Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 16 September 2026 | 03.59 WIB

7 Tips Bagi Orang Tua saat Anak Remaja Bertemu dengan Cinta Pertama Menurut Psikologi

seseorang yang berbicara dengan anaknya yang mulai remaja / foto: Magnific/Frolopiaton Palm

 

JawaPos.com - Masa remaja adalah periode ketika seorang anak mulai mengenal dirinya dengan cara yang berbeda. Ia mulai memiliki dunia sosial yang lebih luas, membangun identitas, mencari penerimaan dari teman sebaya, dan perlahan belajar memahami hubungan emosional dengan orang lain.

Salah satu pengalaman yang sering menjadi bagian penting dalam fase ini adalah cinta pertama.

Bagi orang tua, momen ketika anak mulai menyukai seseorang bisa menimbulkan banyak perasaan sekaligus. Ada rasa khawatir, takut anak terluka, takut prestasinya menurun, takut hubungan tersebut terlalu jauh, atau bahkan bingung karena anak yang dulu sangat terbuka kini mulai menyimpan cerita tentang kehidupan pribadinya.

Namun, dari perspektif psikologi perkembangan, ketertarikan romantis pada masa remaja bukanlah sesuatu yang otomatis harus dianggap sebagai masalah. Ketertarikan kepada orang lain dapat menjadi bagian dari proses belajar mengenai emosi, kedekatan, batasan diri, komunikasi, tanggung jawab, dan identitas.

Yang menjadi tantangan sebenarnya bukan sekadar "bagaimana agar anak tidak pacaran?", tetapi bagaimana orang tua dapat membantu anak menjalani pengalaman emosional tersebut dengan aman dan sehat.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (15/9), terdapat tujuh cara yang dapat dilakukan orang tua ketika anak remaja mulai mengenal cinta pertamanya.

1. Persiapkan Diri untuk Menerima bahwa Anak Mulai Memiliki Kehidupan Emosional Sendiri

Salah satu hal pertama yang perlu dipersiapkan orang tua adalah kesiapan emosional mereka sendiri.

Banyak orang tua merasa sulit menerima kenyataan bahwa anak yang masih mereka anggap kecil ternyata sudah mulai menyukai seseorang.

Reaksi spontan yang mungkin muncul antara lain:

"Kamu masih kecil."
"Jangan pacaran dulu."
"Fokus sekolah saja."
"Siapa anak itu?"
"Mama/Papa tidak suka kamu dekat-dekat dengannya."
"Kamu belum mengerti apa itu cinta."

Kekhawatiran tersebut sangat manusiawi. Orang tua memang memiliki naluri untuk melindungi anak.

Namun, psikologi perkembangan menunjukkan bahwa masa remaja merupakan periode ketika anak mulai membangun otonomi psikologis. Mereka perlahan belajar bahwa dirinya bukan sekadar bagian dari orang tua, tetapi individu dengan pikiran, perasaan, pilihan, dan hubungan sosialnya sendiri.

Karena itu, ketika anak mulai mengalami cinta pertama, orang tua sebenarnya sedang menghadapi sebuah perubahan besar dalam hubungan keluarga.

Anak mulai berkata secara tidak langsung:

"Aku punya perasaan yang mungkin tidak sama dengan perasaan Mama dan Papa."

Di sinilah orang tua perlu membedakan antara melindungi anak dan mengendalikan seluruh pengalaman emosional anak.

Jika orang tua langsung bereaksi dengan kemarahan atau larangan keras, anak dapat belajar bahwa membicarakan perasaan romantis adalah sesuatu yang berbahaya.

Akibatnya, anak mungkin tidak berhenti memiliki perasaan tersebut. Ia hanya berhenti menceritakannya kepada orang tua.

Ini merupakan perbedaan yang sangat penting.

Tujuan orang tua bukan membuat anak tidak pernah jatuh cinta. Tujuannya adalah memastikan bahwa ketika anak mengalami sesuatu yang baru dan membingungkan, orang tua tetap menjadi tempat yang aman untuk pulang dan bercerita.

Apa yang dapat dilakukan?

Sebelum berbicara dengan anak, orang tua dapat bertanya kepada diri sendiri:

Apa sebenarnya yang saya takutkan?
Apakah saya takut anak terluka?
Apakah saya takut kehilangan kendali?
Apakah saya memiliki pengalaman buruk tentang hubungan di masa lalu?
Apakah saya menganggap anak belum siap hanya karena saya masih melihatnya sebagai anak kecil?

Kesadaran terhadap emosi sendiri akan membantu orang tua merespons secara lebih tenang.

2. Jangan Menertawakan atau Meremehkan Cinta Pertama Anak

Bagi orang dewasa, cinta pertama seorang remaja mungkin terlihat sederhana.

Anak mungkin mengatakan:

"Aku suka dia."

Orang tua mungkin berpikir:

"Ah, paling cuma cinta monyet."

Namun, meskipun hubungan tersebut mungkin belum memiliki kedalaman seperti hubungan orang dewasa, perasaan yang dialami anak tetap nyata.

Remaja dapat merasakan kegembiraan, kecemasan, rasa cemburu, kerinduan, bahkan patah hati dengan intensitas yang sangat kuat.

Secara psikologis, kemampuan remaja dalam memahami dan mengatur emosi masih berkembang. Karena itu, pengalaman romantis pertama dapat terasa sangat besar dalam kehidupan mereka.

Ketika orang tua mengatakan:

"Ah, kamu masih kecil. Itu bukan cinta."

anak mungkin tidak merasa dibantu.

Sebaliknya, ia dapat menangkap pesan:

"Perasaanku tidak penting."

Jika hal ini berulang, anak mungkin menjadi enggan membicarakan kehidupan emosionalnya.

Lebih baik orang tua mengakui perasaannya tanpa harus langsung menyetujui semua keputusan anak.

Misalnya:

"Mama bisa mengerti kalau kamu sedang senang karena ada seseorang yang kamu sukai."

Atau:

"Pasti rasanya menyenangkan sekaligus bikin deg-degan ketika mulai menyukai seseorang."

Kalimat seperti ini tidak berarti orang tua sedang mendorong anak untuk berpacaran.

Orang tua hanya menunjukkan bahwa perasaan anak boleh dibicarakan.

Dan justru karena perasaan tersebut boleh dibicarakan, orang tua memiliki kesempatan untuk mengajarkan cara mengelolanya.

3. Bangun Komunikasi Sebelum Masalah Muncul

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan orang tua adalah baru mulai membicarakan hubungan romantis ketika mereka mengetahui anak sudah memiliki pacar.

Padahal, komunikasi mengenai hubungan sebaiknya dibangun sebelum anak berada dalam situasi yang sulit.

Jika sejak kecil anak sudah terbiasa membicarakan perasaan, pertemanan, konflik, batasan tubuh, dan rasa tidak nyaman, pembicaraan mengenai cinta pertama akan terasa lebih natural.

Orang tua tidak perlu membuat percakapan tersebut seperti seminar.

Percakapan sederhana sering kali lebih efektif.

Misalnya saat sedang berkendara:

"Menurut kamu, kenapa orang bisa suka sama seseorang?"

Atau ketika menonton film bersama:

"Kalau menurut kamu, hubungan yang sehat itu seperti apa?"

Pertanyaan seperti ini membuka ruang bagi anak untuk berpikir.

Orang tua juga dapat bertanya:

"Kalau suatu hari kamu suka sama seseorang, hal apa yang menurut kamu penting dalam hubungan?"

Pertanyaan tersebut tidak mengharuskan anak mengaku sedang menyukai seseorang.

Yang dibangun adalah kebiasaan berdialog.

Dalam psikologi keluarga, komunikasi yang terbuka dan responsif dapat membantu anak merasa bahwa orang tua merupakan sumber dukungan ketika menghadapi masalah.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

"Kamu punya pacar?"

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

"Kalau kamu sedang punya masalah dengan seseorang, kamu tahu bisa cerita ke siapa?"

4. Ajarkan Anak Mengenali Ciri Hubungan yang Sehat

Cinta pertama merupakan kesempatan penting untuk mengajarkan anak mengenai hubungan yang sehat.

Daripada hanya mengatakan:

"Jangan pacaran."

orang tua dapat membantu anak memahami:

"Kalau kamu dekat dengan seseorang, seperti apa hubungan yang baik?"

Remaja perlu memahami bahwa rasa suka tidak otomatis membuat semua perilaku dalam hubungan menjadi benar.

Hubungan yang sehat antara lain ditandai dengan:

Saling menghargai

Tidak merendahkan, mempermalukan, atau menghina pasangan.

Ada batasan pribadi

Setiap orang memiliki hak untuk mengatakan "tidak" terhadap sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.

Tidak ada paksaan

Rasa sayang tidak boleh digunakan untuk memaksa seseorang melakukan sesuatu.

Tidak mengontrol secara berlebihan

Misalnya memaksa mengetahui setiap kata sandi, melarang berteman dengan orang tertentu, atau menuntut balasan pesan setiap saat.

Tidak menggunakan ancaman

Kalimat seperti "kalau kamu sayang aku, kamu harus..." perlu menjadi tanda bahaya bagi remaja.

Tetap memiliki kehidupan sendiri

Hubungan romantis seharusnya tidak membuat anak kehilangan seluruh hubungan dengan keluarga, teman, sekolah, kegiatan, dan minatnya.

Ini adalah kesempatan bagi orang tua untuk mengajarkan sebuah prinsip penting:

Cinta bukan hanya tentang seberapa kuat perasaan kita, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain.

5. Bicarakan Batasan, Privasi, dan Keamanan Digital

Cinta pertama pada zaman sekarang tidak hanya terjadi melalui pertemuan langsung.

Sebagian besar hubungan remaja juga berlangsung melalui ponsel.

Chat, media sosial, foto, video, panggilan video, dan berbagai bentuk komunikasi digital dapat menjadi bagian dari hubungan romantis mereka.

Karena itu, orang tua perlu membicarakan batasan digital.

Anak perlu memahami bahwa:

tidak semua foto harus dibagikan;
pesan pribadi dapat disebarkan oleh orang lain;
kata sandi adalah informasi pribadi;
seseorang yang mencintai kita tidak otomatis berhak mengetahui semua hal tentang kita;
tekanan untuk mengirim foto pribadi adalah tanda yang perlu diwaspadai;
ancaman atau pemerasan digital harus segera dilaporkan kepada orang dewasa yang dipercaya.

Namun, pembicaraan ini sebaiknya tidak dilakukan dengan nada menakut-nakuti.

Daripada berkata:

"Jangan pernah kirim apa-apa ke pacarmu!"

orang tua dapat mengatakan:

"Di internet, sesuatu yang kita kirim bisa sulit dikendalikan setelah berada di tangan orang lain. Jadi, penting untuk berpikir sebelum mengirim sesuatu."

Untuk anak yang masih di bawah umur, pembicaraan tentang keamanan digital juga perlu disesuaikan dengan usia dan tingkat kematangannya.

Prinsip utamanya adalah membangun kemampuan anak untuk menjaga dirinya, bukan hanya membuat anak takut kepada internet.

6. Tetap Berikan Batasan yang Jelas tanpa Memutus Hubungan

Menjadi orang tua yang terbuka bukan berarti membiarkan anak melakukan apa saja.

Justru salah satu bentuk kasih sayang adalah memberikan batasan yang jelas dan konsisten.

Anak remaja masih membutuhkan struktur.

Misalnya, keluarga dapat memiliki aturan mengenai:

waktu belajar;
jam pulang;
tempat bertemu;
aktivitas yang boleh dilakukan;
penggunaan ponsel;
keamanan saat bepergian;
siapa orang dewasa yang dapat dihubungi ketika terjadi masalah.

Yang perlu diperhatikan adalah cara menetapkan aturan tersebut.

Batasan akan lebih mudah diterima ketika anak memahami alasan di balik aturan.

Misalnya:

"Papa dan Mama tidak melarang kamu berteman atau menyukai seseorang. Tetapi kita punya aturan soal jam pulang karena keselamatan kamu tetap menjadi tanggung jawab kami."

Pesan ini berbeda dengan:

"Karena kamu masih anak-anak, kamu tidak boleh melakukan apa pun."

Yang pertama memberikan batasan sekaligus mengakui pertumbuhan anak.

Yang kedua dapat membuat anak merasa tidak dipercaya.

Orang tua juga dapat melibatkan anak dalam membuat aturan.

Misalnya:

"Menurut kamu, aturan seperti apa yang masuk akal kalau kamu ingin bertemu temanmu setelah sekolah?"

Dengan cara ini, anak belajar bahwa kebebasan selalu berjalan bersama tanggung jawab.

7. Persiapkan Diri Menghadapi Kemungkinan Patah Hati

Ada satu hal yang sering dilupakan orang tua ketika berbicara mengenai cinta pertama:

anak mungkin akan patah hati.

Hubungan pertama tidak selalu bertahan.

Anak bisa ditolak.

Bisa ditinggalkan.

Bisa bertengkar.

Bisa mengalami kecemburuan.

Bisa menyadari bahwa orang yang disukainya ternyata tidak memiliki perasaan yang sama.

Dan sebagai orang tua, naluri pertama mungkin adalah segera memperbaiki keadaan.

"Sudah, lupakan saja."

"Dia bukan orang yang tepat."

"Masih banyak orang lain."

"Makanya jangan pacaran."

Namun, patah hati juga merupakan pengalaman belajar.

Tentu saja, jika terdapat tanda bahaya serius, seperti kekerasan, ancaman, pemaksaan, manipulasi berat, eksploitasi, atau risiko keselamatan, orang tua perlu turun tangan.

Tetapi ketika yang terjadi adalah kekecewaan romantis yang normal, anak mungkin justru membutuhkan pendampingan, bukan ceramah.

Orang tua dapat mengatakan:

"Mama tahu kamu sedang sedih. Kamu tidak harus langsung merasa baik-baik saja."

Atau:

"Kalau kamu ingin cerita, Mama siap mendengarkan. Kalau kamu belum mau cerita sekarang juga tidak apa-apa."

Kalimat seperti ini mengajarkan bahwa emosi tidak harus segera dihilangkan.

Anak belajar bahwa sedih adalah sesuatu yang dapat dilewati.

Ia belajar bahwa kehilangan tidak berarti dirinya tidak berharga.

Dan yang paling penting, ia belajar bahwa ketika hatinya terluka, ia tidak sendirian.

Mengapa Orang Tua Tidak Perlu Panik Ketika Anak Mengenal Cinta Pertama?

Cinta pertama sering membuat orang tua merasa bahwa anak mereka tiba-tiba tumbuh terlalu cepat.

Kemarin anak masih meminta ditemani tidur.

Sekarang ia mulai sibuk dengan seseorang yang membuatnya tersenyum ketika melihat ponsel.

Perubahan tersebut memang dapat terasa mengejutkan.

Namun, perkembangan romantis merupakan salah satu bagian dari perjalanan menuju kedewasaan.

Yang perlu diperhatikan bukan sekadar apakah anak menyukai seseorang, tetapi bagaimana ia menjalani hubungan tersebut.

Orang tua dapat menggunakan beberapa pertanyaan berikut sebagai panduan:

Apakah anak tetap menjalankan tanggung jawab sehari-hari?
Apakah ia masih memiliki hubungan yang baik dengan keluarga dan teman?
Apakah ia merasa aman dalam hubungan tersebut?
Apakah ia mampu mengatakan "tidak"?
Apakah ia menghargai batasan orang lain?
Apakah orang yang dekat dengannya menghargai batasannya?
Apakah hubungan tersebut membuatnya berkembang atau justru membuatnya semakin terisolasi?
Apakah terdapat tanda kontrol, ancaman, manipulasi, atau kekerasan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih berguna daripada hanya bertanya:

"Kamu masih pacaran?"

Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari Orang Tua

Ada beberapa respons yang justru dapat membuat hubungan orang tua dan anak menjadi semakin jauh.

1. Mengolok-olok perasaan anak

"Cinta monyet begitu saja kok sampai nangis."

Bagi anak, hal tersebut bisa terasa sangat menyakitkan.

2. Menginterogasi

Pertanyaan bertubi-tubi dapat membuat anak merasa sedang diperiksa, bukan didengarkan.

3. Langsung menuduh pasangan anak

Jika orang tua belum memiliki informasi yang cukup, penilaian yang terlalu cepat dapat membuat anak bersikap defensif.

4. Mengancam

Ancaman seperti menyita semua barang atau melarang anak keluar rumah mungkin membuat anak patuh sementara, tetapi belum tentu membuatnya belajar mengambil keputusan yang aman.

5. Membaca semua percakapan secara diam-diam tanpa alasan keselamatan yang jelas

Privasi tetap menjadi bagian dari perkembangan anak. Pengawasan perlu disesuaikan dengan usia, risiko, dan tingkat kepercayaan.

6. Menganggap prestasi akademik sebagai satu-satunya ukuran

Anak tetap membutuhkan ruang untuk belajar tentang hubungan sosial dan emosional.

Bagaimana Jika Orang Tua Tidak Menyukai Orang yang Disukai Anak?

Ini merupakan situasi yang cukup umum.

Orang tua mungkin melihat sesuatu yang tidak dilihat anak.

Misalnya, orang tua melihat bahwa seseorang terlalu mengontrol, tidak menghormati batasan, atau memberikan pengaruh buruk.

Dalam situasi seperti ini, pendekatan yang lebih efektif adalah mengajak anak berpikir, bukan sekadar memberikan vonis.

Daripada:

"Dia anak nakal. Jangan berteman lagi."

cobalah:

"Mama melihat kamu sering terlihat sedih setelah berbicara dengannya. Menurut kamu, apa yang terjadi?"

Atau:

"Kalau seseorang benar-benar menyayangi kita, menurut kamu apakah dia boleh memaksa kita melakukan sesuatu?"

Dengan pertanyaan seperti itu, anak diajak menggunakan penilaiannya sendiri.

Tentu, jika terdapat ancaman nyata terhadap keselamatan anak, orang tua tidak harus bersikap pasif. Perlindungan tetap menjadi prioritas.

Namun dalam situasi yang tidak membahayakan, hubungan yang kuat antara orang tua dan anak sering kali menjadi alat perlindungan yang sangat penting.

Pada Akhirnya, Anak Tidak Membutuhkan Orang Tua yang Sempurna

Tidak ada orang tua yang selalu memberikan respons sempurna.

Ada kalanya orang tua terlalu khawatir.

Ada kalanya suara meninggi.

Ada kalanya orang tua salah memahami situasi.

Yang penting adalah kemampuan untuk memperbaiki hubungan setelahnya.

Orang tua dapat mengatakan:

"Tadi Mama terlalu keras. Mama sebenarnya khawatir karena sayang sama kamu. Kalau kamu mau, kita bisa bicara lagi dengan lebih tenang."

Kalimat sederhana seperti ini memberikan contoh bahwa dalam sebuah hubungan, seseorang boleh mengakui kesalahan dan memperbaikinya.

Dan mungkin inilah pelajaran terbesar yang dapat diberikan orang tua ketika anak mengenal cinta pertama:

bukan bagaimana caranya agar anak tidak pernah terluka, tetapi bagaimana membantunya mengenali dirinya, menjaga batasannya, menghargai orang lain, dan mengetahui bahwa ia selalu memiliki tempat yang aman untuk kembali.

Cinta pertama mungkin hanya menjadi satu bab kecil dalam kehidupan seorang anak.

Namun, cara orang tua mendampingi pengalaman tersebut dapat meninggalkan pelajaran yang jauh lebih panjang.

Ketika anak belajar bahwa cinta tidak berarti kehilangan diri sendiri, bahwa kedekatan harus disertai rasa hormat, bahwa "tidak" harus dihargai, dan bahwa patah hati bukan akhir dari dunia, ia sedang membangun fondasi untuk hubungan yang lebih sehat di masa depan.

Dan ketika anak tahu bahwa orang tuanya dapat mendengarkan tanpa langsung menghakimi, ia memiliki sesuatu yang sangat berharga:

rumah sebagai tempat untuk kembali ketika dunia emosinya terasa terlalu rumit.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore