif berbeda berkaitan dengan cognitive flexibility atau fleksibilitas kognitif.

Fleksibilitas kognitif membantu seseorang berpindah dari satu sudut pandang ke sudut pandang lainnya ketika informasi baru muncul.

Pemimpin tidak harus mempertahankan sebuah keputusan hanya karena keputusan tersebut pernah dibuat.

Keputusan yang baik pada bulan lalu belum tentu menjadi keputusan terbaik hari ini.

Karena itu, biasakan mengevaluasi:

Apa yang berubah?
Informasi baru apa yang kita miliki?
Asumsi apa yang ternyata tidak terbukti?
Apakah masalahnya memang seperti yang kita kira?
Adakah cara lain untuk melihat situasi ini?

Pemimpin yang adaptif tidak terlalu terikat pada ego.

Ia lebih tertarik pada pertanyaan:

"Apa yang benar dan efektif dalam situasi saat ini?"

daripada:

"Bagaimana saya membuktikan bahwa keputusan saya sebelumnya benar?"

3. Jadikan Kesalahan sebagai Data, Bukan Ancaman terhadap Harga Diri

Tidak ada pemimpin yang selalu benar.

Namun, cara seseorang memperlakukan kesalahan dapat menentukan seberapa cepat ia berkembang.

Sebagian orang menganggap kesalahan sebagai bukti bahwa dirinya tidak kompeten. Akibatnya, mereka cenderung menghindari risiko, menutupi kesalahan, atau mencari kambing hitam.

Pemimpin adaptif mencoba melihat kesalahan dari perspektif yang berbeda.

Kesalahan dapat menjadi informasi.

Jika sebuah strategi gagal, pertanyaannya bukan hanya:

"Siapa yang salah?"

Tetapi:

"Apa yang bisa kita pelajari dari kegagalan ini?"

Di sinilah konsep growth mindset menjadi relevan. Gagasan ini menekankan bahwa kemampuan seseorang dapat berkembang melalui proses belajar dan pengalaman, meskipun konsep tersebut juga perlu dipahami secara realistis: tidak semua masalah dapat diselesaikan hanya dengan "berpikir positif".

Dalam kepemimpinan, orientasi belajar dapat membantu menciptakan budaya yang lebih terbuka terhadap evaluasi.

Contohnya, setelah sebuah proyek gagal, seorang pemimpin dapat mengadakan evaluasi dengan pertanyaan:

Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa yang berjalan sesuai rencana?
Apa yang tidak berjalan?
Informasi apa yang sebelumnya tidak kita miliki?
Apa yang akan kita lakukan secara berbeda pada proyek berikutnya?

Perhatikan bahwa pertanyaan tersebut berfokus pada proses, bukan mempermalukan individu.

Tujuannya bukan menghilangkan tanggung jawab.

Tujuannya adalah memastikan bahwa kesalahan yang sudah terjadi menghasilkan pembelajaran.

Pemimpin adaptif memahami bahwa organisasi yang tidak boleh melakukan kesalahan sama sekali justru dapat menjadi organisasi yang takut bereksperimen.

4. Dengarkan Orang yang Berbeda Pendapat denganmu

Salah satu jebakan psikologis dalam kepemimpinan adalah kecenderungan mencari informasi yang mendukung keyakinan sendiri.

Ketika seseorang sudah yakin bahwa sebuah keputusan benar, ia dapat secara tidak sadar lebih memperhatikan informasi yang memperkuat keyakinannya dan mengabaikan informasi yang bertentangan.

Fenomena ini sering dibahas sebagai confirmation bias.

Karena itu, pemimpin adaptif perlu sengaja mencari perspektif yang berbeda.

Bukan sekadar bertanya:

"Apakah ada yang tidak setuju?"

Tetapi menciptakan ruang agar orang merasa aman untuk benar-benar mengatakan ketidaksetujuannya.

Misalnya:

"Kalau keputusan ini ternyata salah, menurutmu bagian mana yang paling mungkin menjadi penyebabnya?"

Atau:

"Apa risiko yang mungkin belum saya lihat?"

Pertanyaan seperti ini memberikan izin psikologis kepada anggota tim untuk menyampaikan pandangan kritis.

Hal ini juga berkaitan dengan konsep psychological safety, yaitu kondisi ketika seseorang merasa cukup aman untuk menyampaikan ide, pertanyaan, kekhawatiran, atau kesalahan tanpa takut mendapatkan konsekuensi interpersonal yang tidak semestinya.

Pemimpin yang selalu ingin terlihat paling pintar justru dapat kehilangan informasi penting.

Sebaliknya, pemimpin yang mampu mengatakan:

"Saya mungkin melewatkan sesuatu. Apa pendapat kalian?"

sedang membuka akses terhadap perspektif yang lebih luas.

Namun, mendengarkan bukan berarti menerima semua pendapat sebagai benar.

Pemimpin tetap harus mengevaluasi bukti, mempertimbangkan konsekuensi, dan mengambil keputusan.

Kuncinya adalah bersedia mendengar sebelum memutuskan.

5. Latih Rasa Ingin Tahu terhadap Perubahan

Perubahan sering kali dianggap sebagai ancaman karena manusia cenderung menyukai sesuatu yang familiar.

Cara kerja yang sudah dikenal terasa lebih aman. Rutinitas memberikan rasa prediktabilitas. Ketika sesuatu berubah, otak harus memproses ketidakpastian tambahan.

Karena itu, salah satu kebiasaan yang dapat membantu pemimpin menjadi lebih adaptif adalah membangun curiosity, atau rasa ingin tahu.

Alih-alih melihat perubahan hanya sebagai gangguan, cobalah melihatnya sebagai sesuatu yang perlu dipahami.

Ketika teknologi baru muncul, misalnya, jangan langsung bertanya:

"Apakah ini akan menggantikan cara kerja kita?"

Tambahkan pertanyaan:

"Apa yang sebenarnya berubah?"

"Peluang apa yang muncul?"

"Kemampuan apa yang perlu kita pelajari?"

"Apa yang masih belum kita pahami?"

Rasa ingin tahu membuat seseorang berada dalam posisi belajar.

Ini penting karena dunia kepemimpinan tidak pernah berhenti memberikan situasi baru.

Pemimpin yang berhenti belajar dapat menjadi terlalu bergantung pada pengalaman masa lalu.

Pengalaman memang berharga, tetapi pengalaman juga memiliki batas.

Strategi yang berhasil dalam satu kondisi belum tentu berhasil dalam kondisi yang berbeda.

Karena itu, pemimpin adaptif perlu memiliki kebiasaan membaca, berdiskusi, bereksperimen, meminta umpan balik, dan belajar dari orang yang memiliki keahlian berbeda.

Bukan karena ia tidak tahu apa-apa.

Justru karena ia menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui semuanya.

6. Pegang Teguh Nilai, tetapi Fleksibel dalam Cara Mencapainya

Ini mungkin bagian paling penting dari kepemimpinan adaptif.

Adaptif bukan berarti berubah setiap kali keadaan berubah.

Jika seorang pemimpin selalu mengikuti tekanan eksternal tanpa prinsip yang jelas, tim justru dapat kehilangan arah.

Karena itu, bedakan antara nilai yang menjadi pegangan dan strategi yang dapat berubah.

Misalnya, seorang pemimpin memiliki nilai bahwa organisasi harus memberikan pelayanan yang jujur kepada pelanggan.

Nilai tersebut dapat dipertahankan.

Namun, cara untuk mewujudkannya dapat berubah.

Dulu mungkin dilakukan melalui layanan tatap muka. Sekarang bisa menggunakan teknologi digital. Di masa depan, pendekatannya mungkin berubah lagi.

Prinsipnya tetap.

Metodenya berkembang.

Inilah salah satu inti dari kemampuan adaptasi.

Kamu tidak harus mengubah siapa dirimu setiap kali lingkungan berubah.

Yang perlu diubah adalah cara kamu merespons lingkungan tersebut.

Cobalah membagi keputusan kepemimpinan menjadi dua kategori:

Hal yang tidak boleh kehilangan arah

Misalnya:

integritas,
tanggung jawab,
penghormatan terhadap manusia,
tujuan organisasi,
prinsip etika.
Hal yang boleh dan perlu berubah

Misalnya:

strategi,
metode kerja,
teknologi,
struktur tim,
cara berkomunikasi,
prioritas jangka pendek.

Pemisahan ini membantu pemimpin menjadi fleksibel tanpa kehilangan identitas.

Kepemimpinan Adaptif Dimulai dari Diri Sendiri

Pada akhirnya, menjadi pemimpin adaptif bukan tentang memiliki semua jawaban.

Justru salah satu tanda penting dari kepemimpinan adaptif adalah kemampuan untuk menyadari ketika jawaban lama sudah tidak cukup.

Pemimpin adaptif mampu berkata:

"Saya perlu belajar."

"Informasi saya belum lengkap."

"Saya mungkin salah."

"Mari kita lihat dari perspektif lain."

"Strategi ini tidak berhasil. Apa yang bisa kita pelajari?"

Kalimat-kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi membutuhkan kerendahan hati dan kesadaran diri.

Enam kebiasaan yang dapat mulai dilatih adalah:

Kelola emosi sebelum mengambil keputusan.
Latih fleksibilitas dalam berpikir.
Jadikan kesalahan sebagai sumber pembelajaran.
Dengarkan perspektif yang berbeda.
Bangun rasa ingin tahu terhadap perubahan.
Pertahankan nilai, tetapi fleksibel dalam strategi.

Tidak ada satu metode yang secara otomatis membuat seseorang menjadi pemimpin adaptif.

Kemampuan tersebut dibangun melalui kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.

Sebab, ketika dunia berubah, pemimpin tidak selalu memiliki waktu untuk membuat rencana yang sempurna.

Sering kali, yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk mengamati perubahan, memahami situasi, belajar dengan cepat, dan menyesuaikan tindakan tanpa kehilangan arah.

Dan mungkin, di situlah inti kepemimpinan adaptif:

bukan menjadi pemimpin yang selalu tahu apa yang harus dilakukan, tetapi menjadi pemimpin yang mampu belajar apa yang harus dilakukan ketika keadaan berubah.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore