seseorang yang menjadi orang baik dalam hubungan / foto: Magnific/Sorapop
Sekilas, sikap seperti itu memang terlihat positif.
Namun, psikologi hubungan menunjukkan bahwa ada perbedaan penting antara menjadi orang yang baik dan selalu berusaha menyenangkan pasangan.
Menjadi baik berarti memperlakukan pasangan dengan hormat, empati, perhatian, kejujuran, dan kepedulian—bahkan ketika kita harus mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengar pasangan.
Sebaliknya, sekadar menyenangkan sering kali berarti melakukan sesuatu terutama agar pasangan tidak kecewa, tidak marah, atau tidak meninggalkan kita. Dari luar keduanya mungkin terlihat serupa. Tetapi dari dalam, motivasinya sangat berbeda.
Seseorang bisa berkata “iya” karena memang ingin membantu. Namun seseorang juga bisa berkata “iya” karena takut mengatakan “tidak”.
Seseorang bisa mengalah karena memahami situasi pasangan. Tetapi seseorang juga bisa terus mengalah karena takut konflik.
Seseorang bisa memberikan perhatian karena mencintai. Namun seseorang juga bisa memberikan terlalu banyak perhatian karena merasa harus mendapatkan penerimaan sebagai imbalannya.
Perbedaan kecil inilah yang dapat menentukan apakah sebuah hubungan berkembang menjadi hubungan yang sehat atau justru perlahan menguras salah satu pihak.
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (16/9), terdapat delapan alasan mengapa menjadi baik lebih sehat daripada sekadar berusaha menyenangkan pasangan.
1. Menjadi baik menciptakan kejujuran, bukan sekadar kenyamanan sementara
Hubungan yang sehat membutuhkan kejujuran.
Sayangnya, kejujuran terkadang terasa tidak menyenangkan.
Pasangan mungkin ingin pergi ke suatu tempat, sementara kita sebenarnya sedang lelah. Pasangan mungkin meminta pendapat tentang sesuatu, tetapi pendapat jujur kita berbeda. Atau pasangan melakukan sesuatu yang membuat kita tidak nyaman dan kita perlu membicarakannya.
Orang yang terlalu berorientasi pada menyenangkan pasangan mungkin memilih untuk diam.
“Tidak apa-apa.”
“Terserah kamu.”
“Aku ikut saja.”
“Yang penting kamu senang.”
Kalimat-kalimat tersebut tidak selalu salah. Masalahnya muncul ketika semuanya menjadi pola.
Jika seseorang terus menyembunyikan kebutuhan dan pendapatnya demi mempertahankan suasana yang nyaman, pasangan akhirnya tidak lagi mendapatkan gambaran yang sebenarnya tentang dirinya.
Di sinilah menjadi “baik” berbeda.
Menjadi pasangan yang baik berarti berani mengatakan:
“Aku mengerti kamu menginginkan itu, tetapi aku sebenarnya kurang nyaman.”
Atau:
“Aku tahu ini mungkin tidak menyenangkan untuk didengar, tetapi aku ingin jujur tentang perasaanku.”
Kejujuran semacam ini mungkin menimbulkan ketidaknyamanan dalam jangka pendek, tetapi justru membantu hubungan dalam jangka panjang.
Secara psikologis, hubungan membutuhkan keaslian (authenticity). Kedekatan emosional sulit berkembang ketika seseorang terus memainkan versi dirinya yang dianggap paling menyenangkan bagi pasangan.
Hubungan yang sehat bukanlah hubungan di mana tidak pernah ada ketidaknyamanan.
Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana ketidaknyamanan dapat dibicarakan tanpa menghancurkan rasa aman.
Karena itu, menjadi baik tidak selalu berarti mengatakan hal yang ingin didengar pasangan.
Kadang-kadang, menjadi baik berarti mengatakan hal yang perlu didengar pasangan dengan cara yang penuh hormat.
2. Menyenangkan terus-menerus dapat menghilangkan batas pribadi
Setiap manusia memiliki batas.
Ada batas waktu, tenaga, privasi, kebutuhan emosional, uang, ruang pribadi, bahkan batas mengenai bagaimana seseorang ingin diperlakukan.
Dalam hubungan, batas bukan tanda kurang cinta.
Justru sebaliknya.
Batas membantu dua individu tetap menjadi individu meskipun mereka berada dalam hubungan yang dekat.
Masalah dapat muncul ketika seseorang merasa bahwa mencintai pasangan berarti harus selalu tersedia.
Pasangan ingin bertemu? Harus datang.
Pasangan ingin menelepon? Harus mengangkat.
Pasangan membutuhkan bantuan? Harus membantu.
Pasangan marah? Harus segera menenangkan.
Pasangan kecewa? Harus meminta maaf, bahkan ketika kita tidak melakukan kesalahan.
Lama-kelamaan, seseorang bisa kehilangan kemampuan membedakan antara kepedulian dan pengorbanan diri yang berlebihan.
Dalam psikologi hubungan, batas yang sehat memungkinkan seseorang mengatakan “ya” dengan tulus dan “tidak” tanpa merasa dirinya menjadi orang jahat.
Misalnya:
“Aku ingin membantu, tetapi malam ini aku benar-benar membutuhkan waktu untuk beristirahat.”
Itu bukan bentuk egoisme.
Itu adalah komunikasi kebutuhan.
Pasangan yang sehat tidak harus memenuhi semua kebutuhan pasangannya setiap saat. Dua orang dewasa dalam hubungan tetap bertanggung jawab terhadap kebutuhan dan emosinya masing-masing.
Menjadi baik berarti peduli terhadap pasangan tanpa menghapus diri sendiri.
3. Menjadi baik membangun rasa aman, sementara people-pleasing dapat membangun ketergantungan
Ada perbedaan antara membuat pasangan merasa aman dan membuat pasangan merasa bahwa kita harus selalu memenuhi keinginannya.
Rasa aman dalam hubungan tumbuh ketika seseorang tahu bahwa pasangannya:
jujur,
konsisten,
menghargai batas,
dapat dipercaya,
mampu berkomunikasi,
dan tetap hadir ketika menghadapi masalah.
Sebaliknya, jika seseorang selalu mengatakan “iya” untuk mencegah konflik, pasangan mungkin menjadi terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya.
Tanpa disadari, pola tersebut dapat menciptakan hubungan yang tidak seimbang.
Misalnya, setiap kali pasangan marah, kita langsung menyerah.
Setiap kali pasangan mengancam pergi, kita meminta maaf.
Setiap kali pasangan kecewa, kita mengubah keputusan.
Awalnya, tindakan tersebut mungkin terlihat seperti bentuk cinta.
Namun jika terjadi berulang kali, hubungan bisa belajar bahwa kemarahan adalah cara efektif untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Karena itu, menjadi baik tidak berarti menghilangkan semua frustrasi pasangan.
Pasangan kita boleh kecewa.
Pasangan kita boleh tidak setuju.
Pasangan kita boleh memiliki emosi negatif.
Tugas kita bukan membuat pasangan tidak pernah mengalami emosi yang tidak menyenangkan.
Tugas kita adalah memperlakukan pasangan dengan hormat ketika emosi tersebut muncul.
Ini merupakan perbedaan yang sangat penting.
Kita bisa mencintai seseorang tanpa bertanggung jawab untuk membuatnya bahagia setiap saat.
4. Konflik yang sehat justru dapat memperkuat hubungan
Banyak orang menganggap hubungan yang baik adalah hubungan yang jarang bertengkar.
Padahal, konflik dalam hubungan tidak selalu merupakan tanda bahwa hubungan tersebut buruk.
Yang lebih penting adalah bagaimana konflik ditangani.
Dua orang dengan latar belakang, pengalaman, kebutuhan, dan kepribadian berbeda hampir pasti akan mengalami perbedaan pendapat.
