Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 18 September 2026 | 03.32 WIB

6 Alasan Mengapa Orang Cerdas Kerap Mengambil Keputusan Buruk dalam Hubungan Menurut Psikologi

seseorang yang mengambil keputusan yang buruk / foto: Magnific/yanalya

 

JawaPos.com - Orang cerdas biasanya dikenal sebagai pribadi yang mampu berpikir logis, menganalisis masalah, mempertimbangkan risiko, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tersedia. Dalam banyak situasi kehidupan, kemampuan tersebut memang menjadi sebuah keuntungan.

Namun, ada satu wilayah yang sering kali tidak tunduk pada logika: hubungan romantis.

Seseorang bisa sangat rasional ketika mengelola pekerjaan, keuangan, atau memecahkan masalah yang rumit. Tetapi ketika berhadapan dengan orang yang dicintainya, kemampuan berpikir jernih itu seolah menghilang. Ia tetap mengetahui bahwa hubungan tersebut tidak sehat, menyadari adanya pola yang berulang, bahkan mampu menjelaskan masalahnya kepada orang lain dengan sangat baik.

Anehnya, ketika dirinya sendiri berada di dalam situasi tersebut, ia justru sulit mengambil keputusan.

Mengapa?

Psikologi memberikan beberapa penjelasan menarik. Kecerdasan tidak otomatis membuat seseorang kebal terhadap emosi, bias kognitif, kebutuhan akan keterikatan, atau rasa takut kehilangan. Bahkan, dalam kondisi tertentu, kemampuan berpikir yang tinggi justru dapat digunakan untuk membenarkan keputusan yang sebenarnya digerakkan oleh emosi.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (17/9), terdapat enam alasan mengapa orang cerdas pun dapat mengambil keputusan buruk dalam hubungan.

1. Mereka Terlalu Pandai Mencari Alasan untuk Membenarkan Pasangan

Salah satu paradoks kecerdasan adalah kemampuan melihat banyak kemungkinan.

Ketika orang lain melihat sebuah perilaku dan berkata, "Itu jelas tidak baik," orang yang sangat analitis mungkin justru melihat berbagai kemungkinan lain.

"Barangkali dia sedang stres."

"Mungkin sebenarnya dia tidak bermaksud seperti itu."

"Dia memang melakukan kesalahan, tetapi mungkin masa lalunya membuat dia seperti ini."

"Kalau aku lebih sabar, mungkin dia akan berubah."

Kemampuan memahami perspektif orang lain sebenarnya merupakan kualitas yang baik. Masalah muncul ketika kemampuan tersebut digunakan terus-menerus untuk merasionalisasi perilaku yang merugikan diri sendiri.

Orang cerdas sering mampu membangun argumen yang sangat meyakinkan untuk hampir semua pilihan.

Jika ingin bertahan, ia dapat menemukan sepuluh alasan untuk bertahan.

Jika ingin pergi, ia juga dapat menemukan sepuluh alasan untuk pergi.

Dalam hubungan yang bermasalah, kemampuan ini dapat berubah menjadi jebakan. Alih-alih bertanya, "Apakah perlakuan ini sehat untukku?", ia terus bertanya, "Mengapa dia melakukan ini?"

Fokusnya berpindah dari dampak perilaku ke penjelasan di balik perilaku.

Padahal, memahami alasan seseorang melakukan sesuatu tidak selalu berarti kita harus menerima akibatnya.

Seseorang mungkin mempunyai luka masa lalu. Ia mungkin memiliki masalah emosional. Ia mungkin sedang mengalami tekanan hidup.

Semua itu bisa menjelaskan perilakunya.

Tetapi penjelasan bukan berarti pembenaran.

Karena itu, salah satu pertanyaan penting dalam hubungan bukan hanya:

"Mengapa dia seperti ini?"

Melainkan:

"Apa dampak perilaku ini terhadap diriku dan apakah pola tersebut terus berulang?"

2. Mereka Cenderung Overthinking dan Terjebak dalam Analisis

Kecerdasan sering berjalan beriringan dengan kemampuan menganalisis berbagai kemungkinan.

Dalam situasi tertentu, ini sangat membantu.

Tetapi dalam hubungan, terlalu banyak analisis justru bisa membuat seseorang sulit mengambil keputusan.

Misalnya seseorang berada dalam hubungan yang sudah lama membuatnya tidak bahagia.

Ia kemudian mulai berpikir:

"Bagaimana kalau aku pergi dan ternyata dia berubah?"

"Bagaimana kalau aku bertahan dan semuanya membaik?"

"Bagaimana kalau masalahnya sebenarnya ada pada diriku?"

"Bagaimana kalau aku tidak akan menemukan orang yang lebih cocok?"

"Bagaimana kalau aku menyesal?"

"Bagaimana kalau sebenarnya hubungan ini masih bisa diselamatkan?"

Satu pertanyaan menghasilkan pertanyaan berikutnya.

Akibatnya, seseorang tidak benar-benar mengambil keputusan. Ia terus berada dalam ruang mental yang penuh kemungkinan.

Dalam psikologi, kecenderungan seperti ini sering dikaitkan dengan rumination, yaitu pola berpikir berulang mengenai masalah tanpa menghasilkan penyelesaian yang jelas.

Overthinking juga dapat membuat seseorang menganggap bahwa keputusan yang benar harus terlebih dahulu terasa seratus persen pasti.

Padahal dalam kehidupan nyata, terutama dalam hubungan, hampir tidak ada keputusan yang memberikan kepastian penuh.

Tidak ada orang yang bisa mengetahui dengan pasti apakah sebuah hubungan akan bertahan lima tahun lagi.

Tidak ada orang yang bisa menjamin bahwa setelah putus seseorang akan menemukan pasangan yang lebih cocok.

Dan tidak ada orang yang dapat memastikan bahwa bertahan akan membuat semuanya membaik.

Ketika seseorang menunggu kepastian absolut, ia bisa terjebak dalam situasi yang sama selama bertahun-tahun.

Terkadang masalahnya bukan kurangnya informasi.

Masalahnya adalah terlalu banyak berpikir tanpa batas keputusan yang jelas.

3. Mereka Menggunakan Kecerdasan untuk Menyelesaikan Masalah yang Sebenarnya Tidak Bisa Mereka Kendalikan

Orang yang terbiasa memecahkan masalah sering memiliki keyakinan bahwa hampir semua masalah dapat diperbaiki jika dianalisis dengan benar.

Dalam pekerjaan, pola pikir tersebut sangat berguna.

Ada masalah → cari penyebab → buat strategi → lakukan perbaikan.

Namun hubungan manusia tidak bekerja seperti sistem komputer.

Kita tidak bisa mengendalikan perasaan, pilihan, kedewasaan, atau komitmen orang lain.

Inilah yang terkadang sulit diterima oleh orang yang sangat rasional.

Ketika pasangan terus menghindari komunikasi, ia mungkin berpikir:

"Aku harus menemukan cara komunikasi yang tepat."

Ketika pasangan tidak konsisten, ia mungkin berpikir:

"Mungkin aku belum memahami kebutuhannya."

Ketika pasangan terus mengulangi perilaku yang menyakitkan, ia mungkin berpikir:

"Barangkali aku perlu memberikan lebih banyak kesempatan."

Akhirnya, hubungan berubah menjadi sebuah proyek yang harus diperbaiki.

Masalahnya, hubungan membutuhkan dua orang yang bersedia memperbaiki keadaan.

Anda bisa mengomunikasikan kebutuhan dengan jelas. Anda bisa memberikan kesempatan. Anda bisa belajar memahami pasangan. Anda bisa memperbaiki cara berkomunikasi.

Tetapi Anda tidak dapat membuat orang lain berubah hanya karena Anda menemukan strategi yang tepat.

Kesadaran ini sangat penting.

Ada perbedaan antara:

"Aku belum menemukan solusi."

dan

"Masalah ini memang bukan sesuatu yang bisa kuselesaikan sendirian."

Orang cerdas terkadang membutuhkan waktu lama untuk menerima perbedaan tersebut.

4. Mereka Terlalu Percaya pada Potensi, Bukan Realitas

Ada orang yang jatuh cinta bukan hanya kepada siapa pasangannya sekarang, tetapi kepada siapa pasangannya mungkin menjadi suatu hari nanti.

Ini bisa sangat kuat pada pribadi yang analitis dan optimistis.

Ia melihat kemampuan pasangan.

Ia melihat sisi baiknya.

Ia melihat pengalaman masa lalu yang mungkin membentuk perilakunya.

Ia melihat potensi pertumbuhan.

Ia membayangkan kehidupan yang bisa dibangun bersama jika pasangan tersebut berubah.

Masalahnya, hubungan seharusnya dinilai bukan hanya berdasarkan potensi seseorang, tetapi juga berdasarkan pola perilakunya saat ini.

Bayangkan seseorang berkata:

"Dia sebenarnya orang baik."

"Dia punya banyak potensi."

"Kalau masalahnya selesai, hubungan kami akan luar biasa."

Kalimat-kalimat tersebut mungkin benar.

Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah:

"Bagaimana dia memperlakukanmu sekarang?"

Potensi tidak sama dengan kenyataan.

Seseorang mungkin memiliki potensi menjadi pasangan yang sangat baik, tetapi belum memiliki kemauan atau kemampuan untuk menjadi pasangan yang baik saat ini.

Menunggu seseorang berubah juga dapat membuat seseorang bertahan terlalu lama.

Bukan karena hubungan tersebut benar-benar memuaskan, tetapi karena ia terikat pada gambaran tentang masa depan.

Inilah salah satu jebakan psikologis yang paling sulit disadari:

kita tidak selalu mempertahankan hubungan karena keadaan sekarang baik; terkadang kita mempertahankannya karena kita berharap keadaan nanti akan menjadi baik.

5. Mereka Menganggap Emosi sebagai Masalah yang Harus Dikalahkan dengan Logika

Orang yang terbiasa berpikir rasional mungkin merasa tidak nyaman dengan emosi yang kuat.

Ketika merasa cemburu, takut, marah, atau sangat membutuhkan seseorang, ia mungkin mencoba menganalisis emosinya sampai emosi tersebut hilang.

"Aku tidak seharusnya merasa seperti ini."

"Ini tidak logis."

"Aku tahu hubungan ini bermasalah, jadi mengapa aku masih mencintainya?"

"Kalau aku cerdas, seharusnya aku bisa pergi."

Namun emosi tidak bekerja seperti persamaan matematika.

Mengetahui bahwa seseorang tidak cocok dengan kita tidak otomatis menghilangkan rasa cinta.

Mengetahui bahwa sebuah hubungan tidak sehat tidak otomatis menghilangkan rasa takut kehilangan.

Mengetahui bahwa seseorang telah menyakiti kita tidak otomatis membuat kita berhenti merindukannya.

Kecerdasan dapat membantu kita memahami emosi.

Tetapi memahami emosi berbeda dengan mengendalikannya sepenuhnya.

Justru ketika emosi terus ditekan atau dianggap tidak valid, seseorang dapat mengambil keputusan secara diam-diam berdasarkan emosi tersebut.

Misalnya, seseorang berkata bahwa ia bertahan karena "masih melihat sisi baik pasangan".

Padahal mungkin di balik keputusan itu terdapat rasa takut kesepian.

Atau seseorang mengatakan bahwa ia memberi kesempatan kedua karena "ingin bersikap dewasa".

Padahal sebenarnya ia takut kehilangan.

Karena itu, keputusan yang sehat tidak selalu berarti keputusan yang sepenuhnya bebas dari emosi.

Yang lebih penting adalah mengenali emosi yang sedang memengaruhi keputusan tersebut.

6. Mereka Sulit Melepaskan Investasi yang Sudah Terlalu Besar

Semakin lama seseorang berada dalam sebuah hubungan, semakin banyak hal yang mungkin sudah ia investasikan.

Waktu.

Energi.

Perhatian.

Kenangan.

Pengorbanan.

Rencana masa depan.

Bahkan mungkin hubungan dengan keluarga dan lingkungan sosial pasangan.

Kemudian muncul pikiran:

"Aku sudah bertahan selama lima tahun. Masa harus berakhir begitu saja?"

"Aku sudah melakukan banyak hal untuk hubungan ini."

"Kalau sekarang aku pergi, semua pengorbananku terasa sia-sia."

Di sinilah konsep sunk cost menjadi relevan.

Dalam pengambilan keputusan, sunk cost adalah sumber daya yang sudah dikeluarkan dan tidak dapat dikembalikan. Secara rasional, keputusan mengenai masa depan seharusnya lebih banyak mempertimbangkan kondisi dan konsekuensi yang akan datang daripada jumlah biaya yang sudah terlanjur dikeluarkan.

Tetapi manusia sering melakukan sebaliknya.

Semakin besar investasi masa lalu, semakin sulit meninggalkan sesuatu.

Orang yang sangat cerdas pun tidak kebal terhadap mekanisme ini.

Bahkan, ia mungkin mampu menghasilkan argumentasi yang lebih kompleks untuk mempertahankan investasi tersebut.

"Aku sudah melalui begitu banyak hal dengannya."

"Kami sudah melewati masa-masa sulit."

"Sayang kalau semua yang kami bangun harus berakhir."

Namun masa lalu tidak dapat digunakan untuk menjamin masa depan.

Waktu yang sudah diberikan kepada seseorang memang tidak dapat dikembalikan.

Tetapi justru karena waktu tidak bisa dikembalikan, pertanyaan yang lebih penting adalah:

"Dengan kondisi yang ada sekarang, apakah aku ingin menginvestasikan lebih banyak waktu lagi?"

Itulah pergeseran cara berpikir yang sering membantu.

Bukan:

"Sudah berapa banyak yang aku korbankan?"

Melainkan:

"Jika aku mengetahui kondisi hubungan ini sejak awal, apakah aku masih akan memilih untuk melanjutkannya hari ini?"

Kecerdasan Tidak Sama dengan Kematangan Emosional

Enam hal di atas menunjukkan satu hal penting: IQ atau kemampuan berpikir tidak otomatis sama dengan kecerdasan emosional.

Seseorang dapat sangat hebat dalam matematika, sains, bisnis, teknologi, atau pekerjaan profesional, tetapi tetap kesulitan memahami pola keterikatannya sendiri.

Ia bisa memecahkan masalah orang lain, tetapi kesulitan menetapkan batasan.

Ia bisa membaca perilaku orang lain dengan akurat, tetapi tidak menyadari bahwa dirinya sedang mencari pembenaran.

Ia bisa memberikan nasihat yang sangat masuk akal kepada teman, tetapi kesulitan mengikuti nasihat yang sama ketika dirinya sedang jatuh cinta.

Mengapa?

Karena ketika kita terlibat secara emosional, kita bukan lagi pengamat netral.

Ada kebutuhan untuk dicintai.

Ada ketakutan ditinggalkan.

Ada harapan.

Ada kenangan.

Ada keterikatan.

Ada identitas yang sudah terhubung dengan hubungan tersebut.

Semua faktor itu dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan.

Jadi, Apa yang Bisa Dilakukan?

Orang yang cerdas tidak perlu menjadi lebih dingin atau menghilangkan emosinya agar dapat membuat keputusan yang lebih sehat.

Yang dibutuhkan justru adalah kemampuan untuk menggabungkan logika dengan kesadaran emosional.

Beberapa pertanyaan berikut dapat membantu:

1. Apa fakta yang benar-benar terjadi?

Pisahkan fakta dari interpretasi.

Bukan:

"Dia sebenarnya mencintaiku."

Tetapi:

"Seperti apa perilakunya terhadapku selama beberapa bulan terakhir?"

2. Apakah ini kejadian sekali atau sebuah pola?

Satu kesalahan berbeda dengan pola perilaku yang terus berulang.

3. Apakah aku mencintai orang ini atau potensinya?

Pertimbangkan pasangan berdasarkan siapa dirinya sekarang, bukan hanya berdasarkan siapa yang mungkin ia menjadi.

4. Apakah aku sedang mencari solusi atau mencari alasan untuk bertahan?

Pertanyaan ini bisa sangat sulit, tetapi juga sangat jujur.

5. Emosi apa yang sedang memengaruhi keputusanku?

Takut kehilangan? Kesepian? Rasa bersalah? Harapan? Cinta? Atau benar-benar keyakinan bahwa hubungan ini masih sehat?

6. Jika seorang teman dekat mengalami hal yang sama, apa yang akan kukatakan kepadanya?

Pertanyaan ini menciptakan sedikit jarak psikologis sehingga kita dapat melihat situasi dengan lebih objektif.

Pada Akhirnya, Orang Cerdas Juga Bisa Salah Memilih

Ada anggapan bahwa semakin cerdas seseorang, semakin kecil kemungkinan ia membuat keputusan buruk.

Dalam kehidupan nyata, hubungan menunjukkan bahwa persoalannya jauh lebih kompleks.

Kecerdasan dapat membantu seseorang mengenali pola, mempertimbangkan konsekuensi, dan memahami situasi.

Tetapi kecerdasan tidak menghapus kebutuhan manusia untuk dicintai.

Tidak menghapus rasa takut kehilangan.

Tidak menghapus keterikatan.

Tidak menghapus harapan.

Dan yang paling penting, kecerdasan tidak membuat seseorang kebal terhadap bias kognitif.

Kadang-kadang justru orang yang sangat pandai berpikir mampu membuat alasan yang sangat cerdas untuk keputusan yang sebenarnya ingin ia ambil secara emosional.

Karena itu, keputusan hubungan yang sehat bukanlah keputusan yang sepenuhnya rasional dan tanpa emosi.

Keputusan yang lebih matang adalah keputusan yang mampu mengatakan:

"Aku memahami apa yang kurasakan, tetapi aku juga bersedia melihat kenyataan apa adanya."

Sebab dalam hubungan, pertanyaan terpenting bukan selalu:

"Apakah aku masih mencintainya?"

Kadang pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

"Apakah hubungan ini, sebagaimana adanya sekarang, masih baik untuk kami berdua?"

Dan terkadang, jawaban atas pertanyaan tersebut baru bisa ditemukan ketika kita berhenti mencoba membuktikan bahwa keputusan kita benar—dan mulai berani melihat apa yang sebenarnya terjadi.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore