seseorang yang mencegah dimanfaatkan oleh orang lain / foto: Magnific/katemangostar
Atau mungkin kamu sering mengatakan “iya” meskipun sebenarnya ingin mengatakan “tidak”. Kamu membantu, memberi waktu, memberikan perhatian, bahkan mengorbankan kepentinganmu sendiri. Namun, lama-kelamaan kamu merasa hubungan tersebut hanya berjalan satu arah.
Pada awalnya, kamu mungkin menganggapnya sebagai bentuk kebaikan. Kamu berpikir bahwa membantu orang lain adalah sesuatu yang memang seharusnya dilakukan. Tetapi ketika pola tersebut terus berulang, muncul perasaan lelah, kecewa, bahkan dimanfaatkan.
Dalam psikologi, persoalan seperti ini sering berkaitan dengan batasan pribadi (personal boundaries), kemampuan mengatakan tidak, kebutuhan untuk mendapatkan penerimaan, dan pola hubungan yang tidak seimbang.
Menjadi orang baik tentu bukan sebuah kesalahan. Masalahnya bukan pada kebaikanmu, melainkan ketika kebaikan tersebut membuat orang lain merasa berhak mengambil keuntungan darimu tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan perasaanmu.
Karena itu, mencegah seseorang memanfaatkanmu bukan berarti kamu harus berubah menjadi orang yang dingin, egois, atau tidak peduli.
Kamu hanya perlu belajar bahwa berbuat baik tidak sama dengan membiarkan orang lain memperlakukanmu sesuka hati.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (15/9), jika kamu ingin menghindari situasi seperti itu, berikut enam cara yang bisa kamu terapkan.
1. Belajar Mengatakan “Tidak” Tanpa Merasa Bersalah
Salah satu alasan seseorang mudah dimanfaatkan adalah karena ia kesulitan mengatakan tidak.
Ketika ada orang meminta bantuan, pikirannya langsung dipenuhi berbagai pertanyaan.
“Kalau aku menolak, apakah dia akan kecewa?”
“Apakah dia akan menganggapku jahat?”
“Bagaimana kalau hubungan kami menjadi renggang?”
Akhirnya, kamu mengatakan “iya”, meskipun sebenarnya kamu tidak sanggup.
Dalam jangka pendek, mengatakan iya memang terasa lebih mudah. Kamu terhindar dari konflik dan tidak perlu menghadapi perasaan bersalah.
Namun, dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat membuat orang lain belajar bahwa kamu selalu tersedia.
Mereka mungkin mulai menganggap bantuanmu sebagai sesuatu yang otomatis.
Ketika hal itu terjadi berulang kali, batas antara kebaikan dan kewajiban menjadi kabur.
Padahal, kamu memiliki hak untuk mengatakan tidak.
Menolak permintaan seseorang tidak otomatis berarti kamu tidak peduli kepadanya. Kamu hanya sedang mengakui bahwa waktu, tenaga, uang, dan energimu juga memiliki batas.
Kamu tidak harus memberikan penjelasan panjang setiap kali menolak.
Kamu bisa mengatakan:
“Maaf, kali ini aku tidak bisa membantu.”
Atau:
“Aku sedang punya banyak hal yang harus diselesaikan, jadi aku tidak bisa mengambil permintaan itu.”
Semakin sering kamu berlatih mengatakan tidak dengan tenang, semakin kecil kemungkinan orang lain menganggap kebaikanmu sebagai sesuatu yang bisa dieksploitasi.
Yang perlu kamu ingat adalah:
Rasa bersalah tidak selalu berarti kamu melakukan sesuatu yang salah.
Terkadang rasa bersalah hanya muncul karena kamu sedang melakukan sesuatu yang belum terbiasa kamu lakukan.
Jika selama ini kamu selalu mengutamakan orang lain, menetapkan batas mungkin terasa tidak nyaman pada awalnya.
Tetapi ketidaknyamanan itu bisa menjadi bagian dari proses belajar menghargai diri sendiri.
2. Jangan Terlalu Cepat Merasa Bertanggung Jawab atas Masalah Orang Lain
Orang yang mudah dimanfaatkan sering memiliki empati yang tinggi.
Ketika melihat seseorang mengalami masalah, mereka langsung ingin membantu.
Sayangnya, empati tanpa batas dapat berubah menjadi kebiasaan mengambil tanggung jawab atas kehidupan orang lain.
Seseorang mengeluh tentang masalah keuangannya.
Kamu langsung menawarkan bantuan.
Seseorang membuat kesalahan.
Kamu ikut memperbaikinya.
Seseorang tidak menyelesaikan tugasnya.
Kamu mengambil alih karena tidak tega melihatnya kesulitan.
Lama-kelamaan, kamu bukan lagi membantu.
Kamu mulai menanggung konsekuensi dari pilihan orang lain.
Inilah sesuatu yang penting untuk dibedakan.
Ada perbedaan antara membantu seseorang dan menyelamatkan seseorang dari konsekuensi perilakunya sendiri.
Membantu berarti memberikan dukungan ketika memang dibutuhkan.
Namun, jika kamu terus-menerus membereskan masalah yang sebenarnya harus diselesaikan oleh orang tersebut, kamu justru dapat membuat sebuah pola ketergantungan.
Orang tersebut belajar bahwa setiap kali ia mengalami masalah, akan selalu ada kamu yang datang menyelesaikannya.
Karena itu, sebelum membantu seseorang, tanyakan kepada dirimu sendiri:
“Apakah dia benar-benar membutuhkan bantuan, atau aku hanya merasa tidak tega melihatnya menghadapi konsekuensi dari pilihannya?”
Pertanyaan sederhana ini dapat membuatmu lebih berhati-hati.
Kamu tetap bisa menjadi orang yang peduli tanpa harus menjadi penyelamat semua orang.
3. Perhatikan Apakah Hubunganmu Berjalan Dua Arah
Salah satu cara terbaik untuk mengetahui apakah seseorang menghargaimu atau hanya memanfaatkanmu adalah dengan melihat pola hubungan, bukan hanya satu kejadian.
Cobalah perhatikan.
Apakah kamu selalu yang menghubungi terlebih dahulu?
Apakah kamu selalu mendengarkan masalah mereka?
Apakah mereka datang kepadamu ketika membutuhkan sesuatu?
Apakah mereka menghargai waktumu?
Apakah mereka pernah menanyakan bagaimana keadaanmu?
Apakah mereka hadir ketika kamu membutuhkan dukungan?
Tidak semua hubungan harus benar-benar seimbang setiap saat.
Ada masa ketika salah satu pihak memang membutuhkan lebih banyak bantuan.
Namun, jika ketidakseimbangan tersebut berlangsung terus-menerus, kamu perlu memperhatikannya.
Hubungan yang sehat biasanya memberikan ruang bagi kedua pihak untuk menjadi manusia yang memiliki kebutuhan.
Kamu mendengarkan mereka.
Mereka juga mendengarkanmu.
Kamu membantu mereka ketika mampu.
Mereka juga menghargai dan mendukungmu ketika kamu membutuhkan.
Sebaliknya, hubungan yang sangat tidak seimbang dapat membuat salah satu pihak terus memberi sementara pihak lainnya terus menerima.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
“Apakah aku menyayangi orang ini?”
Tanyakan juga:
“Bagaimana orang ini memperlakukanku?”
Kedua pertanyaan tersebut sama pentingnya.
Terkadang kita terlalu sibuk melihat niat baik kita kepada seseorang sampai lupa mengevaluasi bagaimana orang tersebut memperlakukan kita.
4. Jangan Takut Membuat Batasan yang Jelas
Batasan pribadi bukan berarti tembok yang membuatmu tidak bisa dekat dengan orang lain.
Batasan adalah cara memberi tahu orang lain tentang apa yang dapat dan tidak dapat kamu terima.
Misalnya, kamu tidak nyaman jika seseorang menghubungimu larut malam hanya untuk meminta bantuan.
Kamu bisa mengatakan:
“Kalau bukan sesuatu yang mendesak, aku lebih nyaman membicarakannya besok.”
Jika seseorang sering meminjam uang dan tidak pernah mengembalikannya tepat waktu, kamu berhak mengatakan:
“Aku tidak bisa meminjamkan uang lagi.”
Jika seseorang sering membebankan tugasnya kepadamu, kamu bisa mengatakan:
“Aku bisa membantumu menjelaskan caranya, tetapi aku tidak bisa mengerjakan semuanya untukmu.”
Batasan yang sehat tidak harus disampaikan dengan kemarahan.
Justru, semakin tenang kamu menyampaikan batasan, semakin jelas pesan yang kamu berikan.
Masalahnya, banyak orang takut bahwa menetapkan batas akan membuat mereka kehilangan seseorang.
Memang, terkadang hal itu bisa terjadi.
Tetapi pikirkan dari sisi lain.
Jika seseorang hanya mau berada dalam hidupmu selama kamu selalu menuruti keinginannya, mungkin yang hilang bukan hubungan yang sehat.
Yang hilang adalah akses orang tersebut terhadapmu tanpa batas.
Orang yang benar-benar menghargaimu mungkin tidak selalu menyukai setiap batasan yang kamu buat, tetapi mereka akan belajar menghormatinya.
5. Berhenti Menjelaskan Dirimu Secara Berlebihan
Orang yang takut mengecewakan orang lain sering merasa harus memberikan penjelasan panjang ketika mengatakan tidak.
Misalnya:
“Aku sebenarnya mau membantu, tapi kemarin aku kurang tidur, lalu ada pekerjaan, kemudian besok juga ada urusan, jadi mungkin kalau…”
Padahal kamu tidak harus memberikan sidang pembelaan hanya karena menolak sebuah permintaan.
Semakin panjang penjelasanmu, terkadang semakin banyak celah yang bisa digunakan seseorang untuk membujukmu.
Ketika kamu berkata:
“Aku tidak bisa.”
Orang tersebut mungkin bertanya:
“Kenapa?”
Kamu bisa menjawab:
“Karena aku memang tidak bisa kali ini.”
Selesai.
Kamu tidak harus memberikan sepuluh alasan agar keputusanmu dianggap sah.
Tentu, ada situasi tertentu ketika penjelasan memang diperlukan. Namun, dalam hubungan sehari-hari, kamu berhak memiliki keputusan pribadi tanpa harus membuat orang lain menyetujuinya.
Ini berkaitan dengan kemampuan untuk merasa nyaman dengan keputusanmu sendiri.
Jika kamu selalu membutuhkan persetujuan orang lain agar yakin bahwa keputusanmu benar, kamu akan lebih mudah dikendalikan oleh reaksi mereka.
Ketika mereka marah, kamu merasa bersalah.
Ketika mereka kecewa, kamu langsung mengalah.
Ketika mereka mengatakan kamu egois, kamu mulai meragukan dirimu sendiri.
Padahal, seseorang yang kecewa terhadap batasanmu belum tentu berarti batasanmu salah.
Kekecewaan orang lain bukan selalu tanggung jawabmu.
6. Perhatikan Bagaimana Seseorang Bereaksi Ketika Kamu Mulai Menetapkan Batasan
Ini mungkin salah satu cara paling penting untuk mengetahui kualitas sebuah hubungan.
Selama kamu selalu berkata iya, seseorang mungkin terlihat sangat baik kepadamu.
Namun, coba perhatikan apa yang terjadi ketika kamu mulai berkata tidak.
Apakah mereka menghargainya?
Atau mereka mulai memanipulasimu?
Misalnya, mereka berkata:
“Dulu kamu mau membantu.”
“Kok sekarang berubah?”
“Kalau kamu benar-benar teman aku, harusnya kamu mau.”
“Cuma kali ini saja.”
“Aku kira kamu orang yang baik.”
Kalimat-kalimat seperti ini tidak otomatis membuktikan bahwa seseorang sedang memanfaatkanmu. Konteks selalu penting.
Tetapi jika pola tersebut berulang dan digunakan untuk membuatmu merasa bersalah setiap kali menetapkan batasan, kamu perlu berhati-hati.
Seseorang yang terbiasa mendapatkan sesuatu darimu mungkin akan merasa tidak nyaman ketika akses tersebut tiba-tiba dibatasi.
Dan reaksi mereka dapat memberikan informasi penting tentang hubungan tersebut.
Orang yang menghargaimu mungkin berkata:
“Tidak apa-apa, aku mengerti.”
Sementara seseorang yang hanya menghargai manfaat yang ia dapatkan darimu mungkin terus berusaha membuatmu berubah pikiran.
Karena itu, jangan hanya memperhatikan bagaimana seseorang memperlakukanmu ketika kamu memberikan apa yang mereka inginkan.
Perhatikan juga bagaimana mereka memperlakukanmu ketika kamu mengatakan tidak.
Di situlah karakter seseorang sering kali terlihat lebih jelas.
Menjadi Baik Tidak Berarti Harus Selalu Tersedia
Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi orang baik berarti membantu sebanyak mungkin orang.
Padahal, kebaikan tanpa batas dapat membuat seseorang mengabaikan dirinya sendiri.
Kamu boleh peduli.
Kamu boleh membantu.
Kamu boleh menjadi orang yang mudah berempati.
Tetapi kamu juga boleh beristirahat.
Kamu boleh menolak.
Kamu boleh berubah pikiran.
Kamu boleh memilih dirimu sendiri.
Menetapkan batas bukan tindakan egois. Dalam banyak situasi, batas justru membantu hubungan menjadi lebih sehat karena kedua pihak mengetahui apa yang bisa mereka harapkan satu sama lain.
Yang perlu kamu hindari bukanlah menjadi orang baik.
Yang perlu kamu hindari adalah memberikan begitu banyak kepada orang lain sampai kamu kehilangan kendali atas hidupmu sendiri.
Jadi, jika kamu ingin mencegah seseorang memanfaatkanmu, mulailah dari enam hal sederhana:
Belajar mengatakan tidak.
Jangan mengambil tanggung jawab atas semua masalah orang lain.
Perhatikan keseimbangan dalam hubungan.
Tetapkan batasan yang jelas.
Berhenti memberikan penjelasan berlebihan.
Dan lihat bagaimana seseorang bereaksi ketika batasanmu mulai muncul.
Pada akhirnya, kamu tidak bisa mengendalikan apakah seseorang akan mencoba mengambil keuntungan darimu.
Tetapi kamu bisa mengendalikan seberapa besar akses yang kamu berikan kepada mereka.
Kamu tidak perlu menjadi lebih keras.
Kamu hanya perlu menjadi lebih sadar.
Karena orang yang menghargai dirimu tidak hanya menghargai apa yang bisa kamu berikan kepadanya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Prediksi Skor Viktoria Plzen vs Union SG di Liga Europa: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Susunan Pemain Manchester City vs Norwich: Maresca Rotasi Skuad
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin
Prediksi Skor Real Sociedad vs Bournemouth di Liga Europa: Txuri-urdin Bakal Kesulitan Redam Lawan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022