Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 19 September 2026 | 03.57 WIB

7 Cara agar Perempuan Menemukan Keutuhan untuk Mempercayai Diri Sendiri Menurut Psikologi

seseorang yang menemukan kepercayaan diri / foto: Magnific/pvproductions

 

JawaPos.com - Ada masa dalam kehidupan ketika seorang perempuan terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi di dalam dirinya muncul pertanyaan yang terus berulang:

"Apakah aku sudah cukup baik?"
"Apakah pilihanku benar?"
"Bagaimana kalau orang lain tidak menyukaiku?"
"Apa aku terlalu sensitif?"
"Apakah aku boleh mengatakan tidak?"
"Mengapa aku selalu membutuhkan persetujuan orang lain?"

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang lemah. Dalam psikologi, cara seseorang memandang dirinya sendiri terbentuk melalui pengalaman yang panjang: bagaimana ia dibesarkan, bagaimana orang lain memperlakukannya, pengalaman keberhasilan dan kegagalan, hubungan yang pernah dijalani, serta bagaimana ia belajar memahami emosi dan kebutuhannya sendiri.

Karena itu, mempercayai diri sendiri bukan berarti selalu yakin bahwa kita benar. Kepercayaan diri yang sehat justru mencakup kemampuan untuk berkata:

"Aku mungkin belum tahu semuanya, tetapi aku percaya bahwa aku mampu mendengarkan diriku, belajar dari pengalaman, memperbaiki kesalahan, dan mengambil keputusan yang sesuai dengan nilai hidupku."

Inilah yang dapat disebut sebagai keutuhan diri—perasaan bahwa berbagai bagian dalam diri kita, termasuk kekuatan, kelemahan, kebutuhan, emosi, pengalaman, dan nilai-nilai pribadi, boleh hadir tanpa harus terus-menerus disembunyikan atau disesuaikan demi mendapatkan penerimaan.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (18/9), terdapat tujuh cara yang dapat membantu perempuan membangun kembali hubungan yang lebih utuh dengan dirinya sendiri.

1. Berhenti Menjadikan Penilaian Orang Lain sebagai Cermin Utama Diri

Salah satu alasan seseorang sulit mempercayai dirinya adalah karena harga dirinya terlalu bergantung pada bagaimana orang lain memandangnya.

Ia merasa berharga ketika dipuji.

Ia merasa gagal ketika dikritik.

Ia merasa aman ketika disetujui.

Dan ia merasa bersalah ketika seseorang kecewa kepadanya.

Dalam psikologi, kebutuhan untuk diterima merupakan bagian normal dari kehidupan manusia. Kita memang membutuhkan hubungan sosial. Masalah muncul ketika penerimaan orang lain menjadi satu-satunya sumber untuk menentukan nilai diri.

Akibatnya, keputusan hidup dapat berubah menjadi usaha untuk mempertahankan citra tertentu.

Seorang perempuan mungkin menerima pekerjaan yang sebenarnya tidak ia inginkan karena takut mengecewakan keluarga. Ia mungkin bertahan dalam hubungan yang tidak sehat karena takut dianggap gagal. Ia mungkin terus berkata "iya" meskipun sebenarnya ingin berkata "tidak".

Lama-kelamaan, ia menjadi sangat terampil membaca kebutuhan orang lain, tetapi kehilangan kemampuan membaca dirinya sendiri.

Mulailah dengan pertanyaan sederhana:
Apa yang sebenarnya aku inginkan?
Apa yang sebenarnya aku rasakan?
Apakah aku melakukan ini karena memang memilihnya, atau karena takut mengecewakan seseorang?
Jika tidak ada seorang pun yang menilai keputusan ini, apa yang akan kupilih?

Pertanyaan tersebut membantu memindahkan pusat evaluasi dari "Apa kata orang?" menjadi "Apa yang sesuai dengan diriku?"

Ini bukan berarti mengabaikan masukan orang lain. Justru sebaliknya, kita dapat mendengarkan pendapat orang lain tanpa menyerahkan kendali atas diri kita kepada mereka.

Keutuhan muncul ketika seorang perempuan mampu berkata:

"Aku menghargai pendapatmu, tetapi aku tetap memiliki hubungan dengan penilaianku sendiri."

2. Belajar Mengenali Emosi, Bukan Menghakiminya

Banyak perempuan tumbuh dengan pesan bahwa mereka harus menjadi "kuat", "sabar", "pengertian", atau "tidak boleh terlalu sensitif".

Akibatnya, emosi tertentu bisa dianggap sebagai kelemahan.

Marah dianggap buruk.

Sedih dianggap merepotkan.

Takut dianggap tidak berani.

Cemburu dianggap memalukan.

Padahal secara psikologis, emosi bukan musuh yang harus dimusnahkan. Emosi merupakan informasi tentang apa yang sedang terjadi dalam diri kita.

Kesedihan dapat memberi sinyal bahwa kita kehilangan sesuatu yang bermakna.

Kemarahan dapat menunjukkan bahwa batas pribadi kita mungkin telah dilanggar.

Ketakutan dapat memberi tahu bahwa kita mempersepsikan adanya ancaman atau ketidakpastian.

Rasa bersalah dapat membuat kita mengevaluasi apakah tindakan kita sesuai dengan nilai yang kita pegang—meskipun rasa bersalah tidak selalu berarti bahwa kita benar-benar melakukan kesalahan.

Karena itu, membangun kepercayaan terhadap diri sendiri membutuhkan kemampuan untuk mendengarkan emosi tanpa langsung memercayai setiap pikiran yang muncul bersamanya.

Misalnya:

"Aku sedang marah."

berbeda dengan:

"Karena aku marah, berarti aku harus langsung menyerang orang itu."

Yang pertama adalah kesadaran emosional.

Yang kedua adalah tindakan impulsif.

Kita dapat mengakui emosi tanpa harus dikendalikan olehnya.

Cobalah latihan tiga langkah:

Aku merasa...

Sebutkan emosinya secara spesifik.

Aku mungkin merasa demikian karena...

Identifikasi kemungkinan pemicunya.

Yang sebenarnya kubutuhkan sekarang adalah...

Cari kebutuhan di balik emosi tersebut.

Semakin seseorang mampu mengenali pengalaman batinnya, semakin ia memiliki dasar untuk mengambil keputusan secara sadar.

3. Membangun Self-Compassion: Berbicara kepada Diri Sendiri seperti kepada Seseorang yang Kita Sayangi

Ada perempuan yang sangat baik kepada orang lain tetapi sangat kejam kepada dirinya sendiri.

Ketika sahabatnya gagal, ia berkata:

"Tidak apa-apa. Kamu sudah berusaha."

Tetapi ketika dirinya sendiri gagal, ia berkata:

"Aku memang bodoh."

Ketika sahabatnya mengalami kesalahan, ia memahami konteksnya.

Ketika dirinya melakukan kesalahan, ia menganggap kesalahan tersebut sebagai bukti bahwa dirinya tidak cukup baik.

Psikologi mengenal konsep self-compassion, yaitu sikap memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan dan pemahaman ketika menghadapi kesulitan.

Self-compassion bukan berarti membenarkan semua tindakan kita.

Bukan pula berarti mengatakan bahwa kita tidak perlu bertanggung jawab.

Sebaliknya, self-compassion memungkinkan kita mengakui:

"Aku melakukan kesalahan, tetapi kesalahan ini tidak membuat seluruh diriku menjadi buruk."

Perbedaan tersebut sangat penting.

Identitas:

"Aku gagal."

Evaluasi perilaku:

"Aku mengalami kegagalan dalam hal ini."

Keduanya terdengar mirip, tetapi memiliki konsekuensi psikologis yang berbeda.

Kalimat kedua memberi ruang untuk belajar.

Cobalah mengubah cara berbicara kepada diri sendiri.

Alih-alih:

"Kenapa aku selalu seperti ini?"

cobalah:

"Aku sedang mengalami masa yang sulit. Apa yang sebenarnya terjadi?"

Alih-alih:

"Aku tidak cukup baik."

cobalah:

"Bagian mana yang belum berjalan baik, dan apa yang bisa kupelajari?"

Alih-alih:

"Aku bodoh karena membuat keputusan itu."

cobalah:

"Dengan informasi yang kumiliki saat itu, aku membuat keputusan tersebut. Sekarang aku punya informasi baru."

Cara bicara seperti ini membantu membangun hubungan internal yang lebih aman.

Dan seseorang lebih mudah mempercayai dirinya ketika ia tidak merasa bahwa setiap kesalahan akan digunakan untuk menghukum dirinya sendiri.

4. Berlatih Mengambil Keputusan Kecil Tanpa Terus-Menerus Mencari Validasi

Kepercayaan terhadap diri sendiri tidak hanya dibangun melalui pikiran.

Ia dibangun melalui pengalaman.

Jika setiap keputusan selalu diserahkan kepada orang lain, kita tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengalami bahwa kita sebenarnya mampu menentukan arah hidup sendiri.

Karena itu, salah satu cara membangun self-trust adalah mulai mengambil keputusan kecil secara mandiri.

Misalnya:

menentukan bagaimana menghabiskan waktu luang,
memilih aktivitas yang memang disukai,
menetapkan batas dalam percakapan,
mengatakan tidak terhadap sesuatu yang tidak sanggup dilakukan,
memilih lingkungan pertemanan,
menentukan prioritas pekerjaan,
atau menyelesaikan masalah kecil tanpa meminta pendapat dari banyak orang.

Tujuannya bukan membuktikan bahwa kita tidak membutuhkan siapa pun.

Tujuannya adalah belajar:

"Aku mampu mendengar masukan orang lain tanpa kehilangan kemampuanku untuk memilih."

Ada perbedaan antara meminta nasihat dan meminta orang lain mengambil alih keputusan.

Meminta nasihat:

"Menurutmu, apa yang perlu kupikirkan sebelum mengambil keputusan ini?"

Menyerahkan keputusan:

"Tolong pilihkan untukku karena aku takut memilih sendiri."

Yang pertama dapat memperluas perspektif.

Yang kedua, jika dilakukan terus-menerus, dapat memperlemah keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri.

Latihan sederhana

Setiap hari, buat satu keputusan kecil tanpa meminta validasi.

Setelah itu, evaluasi:

Apa yang terjadi?

Apa yang kupelajari?

Apakah keputusan itu sempurna?

Tidak perlu.

Tujuannya bukan menjadi manusia yang tidak pernah salah.

Tujuannya adalah menjadi manusia yang tahu bahwa kesalahan pun dapat dihadapi.

5. Menetapkan Batas tanpa Merasa Harus Menjadi Jahat

Banyak perempuan mengalami konflik ketika mulai menetapkan batas.

Mereka takut dianggap egois.

Takut mengecewakan.

Takut dianggap berubah.

Takut kehilangan hubungan.

Padahal batas pribadi bukan selalu bentuk penolakan terhadap orang lain.

Batas adalah cara untuk menjelaskan:

"Inilah yang bisa dan tidak bisa aku terima."

Misalnya:

"Aku tidak bisa membantu malam ini."

"Aku tidak nyaman membicarakan hal tersebut."

"Aku membutuhkan waktu untuk memikirkan keputusan ini."

"Aku tidak bersedia diperlakukan seperti itu."

Kalimat-kalimat tersebut tidak harus disertai penjelasan panjang.

Salah satu kesalahpahaman tentang batas pribadi adalah bahwa kita harus membuat orang lain memahami dan menyetujui batas tersebut sebelum kita boleh menjalankannya.

Tidak selalu demikian.

Seseorang mungkin tidak menyukai batas kita.

Seseorang mungkin merasa kecewa.

Seseorang bahkan mungkin mengatakan bahwa kita egois.

Tetapi ketidaksetujuan orang lain tidak otomatis berarti bahwa batas kita salah.

Tentu saja, batas tetap perlu dievaluasi. Kita perlu mempertimbangkan konteks, hak orang lain, serta konsekuensi tindakan kita.

Namun dalam hubungan yang sehat, seseorang seharusnya memiliki ruang untuk mengatakan "tidak" tanpa harus kehilangan hak untuk dihormati.

Menetapkan batas juga membantu seseorang mengenali dirinya sendiri.

Ketika kita tahu apa yang dapat kita terima dan apa yang tidak, kita mulai memahami struktur internal diri kita.

Di situlah keutuhan tumbuh.

6. Berhenti Menuntut Diri Menjadi Sempurna sebelum Merasa Layak

Perfeksionisme sering terlihat seperti ambisi.

Seseorang bekerja keras.

Menetapkan standar tinggi.

Selalu ingin berkembang.

Namun di baliknya, terkadang terdapat keyakinan yang jauh lebih menyakitkan:

"Aku baru berharga jika aku berhasil."

Jika demikian, keberhasilan tidak lagi menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Keberhasilan menjadi syarat untuk merasa layak.

Dan karena tidak ada manusia yang selalu berhasil, harga diri akhirnya naik turun mengikuti pencapaian.

Hari ini berhasil → merasa berharga.

Besok gagal → merasa tidak berguna.

Mendapat pujian → merasa aman.

Mendapat kritik → merasa hancur.

Pendekatan yang lebih sehat adalah memisahkan nilai diri dari hasil performa.

Kita tetap boleh memiliki standar tinggi.

Kita tetap boleh ingin sukses.

Kita tetap boleh memperbaiki diri.

Tetapi:

hasil pekerjaan bukan keseluruhan identitas kita.

Seseorang dapat gagal dalam karier tetapi tetap menjadi manusia yang berharga.

Seseorang dapat melakukan kesalahan dalam hubungan tetapi tetap memiliki kesempatan untuk belajar dan bertanggung jawab.

Seseorang dapat tidak memenuhi harapan tertentu tetapi tetap memiliki nilai sebagai manusia.

Kepercayaan diri yang sehat bukan:

"Aku pasti berhasil."

Melainkan:

"Aku akan berusaha sebaik mungkin, dan jika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, aku akan menghadapi kenyataan tersebut dan mencari langkah berikutnya."

Itulah bentuk kepercayaan diri yang lebih tahan terhadap kegagalan.

7. Menyelaraskan Hidup dengan Nilai, Bukan Sekadar Ekspektasi

Pada akhirnya, mempercayai diri sendiri bukan hanya tentang merasa lebih percaya diri.

Pertanyaan yang lebih dalam adalah:

"Aku sebenarnya ingin menjadi perempuan seperti apa?"

Pertanyaan ini berbeda dari:

"Apa yang diharapkan orang lain dariku?"

Keduanya sering bercampur.

Keluarga mungkin memiliki harapan.

Pasangan mungkin memiliki harapan.

Lingkungan sosial memiliki standar tertentu.

Media juga dapat memberikan gambaran tentang seperti apa perempuan yang dianggap berhasil, menarik, bahagia, atau sukses.

Jika semua standar tersebut diterima tanpa refleksi, seseorang dapat menjalani hidup yang tampak berhasil tetapi terasa asing bagi dirinya sendiri.

Karena itu, psikologi juga banyak membahas pentingnya hidup yang selaras dengan nilai pribadi.

Nilai bukan sekadar tujuan.

"Memiliki rumah" adalah tujuan.

"Menjadi orang yang menghargai keluarga" adalah nilai.

"Mendapatkan jabatan tertentu" adalah tujuan.

"Berusaha memberikan kontribusi" dapat menjadi nilai.

Nilai berfungsi seperti arah, bukan garis finis.

Cobalah bertanya:
Apa yang benar-benar penting bagiku?
Bagaimana aku ingin memperlakukan orang lain?
Bagaimana aku ingin memperlakukan diriku sendiri?
Apa yang tidak ingin kukorbankan hanya demi penerimaan?
Kehidupan seperti apa yang terasa bermakna bagiku?
Jika aku tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun, bagaimana aku ingin menjalani hidup?

Ketika keputusan mulai mengikuti nilai pribadi, kehidupan terasa lebih konsisten.

Kita tidak lagi hanya bertanya:

"Apakah orang lain akan menyukaiku?"

Tetapi:

"Apakah tindakan ini sesuai dengan perempuan yang ingin aku menjadi?"

Itulah salah satu bentuk keutuhan.

Keutuhan Bukan Berarti Tidak Pernah Ragu

Ada satu hal penting yang sering disalahpahami tentang kepercayaan diri.

Mempercayai diri sendiri bukan berarti tidak pernah ragu.

Orang yang sehat secara psikologis tetap dapat merasa takut.

Tetap dapat menangis.

Tetap dapat berubah pikiran.

Tetap dapat meminta nasihat.

Tetap dapat mengakui kesalahan.

Tetap dapat berkata:

"Aku tidak tahu."

Bahkan kemampuan mengatakan "aku tidak tahu" dapat menjadi bentuk kekuatan.

Sebab self-trust tidak berarti percaya bahwa kita selalu memiliki jawaban.

Self-trust berarti percaya bahwa kita mampu menghadapi proses menemukan jawaban.

Ada perbedaan besar antara:

"Aku harus yakin agar bisa melangkah."

dan:

"Aku boleh ragu, tetapi aku tetap bisa melangkah dengan sadar."

Yang kedua jauh lebih manusiawi.

Menemukan Kembali Hubungan dengan Diri Sendiri

Pada akhirnya, perjalanan mempercayai diri sendiri bukanlah perjalanan untuk menjadi perempuan yang tidak membutuhkan siapa pun.

Kita tetap membutuhkan hubungan.

Kita tetap membutuhkan dukungan.

Kita tetap membutuhkan kasih sayang.

Kita tetap dapat belajar dari orang lain.

Keutuhan bukan isolasi.

Keutuhan adalah kemampuan untuk tetap terhubung dengan orang lain tanpa kehilangan hubungan dengan diri sendiri.

Seorang perempuan dapat mencintai pasangannya tanpa menghilangkan kebutuhannya sendiri.

Dapat menyayangi keluarganya tanpa harus memenuhi semua harapan mereka.

Dapat menerima kritik tanpa menjadikan kritik sebagai definisi dirinya.

Dapat meminta bantuan tanpa menganggap dirinya tidak mampu.

Dapat mengatakan "tidak" tanpa menganggap dirinya jahat.

Dapat gagal tanpa menyimpulkan bahwa dirinya tidak berharga.

Dan yang paling penting, ia dapat mendengarkan suara dirinya sendiri tanpa harus selalu menunggu dunia memberikan izin.

Mungkin kepercayaan diri yang paling matang bukanlah suara yang berkata:

"Aku pasti benar."

Melainkan suara yang jauh lebih tenang:

"Aku mungkin bisa salah. Aku mungkin belum tahu semuanya. Tetapi aku bersedia mendengarkan diriku, belajar, bertanggung jawab, dan tetap berjalan."

Di sanalah keutuhan mulai tumbuh.

Bukan ketika seorang perempuan akhirnya menjadi sempurna.

Tetapi ketika ia tidak lagi merasa harus menjadi sempurna untuk merasa layak menjadi dirinya sendiri.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore