seseorang yang berusaha mengakhiri hubungan / foto: Magnific/stefamerpik
Masalahnya, mengetahui kapan harus bertahan dan kapan harus melepaskan bukanlah perkara sederhana.
Ketika sudah terlanjur mencintai seseorang, kita sering kali sulit melihat hubungan secara objektif. Kenangan indah membuat kita bertahan. Rasa takut sendirian membuat kita ragu. Harapan bahwa pasangan akan berubah membuat kita terus menunggu. Bahkan setelah berkali-kali terluka, kita masih bisa berkata kepada diri sendiri, "Mungkin keadaan akan membaik."
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (19/9), menurut psikologi, keputusan untuk mengakhiri hubungan sebaiknya tidak hanya didasarkan pada satu pertengkaran atau satu kejadian buruk. Yang lebih penting adalah melihat pola hubungan secara keseluruhan, termasuk bagaimana hubungan tersebut memengaruhi kesejahteraan emosional, rasa aman, harga diri, dan kehidupan sehari-hari.
Jika kamu sedang bertanya-tanya apakah hubunganmu masih layak dipertahankan, berikut delapan cara yang bisa membantu melihat situasinya dengan lebih jernih.
1. Perhatikan bagaimana perasaanmu secara konsisten, bukan hanya sesekali
Cobalah berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:
"Bagaimana perasaanku selama menjalani hubungan ini?"
Bukan hanya bagaimana perasaanmu setelah kencan yang menyenangkan atau setelah pasangan meminta maaf, tetapi bagaimana perasaanmu sebagian besar waktu.
Apakah kamu merasa dihargai, aman, didengarkan, dan diterima?
Atau justru lebih sering merasa cemas, takut mengecewakan pasangan, tidak cukup baik, kesepian, atau terkuras secara emosional?
Dalam psikologi, pengalaman emosional yang berulang dapat memberikan gambaran penting mengenai kualitas sebuah hubungan. Satu hari yang buruk tentu tidak berarti hubungan tersebut harus berakhir. Namun, jika perasaan negatif menjadi pola yang berlangsung lama dan tidak mengalami perubahan berarti, kondisi tersebut patut diperhatikan.
Misalnya, kamu mungkin masih mencintai pasanganmu, tetapi hampir setiap kali bertemu kamu merasa tegang. Kamu selalu berhati-hati dalam berbicara karena takut memicu pertengkaran. Kamu mulai menyembunyikan pendapat, kebutuhan, bahkan perasaanmu sendiri agar hubungan tetap tenang.
Jika hal tersebut berlangsung terus-menerus, pertanyaannya bukan lagi sekadar "Apakah aku masih mencintainya?"
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
"Apakah hubungan ini masih sehat untukku?"
Cinta dan kesehatan sebuah hubungan bukanlah hal yang selalu sama.
Seseorang bisa mencintai pasangannya sekaligus menyadari bahwa hubungan tersebut tidak lagi memberikan kondisi yang sehat bagi dirinya.
2. Lihat apakah masalah yang sama terus berulang tanpa perubahan
Setiap pasangan pasti memiliki konflik. Karena itu, keberadaan konflik saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa hubungan harus berakhir.
Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pasangan menghadapi konflik tersebut.
Apakah setelah bertengkar kalian mencoba memahami akar masalah dan membuat perubahan?
Atau masalah yang sama muncul berkali-kali dengan pola yang hampir identik?
Contohnya, pasangan berulang kali berjanji akan memperbaiki kebiasaan tertentu. Kamu sudah menyampaikan bahwa perilaku tersebut menyakitimu. Pasangan meminta maaf, keadaan membaik selama beberapa hari, kemudian semuanya kembali seperti sebelumnya.
Siklusnya menjadi:
masalah → pertengkaran → permintaan maaf → janji berubah → keadaan membaik sementara → masalah terulang kembali.
Jika siklus tersebut terjadi berulang kali, jangan hanya melihat kata-kata. Perhatikan perubahan nyata dalam perilaku.
Hubungan yang sehat bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan. Yang lebih penting adalah adanya kemampuan untuk belajar dari kesalahan dan memperbaiki perilaku.
Karena itu, salah satu pertanyaan yang bisa kamu gunakan adalah:
"Apakah masalah kami benar-benar diselesaikan, atau hanya ditunda sampai pertengkaran berikutnya?"
Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat memberikan perspektif yang lebih jelas.
3. Evaluasi apakah kamu masih bisa menjadi dirimu sendiri
Hubungan yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi seseorang untuk tetap menjadi dirinya sendiri.
Kamu tetap memiliki teman, keluarga, hobi, tujuan pribadi, pendapat, dan batasan.
Cobalah bertanya:
"Apakah aku masih menjadi diriku sendiri sejak menjalani hubungan ini?"
Mungkin pada awal hubungan kamu adalah orang yang aktif bertemu teman. Namun, perlahan kamu menjauh karena pasangan tidak menyukai teman-temanmu.
Mungkin sebelumnya kamu memiliki banyak aktivitas yang membuatmu bahagia, tetapi sekarang hampir seluruh waktumu harus menyesuaikan keinginan pasangan.
Atau mungkin kamu mulai mengubah cara berpakaian, berbicara, berteman, bahkan mengambil keputusan karena takut pasangan marah atau meninggalkanmu.
Tentu, kompromi adalah bagian dari hubungan. Kita memang perlu mempertimbangkan pasangan ketika membuat keputusan tertentu.
Namun, kompromi berbeda dengan kehilangan identitas.
Jika kamu merasa harus terus-menerus mengecilkan diri agar hubungan tetap berjalan, kondisi tersebut layak dievaluasi.
Hubungan seharusnya menjadi bagian dari kehidupanmu, bukan mengambil alih seluruh kehidupanmu.
4. Periksa apakah batasanmu dihormati
Setiap orang memiliki batasan pribadi.
Ada batasan mengenai cara berbicara, privasi, waktu pribadi, pertemanan, keuangan, tubuh, maupun berbagai aspek lain dalam kehidupan.
Hubungan yang sehat membutuhkan kemampuan kedua pihak untuk menghormati batasan tersebut.
Cobalah mengingat kembali ketika kamu mengatakan "tidak" kepada pasangan.
Apa yang terjadi?
Apakah pasangan menghargai keputusanmu?
Atau kamu justru dibuat merasa bersalah, diancam, dipaksa, diremehkan, atau terus didesak sampai akhirnya menyerah?
Perbedaan pendapat merupakan hal normal. Namun, seseorang tetap berhak memiliki batasan.
Kalimat seperti "Aku tidak nyaman kalau kamu berbicara seperti itu kepadaku" seharusnya dapat menjadi awal percakapan, bukan alasan untuk mempermalukan atau menghukum seseorang.
Jika batasan sudah disampaikan berulang kali tetapi terus diabaikan, masalahnya mungkin bukan lagi sekadar salah paham.
Hal tersebut menunjukkan adanya persoalan mengenai penghormatan terhadap kebutuhan dan otonomi masing-masing.
Dan jika hubungan melibatkan ancaman, intimidasi, kontrol yang ekstrem, kekerasan fisik, seksual, atau bentuk kekerasan lainnya, keselamatan perlu menjadi prioritas. Dalam kondisi seperti itu, mencari bantuan dari orang yang dipercaya atau tenaga profesional dapat menjadi langkah yang penting.
5. Bayangkan jika hubungan ini tidak berubah sama sekali
Ini adalah salah satu pertanyaan reflektif yang cukup kuat:
"Jika hubungan ini tetap persis seperti sekarang selama lima tahun ke depan, apakah aku masih ingin menjalaninya?"
Bayangkan tidak ada perubahan.
Pasangan tetap berperilaku seperti sekarang.
Pola komunikasi tetap sama.
Masalah yang sama tetap muncul.
Kamu tetap merasakan emosi yang sama.
Tidak ada janji perubahan yang menjadi kenyataan.
Kemudian tanyakan kepada dirimu sendiri:
"Apakah aku bersedia menjalani kehidupan seperti ini?"
Pertanyaan tersebut membantu memisahkan antara kenyataan dan harapan.
Kadang-kadang kita bertahan bukan karena hubungan yang sedang kita jalani, tetapi karena kita berharap hubungan tersebut suatu hari akan menjadi seperti yang kita inginkan.
Kita berpikir:
"Kalau dia berubah..."
"Kalau nanti dia lebih dewasa..."
"Kalau masalah pekerjaan sudah selesai..."
"Kalau dia sudah menyadari kesalahannya..."
Harapan tentu memiliki tempat dalam hubungan. Namun, keputusan penting sebaiknya juga mempertimbangkan perilaku yang benar-benar terjadi saat ini, bukan hanya versi pasangan yang kita harapkan di masa depan.
6. Perhatikan apakah kamu bertahan karena cinta atau karena takut
Tidak semua alasan untuk bertahan berasal dari cinta.
Kadang seseorang bertahan karena takut.
Takut kesepian.
Takut menyesal.
Takut tidak menemukan orang lain.
Takut menyakiti pasangan.
Takut menghadapi keluarga.
Takut memulai kehidupan dari awal.
Takut kehilangan kenangan.
Bahkan ada orang yang bertahan karena merasa sudah terlalu banyak menginvestasikan waktu dan energi dalam hubungan tersebut.
Cobalah menyelesaikan kalimat berikut dengan jujur:
"Aku bertahan karena..."
Kemudian tuliskan sebanyak mungkin jawaban yang muncul.
Setelah itu, lihat kembali jawaban tersebut.
Apakah sebagian besar berisi alasan seperti "aku masih mencintainya dan kami masih bisa menyelesaikan masalah"?
Atau justru lebih banyak berisi "aku takut sendirian", "aku takut menyesal", dan "aku tidak tahu harus mulai dari mana"?
Tidak ada jawaban yang harus membuatmu langsung mengambil keputusan.
Tujuan latihan ini adalah memahami motivasi yang sebenarnya berada di balik keputusanmu.
Karena bertahan karena cinta dan bertahan karena ketakutan dapat menghasilkan pengalaman yang sangat berbeda.
7. Tanyakan apakah hubungan ini masih memungkinkan adanya komunikasi yang sehat
Hubungan jangka panjang membutuhkan komunikasi.
Bukan berarti setiap percakapan harus berjalan sempurna. Pasangan tetap bisa salah memahami, marah, kecewa, atau membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.
Namun, ada perbedaan antara konflik yang masih dapat dibicarakan dan hubungan yang hampir tidak memiliki ruang untuk komunikasi yang sehat.
Perhatikan apa yang terjadi ketika kamu menyampaikan keluhan.
Apakah pasangan mencoba mendengarkan?
Apakah kamu bisa menjelaskan perasaan tanpa langsung diserang?
Apakah kalian dapat meminta maaf?
Apakah masing-masing bersedia bertanggung jawab atas kesalahan?
Apakah setelah konflik ada usaha untuk memperbaiki keadaan?
Atau setiap percakapan sulit selalu berakhir dengan saling menyalahkan?
Komunikasi yang sehat bukan berarti tidak ada konflik. Justru kemampuan untuk menghadapi konflik secara konstruktif adalah salah satu bagian penting dari hubungan.
Jika setiap upaya membicarakan masalah selalu berujung pada penghinaan, ancaman, manipulasi, atau pengabaian, kamu perlu melihat pola tersebut secara serius.
8. Bayangkan hidupmu tanpa hubungan tersebut—bukan untuk mencari pengganti, tetapi untuk memahami dirimu sendiri
Cara terakhir bukan berarti kamu harus membayangkan segera mendapatkan pasangan baru.
Justru sebaliknya.
Bayangkan untuk sementara bahwa hubungan tersebut tidak ada.
Kemudian tanyakan:
"Siapa diriku jika aku tidak lagi berada dalam hubungan ini?"
Apa yang ingin kamu lakukan?
Dengan siapa kamu ingin menghabiskan waktu?
Apa yang selama ini ingin kamu coba?
Bagian mana dari dirimu yang mungkin kembali muncul?
Apakah kamu merasa sedih?
Lega?
Takut?
Bingung?
Atau justru merasa memiliki ruang untuk bernapas?
Semua emosi tersebut dapat menjadi bahan refleksi.
Namun, jangan menganggap satu emosi sebagai bukti mutlak bahwa kamu harus mengakhiri hubungan. Perasaan lega, misalnya, dapat muncul karena kamu sedang membayangkan terbebas dari tekanan, tetapi perasaan takut juga bisa muncul karena perubahan memang menakutkan.
Gunakan latihan ini untuk memahami kebutuhanmu, bukan untuk memaksa dirimu mengambil keputusan tertentu.
Jangan Mengambil Keputusan Hanya Berdasarkan Satu Tanda
Salah satu kesalahan yang sering terjadi ketika seseorang mencari tanda-tanda hubungan harus berakhir adalah memperlakukan satu masalah sebagai bukti final.
Pasangan pernah lupa ulang tahun bukan berarti hubungan pasti tidak sehat.
Bertengkar bukan berarti hubungan harus berakhir.
Merasa bosan sesekali juga bukan berarti cinta telah hilang.
Sebaliknya, hubungan yang terlihat baik dari luar juga belum tentu terasa sehat bagi orang yang menjalaninya.
Karena itu, yang perlu diperhatikan adalah pola.
Apakah kamu secara konsisten merasa tidak aman?
Apakah kebutuhanmu terus diabaikan?
Apakah konflik tidak pernah benar-benar diselesaikan?
Apakah batasanmu terus dilanggar?
Apakah kamu semakin kehilangan dirimu sendiri?
Apakah sudah ada komunikasi dan usaha yang berulang kali dilakukan tetapi tidak menghasilkan perubahan?
Semakin banyak pola yang muncul secara konsisten, semakin penting untuk berhenti sejenak dan mengevaluasi hubungan secara serius.
Cobalah Membuat Dua Kolom
Jika pikiranmu masih sangat penuh, ambil selembar kertas.
Buat dua kolom:
"Realitas Hubungan Saat Ini" dan "Harapanku terhadap Hubungan Ini."
Kemudian tuliskan secara jujur.
Di kolom pertama, tuliskan apa yang benar-benar terjadi.
Misalnya:
Kami sering bertengkar mengenai masalah yang sama.
Aku merasa sulit menyampaikan pendapat.
Kami masih bisa berbicara dengan baik dalam situasi tertentu.
Pasangan bersedia meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
Masalah tertentu sudah mengalami perbaikan.
Aku merasa bahagia ketika menghabiskan waktu bersama.
Di kolom kedua, tuliskan harapanmu.
Misalnya:
Aku berharap dia menjadi lebih terbuka.
Aku berharap kami lebih jarang bertengkar.
Aku berharap dia lebih menghargai batasanku.
Aku berharap komunikasi kami membaik.
Kemudian lihat perbedaannya.
Latihan sederhana ini dapat membantu membedakan antara apa yang sedang terjadi dan apa yang kamu harapkan terjadi.
Mengakhiri Hubungan Bukan Berarti Hubungan Itu Selalu Gagal
Ada anggapan bahwa jika sebuah hubungan berakhir, berarti seluruh hubungan tersebut adalah sebuah kegagalan.
Padahal, tidak selalu demikian.
Sebuah hubungan dapat memberikan pengalaman berharga, kedewasaan, kenangan, dan pelajaran meskipun pada akhirnya kedua orang tersebut memilih jalan yang berbeda.
Tidak semua hubungan harus berlangsung selamanya agar memiliki arti.
Kadang-kadang, dua orang dapat saling menyayangi tetapi memiliki kebutuhan, nilai, tujuan hidup, atau cara menjalani hubungan yang terlalu berbeda.
Dan terkadang, seseorang baru menyadari setelah menjalani hubungan bahwa dirinya membutuhkan sesuatu yang berbeda.
Hal tersebut tidak otomatis menghapus semua hal baik yang pernah terjadi.
Jika Kamu Masih Ragu, Jangan Terburu-buru
Jika setelah melakukan berbagai refleksi kamu masih bingung, itu juga merupakan sesuatu yang wajar.
Keputusan mengenai hubungan jarang memiliki jawaban yang sederhana.
Kamu dapat memberi dirimu waktu untuk berpikir. Bicarakan perasaanmu dengan orang yang kamu percaya. Jika diperlukan, pertimbangkan berbicara dengan psikolog atau konselor agar kamu memiliki ruang yang lebih netral untuk memahami situasi.
Yang penting, jangan membuat keputusan hanya karena tekanan dari orang lain.
Temanmu mungkin mengatakan, "Putus saja."
Keluargamu mungkin berkata, "Bertahan saja."
Namun, merekalah yang melihat hubunganmu dari luar. Kamu yang menjalani pengalaman tersebut setiap hari.
Karena itu, gunakan masukan orang lain sebagai bahan pertimbangan, tetapi tetap lakukan refleksi terhadap pengalamanmu sendiri.
Pada Akhirnya, Pertanyaan Terpenting Adalah...
Mungkin pertanyaan terbesar bukan:
"Apakah aku masih mencintainya?"
Melainkan:
"Apakah hubungan ini memungkinkan kami berdua menjalani kehidupan yang sehat, aman, saling menghargai, dan tetap menjadi diri sendiri?"
Cinta memang penting.
Tetapi hubungan juga membutuhkan rasa aman, penghormatan, komunikasi, batasan yang sehat, tanggung jawab, dan kemauan untuk memperbaiki masalah.
Jika sebuah hubungan sedang mengalami masa sulit, masalah tersebut belum tentu berarti akhir. Banyak hubungan dapat berkembang ketika kedua orang bersedia melihat masalah dengan jujur dan melakukan perubahan nyata.
Namun, jika kamu sudah berulang kali mencoba memperbaiki keadaan dan pola yang menyakitkan tetap berlangsung, mungkin sudah waktunya berhenti hanya bertanya "Bagaimana caranya mempertahankan hubungan ini?"
Cobalah bertanya:
"Apa yang sebenarnya aku butuhkan agar dapat menjalani kehidupan yang sehat dan bermakna?"
Dari sana, keputusan apa pun yang akhirnya kamu ambil dapat didasarkan bukan hanya pada rasa takut kehilangan seseorang, tetapi juga pada pemahaman yang lebih jujur mengenai dirimu sendiri.
Karena mempertahankan hubungan adalah sebuah pilihan.
Dan melepaskannya juga merupakan sebuah pilihan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Groningen vs PEC Zwolle di Liga Belanda: Trots van het Noorden Menang Tipis di Kandang
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Liga Inggris: The Toffees Kunci 3 Poin di Kandang
Prediksi Skor Espanyol vs Elche di Liga Spanyol: Los Franjiverdes Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Liga Inggris: The Lilywhites Bakal Sulit Menang!
Prediksi Susunan Pemain Persebaya vs Garudayaksa FC: Risto Mitrevski Pantang Remehkan Tim Promosi
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022