Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 20 Juli 2026 | 03.56 WIB

7 Perilaku Orang Tua yang Tanpa Disadari Membuat Anak Remaja Membenci Mereka Menurut Psikologi

seseorang yang membuat dirinya dibenci anak remaja / foto: Magnific/New Africa

 

JawaPos.com - Masa remaja adalah fase yang penuh dengan perubahan. Pada periode ini, anak mulai mencari jati diri, mengembangkan kemandirian, dan membangun identitas pribadi. Tidak mengherankan jika hubungan antara orang tua dan anak remaja sering mengalami pasang surut.

Namun, dalam banyak kasus, renggangnya hubungan bukan hanya disebabkan oleh sikap remaja yang sedang mencari kebebasan. Menurut berbagai penelitian psikologi perkembangan, beberapa perilaku orang tua justru tanpa disadari menjadi pemicu munculnya rasa kecewa, marah, bahkan kebencian pada anak.

Perasaan tersebut biasanya tidak muncul secara tiba-tiba. Ia terbentuk dari pengalaman yang berulang, ketika anak merasa tidak didengar, tidak dihargai, atau tidak diterima apa adanya.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (19/7), terdapat tujuh perilaku orang tua yang menurut psikologi dapat membuat anak remaja menjauh hingga menyimpan rasa benci terhadap orang tuanya.

1. Terlalu Mengontrol Semua Aspek Kehidupan Anak

Banyak orang tua percaya bahwa mengontrol setiap keputusan anak adalah bentuk kasih sayang. Padahal, psikologi menunjukkan bahwa remaja memiliki kebutuhan besar untuk belajar mengambil keputusan sendiri.

Ketika orang tua selalu menentukan jurusan sekolah, memilih teman, mengatur hobi, bahkan menentukan cara berpakaian, anak akan merasa kehilangan hak atas hidupnya sendiri.

Akibatnya, mereka mulai melihat orang tua sebagai penghalang kebebasan, bukan sebagai tempat berlindung.

Dalam teori Self-Determination Theory, manusia membutuhkan tiga kebutuhan dasar, yaitu otonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Jika kebutuhan akan otonomi terus ditekan, motivasi intrinsik dan kedekatan emosional akan menurun.

Yang sebaiknya dilakukan:
Berikan batasan yang sehat, tetapi libatkan anak dalam pengambilan keputusan sehingga mereka merasa dipercaya.

2. Sering Membandingkan Anak dengan Orang Lain

Kalimat seperti:

"Lihat kakakmu lebih pintar."
"Anak tetangga sudah juara."
"Sepupumu sudah diterima di universitas favorit."

Mungkin terdengar sebagai motivasi bagi sebagian orang tua. Namun, bagi remaja, kalimat seperti ini sering kali melukai harga diri.

Menurut psikologi, perbandingan sosial yang dilakukan terus-menerus dapat menimbulkan rasa rendah diri, kecemasan, hingga keyakinan bahwa dirinya tidak pernah cukup baik.

Yang paling menyakitkan bukanlah dibandingkan, tetapi merasa bahwa cinta orang tua bergantung pada prestasi.

Dalam jangka panjang, anak bisa kehilangan kedekatan emosional karena merasa tidak pernah dihargai sebagai dirinya sendiri.

3. Tidak Mau Mendengarkan Perasaan Anak

Sebagian orang tua terbiasa langsung memberikan nasihat setiap kali anak bercerita.

Contohnya:

"Ayah dulu lebih susah."

"Itu masalah kecil."

"Kamu terlalu lebay."

Kalimat-kalimat tersebut membuat anak merasa emosinya dianggap tidak penting.

Psikologi menyebut kondisi ini sebagai emotional invalidation, yaitu ketika perasaan seseorang dianggap salah atau tidak layak dirasakan.

Akibatnya, anak berhenti terbuka kepada orang tua.

Mereka lebih memilih memendam masalah atau mencari orang lain yang dianggap mampu memahami dirinya.

Hubungan pun perlahan menjadi semakin jauh.

4. Memberikan Kasih Sayang yang Bersyarat

Ada orang tua yang hanya menunjukkan kebanggaan ketika anak memperoleh nilai tinggi, memenangkan lomba, atau memenuhi harapan keluarga.

Sebaliknya, ketika gagal, anak justru mendapat kritik, hukuman, atau bahkan diabaikan.

Psikologi menyebut kondisi ini sebagai conditional love atau kasih sayang bersyarat.

Anak akhirnya belajar bahwa dirinya hanya layak dicintai ketika berhasil.

Pola ini dapat memicu kecemasan, perfeksionisme, bahkan rasa benci karena anak merasa diterima bukan sebagai manusia, melainkan sebagai pencapai prestasi.

Kasih sayang yang sehat seharusnya tetap diberikan meskipun anak sedang mengalami kegagalan.

5. Sering Mempermalukan Anak di Depan Orang Lain

Bagi remaja, harga diri memiliki arti yang sangat besar.

Ketika orang tua menertawakan kesalahan anak di depan keluarga, teman, atau media sosial, rasa malu yang muncul bisa sangat mendalam.

Mungkin bagi orang tua itu hanya candaan.

Namun, bagi anak, pengalaman tersebut dapat menjadi luka emosional yang terus diingat selama bertahun-tahun.

Psikologi menunjukkan bahwa penghinaan di depan publik dapat merusak kepercayaan antara anak dan orang tua.

Akibatnya, anak menjadi enggan terbuka karena takut dipermalukan kembali.

6. Tidak Menjadi Contoh yang Baik

Anak belajar lebih banyak dari perilaku dibandingkan nasihat.

Orang tua yang meminta anak jujur tetapi sering berbohong, melarang anak berteriak tetapi mudah marah, atau mengajarkan sopan santun tetapi sering menghina orang lain akan kehilangan kredibilitas di mata remaja.

Dalam teori Social Learning yang dikembangkan Albert Bandura, anak belajar melalui proses mengamati dan meniru perilaku orang-orang di sekitarnya.

Ketika terdapat perbedaan antara ucapan dan tindakan, anak mulai mempertanyakan integritas orang tua.

Rasa hormat pun dapat berubah menjadi kekecewaan.

7. Tidak Pernah Mengakui Kesalahan dan Selalu Merasa Benar

Sebagian orang tua percaya bahwa meminta maaf kepada anak akan mengurangi wibawa.

Padahal, psikologi justru menunjukkan sebaliknya.

Orang tua yang berani mengakui kesalahan mengajarkan kerendahan hati, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap hubungan.

Sebaliknya, jika setiap konflik selalu berakhir dengan kalimat:

"Pokoknya Ayah benar."
"Karena Ibu orang tua."
"Kamu harus nurut."

anak akan merasa suaranya tidak pernah dihargai.

Lama-kelamaan mereka berhenti berdiskusi dan memilih menjaga jarak secara emosional.

Dalam banyak kasus, hubungan yang tampak baik dari luar sebenarnya dipenuhi luka yang tidak pernah diselesaikan.

Mengapa Perilaku Ini Bisa Memunculkan Kebencian?

Perasaan benci pada orang tua biasanya bukan muncul karena satu kesalahan besar, melainkan akumulasi dari luka-luka kecil yang terjadi berulang kali.

Ketika anak terus merasa:

Tidak didengar.
Tidak dipercaya.
Tidak dihargai.
Tidak diterima apa adanya.

Mereka mulai membangun tembok emosional sebagai bentuk perlindungan diri.

Bahkan setelah dewasa, sebagian orang masih membawa luka masa remaja yang memengaruhi hubungan dengan pasangan, teman, maupun anak-anak mereka sendiri.

Bagaimana Orang Tua Dapat Memperbaiki Hubungan?

Kabar baiknya, hubungan yang renggang masih bisa diperbaiki selama kedua belah pihak memiliki keinginan untuk saling memahami.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:

Belajar mendengarkan tanpa langsung menghakimi.
Menghargai pendapat anak meskipun berbeda.
Memberikan ruang bagi anak untuk belajar dari kesalahan.
Mengakui kesalahan dan meminta maaf jika memang keliru.
Menunjukkan kasih sayang secara konsisten, bukan hanya saat anak berprestasi.
Menghabiskan waktu berkualitas bersama tanpa gangguan gawai.
Menjadi teladan melalui tindakan sehari-hari.

Hubungan yang sehat dibangun bukan dari kesempurnaan, melainkan dari rasa saling menghormati, komunikasi yang terbuka, dan kepercayaan yang terus dipelihara.

Penutup

Menjadi orang tua bukanlah tugas yang mudah. Tidak ada ayah atau ibu yang sempurna, dan setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dalam mendidik anak. Yang terpenting bukanlah menghindari semua kesalahan, melainkan memiliki kerendahan hati untuk belajar, memperbaiki diri, dan membangun kembali kedekatan dengan anak.

Menurut psikologi, remaja tidak membutuhkan orang tua yang selalu benar. Mereka membutuhkan sosok yang mau mendengar, memahami, menghargai perasaan mereka, dan hadir sebagai tempat yang aman untuk pulang. Ketika hubungan dipenuhi rasa hormat, empati, dan kasih sayang tanpa syarat, ikatan antara orang tua dan anak akan tetap kuat, bahkan ketika mereka telah tumbuh dewasa.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore