Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 20 Juli 2026 | 04.12 WIB

7 Kekeliruan dari Teori Perahu Kosong tentang Kemarahan Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang marah tanpa sebab yang jelas / foto: Magnific/stockking

 

JawaPos.com - Bayangkan Anda sedang mendayung perahu di tengah danau yang tenang. Tiba-tiba sebuah perahu lain menghantam perahu Anda. Seketika Anda merasa kesal, marah, bahkan ingin memaki pemilik perahu tersebut.
 
Namun ketika Anda melihat lebih dekat, ternyata perahu itu kosong. Tidak ada seorang pun di dalamnya. Perahu tersebut hanyut terbawa angin hingga menabrak Anda.

Anehnya, kemarahan Anda langsung mereda.

Kisah ini dikenal sebagai Teori Perahu Kosong, sebuah filosofi yang berasal dari ajaran Taoisme. Intinya, kita sering marah bukan karena kejadian itu sendiri, melainkan karena kita menganggap ada seseorang yang sengaja menyakiti, meremehkan, atau menghalangi kita.

Konsep ini memang menarik dan mengandung banyak kebijaksanaan. Namun, jika dipahami secara berlebihan atau diterapkan tanpa mempertimbangkan realitas psikologis manusia, teori ini juga dapat menimbulkan beberapa kekeliruan.

Dalam psikologi modern, kemarahan bukan sekadar reaksi terhadap niat orang lain. Emosi ini jauh lebih kompleks karena dipengaruhi oleh pengalaman hidup, pola pikir, kebutuhan emosional, hingga kondisi biologis seseorang.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (19/7), terdapat tujuh kekeliruan yang sering muncul ketika memahami Teori Perahu Kosong.

1. Menganggap Semua Kemarahan Berasal dari Pikiran Sendiri

Teori Perahu Kosong memberi kesan bahwa kemarahan muncul hanya karena interpretasi kita terhadap suatu kejadian. Jika kita berhenti menganggap orang lain berniat buruk, maka kemarahan akan hilang.

Psikologi menunjukkan bahwa kenyataannya tidak sesederhana itu.

Ada banyak situasi di mana seseorang memang menjadi korban perlakuan yang tidak adil, penghinaan, kekerasan verbal, manipulasi, atau pengkhianatan. Dalam kondisi seperti ini, kemarahan merupakan respons emosional yang wajar.

Kemarahan berfungsi sebagai sinyal bahwa batas pribadi telah dilanggar. Emosi ini dapat mendorong seseorang untuk melindungi diri, menyuarakan ketidakadilan, atau mengambil tindakan yang diperlukan.

Jika semua kemarahan dianggap hanya berasal dari cara berpikir kita, seseorang bisa saja mengabaikan kenyataan bahwa memang ada perilaku orang lain yang salah dan perlu dihadapi.

2. Mengabaikan Fungsi Positif dari Kemarahan

Banyak orang menganggap marah selalu buruk.

Padahal menurut psikologi, kemarahan adalah salah satu emosi dasar manusia yang memiliki fungsi adaptif.

Kemarahan membantu seseorang:

mengenali ancaman,
mempertahankan harga diri,
menetapkan batas yang sehat,
memotivasi perubahan,
melawan ketidakadilan.

Masalah sebenarnya bukan pada rasa marah, melainkan pada cara mengekspresikannya.

Seseorang dapat marah tanpa harus berteriak, menghina, atau melakukan kekerasan.

Jika Teori Perahu Kosong dipahami sebagai ajakan untuk tidak pernah marah, maka seseorang justru berisiko menekan emosi yang sebenarnya penting untuk kesehatan psikologis.

3. Terlalu Menyederhanakan Penyebab Emosi

Emosi manusia dipengaruhi oleh banyak faktor.

Psikologi menjelaskan bahwa kemarahan dapat dipicu oleh:

kelelahan,
stres berkepanjangan,
trauma masa kecil,
gangguan kecemasan,
depresi,
hormon,
rasa lapar,
kurang tidur.

Artinya, penyebab kemarahan tidak selalu berasal dari cara kita memaknai perilaku orang lain.

Dua orang bisa menghadapi situasi yang sama tetapi memberikan reaksi berbeda karena kondisi psikologis mereka juga berbeda.

Teori Perahu Kosong memang membantu mengubah sudut pandang, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan seluruh dinamika emosi manusia.

4. Berpotensi Membuat Seseorang Menyalahkan Diri Sendiri

Kesalahan lain yang sering muncul adalah keyakinan bahwa jika masih marah, berarti ada yang salah dengan diri sendiri.

Padahal tidak demikian.

Dalam psikologi dikenal konsep self-compassion, yaitu kemampuan menerima bahwa emosi negatif adalah bagian alami dari menjadi manusia.

Ketika seseorang diperlakukan buruk, rasa marah bukan berarti ia gagal mengendalikan diri.

Yang lebih penting adalah bagaimana ia memahami emosinya, mengelolanya dengan sehat, dan memilih respons yang bijaksana.

Jika seseorang terus menyalahkan diri karena masih merasa marah, beban emosional justru bisa semakin berat.

5. Menganggap Semua Orang Mudah Mengubah Cara Pandang

Teori Perahu Kosong mengandalkan perubahan perspektif.

Sayangnya, tidak semua orang dapat melakukannya dengan mudah.

Orang yang memiliki trauma, pengalaman pengkhianatan, atau luka emosional mendalam cenderung lebih sensitif terhadap ancaman.

Otak mereka menjadi lebih waspada sehingga lebih cepat menafsirkan suatu tindakan sebagai bahaya.

Dalam psikologi, hal ini berkaitan dengan mekanisme perlindungan diri yang berkembang akibat pengalaman masa lalu.

Karena itu, meminta seseorang "anggap saja perahunya kosong" belum tentu membantu jika luka emosionalnya belum benar-benar pulih.

6. Mengabaikan Pentingnya Komunikasi dan Penyelesaian Konflik

Kadang-kadang masalah memang terjadi karena kesalahpahaman.

Namun ada juga konflik yang membutuhkan komunikasi terbuka.

Misalnya:

pasangan yang terus mengabaikan kebutuhan emosional,
rekan kerja yang sengaja menjatuhkan,
teman yang berulang kali melanggar kepercayaan.

Dalam situasi seperti ini, hanya mengubah cara berpikir tidak akan menyelesaikan akar masalah.

Psikologi justru mendorong keterampilan komunikasi yang asertif.

Asertif berarti mampu menyampaikan perasaan, kebutuhan, dan batas pribadi dengan jujur tanpa menyerang orang lain.

Pendekatan ini lebih efektif daripada sekadar memendam emosi sambil mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja.

7. Menganggap Pengendalian Emosi Hanya Soal Kesadaran

Teori Perahu Kosong sering memberi kesan bahwa cukup dengan menyadari penyebab kemarahan, seseorang akan langsung tenang.

Padahal dalam psikologi, pengelolaan emosi melibatkan berbagai keterampilan.

Misalnya:

mengenali pemicu emosi,
latihan pernapasan,
mindfulness,
restrukturisasi kognitif,
regulasi emosi,
meningkatkan kualitas tidur,
olahraga,
membangun hubungan sosial yang sehat.

Kesadaran memang merupakan langkah awal yang penting, tetapi bukan satu-satunya langkah.

Mengelola kemarahan membutuhkan latihan yang konsisten agar respons emosional menjadi lebih sehat seiring waktu.

Lalu, Apakah Teori Perahu Kosong Salah?

Tidak.

Teori Perahu Kosong tetap memiliki nilai yang sangat berharga.

Konsep ini mengingatkan kita bahwa tidak semua tindakan orang lain dilakukan dengan niat buruk. Banyak konflik sebenarnya muncul karena asumsi, prasangka, atau interpretasi yang keliru.

Dalam kehidupan sehari-hari, mengingat "perahu mungkin kosong" dapat membantu kita mengurangi reaksi impulsif dan memberi ruang untuk berpikir sebelum bertindak.

Namun, psikologi mengajarkan bahwa tidak semua "perahu" benar-benar kosong. Ada kalanya seseorang memang sengaja menyakiti, melanggar batas, atau bertindak tidak adil. Dalam situasi seperti itu, kemarahan dapat menjadi sinyal yang sehat untuk melindungi diri dan mencari penyelesaian yang tepat.

Penutup

Kemarahan bukan musuh yang harus dimusnahkan, melainkan emosi yang perlu dipahami. Teori Perahu Kosong mengajak kita untuk tidak terburu-buru menganggap setiap tindakan orang lain sebagai serangan pribadi. Sementara itu, psikologi modern mengingatkan bahwa emosi manusia dipengaruhi oleh banyak faktor dan tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan mengubah sudut pandang.

Keseimbangan antara kebijaksanaan dalam menafsirkan situasi dan kemampuan mengelola emosi secara sehat adalah kunci. Dengan begitu, kita tidak hanya menjadi lebih tenang menghadapi konflik, tetapi juga lebih mampu melindungi diri, membangun hubungan yang sehat, dan mengambil keputusan dengan kepala dingin.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore