Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 24 Juli 2026 | 22.13 WIB

Jika Anda Merasa Anak Remaja Bermasalah dengan Penggunaan Media Sosial, Coba Lakukan 7 Perilaku Ini Menurut Psikologi

seseorang yang merasa anaknya bermasalah dengan penggunaan media sosial / foto: Magnific/DC Studio

 

JawaPos.com - Di era digital, media sosial telah menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan remaja. Platform seperti Instagram, TikTok, YouTube, hingga X memungkinkan mereka berkomunikasi, mencari hiburan, belajar, bahkan membangun identitas diri. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, penggunaan media sosial yang berlebihan juga dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti kecemasan, sulit berkonsentrasi, gangguan tidur, rendahnya rasa percaya diri, hingga kecanduan digital.
 
Banyak orang tua merasa khawatir ketika melihat anak remajanya menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar ponsel. Sayangnya, respons yang paling sering dilakukan adalah langsung memarahi, menyita ponsel, atau melarang penggunaan media sosial secara total. Menurut psikologi perkembangan, pendekatan seperti ini justru sering memicu konflik dan membuat anak semakin menutup diri.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan?

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (24/7), terdapat tujuh perilaku yang disarankan berdasarkan prinsip-prinsip psikologi agar orang tua dapat membantu remaja menggunakan media sosial dengan lebih sehat.

1. Bangun Komunikasi yang Terbuka, Bukan Menghakimi

Langkah pertama adalah menciptakan suasana komunikasi yang nyaman. Remaja cenderung lebih mau bercerita ketika mereka merasa didengarkan, bukan dihakimi.

Daripada berkata:

"Kamu main HP terus, malas sekali!"

Cobalah mengatakan:

"Ayah atau Ibu melihat akhir-akhir ini kamu sering menggunakan media sosial. Ada hal yang sedang kamu sukai atau sedang kamu pikirkan?"

Dalam psikologi, pendekatan ini disebut active listening atau mendengarkan secara aktif. Ketika anak merasa aman secara emosional, mereka lebih mudah mengungkapkan alasan di balik perilakunya.

2. Cari Tahu Penyebab, Bukan Hanya Gejalanya

Sering kali media sosial hanyalah gejala, bukan akar masalah.

Remaja mungkin menggunakan media sosial karena:

Merasa kesepian.
Sedang mengalami stres di sekolah.
Mencari pengakuan dari teman sebaya.
Menghindari masalah di rumah.
Mengalami kecemasan atau tekanan emosional.

Daripada hanya fokus pada durasi penggunaan ponsel, cobalah memahami kebutuhan emosional yang sedang mereka rasakan. Dengan mengetahui penyebabnya, solusi yang diberikan akan jauh lebih efektif.

3. Jadilah Contoh dalam Menggunakan Gadget

Psikologi sosial menjelaskan bahwa anak belajar melalui proses observational learning, yaitu meniru perilaku orang-orang terdekatnya.

Jika orang tua terus-menerus memegang ponsel saat makan, berbincang, atau berkumpul bersama keluarga, anak akan menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang normal.

Karena itu, sebelum meminta anak mengurangi penggunaan media sosial, orang tua juga perlu menunjukkan kebiasaan digital yang sehat, seperti:

Tidak bermain ponsel saat makan bersama.
Menyisihkan waktu khusus tanpa gadget.
Lebih banyak melakukan percakapan langsung.

Keteladanan sering kali lebih efektif daripada nasihat.

4. Buat Aturan Bersama, Bukan Larangan Sepihak

Remaja umumnya ingin dihargai sebagai individu yang mulai mandiri. Ketika aturan dibuat secara sepihak, mereka cenderung melawan.

Sebaliknya, ajak mereka berdiskusi mengenai aturan penggunaan media sosial, misalnya:

Tidak menggunakan ponsel satu jam sebelum tidur.
Tidak membuka media sosial saat belajar.
Membatasi waktu penggunaan harian.
Menyepakati waktu bebas gadget bersama keluarga.

Ketika anak ikut menentukan aturan, mereka biasanya memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar untuk mematuhinya.

5. Dorong Aktivitas yang Memberikan Kepuasan di Dunia Nyata

Media sosial mampu memberikan kepuasan instan melalui "like", komentar, atau video pendek yang terus berganti. Agar ketergantungan berkurang, remaja perlu memiliki pengalaman positif di dunia nyata.

Dorong mereka untuk:

Berolahraga.
Mengikuti komunitas.
Belajar musik.
Menggambar.
Memasak.
Berkebun.
Menjadi relawan.
Mengembangkan keterampilan baru.

Aktivitas semacam ini membantu membangun rasa percaya diri, meningkatkan kemampuan sosial, dan memberikan kebahagiaan yang lebih bertahan lama dibandingkan validasi di media sosial.

6. Ajarkan Literasi Digital dan Berpikir Kritis

Tidak semua yang muncul di media sosial mencerminkan kenyataan. Banyak foto telah diedit, video dipilih dengan cermat, dan kehidupan yang terlihat sempurna sering kali hanya menampilkan sisi terbaik seseorang.

Remaja perlu memahami bahwa:

Tidak semua informasi di internet benar.
Popularitas tidak selalu mencerminkan nilai seseorang.
Jumlah pengikut bukan ukuran keberhasilan.
Konten viral belum tentu bermanfaat.

Kemampuan berpikir kritis akan membantu mereka lebih bijak dalam mengonsumsi informasi dan mengurangi kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain.

7. Perhatikan Tanda-Tanda Masalah yang Lebih Serius

Jika penggunaan media sosial mulai menyebabkan perubahan perilaku yang signifikan, orang tua perlu memberikan perhatian lebih.

Beberapa tanda yang patut diwaspadai antara lain:

Prestasi sekolah menurun drastis.
Sulit tidur atau sering begadang.
Menarik diri dari keluarga dan teman.
Mudah marah ketika akses internet dibatasi.
Kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai.
Menunjukkan gejala depresi atau kecemasan.

Apabila kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama dan mengganggu kehidupan sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog merupakan langkah yang bijaksana. Penanganan sejak dini dapat membantu mencegah masalah berkembang menjadi lebih serius.

Kesimpulan

Media sosial bukanlah musuh yang harus dijauhkan sepenuhnya dari kehidupan remaja. Yang terpenting adalah bagaimana mereka belajar menggunakannya secara sehat, seimbang, dan bertanggung jawab.

Sebagai orang tua, fokuslah pada hubungan yang hangat, komunikasi yang terbuka, serta pemberian contoh yang baik. Ketika anak merasa didukung dan dipahami, mereka akan lebih mudah menerima arahan dibandingkan jika hanya diberi larangan atau hukuman.

Pada akhirnya, tujuan utama bukan sekadar mengurangi waktu layar, tetapi membantu remaja tumbuh menjadi pribadi yang mampu mengendalikan teknologi, bukan dikendalikan oleh teknologi.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore