Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 15 September 2026 | 02.32 WIB

Jika Kamu Ingin Tetap Terkendali Saat Menghadapi Percakapan yang Canggung, Lakukan 7 Cara Ini

seseorang yang menghadapi percakapan yang canggung / foto: Magnific/mego-studio

 

JawaPos.com - Tidak semua percakapan berjalan seperti yang kita harapkan.

Ada percakapan yang terasa ringan, mengalir, dan menyenangkan. Namun ada juga percakapan yang membuat kita ingin segera mengakhirinya. Suasana tiba-tiba hening. Lawan bicara menjawab singkat. Ada pertanyaan yang terlalu pribadi. Ada topik sensitif yang tidak sengaja muncul. Atau mungkin kamu mengatakan sesuatu yang kemudian membuat suasana menjadi aneh.

Dalam situasi seperti itu, banyak orang langsung merasa panik.

Mereka mulai memikirkan, “Aku tadi salah ngomong, ya?”, “Dia tersinggung tidak?”, atau “Kenapa suasananya jadi canggung sekali?”

Masalahnya, semakin kita berusaha keras menghilangkan kecanggungan, terkadang suasana justru semakin terasa tidak nyaman.

Psikologi menunjukkan bahwa kemampuan menghadapi percakapan yang canggung bukan semata-mata tentang menjadi orang yang pandai berbicara. Yang lebih penting adalah kemampuan mengatur respons diri sendiri ketika situasi sosial tidak berjalan sesuai harapan.

Kamu tidak selalu bisa mengendalikan apa yang dikatakan orang lain. Kamu juga tidak bisa memastikan setiap percakapan berjalan sempurna.

Tetapi kamu bisa belajar mengendalikan cara meresponsnya.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (14/9), jika kamu ingin tetap tenang dan terkendali ketika menghadapi percakapan yang canggung, berikut tujuh cara yang bisa kamu praktikkan.

1. Jangan Terburu-buru Mengisi Keheningan

Salah satu kesalahan paling umum ketika menghadapi suasana canggung adalah merasa bahwa setiap detik keheningan harus segera diisi.

Begitu lawan bicara diam, kita langsung mencari topik baru.

“Eh, ngomong-ngomong…”

“Atau kamu tahu tidak…”

“Jadi sebenarnya…”

Padahal, diam beberapa detik bukan berarti percakapan sedang gagal.

Otak manusia memiliki kecenderungan untuk menafsirkan keheningan sebagai sesuatu yang harus diperbaiki, terutama ketika kita merasa tidak nyaman secara sosial. Akibatnya, kita berbicara bukan karena memang ingin mengatakan sesuatu, tetapi karena ingin menghilangkan rasa tidak nyaman dalam diri sendiri.

Ironisnya, hal tersebut justru bisa membuat kita mengatakan sesuatu yang tidak perlu.

Ketika percakapan tiba-tiba hening, cobalah berhenti sejenak.

Tarik napas.

Jangan langsung menyimpulkan bahwa suasananya buruk.

Biarkan beberapa detik berlalu secara alami.

Kamu mungkin akan menemukan bahwa setelah jeda singkat, percakapan kembali berjalan dengan sendirinya.

Keheningan juga tidak selalu berarti seseorang bosan atau tidak menyukaimu. Bisa saja dia sedang berpikir, mencari kata-kata, merasa lelah, atau memang tidak merasa perlu berbicara setiap saat.

Kamu tidak harus bertanggung jawab atas setiap detik dalam sebuah percakapan.

Ini merupakan perubahan kecil dalam cara berpikir, tetapi efeknya besar.

Alih-alih berpikir, “Aku harus membuat suasana ini tidak canggung,” ubahlah menjadi:

“Tidak apa-apa kalau ada jeda. Aku tidak harus memperbaiki semuanya.”

Ketika kamu berhenti melawan keheningan, kamu biasanya menjadi jauh lebih tenang.

2. Perhatikan Respons Tubuh Sebelum Merespons dengan Kata-Kata

Percakapan canggung sering kali membuat tubuh bereaksi lebih cepat daripada pikiran.

Jantung terasa lebih cepat.

Wajah terasa panas.

Tangan menjadi gelisah.

Napas menjadi pendek.

Kita ingin segera menjawab atau membela diri.

Di sinilah pentingnya memahami bahwa ketenangan psikologis juga berkaitan dengan kondisi tubuh.

Ketika kamu merasa terancam secara sosial—misalnya takut dipermalukan, ditolak, atau dinilai negatif—tubuh dapat masuk ke kondisi kewaspadaan. Dalam keadaan seperti itu, kemampuan kita untuk berpikir secara tenang dapat terganggu.

Karena itu, jangan langsung fokus pada kalimat terbaik yang harus kamu ucapkan.

Fokuslah terlebih dahulu pada tubuhmu.

Tarik napas secara perlahan.

Rilekskan rahang.

Turunkan bahu.

Jangan terlalu cepat berbicara.

Rasakan telapak kaki menyentuh lantai.

Hal-hal sederhana tersebut dapat membantu menciptakan jarak antara stimulus dan respons.

Misalnya, seseorang mengatakan sesuatu yang menurutmu menyudutkan.

Respons otomatis:

“Kenapa kamu ngomong begitu?”

Respons yang lebih terkendali:

Berhenti sejenak, tarik napas, lalu bertanya:

“Boleh jelaskan maksudmu?”

Perbedaannya sangat besar.

Pada respons pertama, kamu bereaksi terhadap emosi.

Pada respons kedua, kamu memberikan ruang bagi dirimu untuk memahami situasi terlebih dahulu.

Orang yang terlihat tenang bukan berarti tidak merasakan emosi. Sering kali mereka hanya memiliki kemampuan lebih baik untuk memberi jeda sebelum bertindak.

3. Jangan Menganggap Kamu Sedang Menjadi Pusat Perhatian

Ketika melakukan kesalahan kecil dalam percakapan, kita sering merasa seolah-olah semua orang menyadarinya.

Kita mengatakan sesuatu yang kurang tepat dan kemudian terus memikirkannya.

“Pasti dia menganggap aku aneh.”

“Dia pasti ingat perkataanku.”

“Aku kelihatan bodoh tadi.”

Padahal, manusia sering kali terlalu melebih-lebihkan seberapa besar perhatian orang lain terhadap dirinya.

Dalam psikologi sosial, fenomena ini berkaitan dengan apa yang dikenal sebagai spotlight effect—kecenderungan manusia untuk melebih-lebihkan sejauh mana perilaku atau penampilannya diperhatikan oleh orang lain.

Orang lain biasanya juga sibuk memikirkan dirinya sendiri.

Mereka memikirkan bagaimana mereka terlihat.

Mereka memikirkan apa yang harus dikatakan.

Mereka memikirkan pekerjaan, hubungan, masalah keluarga, atau hal-hal lain dalam hidup mereka.

Jadi ketika kamu salah menyebut sesuatu atau percakapanmu sempat canggung, jangan langsung menganggap bahwa kejadian tersebut menjadi pusat perhatian semua orang.

Bayangkan saja:

Kamu mengatakan sesuatu yang terasa memalukan.

Lima menit kemudian, kamu masih memikirkannya.

Sementara orang lain mungkin sudah memikirkan hal yang sama sekali berbeda.

Karena itu, ketika percakapan terasa canggung, tanyakan kepada dirimu:

“Apakah aku benar-benar sedang diperhatikan sebanyak yang aku bayangkan?”

Pertanyaan tersebut dapat membantu mengurangi kecemasan sosial yang muncul karena asumsi.

Kamu tidak harus tampil sempurna.

Kamu hanya perlu hadir sebagai manusia biasa yang terkadang salah bicara.

4. Jangan Langsung Menafsirkan Nada atau Ekspresi Orang Lain

Percakapan canggung sering menjadi lebih buruk karena kita mulai membaca pikiran orang lain.

Dia menjawab pendek.

“Dia marah.”

Dia melihat ke arah lain.

“Dia tidak suka aku.”

Dia tidak tersenyum.

“Aku pasti membuatnya tersinggung.”

Masalahnya, kita sebenarnya tidak tahu apakah interpretasi tersebut benar.

Satu ekspresi wajah dapat memiliki banyak arti.

Orang yang terlihat serius belum tentu marah.

Orang yang menjawab singkat belum tentu kesal.

Orang yang diam belum tentu tidak tertarik.

Bahkan perubahan nada suara belum tentu berhubungan dengan kita.

Ketika situasi sosial terasa ambigu, otak kita cenderung mencari penjelasan. Jika kita sedang cemas, kita bahkan lebih mudah memilih penjelasan yang negatif.

Karena itu, biasakan membedakan antara fakta dan interpretasi.

Fakta:

“Dia menjawab, ‘Oh, begitu.’”

Interpretasi:

“Dia pasti tidak suka dengan ceritaku.”

Keduanya bukan hal yang sama.

Jika kamu hanya memiliki fakta pertama, jangan buru-buru memperlakukan interpretasi kedua sebagai kebenaran.

Dalam situasi yang memang penting, kamu juga bisa melakukan klarifikasi secara sederhana.

“Apakah aku salah memahami maksudmu?”

atau:

“Biar aku tidak salah tangkap, maksudmu tadi bagaimana?”

Pertanyaan semacam ini jauh lebih sehat daripada menghabiskan waktu berjam-jam menebak-nebak isi kepala orang lain.

5. Gunakan Pertanyaan untuk Mengurangi Tekanan

Ketika percakapan menjadi canggung, kamu mungkin merasa harus menemukan sesuatu yang menarik untuk dikatakan.

Padahal, kamu tidak harus selalu menjadi orang yang membawa percakapan.

Salah satu cara paling sederhana untuk menjaga percakapan tetap berjalan adalah mengajukan pertanyaan yang tulus.

Bukan pertanyaan yang terdengar seperti interogasi.

Bukan pula pertanyaan yang hanya bertujuan menghindari keheningan.

Pertanyaan yang baik memberi ruang kepada orang lain untuk menjelaskan sesuatu.

Misalnya:

“Bagaimana menurutmu soal itu?”

“Apa yang membuatmu tertarik dengan hal tersebut?”

“Kalau kamu sendiri, biasanya bagaimana?”

“Menurutmu bagian paling sulitnya apa?”

Pertanyaan seperti ini membantu mengalihkan fokus dari tekanan untuk tampil sempurna.

Namun ada satu hal yang perlu diperhatikan.

Jangan mengubah percakapan menjadi sesi tanya jawab tanpa memberikan respons pribadi.

Jika seseorang bercerita tentang pekerjaannya, jangan hanya terus bertanya.

Kamu bisa memberikan sedikit respons:

“Oh, aku bisa membayangkan pasti cukup melelahkan.”

Kemudian lanjutkan:

“Bagian mana yang paling kamu suka?”

Dengan begitu, percakapan terasa seperti pertukaran, bukan wawancara.

Tujuannya bukan membuat percakapan selalu menarik.

Tujuannya adalah membuat kedua orang merasa didengarkan dan diberi ruang.

6. Berani Mengakui Kecanggungan Tanpa Membuatnya Menjadi Drama

Ini mungkin terdengar aneh, tetapi terkadang cara tercepat untuk mengurangi kecanggungan adalah dengan mengakuinya secara ringan.

Misalnya, kamu mengatakan sesuatu yang ternyata terdengar salah.

Daripada panik dan memberikan penjelasan panjang:

“Bukan maksudku seperti itu, sebenarnya aku tadi ingin mengatakan…”

dan kemudian semakin membuat situasi rumit, kamu bisa berkata:

“Wah, itu tadi terdengar berbeda dari yang ada di kepalaku.”

Lalu lanjutkan.

Atau ketika percakapan benar-benar terasa aneh:

“Kayaknya kita sama-sama kehabisan kata-kata, ya.”

Kalimat sederhana seperti ini dapat mengurangi tekanan karena kamu tidak lagi berpura-pura bahwa semuanya sempurna.

Humor ringan juga dapat membantu, selama tidak digunakan untuk merendahkan diri sendiri secara berlebihan.

Yang perlu dihindari adalah menjadikan kecanggungan sebagai alasan untuk terus meminta maaf.

“Maaf ya.”

“Maaf, tadi aku aneh.”

“Maaf, aku tidak tahu kenapa ngomong begitu.”

“Maaf banget.”

Semakin sering kamu meminta maaf untuk sesuatu yang sebenarnya tidak serius, semakin besar kesan bahwa kamu menganggap situasi tersebut sebagai bencana.

Padahal mungkin tidak.

Mengakui kecanggungan berbeda dengan membesar-besarkannya.

Kamu bisa mengakui momen yang aneh, tersenyum, lalu melanjutkan percakapan.

7. Terima Bahwa Tidak Semua Percakapan Harus Berakhir dengan Nyaman

Ini mungkin bagian yang paling sulit sekaligus paling membebaskan.

Kita sering berpikir bahwa jika kita cukup pintar, cukup ramah, cukup sabar, dan cukup pandai berkomunikasi, maka semua percakapan akan berjalan baik.

Kenyataannya tidak demikian.

Ada orang yang memang tidak cocok dengan kita.

Ada topik yang terlalu sensitif.

Ada hari ketika seseorang sedang tidak ingin berbicara.

Ada hubungan yang sedang mengalami ketegangan.

Ada percakapan yang memang tidak memiliki akhir yang menyenangkan.

Dan itu tidak selalu berarti kamu gagal.

Kematangan emosional bukan kemampuan untuk membuat semua orang nyaman setiap saat.

Kematangan emosional adalah kemampuan untuk berkata:

“Aku sudah berusaha merespons dengan baik. Sisanya tidak semuanya berada dalam kendaliku.”

Ini penting karena keinginan untuk mengendalikan hasil percakapan dapat menciptakan kecemasan yang sangat besar.

Kamu mungkin terus memikirkan:

“Apakah dia masih marah?”

“Apakah dia salah paham?”

“Apakah hubungan kami akan berubah?”

“Haruskah aku mengirim pesan lagi?”

Kadang-kadang, semakin keras kamu mencoba memperbaiki sesuatu yang sebenarnya tidak perlu diperbaiki, semakin rumit situasinya.

Jika kamu sudah menjelaskan maksudmu dengan baik, meminta maaf ketika memang perlu, dan mendengarkan orang lain dengan tulus, kamu boleh berhenti.

Tidak semua ketidaknyamanan harus segera diselesaikan.

Tidak semua kesalahpahaman harus selesai dalam lima menit.

Dan tidak semua orang harus memahami dirimu dengan sempurna.

Percakapan yang Canggung Bukan Bukti Bahwa Kamu Buruk dalam Bersosialisasi

Satu hal yang sering dilupakan adalah bahwa percakapan yang canggung merupakan bagian normal dari kehidupan sosial.

Bahkan orang yang sangat percaya diri pun pernah salah bicara.

Pernah kehabisan topik.

Pernah salah memahami situasi.

Pernah membuat orang lain tidak nyaman.

Pernah mengalami keheningan panjang.

Perbedaannya bukan pada apakah mereka pernah mengalami kecanggungan atau tidak.

Perbedaannya terletak pada bagaimana mereka menanggapinya.

Orang yang sangat takut terhadap kecanggungan biasanya berpikir:

“Aku tidak boleh terlihat aneh.”

Sementara orang yang lebih menerima dirinya mungkin berpikir:

“Ya, tadi agak canggung. Tidak apa-apa.”

Kalimat kedua memberikan ruang untuk bernapas.

Kamu tidak perlu menjadi pembicara yang sempurna.

Kamu tidak perlu selalu memiliki jawaban.

Kamu tidak perlu membuat semua orang tertawa.

Dan kamu tidak perlu mengendalikan persepsi setiap orang terhadap dirimu.

Yang bisa kamu lakukan adalah hadir, mendengarkan, berpikir sebelum bereaksi, dan memperlakukan orang lain dengan hormat.

Pada Akhirnya, Kendali Bukan Berarti Mengendalikan Percakapan

Ketika berbicara tentang “tetap terkendali”, banyak orang mengartikannya sebagai kemampuan untuk selalu tahu apa yang harus dikatakan.

Padahal bukan itu.

Kendali yang sebenarnya justru terlihat ketika kamu tidak langsung bereaksi terhadap ketidaknyamanan.

Kamu mampu diam tanpa panik.

Kamu mampu mendengarkan tanpa buru-buru membela diri.

Kamu mampu berkata, “Aku tidak tahu.”

Kamu mampu meminta klarifikasi.

Kamu mampu mengakui kesalahan.

Kamu mampu menerima bahwa seseorang mungkin tidak setuju denganmu.

Dan yang paling penting, kamu mampu menerima bahwa percakapan tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Jadi, jika suatu hari kamu berada dalam percakapan yang terasa canggung, jangan langsung menganggap bahwa kamu harus menyelamatkan situasi.

Berhenti sebentar.

Tarik napas.

Perhatikan apa yang benar-benar terjadi, bukan apa yang kamu takutkan sedang terjadi.

Kemudian pilih responsmu dengan sadar.

Karena pada akhirnya, ketenangan bukan tentang memiliki kendali atas percakapan. Ketenangan adalah memiliki kendali atas dirimu sendiri ketika percakapan tidak berjalan seperti yang kamu inginkan.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore