seseorang yang mengevaluasi kegagalan / foto: Magnific/user18526052
Ketika sesuatu yang sudah kita usahakan dengan serius ternyata tidak berjalan sesuai harapan, pikiran kita biasanya tidak langsung mencari pelajaran. Justru sebaliknya. Kita cenderung bertanya:
"Apa yang salah dengan saya?"
"Kenapa saya tidak bisa melakukannya?"
"Mengapa orang lain berhasil sementara saya gagal?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat manusiawi. Namun, ada perbedaan besar antara menganalisis kegagalan dan menghukum diri sendiri karena gagal.
Analisis membantu kita belajar.
Penghakiman membuat kita terjebak.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (18/9), dalam psikologi, cara seseorang menafsirkan sebuah kegagalan dapat memengaruhi bagaimana ia menghadapi tantangan berikutnya. Kegagalan yang sama bisa menjadi sumber pembelajaran bagi satu orang, tetapi menjadi alasan untuk menyerah bagi orang lain.
Karena itu, jika kamu sedang berusaha memahami sebuah kegagalan, jangan terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa dirimu tidak cukup baik.
Cobalah melakukan lima langkah berikut.
1. Pisahkan Fakta dari Cerita yang Dibuat oleh Pikiranmu
Hal pertama yang perlu dilakukan setelah mengalami kegagalan adalah membedakan antara apa yang benar-benar terjadi dan interpretasi yang kita tambahkan terhadap kejadian tersebut.
Misalnya, seseorang gagal mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya.
Faktanya:
"Saya mengikuti proses seleksi, tetapi tidak diterima."
Namun pikiran bisa segera membuat cerita:
"Saya memang tidak kompeten."
"Saya tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan yang bagus."
"Orang lain lebih hebat daripada saya."
Perhatikan perbedaannya.
Kalimat pertama menggambarkan sebuah kejadian.
Kalimat berikutnya sudah berubah menjadi kesimpulan tentang identitas dan masa depan.
Inilah salah satu alasan mengapa evaluasi kegagalan perlu dilakukan dengan hati-hati. Ketika emosi sedang tinggi, otak dapat membuat interpretasi yang jauh lebih luas daripada fakta sebenarnya.
Coba gunakan tiga pertanyaan sederhana:
Apa yang benar-benar terjadi?
Tuliskan kejadian tanpa memberikan penilaian.
Apa yang saya pikirkan tentang kejadian tersebut?
Tuliskan interpretasi, asumsi, dan kekhawatiran yang muncul.
Apakah interpretasi tersebut benar-benar didukung oleh fakta?
Pertanyaan terakhir sangat penting.
Kegagalan dalam satu proyek tidak otomatis berarti kamu adalah orang yang gagal.
Ditolak satu perusahaan tidak berarti kamu tidak memiliki kemampuan.
Hubungan yang berakhir tidak otomatis berarti kamu tidak layak dicintai.
Kesalahan dalam satu keputusan tidak berarti seluruh kemampuanmu dalam mengambil keputusan buruk.
Dengan memisahkan fakta dari interpretasi, kamu memberi ruang bagi pikiran untuk melihat situasi secara lebih proporsional.
2. Cari Penyebab, Bukan Kambing Hitam
Setelah memisahkan fakta dari interpretasi, langkah berikutnya adalah mencari tahu mengapa kegagalan tersebut terjadi.
Namun ada satu jebakan yang perlu dihindari:
mencari satu penyebab sederhana untuk menjelaskan semuanya.
Ketika sesuatu berjalan buruk, manusia sering ingin menemukan satu jawaban yang jelas.
"Saya gagal karena saya bodoh."
"Saya gagal karena saya malas."
"Saya gagal karena mereka tidak menyukai saya."
Padahal kenyataan biasanya lebih kompleks.
Hasil dari sebuah usaha dapat dipengaruhi oleh banyak faktor:
kemampuan,
persiapan,
strategi,
waktu,
sumber daya,
komunikasi,
kondisi lingkungan,
keputusan orang lain,
serta faktor kebetulan yang berada di luar kendali kita.
Karena itu, daripada bertanya:
"Siapa yang salah?"
cobalah bertanya:
"Faktor apa saja yang berkontribusi terhadap hasil ini?"
Buatlah tiga kategori.
Faktor yang berada dalam kendaliku
Contohnya:
kurang persiapan,
strategi yang kurang tepat,
komunikasi yang buruk,
tidak meminta bantuan,
menunda pekerjaan,
kurang memahami kebutuhan situasi.
Faktor yang sebagian dapat kukendalikan
Misalnya:
kualitas kerja sama dengan orang lain,
cara menyampaikan ide,
kemampuan beradaptasi,
cara mengelola waktu,
cara merespons perubahan.
Faktor yang berada di luar kendaliku
Contohnya:
keputusan orang lain,
perubahan kondisi ekonomi,
keadaan pasar,
kejadian tak terduga,
keterbatasan kesempatan,
situasi eksternal.
Pembagian ini membantu karena tidak semua kegagalan harus dibebankan kepada diri sendiri.
Tetapi sebaliknya, jangan menggunakan "faktor eksternal" sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawab.
Tujuannya bukan membebaskan diri dari semua kesalahan.
Tujuannya adalah menempatkan tanggung jawab di tempat yang tepat.
Jika memang ada sesuatu yang bisa diperbaiki, akui.
Jika memang ada sesuatu yang tidak berada dalam kendalimu, lepaskan.
Keduanya adalah bagian dari evaluasi yang sehat.
3. Ubah Kegagalan Menjadi Data
Salah satu perubahan pola pikir yang sangat berguna adalah melihat kegagalan sebagai informasi, bukan semata-mata sebagai vonis.
Bayangkan kamu sedang melakukan sebuah eksperimen.
Kamu memiliki hipotesis.
Kamu mencoba sesuatu.
Kemudian hasilnya tidak sesuai dengan yang diperkirakan.
Apakah eksperimen tersebut otomatis tidak berguna?
Tidak.
Kamu justru mendapatkan informasi baru.
Hal yang sama dapat diterapkan dalam kehidupan.
Misalnya kamu menjalankan sebuah bisnis kecil dan ternyata produknya tidak mendapatkan respons seperti yang diharapkan.
Daripada hanya berkata:
"Bisnis saya gagal."
cobalah mengubahnya menjadi pertanyaan:
Apakah produk tersebut benar-benar dibutuhkan?
Apakah saya menargetkan orang yang tepat?
Apakah harga sesuai dengan pasar?
Apakah cara memasarkannya efektif?
Apakah pelanggan memahami manfaat produknya?
Apakah masalahnya berada pada produk atau distribusinya?
Dengan cara ini, kegagalan berubah menjadi kumpulan data.
Bahkan kegagalan yang menyakitkan dapat memberikan informasi yang sangat berharga.
Cobalah membuat tabel sederhana:
Pertanyaan Jawaban
Apa yang saya harapkan? ...
Apa yang sebenarnya terjadi? ...
Di mana perbedaannya? ...
Apa penyebab yang mungkin? ...
Apa yang bisa saya perbaiki? ...
Apa yang tidak berada dalam kendali saya? ...
Latihan seperti ini membantu mengubah evaluasi dari sesuatu yang emosional menjadi sesuatu yang lebih konkret.
Kamu tidak lagi sekadar berpikir:
"Saya gagal."
Kamu mulai berpikir:
"Saya mengetahui sesuatu yang sebelumnya belum saya ketahui."
Perubahan kecil dalam cara melihat kejadian ini dapat menghasilkan perubahan besar dalam cara kita merespons pengalaman berikutnya.
4. Tanyakan: "Apa yang Akan Saya Lakukan Berbeda?"
Banyak orang melakukan evaluasi kegagalan tetapi berhenti pada penyesalan.
Mereka mengulang kejadian yang sama di dalam kepala:
"Seandainya waktu itu saya..."
"Kenapa saya tidak..."
"Harusnya saya..."
Masalahnya, mengulang masa lalu tanpa menghasilkan tindakan baru dapat berubah menjadi ruminasi.
Evaluasi yang produktif seharusnya menghasilkan sesuatu yang bisa digunakan di masa depan.
Karena itu, setelah memahami penyebabnya, tanyakan:
"Jika saya menghadapi situasi yang serupa lagi, apa yang akan saya lakukan secara berbeda?"
Jangan membuat jawabannya terlalu abstrak.
" Saya akan menjadi lebih baik."
" Saya harus bekerja lebih keras."
" Saya tidak boleh gagal lagi."
Itu terdengar bagus, tetapi tidak cukup spesifik.
Ubahlah menjadi perilaku konkret.
Misalnya:
Sebelumnya:
"Saya kurang siap menghadapi presentasi."
Perbaikan:
"Untuk presentasi berikutnya, saya akan melakukan dua kali simulasi dan meminta satu orang memberikan umpan balik sebelum hari presentasi."
Atau:
Sebelumnya:
"Saya terlalu sering menunda."
Perbaikan:
"Saya akan memecah tugas besar menjadi pekerjaan 30 menit dan menentukan waktu mulai yang spesifik."
Atau:
Sebelumnya:
"Saya tidak meminta bantuan."
Perbaikan:
"Jika saya mengalami hambatan lebih dari satu hari, saya akan meminta masukan dari orang yang lebih berpengalaman."
Inilah perbedaan antara penyesalan dan pembelajaran.
Penyesalan melihat ke belakang dan berkata:
"Seharusnya saya melakukan sesuatu yang berbeda."
Pembelajaran melihat ke depan dan berkata:
"Lain kali, saya akan melakukan sesuatu yang berbeda."
5. Akhiri Evaluasi dengan Belas Kasih kepada Diri Sendiri
Langkah terakhir sering kali justru dilupakan.
Setelah menganalisis kesalahan, kita merasa harus menghukum diri sendiri agar tidak mengulanginya.
Ada keyakinan bahwa kritik keras akan membuat kita menjadi lebih disiplin.
Namun evaluasi tidak harus berubah menjadi penghinaan terhadap diri sendiri.
Kamu bisa mengakui:
"Saya melakukan kesalahan."
tanpa harus menyimpulkan:
"Saya adalah orang yang buruk."
Kamu bisa mengatakan:
"Saya kurang mempersiapkan diri."
tanpa mengatakan:
"Saya tidak mampu melakukan apa pun."
Kamu bisa mengakui:
"Keputusan saya kali ini tidak tepat."
tanpa mengatakan:
"Saya selalu membuat keputusan buruk."
Inilah yang membuat belas kasih terhadap diri sendiri penting dalam proses menghadapi kegagalan.
Belas kasih terhadap diri sendiri bukan berarti berpura-pura bahwa kesalahan tidak terjadi.
Bukan pula berarti memberikan alasan untuk menghindari tanggung jawab.
Justru sebaliknya.
Kamu tetap melihat kesalahan dengan jujur, tetapi kamu tidak menjadikan kesalahan tersebut sebagai identitas permanen.
Coba bayangkan seorang teman dekat mengalami kegagalan yang sama.
Kemungkinan besar kamu tidak akan berkata:
"Kamu memang tidak berguna."
Kamu mungkin mengatakan:
"Memang menyakitkan, tetapi mari kita lihat apa yang bisa dipelajari dari ini."
Cobalah memberikan kualitas percakapan yang sama kepada dirimu sendiri.
Gunakan Rumus Sederhana: Fakta → Penyebab → Pelajaran → Tindakan
Jika kamu merasa evaluasi kegagalan terlalu rumit, gunakan empat tahap sederhana:
1. Fakta
Apa yang terjadi?
Jelaskan tanpa drama dan tanpa penghukuman.
2. Penyebab
Mengapa hal itu terjadi?
Identifikasi berbagai faktor, termasuk faktor yang berada di luar kendalimu.
3. Pelajaran
Apa yang sekarang saya ketahui yang sebelumnya belum saya ketahui?
Cari informasi yang bisa digunakan.
4. Tindakan
Apa yang akan saya lakukan secara berbeda?
Buat satu atau beberapa tindakan konkret.
Contohnya:
Fakta: Saya tidak berhasil menyelesaikan proyek tepat waktu.
Penyebab: Saya memperkirakan waktu pengerjaan terlalu pendek dan tidak memperhitungkan revisi.
Pelajaran: Estimasi awal saya terlalu optimistis.
Tindakan: Pada proyek berikutnya, saya akan membuat estimasi berdasarkan beberapa tahap pekerjaan dan menyediakan waktu khusus untuk revisi.
Perhatikan bahwa tidak ada satu pun kalimat yang mengatakan:
"Saya adalah orang yang gagal."
Karena evaluasi tidak membutuhkan kesimpulan tersebut.
Jangan Mengevaluasi Kegagalan Ketika Emosi Sedang Berada di Puncak
Ada satu hal lagi yang penting.
Tidak semua waktu merupakan waktu yang baik untuk melakukan analisis.
Ketika kita sedang sangat kecewa, malu, marah, atau takut, kemampuan kita untuk melihat situasi secara objektif dapat terganggu.
Karena itu, terkadang langkah pertama bukanlah "menganalisis".
Langkah pertama adalah menenangkan diri.
Beristirahat.
Berjalan.
Tidur.
Berbicara dengan seseorang yang dipercaya.
Menjauh sebentar dari situasi.
Setelah intensitas emosi menurun, barulah evaluasi dilakukan.
Ini bukan berarti menghindari masalah.
Justru kamu sedang menciptakan jarak yang cukup agar masalah dapat dilihat dengan lebih jernih.
Kegagalan Tidak Selalu Berarti Strategimu Salah
Ini juga penting untuk diingat.
Tidak semua usaha yang gagal berarti kamu menggunakan strategi yang buruk.
Kadang-kadang strategi yang masuk akal tetap menghasilkan hasil yang tidak diinginkan.
Karena hidup memiliki ketidakpastian.
Sebuah keputusan harus dievaluasi berdasarkan informasi yang tersedia ketika keputusan tersebut dibuat, bukan hanya berdasarkan hasil akhirnya.
Misalnya, seseorang mengambil keputusan yang tampak masuk akal berdasarkan informasi yang ia miliki. Kemudian muncul kejadian yang tidak dapat diprediksi dan hasilnya buruk.
Hasil yang buruk tidak otomatis membuktikan bahwa keputusan awalnya bodoh.
Karena keputusan yang baik tidak selalu menghasilkan hasil yang baik, dan keputusan yang buruk tidak selalu menghasilkan hasil yang buruk.
Itulah mengapa evaluasi yang matang perlu melihat proses, informasi, asumsi, dan kondisi saat keputusan dibuat—bukan sekadar melihat hasil akhirnya.
Pada Akhirnya, Pertanyaan Terbaik Bukan "Mengapa Saya Gagal?"
Ketika mengalami kegagalan, pertanyaan:
"Mengapa saya gagal?"
memang penting.
Tetapi jangan berhenti di sana.
Tambahkan pertanyaan lain:
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Bagian mana yang berada dalam kendali saya?"
"Apa yang bisa saya pelajari?"
"Apa yang akan saya lakukan secara berbeda?"
"Bagaimana saya bisa memperbaiki kesalahan ini tanpa menghancurkan kepercayaan diri saya?"
Karena tujuan evaluasi bukan untuk menemukan alasan mengapa kamu pantas merasa buruk.
Tujuannya adalah menemukan informasi yang dapat membuat langkah berikutnya menjadi lebih baik.
Kegagalan adalah sebuah peristiwa.
Ia bukan otomatis identitas.
Kamu bisa gagal dalam sebuah ujian tanpa menjadi orang gagal.
Kamu bisa gagal dalam sebuah hubungan tanpa menjadi orang yang tidak layak dicintai.
Kamu bisa gagal dalam pekerjaan tanpa berarti seluruh kemampuanmu tidak berguna.
Dan kamu bisa membuat keputusan yang buruk tanpa harus menghabiskan seluruh hidup untuk membenci dirimu sendiri.
Yang paling penting bukan hanya apa yang terjadi ketika kamu jatuh.
Tetapi apa yang kamu lakukan setelah memahami mengapa kamu jatuh.
Jadi, ketika suatu hari kamu mengalami kegagalan, jangan buru-buru bertanya:
"Apa yang salah dengan saya?"
Berhenti sejenak.
Ambil napas.
Lihat faktanya.
Cari penyebabnya.
Ambil pelajarannya.
Tentukan tindakan berikutnya.
Kemudian izinkan dirimu untuk melanjutkan perjalanan.
Karena mungkin, kegagalan yang sedang kamu alami hari ini bukanlah bukti bahwa perjalananmu berakhir.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Prediksi Skor Viktoria Plzen vs Union SG di Liga Europa: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Susunan Pemain Manchester City vs Norwich: Maresca Rotasi Skuad
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin
Prediksi Skor Real Sociedad vs Bournemouth di Liga Europa: Txuri-urdin Bakal Kesulitan Redam Lawan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022