Karena itu, menghindari semua konflik bukan solusi.
Jika seseorang selalu berusaha menyenangkan pasangan, konflik mungkin memang berkurang.
Tetapi konflik yang tidak pernah dibicarakan tidak otomatis menghilang.
Ia bisa berubah menjadi:
frustrasi,
kebencian yang terpendam,
kelelahan emosional,
sikap pasif-agresif,
atau jarak emosional.
Contohnya sederhana.
Seseorang sebenarnya tidak suka ketika pasangannya sering membatalkan rencana. Namun setiap kali hal itu terjadi, ia mengatakan:
“Tidak apa-apa.”
Sekali.
Dua kali.
Sepuluh kali.
Pada suatu titik, masalahnya bukan lagi sekadar pembatalan rencana. Masalahnya adalah akumulasi perasaan yang tidak pernah disampaikan.
Menjadi baik berarti mampu mengatakan:
“Aku memahami kamu punya kesibukan, tetapi ketika rencana kita sering dibatalkan, aku merasa tidak diprioritaskan. Aku ingin kita mencari cara agar hal ini tidak terus terjadi.”
Itu adalah konflik.
Tetapi itu juga komunikasi yang sehat.
Hubungan yang matang bukan hubungan tanpa konflik.
Hubungan yang matang adalah hubungan yang mampu memperbaiki hubungan setelah konflik terjadi.
5. Menjadi baik memungkinkan kita memberikan kasih sayang tanpa kehilangan harga diri
Ada kecenderungan untuk menganggap pengorbanan sebagai bukti cinta.
Semakin banyak kita memberikan, semakin besar cinta kita.
Namun psikologi tidak sesederhana itu.
Pengorbanan bisa menjadi sesuatu yang positif ketika dilakukan secara sukarela dan seimbang. Tetapi pengorbanan yang terus-menerus karena takut kehilangan pasangan dapat menjadi sesuatu yang merusak diri.
Bayangkan seseorang yang selalu:
membatalkan rencana pribadi demi pasangan,
mengabaikan kebutuhannya,
meminjamkan uang meski sebenarnya tidak mampu,
menerima perlakuan buruk,
meminta maaf atas sesuatu yang bukan kesalahannya,
atau mengubah kepribadiannya agar sesuai dengan keinginan pasangan.
Dari luar, orang mungkin berkata:
“Wah, dia sangat sayang.”
Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah dia melakukan semua itu karena cinta atau karena takut?
Cinta dan ketakutan bisa menghasilkan perilaku yang terlihat sama, tetapi dampak psikologisnya berbeda.
Kasih sayang yang sehat memungkinkan kita memberikan sesuatu tanpa merasa bahwa identitas kita bergantung pada penerimaan pasangan.
Kita bisa mencintai dengan sangat dalam sambil tetap memiliki harga diri.
Kita bisa berkata:
“Aku mencintaimu, tetapi aku tidak bisa menerima perlakuan seperti ini.”
Kalimat tersebut bukan kontradiksi.
Justru itulah bentuk cinta yang memiliki batas.
6. Menjadi baik membuat hubungan lebih setara
Hubungan yang sehat bukan kompetisi tentang siapa yang paling banyak berkorban.
Bukan pula hubungan di mana satu orang selalu memberi dan orang lain selalu menerima.
Ketika seseorang terlalu fokus menyenangkan pasangan, keseimbangan hubungan dapat terganggu.
Orang yang selalu mengalah mungkin akhirnya merasa:
“Kenapa aku terus yang harus memahami?”
Sementara pasangan mungkin bahkan tidak menyadari bahwa ada masalah karena kebutuhan tersebut tidak pernah dikomunikasikan.
Inilah paradoks people-pleasing:
Seseorang mencoba menjaga hubungan dengan tidak mengungkapkan kebutuhannya, lalu pada akhirnya kecewa karena kebutuhannya tidak dipenuhi.
Pasangan tidak selalu bisa membaca pikiran kita.
Jika kita ingin hubungan yang setara, kebutuhan perlu dikomunikasikan.
Misalnya:
“Aku juga ingin kamu sesekali mengambil inisiatif.”
“Aku ingin keputusan ini kita buat bersama.”
“Aku membutuhkan waktu untuk diriku sendiri.”
“Aku ingin didengarkan sebelum kita mencari solusi.”
Menjadi baik berarti mempertimbangkan kebutuhan pasangan.
Tetapi hubungan yang sehat juga membutuhkan pasangan yang mempertimbangkan kebutuhan kita.
Kebaikan tidak seharusnya menjadi jalan satu arah.
7. Menjadi baik membantu kita membedakan empati dari tanggung jawab atas emosi pasangan
Empati adalah kemampuan memahami dan merespons perasaan orang lain.
Dalam hubungan romantis, empati sangat penting.
Ketika pasangan sedih, kita bisa mendengarkan.
Ketika pasangan takut, kita bisa memberikan dukungan.
Ketika pasangan kecewa, kita bisa mencoba memahami alasannya.
Namun ada batas penting antara berempati terhadap emosi seseorang dan merasa bertanggung jawab untuk menghilangkan semua emosi negatifnya.
Contohnya:
Pasangan sedang kecewa karena kita tidak bisa memenuhi permintaannya.
Kita dapat mengatakan:
“Aku mengerti kamu kecewa.”
Tetapi kita tidak harus mengatakan:
“Karena kamu kecewa, berarti aku harus mengubah keputusanku.”
Dua hal tersebut berbeda.
Kita bisa menerima emosi seseorang tanpa harus selalu menyetujui tuntutannya.
Ini merupakan keterampilan emosional yang penting dalam hubungan.
Pasangan berhak merasa kecewa.
Kita juga berhak memiliki keputusan sendiri.
Kedewasaan emosional muncul ketika dua hal tersebut dapat hidup berdampingan.
Dengan kata lain:
“Aku memahami perasaanmu” tidak selalu berarti “aku harus melakukan apa yang kamu inginkan.”
Kalimat tersebut sederhana, tetapi sangat penting.
8. Kebaikan yang autentik menciptakan hubungan yang lebih tahan lama
Pada akhirnya, hubungan yang sehat tidak dibangun hanya dari perasaan senang.
Perasaan romantis bisa berubah.
Ada masa ketika pasangan sangat menyenangkan untuk ditemui. Ada masa ketika pekerjaan, masalah keluarga, tekanan finansial, atau berbagai persoalan hidup membuat hubungan terasa lebih berat.
Di situlah kualitas karakter menjadi penting.
Apakah kita tetap saling menghormati?
Apakah kita mampu berbicara ketika ada masalah?
Apakah kita bisa meminta maaf ketika melakukan kesalahan?
Apakah kita mampu mendengarkan tanpa langsung defensif?
Apakah kita bisa mengatakan “tidak” tanpa menggunakan penolakan sebagai senjata?
Apakah kita bisa memberikan dukungan tanpa kehilangan diri sendiri?
Inilah bentuk kebaikan yang lebih dalam.
Kebaikan bukan sekadar bersikap manis.
Kebaikan adalah kombinasi antara empati dan kejujuran, kasih sayang dan batas, perhatian dan penghormatan terhadap diri sendiri.
Seseorang yang selalu menyenangkan mungkin membuat hubungan terasa nyaman hari ini.
Tetapi seseorang yang autentik, jujur, penuh perhatian, dan memiliki batas sehat membantu menciptakan hubungan yang dapat berkembang menghadapi perubahan.
Jadi, Haruskah Kita Berhenti Berusaha Menyenangkan Pasangan?
Tidak.
Membahagiakan pasangan tentu merupakan bagian yang indah dari hubungan.
Memberikan kejutan, melakukan hal-hal kecil yang disukai pasangan, mengalah sesekali, atau berusaha membuat pasangan tersenyum adalah bentuk kasih sayang yang sehat.
Yang perlu dibedakan adalah motivasi di baliknya.
Cobalah bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah aku melakukan ini karena aku memang ingin, atau karena aku takut jika tidak melakukannya?”
Pertanyaan tersebut dapat menjadi alat refleksi yang sederhana.
Jika jawabannya:
“Aku memang ingin melakukannya.”
Kemungkinan besar itu adalah bentuk kasih sayang yang diberikan secara sukarela.
Namun jika jawabannya:
“Aku takut dia marah.”
atau:
“Aku takut dia meninggalkan aku.”
atau:
“Aku takut dianggap egois.”
mungkin ada sesuatu yang perlu diperhatikan.
Menjadi pasangan yang baik tidak berarti menjadi pasangan yang selalu berkata “iya”.
Kadang-kadang pasangan yang baik justru mengatakan:
“Tidak.”
Tetapi mengatakannya dengan lembut.
Kadang-kadang pasangan yang baik mengatakan:
“Aku tidak setuju.”
Tetapi tetap menghormati pasangan.
Kadang-kadang pasangan yang baik berkata:
“Aku mencintaimu, tetapi aku tidak bisa melakukan itu.”
Dan kadang-kadang pasangan yang baik memilih untuk tidak menyelesaikan masalah pasangan karena memahami bahwa pasangan perlu belajar menyelesaikannya sendiri.
Kebaikan Bukan Berarti Mengorbankan Diri
Ada sebuah kesalahpahaman yang sering muncul dalam hubungan: bahwa semakin banyak kita mengorbankan diri, semakin baik kita sebagai pasangan.
Padahal, hubungan yang sehat tidak membutuhkan seseorang untuk menghilang demi mempertahankan hubungan.
Kita tetap membutuhkan:
identitas pribadi,
teman,
keluarga,
pekerjaan atau aktivitas bermakna,
waktu sendiri,
batas,
pendapat,
kebutuhan,
dan ruang untuk berkembang.
Mencintai seseorang bukan berarti menyerahkan seluruh diri kita kepada orang tersebut.
Hubungan yang sehat justru memungkinkan dua orang untuk tetap menjadi dirinya sendiri sambil membangun kehidupan bersama.
Karena itu, mungkin kita perlu mengubah definisi tentang “pasangan yang baik”.
Pasangan yang baik bukan orang yang selalu membuat pasangannya senang.
Pasangan yang baik adalah orang yang berusaha membuat hubungan menjadi tempat yang aman untuk jujur, bertumbuh, berbeda pendapat, memperbaiki kesalahan, dan tetap menjadi diri sendiri.
Penutup: Jangan Hanya Menjadi Orang yang Menyenangkan, Jadilah Orang yang Tulus
Dalam hubungan, menyenangkan pasangan memang bisa membuat suasana menjadi lebih mudah.
Tetapi hubungan jangka panjang membutuhkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kenyamanan.
Ia membutuhkan kejujuran.
Batas.
Empati.
Rasa hormat.
Tanggung jawab.
Dan keberanian untuk menjadi diri sendiri.
Karena terkadang, hal yang paling baik untuk hubungan bukanlah mengatakan apa yang ingin didengar pasangan.
Melainkan mengatakan apa yang benar dengan cara yang penuh kasih.
Menyenangkan membuat seseorang merasa nyaman untuk sementara.
Kebaikan yang autentik membantu seseorang merasa dihargai dalam jangka panjang.
Dan mungkin inilah salah satu pelajaran terpenting dalam hubungan:
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Prediksi Skor Viktoria Plzen vs Union SG di Liga Europa: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Susunan Pemain Manchester City vs Norwich: Maresca Rotasi Skuad
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin
Prediksi Skor Real Sociedad vs Bournemouth di Liga Europa: Txuri-urdin Bakal Kesulitan Redam Lawan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022