Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 19 September 2026 | 03.48 WIB

7 Alasan Mengapa Kita Perlu Belajar Memaafkan Diri Sendiri, Seberapa Besar pun Kesalahannya

seseorang yang belajar memaafkan diri / foto: Magnific/user3980505

 

JawaPos.com - Ada kesalahan yang bisa kita ceritakan tanpa merasa apa-apa. Namun, ada pula kesalahan yang terus kita bawa bertahun-tahun, bahkan setelah semua orang yang terlibat mungkin sudah melupakannya.

Kita mengingat perkataan yang seharusnya tidak pernah diucapkan. Kita mengingat keputusan yang ternyata salah. Kita mengingat kesempatan yang kita sia-siakan, seseorang yang pernah kita sakiti, atau masa ketika kita tidak menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Yang paling melelahkan bukan selalu kesalahannya.

Terkadang, yang paling melelahkan adalah cara kita terus menghukum diri sendiri setelah kesalahan itu terjadi.

"Seandainya waktu itu aku tidak melakukan itu."

"Kenapa aku sebodoh itu?"

"Aku seharusnya bisa lebih baik."

"Aku tidak pantas bahagia setelah apa yang telah kulakukan."

Kalimat-kalimat seperti itu dapat berulang di dalam pikiran. Pada awalnya mungkin muncul sebagai bentuk penyesalan. Namun jika terus dipelihara, penyesalan dapat berubah menjadi rasa malu, rasa bersalah yang berkepanjangan, dan kebiasaan melihat diri sendiri hanya melalui kesalahan masa lalu.

Di sinilah kemampuan untuk memaafkan diri sendiri menjadi penting.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (18/9), memaafkan diri sendiri bukan berarti menganggap kesalahan tidak pernah terjadi. Bukan pula berarti membenarkan tindakan yang salah atau menghindari tanggung jawab. Dalam perspektif psikologi, self-forgiveness lebih dekat dengan proses mengurangi kebencian dan penghukuman terhadap diri sendiri sambil tetap mengakui kesalahan, mengambil tanggung jawab, belajar darinya, dan berusaha memperbaiki keadaan.

Dengan kata lain, memaafkan diri sendiri bukan tentang berkata, "Aku tidak salah."

Melainkan tentang mengatakan:

"Aku memang melakukan kesalahan. Aku bertanggung jawab atasnya. Tetapi aku tidak harus menghukum diriku selamanya."

Lalu, mengapa kita perlu belajar melakukannya?

1. Karena terus menghukum diri sendiri tidak dapat mengubah masa lalu

Salah satu perang terbesar yang terjadi di dalam pikiran manusia adalah perang melawan sesuatu yang sudah tidak bisa diubah.

Kita memutar kembali sebuah kejadian dan membayangkan berbagai kemungkinan.

Seandainya aku memilih berbeda.

Seandainya aku lebih sabar.

Seandainya aku tahu akibatnya.

Seandainya aku tidak mengatakan kalimat itu.

Masalahnya, masa lalu tidak menyediakan tombol "ulang".

Penyesalan dapat membantu kita memahami bahwa suatu tindakan memiliki konsekuensi. Bahkan, rasa bersalah dalam kadar tertentu dapat mendorong seseorang untuk memperbaiki perilakunya. Namun, terus-menerus menyiksa diri setelah pelajaran sudah dipahami tidak mengubah kejadian yang telah berlalu.

Bayangkan seseorang memecahkan sebuah benda berharga karena kecerobohannya.

Ia menyadari kesalahannya. Ia meminta maaf. Ia mengganti atau memperbaiki benda tersebut jika memungkinkan. Ia belajar menjadi lebih hati-hati.

Semua itu merupakan respons yang konstruktif.

Tetapi jika setelah bertahun-tahun ia masih berkata kepada dirinya sendiri, "Aku manusia paling ceroboh dan tidak berguna karena pernah melakukan itu," apakah benda tersebut menjadi utuh kembali?

Tidak.

Yang berubah hanya satu hal: penderitaan dirinya menjadi semakin panjang.

Karena itu, salah satu bagian penting dari memaafkan diri sendiri adalah menerima kenyataan bahwa masa lalu tidak dapat diedit.

Kita mungkin tidak bisa menghapus kesalahan.

Namun kita masih bisa menentukan apa yang akan kita lakukan setelahnya.

Masa lalu dapat menjadi guru tanpa harus menjadi penjara.

2. Karena rasa bersalah dan rasa malu bukanlah hal yang sama

Dalam psikologi, penting untuk membedakan antara rasa bersalah dan rasa malu.

Rasa bersalah cenderung berfokus pada perilaku:

"Aku melakukan sesuatu yang salah."

Sementara rasa malu dapat berkembang menjadi penilaian terhadap identitas diri:

"Aku adalah orang yang buruk."

Perbedaan ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar.

Jika seseorang berpikir, "Aku melakukan kesalahan," masih terdapat ruang untuk memperbaiki perilaku.

Ia dapat meminta maaf.

Ia dapat belajar.

Ia dapat bertanggung jawab.

Ia dapat mencoba melakukan sesuatu yang lebih baik.

Namun ketika seseorang mulai berpikir, "Aku adalah manusia yang buruk dan tidak layak mendapatkan hal-hal baik," kesalahan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang dilakukan. Kesalahan mulai dianggap sebagai definisi tentang siapa dirinya.

Inilah salah satu alasan mengapa memaafkan diri sendiri penting.

Kita perlu belajar memisahkan perbuatan dari identitas.

Seseorang bisa melakukan kesalahan besar tanpa berarti seluruh keberadaannya dapat diringkas menjadi kesalahan tersebut.

Ini bukan alasan untuk menghindari tanggung jawab.

Justru sebaliknya.

Ketika seseorang berhenti mendefinisikan dirinya sebagai "orang jahat", ia memiliki ruang psikologis yang lebih besar untuk bertanya:

"Apa yang harus kulakukan agar aku tidak mengulangi hal ini?"

Pertanyaan tersebut jauh lebih berguna daripada:

"Bagaimana caranya agar aku terus membenci diriku sendiri?"

3. Karena memaafkan diri sendiri dapat membantu kita keluar dari siklus kritik diri

Sebagian orang memiliki suara batin yang sangat keras.

Ketika melakukan kesalahan kecil, mereka segera menyerang dirinya sendiri.

"Bodoh."

"Ceroboh."

"Selalu begini."

"Tidak pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar."

Kesalahan kemudian memicu kritik diri. Kritik diri memicu perasaan negatif. Perasaan negatif membuat seseorang semakin sulit berpikir jernih. Akibatnya, ia dapat semakin sulit mengambil langkah perbaikan.

Siklus tersebut bisa berlangsung lama.

Ironisnya, kita sering mengira bahwa menyalahkan diri sendiri adalah cara untuk memastikan kita tidak mengulangi kesalahan.

Namun menghukum diri sendiri dan belajar dari kesalahan adalah dua hal berbeda.

Belajar membutuhkan kemampuan untuk melihat kejadian dengan cukup jernih:

Apa yang sebenarnya terjadi?

Apa kontribusiku terhadap masalah tersebut?

Apa yang berada di luar kendaliku?

Apa yang bisa kuperbaiki?

Apa yang akan kulakukan berbeda jika situasi serupa terjadi lagi?

Sebaliknya, kritik diri yang berlebihan sering kali membuat perhatian kita hanya tertuju pada satu hal:

"Ada yang salah dengan diriku."

Memaafkan diri sendiri membantu menggeser fokus dari penghukuman menuju pembelajaran.

Bukan berarti kita menjadi terlalu lunak terhadap diri sendiri.

Kita justru belajar menjadi lebih konstruktif.

4. Karena kita membutuhkan belas kasih kepada diri sendiri untuk bisa bertumbuh

Banyak orang mampu memberikan pengertian kepada orang lain, tetapi sangat sulit memberikan pengertian yang sama kepada dirinya sendiri.

Ketika teman melakukan kesalahan, kita mungkin berkata:

"Semua orang bisa salah."

"Yang penting kamu sudah belajar."

"Kamu sudah meminta maaf."

"Jangan terlalu keras pada dirimu."

Namun ketika kita sendiri melakukan kesalahan, standar tersebut tiba-tiba berubah.

Kita merasa harus sempurna.

Kita merasa tidak berhak mendapatkan kesempatan kedua.

Kita menuntut diri sendiri untuk tidak pernah melakukan kesalahan.

Padahal manusia belajar melalui pengalaman, termasuk pengalaman yang tidak menyenangkan.

Konsep self-compassion atau belas kasih terhadap diri sendiri banyak dibahas dalam psikologi. Secara umum, self-compassion melibatkan sikap memahami diri ketika mengalami kegagalan atau penderitaan, menyadari bahwa ketidaksempurnaan merupakan bagian dari pengalaman manusia, dan tidak tenggelam dalam penilaian negatif terhadap diri sendiri.

Ini berbeda dari memanjakan diri.

Self-compassion bukan berarti mengatakan:

"Aku boleh melakukan apa saja."

Melainkan:

"Aku telah melakukan kesalahan, dan aku tetap akan memperlakukanku sebagai manusia yang sedang belajar."

Sikap seperti ini dapat membuat proses perubahan terasa lebih memungkinkan.

Sebab seseorang yang tidak terus-menerus sibuk membenci dirinya sendiri memiliki lebih banyak energi untuk memperbaiki dirinya.

5. Karena kita tidak bisa membangun masa depan jika terus hidup sebagai tahanan masa lalu

Ada orang yang secara fisik sudah meninggalkan masa lalu, tetapi secara psikologis masih tinggal di sana.

Usianya bertambah.

Lingkungannya berubah.

Orang-orang di sekitarnya mungkin sudah menjalani kehidupan masing-masing.

Namun pikirannya masih kembali kepada kejadian yang sama.

Ia masih menjadi dirinya yang melakukan kesalahan bertahun-tahun lalu.

Ini dapat membuat seseorang kesulitan menikmati kehidupan saat ini.

Ketika kesempatan baru datang, ia mungkin merasa tidak pantas.

Ketika seseorang mencintainya, ia mungkin berpikir:

"Kalau dia tahu semua kesalahanku, dia pasti akan pergi."

Ketika mendapatkan keberhasilan, ia mungkin merasa:

"Aku tidak layak mendapatkan ini."

Kesalahan masa lalu kemudian tidak hanya menjadi kenangan. Ia mulai memengaruhi cara seseorang melihat dirinya pada masa sekarang dan masa depan.

Memaafkan diri sendiri dapat membantu menciptakan jarak psikologis antara siapa kita dulu dan siapa kita sekarang.

Kita tidak harus menyangkal masa lalu.

Kita justru mengakuinya.

Tetapi kita juga menyadari bahwa manusia berubah.

Orang yang membuat keputusan buruk lima tahun lalu belum tentu memiliki pemahaman, pengalaman, dan kedewasaan yang sama dengan dirinya hari ini.

Jika kita sudah belajar, berubah, meminta maaf, memperbaiki sesuatu yang dapat diperbaiki, dan berusaha hidup dengan lebih baik, maka tidak adil jika kita terus memperlakukan diri sendiri seolah-olah kita tidak pernah berubah.

Pertumbuhan berarti mengizinkan diri menjadi orang yang berbeda dari sebelumnya.

6. Karena memaafkan diri sendiri bukan akhir dari tanggung jawab, melainkan bagian dari prosesnya

Ada kesalahpahaman bahwa memaafkan diri sendiri berarti membebaskan diri dari konsekuensi.

Padahal tidak demikian.

Dalam banyak situasi, memaafkan diri sendiri justru perlu berjalan bersama tanggung jawab.

Jika kita menyakiti seseorang, mungkin kita perlu meminta maaf.

Jika kita merusak sesuatu, mungkin kita perlu memperbaikinya.

Jika tindakan kita menimbulkan kerugian, mungkin kita perlu menerima konsekuensinya.

Jika kita memiliki kebiasaan buruk, mungkin kita perlu mengubahnya.

Memaafkan diri sendiri tidak menghapus kebutuhan untuk melakukan semua itu.

Justru ada perbedaan penting antara:

"Aku memaafkan diriku, jadi aku tidak perlu bertanggung jawab."

dan

"Aku menerima bahwa aku melakukan kesalahan, bertanggung jawab atas akibatnya, dan setelah melakukan apa yang bisa kulakukan, aku memilih untuk tidak menghukum diriku selamanya."

Yang kedua jauh lebih sehat sebagai kerangka berpikir.

Dalam beberapa kasus, kita bahkan mungkin tidak bisa mendapatkan pengampunan dari orang yang pernah kita sakiti.

Orang tersebut memiliki hak untuk menentukan apakah ia ingin memaafkan kita atau tidak.

Kita tidak dapat memaksanya.

Namun kita masih dapat mengambil tanggung jawab atas tindakan kita dan berusaha menjadi manusia yang lebih baik.

Memaafkan diri sendiri, dengan demikian, bukan berarti menuntut orang lain untuk melupakan kesalahan kita.

Ini adalah proses internal untuk berhenti menjadikan penghukuman diri sebagai satu-satunya bentuk tanggung jawab.

7. Karena kita semua membutuhkan kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik

Mungkin alasan terdalam mengapa kita perlu belajar memaafkan diri sendiri adalah karena manusia tidak hanya terdiri dari satu momen dalam hidupnya.

Kita adalah kumpulan pengalaman.

Kita pernah membuat keputusan yang benar.

Kita juga pernah membuat keputusan yang salah.

Kita pernah bersikap bijaksana.

Kita juga pernah bersikap egois.

Kita pernah menyakiti orang.

Kita juga pernah menolong orang.

Tidak satu pun dari itu dapat menggambarkan keseluruhan diri kita secara sempurna.

Kesalahan tetap penting.

Dampaknya tetap nyata.

Beberapa kesalahan mungkin bahkan memiliki konsekuensi yang tidak dapat sepenuhnya diperbaiki.

Karena itu, memaafkan diri sendiri bukan tentang mengecilkan dampak kesalahan.

Melainkan tentang memahami bahwa kesalahan tidak harus menjadi kalimat terakhir dalam cerita hidup kita.

Seseorang dapat menjadi lebih jujur setelah pernah berbohong.

Dapat menjadi lebih sabar setelah menyadari betapa banyak orang yang pernah ia sakiti karena ketidaksabarannya.

Dapat menjadi lebih bertanggung jawab setelah mengalami akibat dari keputusan yang buruk.

Dapat menjadi lebih menghargai orang lain setelah kehilangan seseorang karena perilakunya sendiri.

Dengan kata lain, pengalaman buruk tidak harus berakhir sebagai penderitaan yang sia-sia.

Ia dapat menjadi titik perubahan.

Tentu saja, perubahan tidak selalu mudah. Terkadang dibutuhkan waktu, permintaan maaf, reparasi, perubahan perilaku, dan bahkan bantuan profesional untuk menghadapi rasa bersalah atau malu yang sangat berat.

Tetapi proses tersebut dimulai dari satu keputusan sederhana:

berhenti menganggap bahwa kita harus membenci diri sendiri agar bisa menjadi lebih baik.

Bagaimana Cara Mulai Memaafkan Diri Sendiri?

Memaafkan diri sendiri biasanya bukan keputusan sekali jadi.

Bagi sebagian orang, prosesnya berlangsung perlahan.

Beberapa langkah berikut dapat membantu:

1. Akui kesalahannya dengan jujur

Jangan memutihkan kesalahan, tetapi jangan pula membesar-besarkannya.

Katakan dengan spesifik:

"Aku melakukan ini."

Hindari mengubahnya menjadi:

"Aku selalu menghancurkan semuanya."

Fokus pada perilaku yang konkret.

2. Bedakan tanggung jawab dari penghukuman

Tanyakan:

"Apa yang memang menjadi tanggung jawabku?"

Kemudian:

"Apa yang bisa kulakukan sekarang untuk memperbaikinya?"

Tanggung jawab menghasilkan tindakan.

Penghukuman diri yang berlebihan sering kali hanya menghasilkan penderitaan.

3. Jika memungkinkan, lakukan reparasi

Meminta maaf.

Mengembalikan sesuatu.

Memperbaiki kerusakan.

Mengubah perilaku.

Menepati janji.

Atau melakukan tindakan lain yang relevan dengan kesalahan tersebut.

Tidak semua kerusakan bisa diperbaiki sepenuhnya. Tetapi melakukan apa yang masih mungkin dilakukan dapat menjadi bagian penting dari proses berdamai dengan diri sendiri.

4. Ambil pelajarannya

Tanyakan:

"Apa yang ingin diajarkan kesalahan ini kepadaku?"

Mungkin jawabannya adalah pentingnya mengendalikan emosi.

Mungkin tentang batasan.

Mungkin tentang kejujuran.

Mungkin tentang memilih lingkungan.

Mungkin tentang tidak mengambil keputusan ketika sedang marah.

Kesalahan yang dipahami dapat berubah menjadi pengalaman yang membentuk kedewasaan.

5. Berhenti menggunakan masa lalu sebagai senjata untuk menyerang diri sendiri

Ketika pikiran kembali mengatakan:

"Aku tidak pantas bahagia karena kesalahanku dulu,"

cobalah menggantinya dengan:

"Aku tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi. Aku bisa bertanggung jawab atasnya dan memilih bagaimana aku hidup setelahnya."

Bukan untuk menghapus rasa bersalah secara paksa.

Melainkan untuk mengingatkan diri bahwa hidup masih berlangsung.

Memaafkan Diri Sendiri Bukan Berarti Melupakan

Ada kesalahan yang mungkin tidak pernah kita lupakan.

Dan mungkin kita memang tidak perlu melupakannya.

Kenangan tersebut dapat menjadi pengingat tentang siapa kita dulu dan apa yang tidak ingin kita ulangi.

Tujuannya bukan membuat kita berkata:

"Aku tidak pernah melakukan kesalahan."

Tujuannya adalah sampai pada titik di mana kita dapat berkata:

"Aku pernah melakukan kesalahan. Aku menyesalinya. Aku telah belajar darinya. Aku mungkin tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi aku masih bisa menentukan siapa diriku hari ini."

Itulah perbedaan antara hidup dengan masa lalu dan hidup sambil belajar dari masa lalu.

Yang pertama membuat kita terus terikat.

Yang kedua memungkinkan kita tumbuh.

Pada Akhirnya, Kita Tidak Harus Menjadi Orang yang Sama Selamanya

Mungkin ada bagian dari diri kita yang masih merasa tidak pantas dimaafkan.

Mungkin karena kesalahannya memang besar.

Mungkin karena kita pernah mengecewakan seseorang yang sangat berarti.

Mungkin karena kita merasa kesempatan kedua seharusnya tidak diberikan kepada orang seperti kita.

Tetapi manusia memiliki kemampuan untuk berubah.

Memaafkan diri sendiri bukan berarti mengatakan bahwa apa yang terjadi tidak penting.

Justru karena apa yang terjadi penting, kita memilih untuk mengambil pelajarannya.

Kita mengakui kesalahan.

Kita menerima konsekuensi.

Kita memperbaiki apa yang bisa diperbaiki.

Kita meminta maaf jika memang diperlukan.

Dan setelah semua itu, kita belajar melepaskan kebutuhan untuk terus menyiksa diri.

Sebab ada perbedaan besar antara menyesal karena pernah melakukan kesalahan dan menghabiskan seluruh hidup dengan percaya bahwa diri kita tidak layak mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Yang pertama dapat membantu kita bertumbuh.

Yang kedua hanya membuat kita terus tinggal di tempat yang sama.

Jadi, jika hari ini ada satu kesalahan dari masa lalu yang masih terus menghantui, mungkin pertanyaannya bukan lagi:

"Bagaimana caranya agar aku bisa melupakan apa yang telah kulakukan?"

Melainkan:

"Apa yang bisa kupelajari, apa yang masih bisa kuperbaiki, dan kapan aku akan mengizinkan diriku untuk melanjutkan hidup?"

Karena memaafkan diri sendiri bukan berarti memberikan hadiah kepada seseorang yang melakukan kesalahan.

Memaafkan diri sendiri adalah memberikan kesempatan kepada seseorang yang telah belajar dari kesalahan itu untuk hidup dengan lebih baik.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore