seseorang yang tidak mudah memaafkan / foto: Magnific/tirachardz
Terutama ketika orang yang menyakiti kita tidak benar-benar meminta maaf dengan tulus.
Ada kalanya seseorang memang mengucapkan kata “maaf”, tetapi cara mengatakannya justru membuat luka terasa semakin dalam. Misalnya, “Maaf kalau kamu merasa tersinggung,” “Ya sudah, maaf, tapi kamu juga salah,” atau “Aku kan tidak bermaksud begitu.”
Secara bahasa, itu terdengar seperti permintaan maaf. Namun secara emosional, kita mungkin merasakan sesuatu yang berbeda: kesalahan kita seolah-olah tidak benar-benar diakui.
Inilah salah satu alasan mengapa seseorang bisa membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memaafkan. Bukan karena ia terlalu pendendam, melainkan karena ada kebutuhan psikologis yang belum terpenuhi.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (8/8), terdapat enam alasan mengapa memaafkan seseorang yang tidak meminta maaf dengan tulus bisa terasa begitu sulit.
1. Karena Luka Kita Terasa Seperti Tidak Diakui
Ketika seseorang menyakiti kita, salah satu hal yang paling kita butuhkan bukan sekadar kata “maaf”, melainkan pengakuan bahwa apa yang terjadi memang menyakitkan.
Bayangkan seseorang mempermalukan Anda di depan banyak orang. Setelah itu, ketika Anda mengungkapkan bahwa tindakan tersebut membuat Anda terluka, ia justru menjawab, “Ah, kamu terlalu sensitif.”
Masalahnya menjadi lebih besar daripada kejadian awal.
Awalnya Anda terluka karena dipermalukan. Kemudian Anda terluka lagi karena perasaan Anda dianggap berlebihan.
Dalam psikologi, pengakuan terhadap pengalaman emosional memiliki peran penting dalam membantu seseorang memproses pengalaman yang menyakitkan. Ketika pengalaman tersebut terus-menerus disangkal atau diremehkan, seseorang dapat merasa seolah-olah harus memperjuangkan haknya sendiri untuk merasa terluka.
Itulah sebabnya permintaan maaf yang tulus terasa berbeda.
Permintaan maaf yang tulus pada dasarnya mengatakan:
“Aku memahami bahwa tindakanku berdampak buruk kepadamu.”
Kalimat seperti itu memberikan validasi.
Sebaliknya, permintaan maaf yang disertai pembelaan diri dapat terasa seperti:
“Aku minta maaf, tetapi sebenarnya kamu tidak seharusnya merasa seperti itu.”
Perbedaannya sangat besar.
Ketika seseorang tidak mengakui luka yang ia sebabkan, otak dan emosi kita mungkin terus kembali kepada pertanyaan yang sama:
“Apakah dia benar-benar memahami apa yang telah dia lakukan kepadaku?”
Selama pertanyaan itu belum mendapatkan jawaban yang memuaskan, proses melepaskan kejadian tersebut bisa terasa jauh lebih sulit.
Karena terkadang, yang kita tunggu bukan sekadar kata maaf.
Kita menunggu pengakuan bahwa rasa sakit kita memang nyata.
2. Karena Kita Merasa Keadilan Belum Terpenuhi
Manusia memiliki kebutuhan psikologis yang kuat terhadap keadilan.
Ketika seseorang melakukan sesuatu yang menyakiti kita, secara alami muncul harapan bahwa orang tersebut akan mengakui kesalahannya dan bertanggung jawab atas tindakannya.
Jika itu tidak terjadi, muncul ketidakseimbangan.
Kita merasa:
“Dia melakukan kesalahan, tetapi mengapa saya yang harus menanggung akibatnya sementara dia bertindak seolah tidak terjadi apa-apa?”
Perasaan seperti ini sangat manusiawi.
Misalnya, seseorang mengkhianati kepercayaan Anda. Anda mungkin kehilangan hubungan, waktu, rasa aman, atau bahkan kepercayaan terhadap orang lain. Namun orang tersebut tidak menunjukkan penyesalan yang berarti.
Kemudian Anda diminta untuk “move on”.
Secara emosional, hal itu dapat terasa tidak adil.
Karena memaafkan kadang-kadang secara keliru dianggap sebagai cara untuk menghapus konsekuensi dari tindakan seseorang.
Padahal, memaafkan dan membebaskan seseorang dari tanggung jawab adalah dua hal yang berbeda.
Anda bisa memaafkan seseorang tanpa mengatakan bahwa tindakannya benar.
Anda juga bisa berhenti membenci seseorang tanpa kembali mempercayainya.
Anda bahkan bisa melepaskan kemarahan tanpa membuka kembali pintu hubungan yang sama.
Ini penting karena banyak orang sebenarnya tidak kesulitan dengan konsep memaafkan. Mereka kesulitan dengan gagasan bahwa memaafkan berarti membiarkan pelaku lolos begitu saja.
Padahal tidak harus demikian.
Memaafkan dapat menjadi proses internal untuk mengurangi beban emosional yang Anda bawa, sementara konsekuensi dan batasan tetap berlaku.
Dengan kata lain:
Memaafkan bukan berarti menghapus pertanggungjawaban.
3. Karena Permintaan Maaf yang Tidak Tulus Membuat Luka Terasa Dibuka Kembali
Ada perbedaan besar antara meminta maaf dan melakukan perbaikan hubungan.
Permintaan maaf yang tulus biasanya tidak hanya berisi kata “maaf”, tetapi juga menunjukkan adanya kesadaran terhadap kesalahan.
Misalnya:
“Aku sadar apa yang kulakukan menyakitimu. Aku salah karena mengatakan hal itu di depan orang lain. Aku mengerti kalau kamu kecewa. Aku tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, tetapi aku akan berusaha agar hal itu tidak terulang lagi.”
Bandingkan dengan:
“Ya sudah, maaf. Puas?”
Secara emosional, kedua kalimat tersebut memberikan pesan yang sangat berbeda.
Permintaan maaf yang buruk bahkan dapat membuat seseorang merasa lebih marah daripada sebelumnya.
Mengapa?
Karena kita bukan hanya menghadapi luka pertama. Kita menghadapi luka kedua akibat respons terhadap luka tersebut.
Fenomena seperti ini dapat membuat seseorang merasa bahwa orang lain tidak hanya menyakiti dirinya, tetapi juga menolak bertanggung jawab atas rasa sakit yang ditimbulkannya.
Akibatnya, proses penyembuhan menjadi lebih rumit.
Kita mungkin terus mengingat percakapan tersebut, membayangkan apa yang seharusnya dikatakan, atau berharap suatu hari orang tersebut akhirnya memahami kesalahannya.
Inilah alasan mengapa seseorang bisa mengatakan:
“Aku sebenarnya ingin melupakan semuanya, tetapi setiap kali dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, aku kembali teringat.”
Bukan karena ia sengaja ingin mengingat.
Melainkan karena otak manusia cenderung memberikan perhatian pada pengalaman yang dianggap belum selesai atau belum terselesaikan.
Ketika tidak ada pengakuan, penjelasan, atau pertanggungjawaban, pengalaman tersebut dapat terasa seperti cerita yang belum memiliki penutup.
4. Karena Kita Masih Berharap Mendapatkan Versi Permintaan Maaf yang Kita Butuhkan
Salah satu alasan paling sulit untuk memaafkan adalah adanya harapan.
Harapan bahwa suatu hari orang tersebut akan datang.
Mengakui kesalahan.
Memahami rasa sakit kita.
Mengatakan bahwa kita memang tidak pantas diperlakukan seperti itu.
Dan mungkin yang paling penting: benar-benar menyesal.
Harapan seperti ini sangat manusiawi.
Ketika hubungan memiliki arti besar bagi kita, kita biasanya tidak hanya kehilangan apa yang terjadi. Kita juga kehilangan gambaran tentang bagaimana seharusnya hubungan tersebut berjalan.
Seseorang mungkin berpikir:
“Seandainya dia menyadari kesalahannya…”
“Seandainya dia meminta maaf dengan benar…”
“Seandainya dia mengakui bahwa aku memang terluka…”
Pikiran seperti ini dapat membuat kita terus terikat pada masa lalu.
Masalahnya, kita tidak selalu bisa mendapatkan permintaan maaf yang kita inginkan.
Ada orang yang tidak memiliki kemampuan emosional untuk mengakui kesalahannya.
Ada yang terlalu defensif.
Ada yang merasa meminta maaf berarti kehilangan harga diri.
Ada pula yang memang tidak merasa bersalah.
Dan bagian yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa kita tidak bisa memaksa seseorang memiliki kesadaran yang belum ia miliki.
Pada titik tertentu, proses penyembuhan mungkin membutuhkan perubahan pertanyaan.
Bukan lagi:
“Kapan dia akan menyadari kesalahannya?”
Melainkan:
“Apa yang bisa kulakukan untuk menyembuhkan diriku meskipun dia tidak pernah menyadarinya?”
Perubahan pertanyaan ini sangat penting.
Karena selama proses penyembuhan sepenuhnya bergantung pada perilaku orang lain, kendali atas ketenangan kita berada di tangan orang tersebut.
5. Karena Memaafkan Terasa Seperti Mengkhianati Diri Sendiri
Ini adalah alasan yang sering tidak disadari.
Seseorang mungkin berpikir:
“Kalau aku memaafkannya, bukankah berarti aku membenarkan apa yang dia lakukan?”
Atau:
“Kalau aku memaafkannya sekarang, bukankah berarti rasa sakit yang aku alami tidak penting?”
Tidak.
Memaafkan tidak harus berarti menganggap tindakan tersebut benar.
Memaafkan juga tidak mengharuskan Anda melupakan.
Dan yang paling penting, memaafkan tidak berarti Anda harus kembali memberikan kepercayaan yang sama.
Ada perbedaan antara pengampunan, rekonsiliasi, dan kepercayaan.
Pengampunan adalah proses emosional yang terjadi dalam diri Anda.
Rekonsiliasi adalah keputusan untuk memperbaiki atau melanjutkan hubungan.
Sementara kepercayaan adalah sesuatu yang dibangun melalui perilaku yang konsisten dari waktu ke waktu.
Ketiganya tidak harus terjadi bersamaan.
Anda bisa mengatakan:
“Aku memilih untuk tidak lagi membawa kebencian ini dalam hidupku, tetapi aku tidak ingin kembali memiliki hubungan dekat dengannya.”
Itu bukan kontradiksi.
Itu adalah batasan.
Bahkan, terkadang bentuk penghormatan terhadap diri sendiri bukanlah terus mempertahankan kemarahan, melainkan belajar mengatakan:
“Apa yang kamu lakukan salah. Aku tidak akan membiarkan itu menentukan hidupku selamanya. Tetapi aku juga tidak akan berpura-pura bahwa tidak pernah terjadi apa-apa.”
Ini adalah bentuk penerimaan yang lebih realistis.
6. Karena Kita Mengira Harus Memaafkan Sebelum Benar-Benar Pulih
Banyak orang merasa tertekan karena menganggap mereka harus segera memaafkan.
Padahal, proses penyembuhan emosional tidak memiliki jadwal yang sama untuk setiap orang.
Anda tidak harus memaksakan diri mengatakan “aku sudah memaafkan” ketika sebenarnya Anda masih terluka.
Terkadang langkah pertama bukan memaafkan.
Langkah pertama adalah mengakui:
“Aku memang terluka.”
Kemudian:
“Apa yang terjadi memang tidak adil.”
Lalu:
“Aku tidak mendapatkan permintaan maaf yang kuharapkan.”
Dan akhirnya:
“Aku tetap ingin melanjutkan hidupku.”
Itu sudah merupakan kemajuan.
Memaafkan bukan perlombaan.
Bahkan, memaksa diri untuk memaafkan sebelum memahami kemarahan sendiri dapat membuat emosi tersebut justru ditekan, bukan diselesaikan.
Ada perbedaan antara benar-benar melepaskan kemarahan dan sekadar berpura-pura tidak marah.
Yang pertama membutuhkan proses.
Yang kedua hanya menyembunyikannya.
Karena itu, jika seseorang belum mampu memaafkan orang yang tidak meminta maaf dengan tulus, bukan berarti ia buruk, kekanak-kanakan, atau pendendam.
Mungkin ada bagian dalam dirinya yang masih berkata:
“Aku membutuhkan waktu untuk memahami apa yang terjadi padaku.”
Dan itu valid.
Jadi, Apakah Kita Harus Menunggu Permintaan Maaf untuk Bisa Memaafkan?
Tidak.
Idealnya, permintaan maaf yang tulus memang dapat membantu proses penyembuhan. Pengakuan, tanggung jawab, dan perubahan perilaku dapat membuat seseorang merasa didengar dan dihargai.
Namun, kenyataannya, tidak semua orang akan memberikan itu.
Ada orang yang meninggalkan kita tanpa penjelasan.
Ada yang meminta maaf hanya karena ingin mengakhiri konflik.
Ada yang meminta maaf tetapi tetap menyalahkan kita.
Ada pula yang tidak pernah meminta maaf sama sekali.
Jika ketenangan kita bergantung pada permintaan maaf mereka, kita mungkin akan menunggu sangat lama.
Di sinilah memaafkan dapat berubah makna.
Memaafkan bukan selalu tentang mengatakan:
“Apa yang kamu lakukan tidak apa-apa.”
Memaafkan bisa berarti:
“Apa yang kamu lakukan memang menyakitiku, tetapi aku tidak ingin terus memberikan ruang dalam pikiranku untuk kejadian itu.”
Itu bukan hadiah untuk orang yang menyakiti kita.
Itu bisa menjadi hadiah untuk diri sendiri.
Memaafkan Tidak Berarti Harus Melupakan
Ada anggapan bahwa jika kita benar-benar sudah memaafkan, kita tidak akan pernah mengingatnya lagi.
Padahal, ingatan dan kebencian adalah dua hal berbeda.
Anda bisa mengingat sesuatu tanpa terus hidup di dalamnya.
Anda bisa belajar dari pengalaman tanpa terus membenci orang yang menyebabkannya.
Anda bisa memahami bahwa seseorang melakukan kesalahan tanpa memberikan kesempatan kedua.
Dan Anda bisa memilih damai tanpa kembali dekat dengan orang tersebut.
Pada akhirnya, tujuan dari proses memaafkan bukanlah mengubah masa lalu.
Masa lalu tidak bisa diubah.
Tujuannya adalah mengubah hubungan kita dengan masa lalu.
Dulu mungkin setiap kali mengingat kejadian tersebut Anda merasa marah.
Kemudian, setelah melalui proses panjang, Anda bisa mengingatnya dan berkata:
“Ya, itu pernah terjadi. Itu menyakitkan. Aku tidak menyukainya. Tetapi aku tidak ingin kejadian itu terus mengendalikan hidupku.”
Di situlah pelepasan mulai terjadi.
Penutup: Anda Tidak Harus Mendapatkan Maaf dari Mereka untuk Menemukan Kedamaian
Ada luka yang sembuh setelah mendapatkan permintaan maaf.
Ada pula luka yang akhirnya sembuh setelah kita menerima kenyataan bahwa permintaan maaf itu mungkin tidak pernah datang.
Dan menerima kenyataan tersebut bukan berarti menyerah.
Justru, terkadang itu adalah bentuk keberanian.
Anda berhenti menunggu seseorang berubah.
Berhenti menunggu seseorang akhirnya memahami.
Berhenti berharap masa lalu tiba-tiba menjadi berbeda.
Kemudian Anda mulai bertanya:
“Apa yang bisa kulakukan untuk diriku sekarang?”
Mungkin jawabannya adalah menjaga jarak.
Mungkin membangun kembali kepercayaan diri.
Mungkin berhenti membicarakan kejadian itu berulang-ulang.
Mungkin menerima bahwa hubungan tersebut memang sudah selesai.
Atau mungkin, perlahan-lahan, belajar memaafkan—bukan karena orang tersebut layak mendapatkannya, tetapi karena Anda layak mendapatkan kehidupan yang tidak terus dikendalikan oleh luka lama.
Karena pada akhirnya, memaafkan bukan selalu tentang membebaskan orang lain dari kesalahan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Prediksi Skor Viktoria Plzen vs Union SG di Liga Europa: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Susunan Pemain Manchester City vs Norwich: Maresca Rotasi Skuad
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin
Prediksi Skor Real Sociedad vs Bournemouth di Liga Europa: Txuri-urdin Bakal Kesulitan Redam Lawan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022