Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 16 September 2026 | 03.30 WIB

Jika Kamu Ingin Membangun Batasan yang Baik dengan Orang Lain, Lakukan 7 Cara Sederhana Ini

seseorang yang berusaha membangun batasan dengan baik / foto: Magnific/magnific

 

JawaPos.com - Banyak orang mengira bahwa menjadi orang baik berarti selalu tersedia untuk orang lain, selalu mengatakan “iya”, selalu membantu ketika diminta, dan sebisa mungkin menghindari konflik.

Padahal, dalam hubungan yang sehat, kebaikan tidak berarti mengorbankan diri sendiri tanpa batas.

Ada kalanya kamu perlu berkata tidak. Ada kalanya kamu membutuhkan waktu sendiri. Ada pula saat ketika kamu harus menjelaskan kepada orang lain bahwa ada hal-hal tertentu yang tidak nyaman untuk kamu terima.

Inilah yang dalam psikologi sering dibahas sebagai personal boundaries atau batasan pribadi.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (15/9), batasan pribadi bukan tembok yang membuatmu menjauh dari orang lain. Batasan adalah cara untuk menjelaskan bagaimana kamu ingin diperlakukan, apa yang bisa kamu terima, dan apa yang tidak bisa kamu terima dalam sebuah hubungan.

Sayangnya, membangun batasan tidak selalu mudah.

Kamu mungkin takut dianggap egois. Takut mengecewakan orang lain. Takut hubungan menjadi renggang. Atau mungkin sejak kecil kamu terbiasa memenuhi kebutuhan orang lain sehingga merasa bersalah ketika mulai memprioritaskan dirimu sendiri.

Jika kamu sedang belajar membangun batasan yang lebih sehat, kamu tidak harus berubah menjadi orang yang keras atau dingin.

Kamu bisa memulainya secara perlahan melalui tujuh langkah sederhana berikut ini.

1. Kenali Apa yang Membuatmu Tidak Nyaman

Sebelum menjelaskan batasan kepada orang lain, kamu perlu mengetahui terlebih dahulu batasanmu sendiri.

Ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya cukup sulit.

Banyak orang lebih mudah mengetahui apa yang diinginkan orang lain daripada mengetahui apa yang sebenarnya mereka inginkan.

Cobalah bertanya kepada dirimu sendiri:

Situasi seperti apa yang membuat saya merasa tidak nyaman?
Perilaku apa dari orang lain yang sering membuat saya merasa tertekan?
Kapan saya merasa terlalu banyak memberikan sesuatu kepada orang lain?
Apa yang sebenarnya ingin saya tolak tetapi selama ini selalu saya terima?
Dalam hubungan apa saya sering merasa tidak dihargai?

Perasaan tidak nyaman, marah, lelah, kesal, atau bahkan frustrasi terkadang bisa menjadi petunjuk bahwa sebuah batasan sedang dilanggar.

Misalnya, kamu selalu diminta membantu pekerjaan teman. Awalnya kamu bersedia. Namun lama-kelamaan kamu merasa kesal setiap kali mereka menghubungimu.

Mungkin masalahnya bukan karena kamu tidak mau membantu.

Bisa jadi kamu belum memiliki batasan yang jelas mengenai seberapa jauh kamu bersedia membantu.

Dengan mengenali sumber ketidaknyamanan, kamu bisa mulai menentukan batasan yang lebih spesifik.

Misalnya:

“Aku bisa membantu kalau memang sedang senggang, tetapi aku tidak bisa selalu mengerjakan bagian pekerjaanmu.”

Batasan yang sehat biasanya dimulai dari pemahaman yang jujur terhadap diri sendiri.

2. Belajar Mengatakan “Tidak” Tanpa Harus Merasa Bersalah

Salah satu bagian tersulit dalam membangun batasan adalah mengatakan “tidak”.

Terutama jika kamu terbiasa menjadi orang yang selalu membantu.

Kamu mungkin berpikir:

“Kalau aku menolak, nanti dia kecewa.”

“Atau jangan-jangan dia menganggap aku egois.”

“Bagaimana kalau dia marah?”

Pikiran-pikiran seperti itu bisa membuat seseorang terus mengatakan “iya”, bahkan ketika sebenarnya mereka tidak sanggup.

Padahal, mengatakan tidak bukan berarti kamu adalah orang jahat.

Kamu berhak mempertimbangkan waktu, energi, kebutuhan, dan kondisi dirimu sendiri sebelum menyetujui permintaan orang lain.

Kamu juga tidak selalu membutuhkan alasan panjang untuk menolak sesuatu.

Kamu bisa mengatakan:

“Maaf, kali ini aku belum bisa membantu.”

Atau:

“Terima kasih sudah mengajakku, tetapi aku tidak bisa ikut.”

Atau:

“Aku sedang membutuhkan waktu untuk diriku sendiri.”

Tidak perlu membuat cerita panjang hanya supaya penolakanmu terlihat lebih dapat diterima.

Semakin sering kamu berlatih mengatakan “tidak”, semakin kamu menyadari bahwa rasa bersalah tidak selalu berarti kamu melakukan sesuatu yang salah.

Terkadang rasa bersalah hanya menunjukkan bahwa kamu sedang melakukan sesuatu yang belum terbiasa kamu lakukan.

3. Sampaikan Batasan dengan Jelas dan Spesifik

Batasan yang terlalu samar sering kali sulit dipahami oleh orang lain.

Misalnya kamu mengatakan:

“Aku tidak suka kalau kamu seperti itu.”

Kalimat tersebut mungkin benar, tetapi orang lain belum tentu memahami perilaku mana yang sebenarnya membuatmu tidak nyaman.

Batasan akan lebih efektif jika disampaikan secara jelas.

Daripada mengatakan:

“Jangan terlalu menggangguku.”

Kamu bisa mengatakan:

“Kalau aku sedang bekerja, aku membutuhkan waktu tanpa diganggu. Kalau ada sesuatu yang penting, tolong beri tahu setelah aku selesai.”

Atau daripada berkata:

“Aku tidak suka kamu datang tiba-tiba.”

Kamu bisa mengatakan:

“Aku lebih nyaman kalau kamu memberi kabar terlebih dahulu sebelum datang.”

Dengan cara seperti ini, orang lain memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai apa yang kamu butuhkan.

Ingat, tujuan menetapkan batasan bukan untuk mengendalikan orang lain.

Kamu tidak bisa menentukan apa yang harus dirasakan, dipikirkan, atau dilakukan orang lain.

Yang bisa kamu tentukan adalah apa yang akan kamu lakukan ketika batasanmu tidak dihormati.

Misalnya:

“Kalau pembicaraan berubah menjadi teriakan, aku akan menghentikan percakapan dan kita bisa membicarakannya lagi ketika suasana sudah lebih tenang.”

Ini merupakan bentuk batasan yang lebih sehat daripada mencoba memaksa orang lain untuk tidak pernah marah.

4. Jangan Menjelaskan Batasan Secara Berlebihan

Ada perbedaan antara menjelaskan batasan dan berusaha meminta izin agar batasanmu dianggap sah.

Ketika seseorang merasa tidak enak hati, mereka terkadang memberikan terlalu banyak penjelasan.

Contohnya:

“Sebenarnya aku ingin membantu, tapi kemarin aku tidur terlalu malam, kemudian pagi tadi ada pekerjaan, dan sekarang aku juga sedang agak capek. Kalau tidak terlalu penting mungkin aku bisa membantu besok, tetapi aku juga tidak tahu karena mungkin nanti ada urusan lain…”

Padahal, kamu sebenarnya hanya ingin mengatakan:

“Maaf, aku tidak bisa membantu kali ini.”

Terlalu banyak menjelaskan terkadang justru membuka ruang bagi orang lain untuk bernegosiasi dengan batasanmu.

Jika alasanmu dianggap tidak cukup, mereka mungkin mulai berkata:

“Sebentar saja.”

“Kan kamu sebenarnya bisa.”

“Kalau kamu teman baik, seharusnya mau membantu.”

Karena itu, cobalah belajar memberikan penjelasan secukupnya.

Kamu tidak harus membuktikan bahwa kebutuhanmu cukup penting untuk mendapatkan batasan.

Kamu boleh berkata:

“Aku tidak bisa kali ini.”

Selesai.

Tentu saja, dalam situasi tertentu penjelasan lebih lengkap memang diperlukan. Namun dalam banyak interaksi sehari-hari, jawaban yang sederhana dan tegas sudah cukup.

5. Berhenti Menganggap Semua Kekecewaan Orang Lain sebagai Kesalahanmu

Ini adalah salah satu perubahan pola pikir yang sangat penting.

Ketika kamu mulai menetapkan batasan, kemungkinan besar akan ada orang yang tidak menyukainya.

Orang yang terbiasa mendapatkan akses penuh terhadap waktu, perhatian, tenaga, atau bantuanmu mungkin merasa aneh ketika kamu mulai berkata “tidak”.

Mereka mungkin berkata:

“Kamu sekarang berubah.”

“Dulu kamu tidak seperti ini.”

“Kok sekarang susah dimintai bantuan?”

Kalimat-kalimat tersebut bisa membuatmu meragukan diri sendiri.

Namun perlu diingat:

Kekecewaan seseorang tidak selalu berarti kamu telah melakukan kesalahan.

Orang lain boleh merasa kecewa.

Orang lain boleh tidak setuju.

Orang lain bahkan mungkin tidak menyukai batasan yang kamu buat.

Tetapi perasaan mereka tidak otomatis menjadi tanggung jawabmu.

Dalam hubungan yang sehat, dua orang seharusnya memiliki ruang untuk memiliki kebutuhan masing-masing.

Kamu tidak harus selalu mengorbankan kebutuhanmu hanya supaya orang lain tidak pernah merasa kecewa.

Terkadang, menjadi dewasa berarti mampu menerima kenyataan bahwa kamu tidak bisa membuat semua orang senang.

6. Belajar Mengenali Hubungan yang Menghormati Batasanmu

Batasan bukan hanya tentang bagaimana kamu berbicara kepada orang lain.

Batasan juga membantu kamu melihat kualitas sebuah hubungan.

Orang yang sehat secara emosional mungkin tidak selalu menyukai batasanmu, tetapi mereka cenderung mampu menghargainya.

Misalnya, ketika kamu mengatakan:

“Aku tidak nyaman membicarakan masalah pribadi ini.”

Orang yang menghargaimu mungkin akan berhenti bertanya.

Sebaliknya, jika seseorang terus memaksa, mempermalukanmu, mengancam, atau membuatmu merasa bersalah karena memiliki batasan, hal tersebut patut diperhatikan.

Misalnya:

“Kalau kamu benar-benar peduli padaku, kamu pasti mau.”

atau:

“Kamu egois sekali.”

atau:

“Aku tidak percaya kamu bisa menolak aku.”

Kalimat seperti ini bisa menjadi bentuk tekanan emosional.

Tentu saja, satu percakapan yang buruk tidak otomatis berarti seseorang adalah orang yang buruk. Setiap orang bisa salah merespons.

Namun jika pola tersebut terus berulang setiap kali kamu menetapkan batasan, kamu mungkin perlu mengevaluasi kembali hubungan tersebut.

Batasan yang sehat bukan hanya membantu orang lain memahami dirimu.

Batasan juga membantu kamu memahami siapa yang mampu menghargai dirimu ketika kamu mulai menghargai dirimu sendiri.

7. Konsisten dengan Batasan yang Sudah Kamu Tetapkan

Menetapkan batasan sekali saja belum tentu cukup.

Batasan membutuhkan konsistensi.

Misalnya kamu sudah mengatakan bahwa kamu tidak ingin menerima telepon setelah jam tertentu karena ingin beristirahat.

Namun ketika seseorang menelepon, kamu tetap mengangkatnya setiap kali karena merasa tidak enak.

Lama-kelamaan, orang tersebut akan belajar bahwa batasanmu sebenarnya bisa diabaikan.

Karena itu, setelah menetapkan batasan, kamu juga perlu menentukan tindakan yang akan kamu lakukan.

Misalnya:

“Setelah pukul 10 malam, aku tidak akan membalas pesan pekerjaan kecuali ada keadaan darurat.”

Kemudian kamu perlu menjalankannya.

Bukan karena kamu ingin menghukum orang lain, tetapi karena kamu sedang menunjukkan kepada dirimu sendiri bahwa kebutuhanmu juga penting.

Konsistensi juga membuat orang lain lebih mudah memahami batasanmu.

Mungkin pada awalnya mereka akan terkejut.

Namun seiring waktu, mereka akan mengetahui apa yang bisa dan tidak bisa mereka harapkan darimu.

Batasan Bukan Berarti Kamu Tidak Peduli

Ada satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan.

Memiliki batasan bukan berarti kamu menjadi egois.

Kamu masih bisa menjadi orang yang perhatian, penyayang, dan suka membantu sambil tetap memiliki batasan yang sehat.

Misalnya:

“Aku peduli dengan masalahmu, tetapi sekarang aku tidak memiliki energi untuk mendengarkan cerita panjang. Kita bisa membicarakannya besok.”

Itu bukan penolakan terhadap orang tersebut.

Itu adalah bentuk kejujuran mengenai kapasitasmu.

Justru hubungan yang sehat membutuhkan kejujuran seperti ini.

Karena ketika kamu terus mengatakan “iya” padahal sebenarnya tidak sanggup, kamu mungkin akan menumpuk kelelahan dan resentment atau rasa kesal yang terpendam.

Pada akhirnya, kamu bisa meledak karena hal kecil.

Batasan membantu mencegah hal tersebut.

Batasan yang Sehat Dimulai dari Menghargai Diri Sendiri

Pada akhirnya, membangun batasan bukan sekadar belajar mengatakan “tidak”.

Lebih dalam dari itu, batasan adalah tentang memahami bahwa kebutuhanmu juga memiliki nilai.

Kamu tidak harus selalu tersedia.

Kamu tidak harus menjawab semua pesan dengan segera.

Kamu tidak harus menerima semua permintaan.

Kamu tidak harus terus berada dalam percakapan yang membuatmu merasa direndahkan.

Dan kamu tidak harus mengorbankan dirimu sendiri hanya untuk mempertahankan sebuah hubungan.

Tentu saja, batasan tidak selalu mudah.

Mungkin pada awalnya kamu merasa bersalah.

Mungkin orang lain tidak langsung memahami.

Mungkin kamu bahkan merasa takut kehilangan seseorang.

Namun dengan latihan dan komunikasi yang baik, menetapkan batasan dapat menjadi bagian penting dari hubungan yang lebih sehat.

Mulailah dari hal-hal kecil.

Katakan “tidak” ketika memang tidak bisa.

Berikan dirimu waktu untuk berpikir sebelum menerima permintaan.

Sampaikan ketidaknyamanan dengan jelas.

Jangan terlalu banyak menjelaskan.

Dan yang paling penting, jangan menganggap bahwa menjaga dirimu sendiri adalah sebuah kesalahan.

Kamu bisa menjadi orang baik tanpa selalu mengatakan “iya”.

Kamu bisa mencintai orang lain tanpa mengabaikan dirimu sendiri.

Dan kamu bisa menjaga sebuah hubungan tanpa kehilangan batas antara kebutuhan orang lain dan kebutuhanmu sendiri.

Karena hubungan yang sehat bukanlah hubungan di mana tidak pernah ada batasan.

Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana batasan bisa dibicarakan, dihormati, dan dijaga oleh kedua belah pihak.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore