seseorang yang memiliki kebiasaan membaca / foto: Magnific/mego-studio
Mereka membeli buku baru, menyimpan daftar bacaan yang panjang, mengikuti rekomendasi buku di media sosial, bahkan memiliki rak yang penuh dengan buku yang belum selesai dibaca. Namun, ketika waktu luang datang, tangan justru lebih mudah meraih ponsel daripada membuka halaman buku.
Masalahnya sering kali bukan karena kita tidak suka membaca.
Kita hanya belum memiliki sistem yang membuat membaca terasa mudah untuk dilakukan secara konsisten.
Dalam psikologi perilaku, kebiasaan tidak hanya berkaitan dengan kemauan. Lingkungan, pemicu, tingkat kesulitan, penghargaan, dan rutinitas sehari-hari ikut menentukan apakah sebuah perilaku akan terus dilakukan atau perlahan ditinggalkan.
Karena itu, jika kamu ingin membaca lebih banyak, mungkin solusinya bukan memaksa diri membaca puluhan halaman setiap hari.
Kamu bisa mulai dengan mengubah cara membangun kebiasaan tersebut.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (14/9), terdapat enam cara yang dapat membantu kamu memiliki kebiasaan membaca yang lebih konsisten.
1. Mulailah dengan target yang sangat kecil
Salah satu kesalahan paling umum ketika ingin membangun kebiasaan membaca adalah menetapkan target yang terlalu besar.
Misalnya, seseorang yang hampir tidak pernah membaca tiba-tiba menetapkan target membaca satu buku setiap minggu.
Pada awalnya, target tersebut mungkin terasa menyenangkan. Ada semangat baru. Buku sudah disiapkan. Jadwal membaca sudah dibuat.
Namun setelah beberapa hari, kesibukan muncul.
Pekerjaan menumpuk. Tubuh lelah. Ada urusan keluarga. Ponsel terus memberikan notifikasi.
Akhirnya target 30 atau 50 halaman sehari terasa seperti kewajiban. Ketika tidak berhasil memenuhi target, muncul perasaan gagal. Beberapa hari kemudian, kebiasaan membaca pun berhenti.
Karena itu, cobalah melakukan hal yang jauh lebih sederhana.
Baca satu atau dua halaman terlebih dahulu.
Kedengarannya terlalu sedikit?
Justru itu tujuannya.
Dalam pembentukan kebiasaan, perilaku yang mudah dilakukan memiliki kemungkinan lebih besar untuk diulang. Ketika hambatan untuk memulai sangat kecil, kamu tidak membutuhkan motivasi yang besar untuk melakukannya.
Bayangkan dua situasi.
Situasi pertama:
"Malam ini saya harus membaca 40 halaman."
Situasi kedua:
"Malam ini saya hanya perlu membaca dua halaman."
Mana yang terasa lebih mudah?
Kemungkinan besar yang kedua.
Dan sering kali, setelah membaca dua halaman, kamu akan menemukan bahwa membaca beberapa halaman tambahan ternyata tidak terlalu sulit.
Yang paling penting bukan berapa banyak halaman yang kamu baca pada hari pertama.
Yang penting adalah membiasakan otak menganggap membaca sebagai sesuatu yang normal dalam rutinitas harian.
Setelah kebiasaan tersebut mulai terbentuk, durasinya bisa ditingkatkan secara perlahan.
Mulai dari dua halaman.
Kemudian lima halaman.
Lalu sepuluh halaman.
Setelah itu, mungkin kamu tidak lagi membutuhkan target karena membaca sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Jadi, jangan meremehkan kebiasaan kecil.
Membaca dua halaman setiap hari jauh lebih berguna untuk membangun kebiasaan daripada membaca 100 halaman sekali kemudian berhenti selama dua minggu.
2. Kaitkan membaca dengan kebiasaan yang sudah kamu miliki
Kamu tidak harus mencari waktu khusus yang benar-benar kosong untuk membaca.
Sebaliknya, cobalah menempelkan kebiasaan membaca pada aktivitas yang sudah rutin kamu lakukan.
Dalam psikologi perilaku, strategi semacam ini sering disebut habit stacking, yaitu menghubungkan perilaku baru dengan kebiasaan yang sudah ada.
Misalnya, kamu sudah memiliki rutinitas:
minum kopi setiap pagi,
sarapan,
naik kereta,
menunggu makan siang,
minum teh pada sore hari,
atau berbaring sebelum tidur.
Kamu bisa memasukkan membaca ke dalam salah satu momen tersebut.
Contohnya:
"Setelah membuat kopi pagi, saya akan membaca lima halaman."
Atau:
"Setelah makan malam, saya akan membaca selama 10 menit."
Atau:
"Sebelum tidur, saya akan membaca satu bab."
Dengan cara ini, kamu tidak perlu setiap hari bertanya kepada diri sendiri:
"Kapan saya harus membaca?"
Keputusan tersebut sudah dibuat sebelumnya.
Ini penting karena kehidupan sehari-hari penuh dengan keputusan kecil. Semakin sering kita harus memutuskan kapan, di mana, dan berapa lama harus membaca, semakin besar kemungkinan kita menundanya.
Sebaliknya, jika membaca sudah memiliki pemicu yang jelas, perilaku tersebut menjadi lebih otomatis.
Misalnya, ketika kamu selesai membuat kopi, otak mulai mengasosiasikan momen tersebut dengan membaca.
Lama-kelamaan, kopi pagi dan beberapa halaman buku menjadi satu rangkaian aktivitas.
Begitu pula ketika membaca dilakukan sebelum tidur.
Awalnya kamu mungkin harus mengingatnya.
Namun setelah dilakukan berulang kali, mengambil buku sebelum tidur bisa menjadi bagian alami dari rutinitas.
Karena itu, jangan hanya membuat resolusi:
"Saya ingin membaca lebih banyak."
Buatlah aturan yang lebih spesifik:
"Setelah makan malam, saya membaca selama 10 menit."
Semakin jelas hubungan antara pemicu dan perilaku, semakin mudah kebiasaan baru dibangun.
3. Jangan selalu memilih buku yang "seharusnya" kamu baca
Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi banyak orang berhenti membaca karena mereka memilih buku berdasarkan apa yang mereka pikir harus dibaca.
Buku klasik.
Buku yang dianggap penting.
Buku yang direkomendasikan banyak orang.
Buku yang sedang populer.
Buku yang dianggap akan membuat mereka lebih pintar.
Masalahnya, membaca bukan ujian.
Kamu tidak perlu menyelesaikan sebuah buku hanya karena sudah membelinya.
Kalau sebuah buku membuatmu tidak tertarik setelah beberapa puluh halaman, tidak ada salahnya berhenti dan mencoba buku lain.
Kebebasan memilih dapat membuat aktivitas membaca terasa lebih menyenangkan dan meningkatkan kemungkinan seseorang ingin mengulanginya.
Coba perhatikan perbedaannya.
Jika kamu berkata:
"Saya harus membaca buku ini karena buku ini dianggap bagus."
Aktivitas membaca bisa terasa seperti tugas.
Namun jika kamu berkata:
"Saya ingin tahu apa yang terjadi dalam buku ini."
Membaca terasa seperti aktivitas yang kamu pilih sendiri.
Rasa memiliki kendali terhadap pilihan dapat menjadi faktor penting dalam mempertahankan perilaku.
Karena itu, jangan takut membaca buku yang ringan.
Novel, biografi, psikologi populer, sejarah, komik, esai, memoar, buku bisnis, buku pengembangan diri, atau bahkan buku yang hanya menghibur pun tetap merupakan bacaan.
Tujuan awalnya bukan menjadi pembaca yang terlihat pintar.
Tujuan awalnya adalah menjadi orang yang terbiasa membaca.
Ketika kebiasaan tersebut sudah kuat, kamu bisa mulai memperluas jenis bacaan.
Kamu bisa membaca buku yang lebih kompleks.
Bisa mencoba topik baru.
Bisa membaca karya yang membutuhkan konsentrasi lebih tinggi.
Namun jangan membuat prosesnya terlalu berat sejak awal.
Kalau kamu sedang menikmati novel 300 halaman, selesaikan novel itu.
Kalau kamu ingin membaca buku tentang sejarah, bacalah sejarah.
Kalau kamu hanya punya energi untuk membaca artikel pendek, tidak masalah.
Yang terpenting adalah menjaga hubungan positif antara dirimu dan aktivitas membaca.
4. Kurangi gangguan sebelum mulai membaca
Terkadang masalahnya bukan karena buku tersebut membosankan.
Masalahnya adalah lingkungan kita terlalu menarik.
Ponsel berada di samping kita.
Notifikasi masuk setiap beberapa menit.
Media sosial menawarkan video pendek tanpa akhir.
Pesan masuk.
Email muncul.
Kemudian kita mencoba membaca sebuah paragraf.
Belum selesai satu halaman, perhatian sudah berpindah ke layar.
Akibatnya, membaca terasa melelahkan.
Padahal sebenarnya otak sedang bekerja melawan terlalu banyak gangguan.
Karena itu, jika kamu ingin membaca lebih banyak, jangan hanya meningkatkan motivasi.
Kurangi friksi dan gangguan di sekitar aktivitas membaca.
Salah satu cara paling sederhana adalah menjauhkan ponsel.
Tidak harus pergi ke tempat khusus.
Cukup letakkan ponsel beberapa meter dari tempat membaca, aktifkan mode jangan ganggu, atau simpan di ruangan lain selama 15–20 menit.
Tujuannya bukan membenci teknologi.
Tujuannya adalah memberikan kesempatan kepada perhatianmu untuk menetap pada satu aktivitas.
Kamu juga bisa membuat lingkungan membaca yang sederhana.
Misalnya:
letakkan buku di meja sebelum tidur,
simpan buku di dekat tempat duduk favorit,
bawa buku ketika bepergian,
gunakan pembatas buku agar mudah melanjutkan,
matikan notifikasi yang tidak penting,
atau gunakan e-reader jika lebih nyaman membaca secara digital.
Perhatikan satu prinsip penting:
Semakin mudah buku terlihat dan dijangkau, semakin mudah kamu mengingat untuk membacanya.
Sebaliknya, jika buku disimpan di dalam lemari, sementara ponsel selalu berada di tangan, pilihan yang paling mudah kemungkinan besar adalah ponsel.
Kita sering mengira bahwa kebiasaan hanya membutuhkan disiplin.
Padahal lingkungan juga memiliki pengaruh besar terhadap perilaku.
Jadi, daripada terus berkata:
"Saya harus lebih disiplin."
Cobalah bertanya:
"Bagaimana saya bisa membuat membaca menjadi pilihan yang paling mudah?"
Pertanyaan tersebut sering menghasilkan perubahan yang lebih realistis.
5. Fokus pada konsistensi, bukan jumlah buku
Ada satu jebakan lain yang sering dialami orang yang ingin menjadi pembaca.
Mereka terlalu fokus pada jumlah buku.
Misalnya:
"Tahun ini saya harus membaca 50 buku."
Target semacam itu memang bisa memotivasi sebagian orang.
Namun bagi orang lain, target tersebut justru menciptakan tekanan.
Ketika membaca menjadi perlombaan untuk menyelesaikan buku sebanyak mungkin, seseorang bisa kehilangan kenikmatan membaca.
Mereka mulai terburu-buru.
Melewati bagian tertentu.
Tidak menikmati argumen penulis.
Atau bahkan merasa bersalah ketika membaca hanya beberapa halaman.
Padahal membaca bukan kompetisi.
Satu buku yang benar-benar kamu pahami bisa memberikan lebih banyak manfaat daripada sepuluh buku yang kamu selesaikan tanpa benar-benar mengingat isinya.
Karena itu, cobalah mengukur konsistensi, bukan hanya output.
Daripada:
"Saya harus menyelesaikan empat buku bulan ini."
Cobalah:
"Saya akan membaca setiap hari selama 15 menit."
Dengan target seperti ini, keberhasilan tidak lagi bergantung pada seberapa cepat kamu menyelesaikan buku.
Kamu hanya perlu hadir dan membaca.
Ada hari ketika kamu mungkin membaca 20 halaman.
Ada hari ketika hanya mampu membaca tiga halaman.
Tidak masalah.
Kebiasaan tetap berjalan.
Dan justru konsistensi semacam inilah yang dapat membuat membaca menjadi bagian dari identitas sehari-hari.
Kamu tidak lagi berpikir:
"Saya sedang mencoba menjadi orang yang suka membaca."
Melainkan:
"Saya memang orang yang membaca."
Perubahan cara melihat diri sendiri dapat membantu mempertahankan kebiasaan dalam jangka panjang.
6. Beri dirimu penghargaan dan buat membaca terasa menyenangkan
Kita cenderung mengulangi perilaku yang memberikan pengalaman menyenangkan.
Karena itu, jangan membuat aktivitas membaca terasa seperti hukuman.
Kamu bisa menciptakan ritual sederhana yang membuat membaca menjadi pengalaman yang kamu nantikan.
Misalnya:
Membaca sambil minum kopi.
Membaca di tempat yang nyaman.
Menggunakan lampu dengan pencahayaan yang menyenangkan.
Membaca setelah mandi malam.
Membuat playlist instrumental.
Atau menyediakan waktu khusus tanpa gangguan.
Kamu juga bisa memberikan penghargaan kecil setelah menyelesaikan sesi membaca.
Misalnya, setelah membaca selama 20 menit, kamu boleh beristirahat atau melakukan aktivitas yang kamu sukai.
Namun ada hal yang lebih penting daripada penghargaan eksternal.
Rasakan manfaat membaca itu sendiri.
Perhatikan ketika sebuah buku memberikanmu perspektif baru.
Perhatikan ketika kamu menemukan ide yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.
Perhatikan ketika sebuah novel membuatmu larut dalam cerita.
Perhatikan ketika beberapa halaman buku membuat pikiranmu lebih tenang dibandingkan setelah menghabiskan waktu berjam-jam menggulir media sosial.
Ketika membaca mulai diasosiasikan dengan pengalaman positif, kamu tidak selalu membutuhkan paksaan untuk melakukannya.
Kamu mulai membaca karena memang ingin membaca.
Dan pada titik itu, kebiasaan menjadi jauh lebih mudah dipertahankan.
Jangan Menunggu Motivasi untuk Membaca
Ada satu hal penting yang perlu dipahami.
Kamu tidak harus selalu merasa termotivasi untuk membaca.
Motivasi manusia naik turun.
Ada hari ketika kamu sangat bersemangat.
Ada hari ketika kamu lelah dan tidak ingin melakukan apa pun.
Jika kebiasaan membaca hanya bergantung pada motivasi, kemungkinan besar kebiasaan tersebut tidak akan bertahan lama.
Lebih baik membangun sistem yang tetap bisa dilakukan bahkan ketika motivasi sedang rendah.
Misalnya:
Jika sedang bersemangat: baca 30 menit.
Jika sedang biasa saja: baca 15 menit.
Jika sedang sangat lelah: baca dua halaman.
Dengan pendekatan tersebut, kamu tidak perlu selalu sempurna.
Kamu hanya perlu menjaga kebiasaan tetap hidup.
Karena dalam jangka panjang, kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali dapat memberikan hasil yang jauh lebih besar daripada usaha besar yang hanya dilakukan sesekali.
Bagaimana Memulainya Hari Ini?
Kamu tidak perlu membeli lima buku baru.
Tidak perlu membuat target membaca 50 buku dalam setahun.
Tidak perlu membuat jadwal yang rumit.
Cukup lakukan langkah sederhana berikut.
Pilih satu buku yang benar-benar ingin kamu baca.
Letakkan buku tersebut di tempat yang mudah terlihat.
Tentukan satu pemicu, misalnya setelah makan malam.
Kemudian tetapkan target yang sangat kecil:
Baca selama lima menit.
Selama lima menit tersebut, jauhkan ponsel.
Tidak perlu memikirkan berapa halaman yang harus selesai.
Tidak perlu memikirkan berapa banyak buku yang akan kamu baca tahun ini.
Cukup baca.
Besok, lakukan lagi.
Lusa, lakukan lagi.
Jika suatu hari kamu membaca lebih lama, bagus.
Jika suatu hari hanya membaca dua halaman, tetap bagus.
Karena tujuan awalnya bukan menjadi pembaca yang sempurna.
Tujuannya adalah membuat membaca menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan
Memiliki kebiasaan membaca lebih banyak tidak selalu membutuhkan disiplin yang luar biasa.
Sering kali, yang dibutuhkan justru adalah strategi yang membuat membaca lebih mudah dilakukan.
Mulailah dari target kecil.
Hubungkan membaca dengan kebiasaan yang sudah ada.
Pilih buku yang benar-benar menarik perhatianmu.
Kurangi gangguan dari lingkungan.
Fokus pada konsistensi daripada jumlah buku.
Dan buat pengalaman membaca terasa menyenangkan.
Pada akhirnya, perubahan besar tidak selalu dimulai dari keputusan besar.
Kadang-kadang, perubahan dimulai dari hal yang sangat sederhana:
membuka sebuah buku dan membaca satu halaman hari ini.
Satu halaman mungkin terlihat kecil.
Tetapi jika dilakukan berulang kali, satu halaman bisa menjadi lima halaman, lima halaman menjadi satu bab, satu bab menjadi satu buku, dan satu buku bisa membuka cara baru dalam melihat dunia.
Jadi, jika selama ini kamu merasa tidak punya kebiasaan membaca, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa kamu bukan seorang pembaca.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Lecce vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Imbang di Via del Mare

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022