
Kepribadian orang yang dididik oleh orang tua suka mengontrol menurut psikologi. (Freepik/ bearfotos)
JawaPos.com - Pola asuh orang tua memiliki peran besar dalam membentuk cara seseorang berpikir, bersikap, dan menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan. Salah satu pola pengasuhan yang dapat memberikan pengaruh kuat adalah gaya mendidik yang cenderung mengatur dan mengontrol hampir setiap keputusan anak.
Menurut psikologi, individu yang tumbuh dalam lingkungan dengan pengawasan berlebihan dapat mengembangkan karakter tertentu yang terbawa hingga usia dewasa. Pengalaman masa kecil tersebut dapat memengaruhi cara mereka membangun hubungan, mengambil keputusan, hingga melihat kemampuan diri sendiri.
Setiap orang tentu memiliki pengalaman dan respons yang berbeda terhadap pola asuh yang diterimanya. Namun, terdapat beberapa ciri kepribadian yang sering dikaitkan dengan seseorang yang dibesarkan oleh orang tua dengan kecenderungan kontrol tinggi.
Dilansir dari geediting.com, berikut delapan ciri kepribadian yang kerap ditemukan pada orang yang tumbuh dengan pola asuh orang tua yang suka mengontrol menurut psikologi.
Baca Juga:7 Kebohongan Tak Terduga yang Dibutuhkan Setiap Hubungan Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?
1. Kewaspadaan berlebih
Hidup di bawah bayang-bayang orangtua yang mengontrol ketat menciptakan kebiasaan selalu waspada yang melekat hingga dewasa. Mereka yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini cenderung mengembangkan kepekaan sensorik yang sangat tinggi, seolah-olah radar bahaya mereka selalu aktif setiap saat.
Bahkan dalam situasi yang sebenarnya aman dan terkendali, mereka tetap merasa perlu memindai lingkungan sekitar untuk mengantisipasi ancaman yang mungkin muncul. Mekanisme pertahanan diri ini, meski dulunya berguna sebagai strategi bertahan hidup semasa kecil, kini justru dapat menimbulkan stres berlebihan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
2. Kesulitan membangun kepercayaan
Pengalaman masa kecil dengan orangtua yang sering mengingkari janji dan menciptakan ketidakpastian membuat mereka sangat berhati-hati dalam mempercayai orang lain. Meski seseorang telah berulang kali membuktikan diri dapat diandalkan, trauma masa lalu tetap membuat mereka sulit membuka diri sepenuhnya.
Rasa was-was ini sering mengganggu dalam membangun hubungan personal maupun profesional yang sehat. Butuh waktu dan proses panjang bagi mereka untuk belajar kembali membangun kepercayaan dengan orang lain.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Andorra vs Malta di Liga Nations UEFA: The Reds Menang Tipis di Encamp
Prediksi Skor Laos vs Brunei di FIFA ASEAN Cup: Thim Xad Menang di Laga Perdana
Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis di Ullevaal Stadion
Prediksi Skor Austria vs Israel di Liga Nations UEFA: Das Team Menang Telak di Raiffeisen Arena
Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Prediksi Skor Liechtenstein vs Lithuania di Liga Nations UEFA: Rinktinė Menang di Kandang Lawan
Prediksi Skor Myanmar vs Timor Leste di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Gasak Lawan di Laga Perdana
Prediksi Skor Jepang vs Uruguay: Ko Itakura Targetkan Kemenangan
Prediksi Skor Kosovo vs Irlandia di Liga Nations UEFA: The Green Army Curi Poin di Fadil Vokrri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022