Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 1 September 2026 | 21.28 WIB

7 Alasan Mengapa Beberapa Orang Malah Berkembang Pesat Saat Mereka Berada di Bawah Tekanan

seseorang yang berkembang pesat saat di bawah tekanan / foto: Magnific/gzorgz

 

JawaPos.com - Ada orang yang ketika menghadapi tekanan justru menjadi lebih fokus, lebih produktif, dan bahkan mampu mencapai hal-hal yang sebelumnya terasa mustahil. Ketika tenggat waktu semakin dekat, masalah semakin rumit, atau keadaan memaksa mereka mengambil keputusan penting, mereka seolah menemukan energi tambahan.

Namun, ada pula orang yang mengalami hal sebaliknya. Tekanan membuat mereka sulit berpikir, kehilangan motivasi, mudah cemas, atau merasa kewalahan.

Mengapa respons manusia terhadap tekanan bisa begitu berbeda?

Dalam psikologi, jawabannya tidak sesederhana "orang kuat menyukai tekanan". Cara seseorang merespons tekanan dipengaruhi oleh persepsi terhadap situasi, pengalaman masa lalu, kemampuan mengatur emosi, tingkat kontrol yang dirasakan, serta karakteristik tekanan itu sendiri.

Dengan kata lain, tekanan tidak selalu membuat seseorang lebih buruk. Dalam kondisi tertentu, tekanan justru dapat menjadi pemicu performa dan pertumbuhan.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (1/9), terdapat tujuh alasan psikologis mengapa beberapa orang justru berkembang pesat ketika berada di bawah tekanan.

1. Tekanan Membuat Mereka Memusatkan Perhatian pada Hal yang Paling Penting

Dalam kehidupan normal, manusia menghadapi terlalu banyak rangsangan.

Ada pesan yang belum dibalas, pekerjaan yang belum selesai, media sosial, berbagai rencana masa depan, masalah kecil, dan banyak hal lain yang bersaing untuk mendapatkan perhatian.

Ketika tekanan meningkat, prioritas sering kali menjadi jauh lebih jelas.

Misalnya, seseorang memiliki waktu dua minggu untuk menyelesaikan sebuah proyek. Selama dua minggu pertama, ia mungkin terus menunda karena merasa masih punya banyak waktu.

Tetapi ketika tersisa dua hari, pikirannya berubah.

"Yang penting sekarang adalah menyelesaikan proyek ini."

Gangguan menjadi kurang menarik. Aktivitas yang tidak berhubungan dengan tujuan utama mulai terasa tidak relevan. Perhatian menjadi lebih terarah.

Dalam psikologi, peningkatan tekanan pada tingkat tertentu memang dapat membantu meningkatkan kewaspadaan dan mobilisasi sumber daya mental. Inilah salah satu alasan mengapa seseorang terkadang bisa bekerja jauh lebih fokus ketika deadline sudah dekat.

Tekanan memberikan sesuatu yang sangat berharga: urgensi.

Urgensi membuat otak lebih mudah membedakan antara apa yang penting dan apa yang bisa ditunda.

Namun, ada batasnya.

Tekanan dalam jumlah tertentu dapat membantu seseorang berkonsentrasi, tetapi tekanan yang terlalu tinggi justru dapat mengganggu fungsi kognitif. Ketika seseorang merasa benar-benar kewalahan, perhatian dapat menjadi kacau dan kemampuan mengambil keputusan menurun.

Jadi, bukan berarti semakin banyak tekanan semakin baik.

Yang lebih tepat adalah:

Tekanan pada tingkat yang masih dapat dikelola dapat meningkatkan fokus, sedangkan tekanan yang berlebihan dapat menghambatnya.

Orang yang berkembang pesat di bawah tekanan biasanya bukan orang yang tidak merasakan tekanan. Mereka mungkin merasakannya dengan sangat jelas, tetapi mampu mengubah rasa urgensi tersebut menjadi konsentrasi.

2. Mereka Melihat Tekanan sebagai Tantangan, Bukan Ancaman

Dua orang dapat menghadapi situasi yang sama tetapi memberikan makna yang sangat berbeda terhadap situasi tersebut.

Bayangkan dua orang mendapatkan tugas besar dengan deadline yang ketat.

Orang pertama berpikir:

"Kalau aku gagal, semuanya akan berantakan."

Orang kedua berpikir:

"Ini memang sulit, tetapi mungkin ini kesempatan untuk membuktikan kemampuan saya."

Situasinya sama.

Tekanannya sama.

Namun, interpretasinya berbeda.

Dalam psikologi stres, cara seseorang menilai suatu situasi memiliki peran besar terhadap respons yang muncul. Ketika seseorang memandang situasi terutama sebagai ancaman, ia dapat lebih mudah mengalami rasa takut, kehilangan kontrol, dan kecemasan.

Sebaliknya, ketika situasi dipandang sebagai tantangan yang masih mungkin dihadapi, respons psikologisnya dapat menjadi lebih adaptif.

Ini bukan berarti mereka berpikir positif secara naif.

Orang yang melihat tekanan sebagai tantangan tetap sadar bahwa situasinya sulit.

Perbedaannya adalah mereka tidak langsung menyimpulkan:

"Saya tidak mampu."

Mereka lebih mungkin berpikir:

"Saya belum tahu bagaimana menyelesaikannya, tetapi saya bisa mencoba mencari caranya."

Perubahan kecil dalam cara memaknai tekanan dapat menghasilkan perubahan besar dalam perilaku.

Ancaman membuat seseorang ingin melarikan diri.

Tantangan membuat seseorang ingin mencari strategi.

Dan ketika seseorang terus berhadapan dengan tantangan, ia berkesempatan mengembangkan kemampuan baru.

3. Tekanan Memaksa Mereka Keluar dari Zona Nyaman

Pertumbuhan psikologis sering kali terjadi ketika seseorang menghadapi sesuatu yang sedikit berada di luar kemampuan yang sudah dimilikinya.

Jika hidup selalu nyaman, seseorang tidak selalu memiliki alasan untuk mengembangkan keterampilan baru.

Bayangkan seseorang yang selama bertahun-tahun bekerja dengan cara yang sama. Selama tidak ada masalah, metode tersebut mungkin cukup.

Kemudian datang situasi yang memaksanya berubah.

Tiba-tiba ia harus belajar berbicara di depan banyak orang.

Harus mengambil keputusan sendiri.

Harus mengelola konflik.

Harus belajar teknologi baru.

Harus bekerja dengan orang yang berbeda.

Pada awalnya, semua itu terasa tidak nyaman.

Tetapi ketidaknyamanan tersebut dapat menjadi stimulus untuk belajar.

Tekanan sering kali mempercepat proses ini karena seseorang tidak lagi memiliki pilihan untuk terus menggunakan cara lama.

Ia harus beradaptasi.

Dan adaptasi adalah salah satu mekanisme penting dalam perkembangan manusia.

Menariknya, seseorang yang berhasil melewati situasi sulit biasanya membawa pulang lebih dari sekadar hasil akhir. Ia juga mendapatkan pengalaman:

"Ternyata saya bisa melewati hal yang sebelumnya saya kira tidak sanggup saya hadapi."

Pengalaman semacam ini dapat meningkatkan keyakinan terhadap kemampuan diri.

Tekanan, dengan demikian, dapat menjadi semacam "ruang latihan" yang intensif.

Bukan karena penderitaan selalu menghasilkan pertumbuhan, tetapi karena situasi sulit terkadang memaksa seseorang mengembangkan kapasitas yang sebelumnya belum pernah digunakan.

4. Mereka Memiliki Rasa Kontrol yang Kuat

Salah satu perbedaan penting antara orang yang berkembang di bawah tekanan dan orang yang mudah lumpuh oleh tekanan adalah perasaan memiliki kendali.

Perhatikan dua kalimat berikut:

"Saya tidak bisa melakukan apa-apa."

dan

"Saya mungkin tidak bisa mengendalikan situasinya, tetapi saya masih bisa menentukan apa yang saya lakukan berikutnya."

Kalimat kedua menunjukkan rasa kontrol yang lebih besar.

Orang dengan rasa kontrol yang kuat tidak selalu memiliki kehidupan yang lebih mudah. Mereka juga bisa mengalami kegagalan, masalah finansial, konflik, deadline, dan ketidakpastian.

Namun, mereka cenderung memisahkan dua hal:

Apa yang bisa saya kendalikan?

dan

Apa yang tidak bisa saya kendalikan?

Misalnya, seorang atlet tidak dapat mengontrol performa lawannya.

Tetapi ia dapat mengontrol persiapannya.

Seorang mahasiswa tidak dapat mengontrol tingkat kesulitan ujian.

Tetapi ia dapat mengontrol bagaimana ia belajar.

Seorang pekerja tidak selalu dapat mengontrol keputusan perusahaan.

Tetapi ia masih dapat mengontrol kualitas pekerjaannya, cara berkomunikasi, dan langkah berikutnya.

Kemampuan memusatkan perhatian pada wilayah yang masih dapat dikendalikan membantu mengurangi perasaan tidak berdaya.

Dan ketika seseorang merasa masih memiliki pilihan, tekanan terasa lebih seperti masalah yang harus dipecahkan daripada bencana yang harus ditakuti.

5. Mereka Sudah Terbiasa Menghadapi Kesulitan

Pengalaman masa lalu juga dapat membentuk cara seseorang merespons tekanan.

Seseorang yang pernah menghadapi banyak situasi sulit dan berhasil melewatinya dapat mengembangkan keyakinan bahwa kesulitan bukan sesuatu yang otomatis berarti kehancuran.

Misalnya, seseorang pernah kehilangan pekerjaan.

Pada saat kejadian itu, mungkin ia merasa dunia runtuh.

Namun kemudian ia mencari pekerjaan baru, belajar keterampilan baru, dan akhirnya berhasil bangkit.

Beberapa tahun kemudian, ketika menghadapi masalah profesional lainnya, pengalaman tersebut menjadi referensi psikologis:

"Saya pernah melewati masa sulit sebelumnya."

Ini penting.

Manusia tidak hanya belajar dari keberhasilan. Kita juga belajar dari pengalaman menghadapi kegagalan dan ketidakpastian.

Dalam psikologi, pengalaman berhasil mengatasi tantangan dapat membantu membangun self-efficacy, yaitu keyakinan bahwa seseorang mampu melakukan tindakan yang diperlukan untuk menghadapi situasi tertentu.

Semakin sering seseorang mengalami:

masalah → usaha → strategi → berhasil melewati

semakin kuat kemungkinan ia percaya bahwa masalah berikutnya juga dapat dihadapi.

Namun, hal ini tidak berarti seseorang harus mengalami trauma atau penderitaan agar menjadi kuat.

Tidak semua kesulitan menghasilkan ketangguhan.

Tekanan yang ekstrem, kronis, atau tidak terkendali justru dapat memberikan dampak negatif.

Yang lebih berpengaruh adalah pengalaman menghadapi tantangan yang memungkinkan seseorang belajar, beradaptasi, mendapatkan dukungan, dan merasakan bahwa usahanya memiliki hasil.

6. Tekanan Memberikan Batas yang Jelas

Salah satu masalah terbesar dalam kehidupan modern adalah terlalu banyak pilihan.

Ketika tidak ada deadline, kita bisa terus berkata:

"Nanti."

Ketika tidak ada batas waktu, kita dapat terus memperbaiki sesuatu tanpa pernah merasa selesai.

Ketika tidak ada konsekuensi yang jelas, motivasi mudah menurun.

Tekanan mengubah semuanya.

Deadline menciptakan titik akhir.

Target menciptakan ukuran keberhasilan.

Konsekuensi menciptakan alasan untuk bertindak.

Bagi sebagian orang, struktur seperti ini justru sangat membantu.

Mereka tidak perlu terus bertanya:

"Kapan saya harus mulai?"

Karena jawabannya sudah jelas.

Mereka tidak perlu memikirkan puluhan kemungkinan.

Mereka hanya perlu menyelesaikan langkah berikutnya.

Dalam konteks ini, tekanan bekerja seperti pagar. Ia membatasi ruang gerak sehingga energi mental tidak terlalu banyak terbuang untuk mempertimbangkan kemungkinan yang tidak relevan.

Itulah mengapa seseorang yang terlihat tidak produktif selama berminggu-minggu terkadang dapat menyelesaikan pekerjaan besar hanya dalam beberapa hari ketika deadline benar-benar dekat.

Namun, pola ini memiliki sisi negatif.

Jika seseorang selalu membutuhkan tekanan ekstrem untuk mulai bekerja, ia mungkin telah mengembangkan pola prokrastinasi yang bergantung pada deadline.

Jadi kemampuan bekerja dengan baik di bawah tekanan tidak selalu berarti pola tersebut sehat.

Idealnya, seseorang mampu menggunakan struktur dan deadline tanpa harus menunggu sampai dirinya benar-benar panik.

7. Mereka Mampu Mengubah Tekanan Menjadi Energi untuk Bertindak

Tekanan menghasilkan energi psikologis dan fisiologis.

Tubuh dapat meningkatkan kewaspadaan, denyut jantung, perhatian, dan kesiapan untuk bertindak ketika menghadapi situasi yang dianggap penting.

Respons ini pada dasarnya bukan musuh.

Tubuh sedang mengatakan:

"Sesuatu yang penting sedang terjadi. Bersiaplah."

Masalahnya adalah apa yang dilakukan seseorang dengan energi tersebut.

Seseorang bisa merasakan jantung berdebar lalu berpikir:

"Saya pasti akan gagal."

Tetapi orang lain bisa merasakan hal yang sama dan berpikir:

"Tubuh saya sedang mempersiapkan saya."

Sensasinya mungkin mirip.

Interpretasinya berbeda.

Orang yang berkembang di bawah tekanan sering kali memiliki kemampuan untuk mengubah energi emosional menjadi tindakan konkret.

Mereka tidak menunggu sampai merasa tenang sepenuhnya.

Mereka mulai bekerja meskipun masih gugup.

Mereka mengambil keputusan meskipun belum memiliki kepastian 100 persen.

Mereka bergerak sambil menyelesaikan masalah.

Ini penting karena tekanan yang tidak diterjemahkan menjadi tindakan cenderung berubah menjadi kecemasan yang berputar-putar.

Sebaliknya, ketika tekanan menghasilkan tindakan, seseorang memperoleh informasi baru.

Ia mencoba.

Mendapatkan hasil.

Memperbaiki strategi.

Mencoba lagi.

Proses tersebut membuat tekanan menjadi sesuatu yang produktif.

Tetapi Apakah Semua Orang Seharusnya Bekerja di Bawah Tekanan?

Tidak.

Ini adalah bagian yang sangat penting.

Kita sering mendengar cerita tentang orang yang menjadi sangat sukses setelah melewati tekanan luar biasa. Karena itu, mudah muncul kesimpulan bahwa tekanan selalu baik untuk perkembangan manusia.

Padahal tidak demikian.

Ada perbedaan besar antara tekanan yang menantang dan stres kronis yang merusak.

Tekanan jangka pendek yang terukur dapat membantu meningkatkan fokus dan motivasi.

Tetapi tekanan yang berlangsung terus-menerus tanpa kesempatan untuk pulih dapat menguras sumber daya psikologis.

Jika seseorang terus-menerus berada dalam kondisi tertekan, kurang tidur, merasa tidak berdaya, tidak memiliki dukungan sosial, dan tidak memiliki waktu untuk pulih, kemampuan adaptasinya justru dapat menurun.

Karena itu, tujuan psikologis yang sehat bukanlah:

"Saya harus selalu berada di bawah tekanan."

Melainkan:

"Saya ingin mampu menghadapi tekanan ketika tekanan itu datang, tanpa bergantung padanya untuk bisa berfungsi."

Mengapa Ada Orang yang Tampak "Lebih Kuat" di Bawah Tekanan?

Jika kita melihat keseluruhan pembahasan, orang yang berkembang di bawah tekanan biasanya memiliki beberapa pola.

Mereka cenderung:

mampu memprioritaskan ketika keadaan mendesak;
melihat masalah sebagai tantangan yang dapat dihadapi;
memiliki rasa kontrol terhadap tindakan mereka;
memiliki pengalaman berhasil melewati kesulitan;
percaya bahwa kemampuan dapat dikembangkan;
mampu mengubah emosi menjadi tindakan;
dan memiliki strategi untuk mengatur stres serta memulihkan diri.

Yang menarik, sebagian besar kemampuan tersebut bukan sifat bawaan yang sepenuhnya tetap.

Banyak di antaranya dapat dilatih.

Seseorang dapat belajar membedakan antara hal yang bisa dan tidak bisa dikendalikan.

Seseorang dapat belajar memecah masalah besar menjadi langkah kecil.

Seseorang dapat belajar mengelola perhatian.

Seseorang dapat belajar mengenali kapan dirinya mulai kewalahan.

Dan seseorang dapat membangun pengalaman bahwa dirinya mampu menghadapi tantangan.

Kesimpulan: Tekanan Bukan Selalu Musuh

Tekanan memiliki hubungan yang kompleks dengan performa manusia.

Dalam kadar tertentu, tekanan dapat memberikan fokus, urgensi, energi, dan motivasi. Bagi sebagian orang, kondisi tersebut justru menjadi katalis yang membuat mereka berkembang lebih cepat.

Namun, tekanan yang terlalu tinggi atau terlalu lama dapat memberikan efek sebaliknya.

Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih berguna bukan:

"Mengapa beberapa orang kuat menghadapi tekanan?"

Melainkan:

"Bagaimana seseorang belajar menggunakan tekanan tanpa membiarkan tekanan mengendalikan dirinya?"

Orang yang berkembang pesat di bawah tekanan bukan berarti mereka tidak takut, tidak cemas, atau tidak pernah kewalahan.

Sering kali, mereka hanya telah belajar melakukan sesuatu yang sangat penting:

mereka mengubah tekanan menjadi informasi, energi, dan tindakan.

Ketika menghadapi situasi sulit, mereka tidak selalu bertanya:

"Bagaimana caranya supaya saya tidak merasakan tekanan ini?"

Mereka lebih mungkin bertanya:

"Apa yang bisa saya lakukan dengan situasi ini?"

Dan perbedaan kecil dalam pertanyaan tersebut dapat mengubah cara seseorang menghadapi seluruh pengalaman.

Pada akhirnya, ketangguhan bukan berarti selalu mampu berdiri tanpa pernah goyah.

Ketangguhan adalah kemampuan untuk tetap bergerak, menyesuaikan diri, belajar, dan pulih ketika kehidupan memberikan tekanan yang tidak bisa sepenuhnya kita hindari.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore