Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 17 September 2026 | 05.17 WIB

Jika Kamu Ingin Mengambil Keputusan dengan Lebih Rasional, Lakukan 7 Langkah Ini Menurut Psikologi

seseorang yang mengambil keputusan yang lebih rasional / foto: Magnific/drobotdean

 

JawaPos.com - Setiap hari kita membuat puluhan bahkan ratusan keputusan.

Mulai dari hal sederhana seperti memilih makanan, menentukan pekerjaan yang harus diselesaikan terlebih dahulu, membalas pesan atau tidak, hingga keputusan besar seperti memilih pasangan, menerima pekerjaan, memulai bisnis, pindah kota, atau mengakhiri sebuah hubungan.

Masalahnya, tidak semua keputusan dibuat dengan cara yang benar-benar rasional.

Kita sering merasa sudah berpikir matang, padahal keputusan yang kita ambil diam-diam dipengaruhi oleh emosi, ketakutan, pengalaman masa lalu, tekanan sosial, keinginan untuk segera mendapatkan kepastian, atau bahkan cara sebuah pilihan disajikan kepada kita.

Dalam psikologi, manusia memang tidak selalu mengambil keputusan dengan cara yang sepenuhnya logis. Otak menggunakan berbagai jalan pintas mental atau heuristics untuk membuat proses berpikir menjadi lebih cepat. Mekanisme ini berguna dalam banyak situasi, tetapi juga dapat membuat kita melakukan kesalahan penilaian.

Itulah sebabnya menjadi rasional bukan berarti harus menghilangkan emosi.

Justru, keputusan yang lebih baik biasanya muncul ketika kita mampu mengakui emosi, memeriksa fakta, mengenali bias, dan memberi diri sendiri cukup ruang untuk berpikir.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (18/9), jika kamu ingin mengambil keputusan dengan lebih rasional, berikut tujuh langkah yang bisa dilakukan.

1. Jangan langsung mengambil keputusan ketika emosi sedang tinggi

Salah satu kesalahan paling umum adalah membuat keputusan ketika emosi sedang berada pada titik tertinggi.

Saat marah, misalnya, kita mungkin ingin segera mengirim pesan panjang.

Saat kecewa, kita ingin mengakhiri semuanya.

Saat sangat bahagia, kita bisa terlalu cepat mengatakan "iya".

Saat takut, kita mungkin memilih jalan yang paling aman meskipun sebenarnya bukan pilihan yang paling sesuai dengan tujuan kita.

Emosi bukan musuh dalam pengambilan keputusan. Emosi memberikan informasi tentang apa yang kita anggap penting. Namun, emosi yang sangat kuat dapat membuat perhatian kita menyempit dan membuat kita lebih fokus pada kebutuhan sesaat dibandingkan konsekuensi jangka panjang.

Karena itu, sebelum mengambil keputusan penting, cobalah bertanya:

"Kalau aku menunggu sampai emosiku lebih tenang, apakah aku masih akan mengambil keputusan yang sama?"

Jika jawabannya belum jelas, jangan terburu-buru.

Berikan jeda.

Bisa lima menit untuk persoalan kecil, beberapa jam untuk persoalan yang lebih serius, atau bahkan beberapa hari jika keputusan tersebut memiliki konsekuensi besar.

Jeda bukan berarti menghindari masalah.

Jeda adalah cara memberi kesempatan kepada pikiran untuk bekerja tanpa terlalu didominasi reaksi emosional sesaat.

Coba lakukan ini:

Sebelum mengambil keputusan besar, tuliskan:

Apa yang sedang aku rasakan?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa yang ingin aku lakukan karena emosi?
Apa yang kemungkinan akan kupilih jika aku lebih tenang?

Perbedaan antara jawaban-jawaban tersebut bisa memberikan informasi yang sangat berharga.

2. Pisahkan fakta dari asumsi

Banyak keputusan buruk dimulai dari sesuatu yang sebenarnya bukan fakta, tetapi kita perlakukan seolah-olah fakta.

Contohnya:

"Dia tidak membalas pesanku karena dia sudah tidak menghargai aku."

"Kalau aku gagal dalam wawancara ini, berarti aku memang tidak cukup pintar."

"Kalau bisnis ini tidak berhasil dalam tiga bulan, berarti bisnis ini tidak akan pernah berhasil."

Perhatikan kalimat-kalimat tersebut.

Yang kita miliki sebenarnya adalah data yang terbatas, tetapi pikiran kita kemudian membuat cerita untuk menjelaskan data tersebut.

Dalam psikologi, kecenderungan manusia untuk mencari pola dan memberikan interpretasi terhadap informasi merupakan bagian normal dari proses kognitif. Masalahnya muncul ketika interpretasi tersebut tidak lagi dibedakan dari fakta.

Karena itu, biasakan membagi informasi menjadi tiga kategori:

Fakta

Sesuatu yang benar-benar dapat diamati atau diverifikasi.

Interpretasi

Makna yang kita berikan terhadap fakta.

Prediksi

Dugaan mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya.

Misalnya:

Fakta:
"Perusahaan mengatakan akan mengumumkan hasil seleksi minggu depan."

Interpretasi:
"Mungkin mereka tidak tertarik kepadaku."

Prediksi:
"Aku mungkin tidak akan diterima."

Ketiganya berbeda.

Dengan membedakannya, kita tidak otomatis mempercayai setiap cerita yang muncul di kepala kita.

Cobalah bertanya:

"Apa yang benar-benar aku ketahui, dan apa yang sebenarnya hanya aku duga?"

Pertanyaan sederhana ini bisa mengubah cara kita mengambil keputusan.

3. Tentukan apa yang sebenarnya ingin kamu capai

Kadang masalahnya bukan kita tidak mampu mengambil keputusan.

Masalahnya adalah kita belum menentukan tujuan keputusan tersebut.

Bayangkan seseorang sedang memilih antara dua pekerjaan.

Pekerjaan pertama menawarkan gaji lebih besar.

Pekerjaan kedua menawarkan waktu yang lebih fleksibel.

Mana yang lebih baik?

Tidak ada jawaban universal.

Jika tujuan utamanya meningkatkan pendapatan dalam jangka pendek, jawabannya bisa berbeda dibandingkan jika tujuan utamanya adalah memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga atau membangun proyek pribadi.

Karena itu, sebelum membandingkan pilihan, tentukan terlebih dahulu:

"Keputusan ini sebenarnya ingin membantuku mencapai apa?"

Kamu bisa membuat tiga daftar:

Tujuan utama:
Apa yang paling ingin dicapai?

Prioritas:
Apa yang paling penting?

Batasan:
Apa yang tidak bisa atau tidak mau dikorbankan?

Contohnya:

Jika ingin memilih tempat tinggal, kriterianya mungkin:

Biaya masih masuk akal.
Jarak ke tempat kerja tidak terlalu jauh.
Lingkungan relatif nyaman.
Memiliki akses transportasi.
Tidak mengorbankan kebutuhan finansial lain.

Dengan cara ini, kamu tidak hanya bertanya:

"Mana yang paling menarik?"

Tetapi:

"Mana yang paling sesuai dengan tujuan dan prioritasku?"

Itu adalah pertanyaan yang jauh lebih berguna.

4. Pertimbangkan biaya kesempatan, bukan hanya keuntungan

Manusia sering melihat keputusan secara terlalu sederhana.

Kita bertanya:

"Apa yang akan aku dapatkan kalau memilih ini?"

Tetapi lupa bertanya:

"Apa yang harus aku korbankan?"

Padahal setiap pilihan memiliki opportunity cost atau biaya kesempatan.

Jika kamu menerima pekerjaan baru, kamu mendapatkan gaji dan pengalaman.

Tetapi mungkin kamu kehilangan waktu luang.

Jika kamu memulai bisnis, kamu mendapatkan kesempatan membangun sesuatu sendiri.

Tetapi mungkin kamu kehilangan sebagian stabilitas finansial.

Jika kamu memutuskan untuk kuliah lagi, kamu mendapatkan pendidikan dan peluang baru.

Tetapi kamu juga mengorbankan waktu, uang, dan kesempatan untuk melakukan hal lain.

Karena itu, jangan hanya membuat daftar keuntungan.

Buat tabel sederhana:

Pilihan Keuntungan Kerugian Risiko Yang Dikorbankan
A ... ... ... ...
B ... ... ... ...
C ... ... ... ...

Cara sederhana ini membantu kita melihat keputusan secara lebih utuh.

Tidak ada pilihan yang sempurna.

Tujuannya bukan menemukan pilihan tanpa kekurangan.

Tujuannya adalah memahami pertukaran yang sedang kita lakukan.

5. Cari bukti yang bisa membantah keputusanmu

Ini salah satu langkah yang sering dilewatkan.

Ketika kita sudah menyukai sebuah pilihan, kita cenderung mencari informasi yang mendukung pilihan tersebut.

Misalnya seseorang ingin membeli sebuah produk.

Dia membaca lima ulasan positif dan merasa semakin yakin.

Ketika menemukan dua ulasan negatif, dia mungkin langsung berpikir:

"Ah, itu mungkin hanya pengalaman orang tersebut."

Inilah salah satu bentuk kecenderungan confirmation bias: kita dapat lebih mudah memperhatikan atau menerima informasi yang sesuai dengan keyakinan yang sudah kita miliki.

Untuk mengurangi pengaruhnya, ubah pertanyaannya.

Jangan hanya bertanya:

"Apa alasan aku memilih ini?"

Tetapi juga tanyakan:

"Apa yang mungkin membuat keputusan ini ternyata salah?"

Lalu cari jawabannya.

Jika ingin menerima pekerjaan baru, cari tahu:

Mengapa orang meninggalkan posisi tersebut?
Apa tantangan terbesarnya?
Bagaimana kondisi perusahaan?
Apakah ekspektasi pekerjaan sesuai kenyataan?

Jika ingin memulai bisnis, tanyakan:

Apa alasan bisnis ini bisa gagal?
Apakah ada cukup permintaan?
Siapa pesaingnya?
Apa asumsi terbesar yang belum terbukti?

Tujuannya bukan membuat diri sendiri menjadi pesimis.

Justru sebaliknya.

Kita sedang mencoba membuat keputusan berdasarkan gambaran yang lebih lengkap.

6. Gunakan perspektif jangka panjang

Salah satu cara paling efektif untuk mengurangi keputusan impulsif adalah melihat pilihan dari jarak waktu yang berbeda.

Tanyakan:

"Bagaimana aku akan melihat keputusan ini satu minggu dari sekarang?"

Kemudian:

"Bagaimana aku akan melihatnya satu tahun dari sekarang?"

Dan jika keputusannya sangat besar:

"Bagaimana mungkin aku melihat keputusan ini sepuluh tahun dari sekarang?"

Perspektif waktu dapat membantu kita membedakan antara sesuatu yang terasa sangat penting saat ini dan sesuatu yang benar-benar penting dalam jangka panjang.

Contohnya, seseorang mungkin sangat takut menghadapi percakapan sulit hari ini.

Tetapi setelah satu tahun berlalu, mungkin yang lebih disesalkan justru karena percakapan tersebut tidak pernah dilakukan.

Sebaliknya, sesuatu yang terasa sangat menarik hari ini mungkin tidak lagi penting beberapa tahun kemudian.

Kita tidak bisa mengetahui masa depan secara pasti.

Namun, kita bisa mengurangi dominasi kebutuhan sesaat dengan mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang.

7. Setelah semua informasi cukup, berani memutuskan

Ada satu jebakan lain dalam pengambilan keputusan: terlalu banyak berpikir.

Kita mungkin berpikir bahwa semakin lama mempertimbangkan sebuah keputusan, semakin rasional keputusan tersebut.

Tidak selalu.

Pada titik tertentu, tambahan informasi mungkin hanya menghasilkan kecemasan tambahan.

Kita terus mencari artikel.

Terus meminta pendapat orang.

Terus membandingkan pilihan.

Terus membuat daftar pro dan kontra.

Pada akhirnya, kita bukan lagi mencari informasi.

Kita sedang mencari kepastian.

Padahal banyak keputusan dalam hidup memang tidak memiliki kepastian 100 persen.

Karena itu, setelah informasi yang relevan sudah cukup, tentukan batas waktu untuk memutuskan.

Misalnya:

"Aku akan mengumpulkan informasi sampai Jumat. Setelah itu, aku akan mengambil keputusan berdasarkan informasi terbaik yang tersedia."

Ini bukan berarti mengambil keputusan secara terburu-buru.

Ini berarti menerima kenyataan bahwa ketidakpastian merupakan bagian dari kehidupan.

Keputusan yang rasional bukanlah keputusan yang menjamin hasil sempurna.

Keputusan rasional adalah keputusan yang dibuat berdasarkan informasi yang tersedia, tujuan yang jelas, pertimbangan konsekuensi, dan kesadaran terhadap ketidakpastian.

Satu Teknik Sederhana: "Berhenti – Periksa – Bandingkan – Putuskan"

Jika tujuh langkah di atas terasa terlalu panjang, kamu bisa menyederhanakannya menjadi empat tahap.

1. Berhenti

Jangan langsung bereaksi.

Berikan jeda ketika emosi sedang tinggi.

2. Periksa

Pisahkan fakta, asumsi, emosi, dan prediksi.

3. Bandingkan

Lihat beberapa pilihan beserta keuntungan, kerugian, risiko, dan konsekuensinya.

4. Putuskan

Setelah informasi cukup, pilih dan terima bahwa masih ada ketidakpastian.

Sederhana, tetapi jika dilakukan secara konsisten, pola ini dapat membantu kita mengambil keputusan dengan lebih terstruktur.

Rasional Bukan Berarti Mengabaikan Perasaan

Ada kesalahpahaman bahwa menjadi rasional berarti harus menghilangkan emosi.

Padahal manusia bukan mesin kalkulator.

Perasaan dapat memberi informasi penting.

Rasa takut bisa menunjukkan adanya risiko yang perlu diperiksa.

Rasa tidak nyaman bisa membuat kita menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai kita.

Rasa antusias bisa menunjukkan bahwa sebuah kesempatan sejalan dengan minat dan tujuan kita.

Namun, perasaan adalah informasi, bukan selalu instruksi.

Kamu boleh merasa marah tanpa harus langsung membalas.

Kamu boleh merasa takut tanpa harus otomatis mundur.

Kamu boleh merasa sangat tertarik tanpa harus langsung mengatakan iya.

Kita bisa mendengarkan emosi tanpa membiarkan emosi mengambil seluruh kendali.

Pada Akhirnya, Keputusan yang Baik Tidak Selalu Menghasilkan Hasil yang Baik

Ini bagian yang sangat penting.

Bahkan keputusan yang dibuat dengan hati-hati bisa menghasilkan hasil yang tidak kita inginkan.

Kita bisa melakukan riset dengan baik, mempertimbangkan risiko, memilih berdasarkan informasi yang tersedia, tetapi tetap mengalami kegagalan.

Sebaliknya, keputusan yang sebenarnya kurang matang terkadang bisa menghasilkan keberuntungan.

Karena itu, jangan menilai kualitas sebuah keputusan hanya berdasarkan hasil akhirnya.

Keputusan yang buruk bisa menghasilkan hasil yang kebetulan bagus.

Keputusan yang masuk akal juga bisa menghasilkan hasil yang buruk karena faktor yang tidak dapat kita kendalikan.

Yang lebih penting adalah:

Apakah proses berpikirmu masuk akal berdasarkan informasi yang tersedia pada saat keputusan dibuat?

Jika iya, maka hasil yang tidak sesuai harapan tidak selalu berarti proses pengambilan keputusanmu salah.

Penutup

Kita tidak mungkin menghilangkan seluruh bias, emosi, atau ketidakpastian dari kehidupan.

Kita juga tidak akan pernah memiliki semua informasi sebelum mengambil keputusan.

Tetapi kita bisa membangun kebiasaan berpikir yang lebih baik.

Ketika menghadapi keputusan penting, ingat tujuh langkah ini:

Tenangkan emosi sebelum bereaksi.
Pisahkan fakta dari asumsi.
Tentukan tujuan dan prioritas.
Pertimbangkan apa yang harus dikorbankan.
Cari informasi yang bisa membantah pilihanmu.
Lihat konsekuensi dari perspektif jangka panjang.
Setelah informasi cukup, berani mengambil keputusan.

Pada akhirnya, menjadi lebih rasional bukan berarti selalu memilih dengan sempurna.

Menjadi lebih rasional berarti belajar menciptakan jarak antara apa yang kita rasakan dan apa yang kita lakukan, lalu menggunakan jarak tersebut untuk berpikir dengan lebih jernih.

Karena dalam banyak situasi, keputusan terbaik bukanlah keputusan yang dibuat tanpa emosi.

Melainkan keputusan yang dibuat ketika emosi didengarkan, fakta diperiksa, risiko dipertimbangkan, dan tujuan tetap menjadi arah.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore