
Ilustrasi seseorang kelelahan karena lingkungan yang toxic. (Freepik)
JawaPos.com - Saat ini, kerja keras dan mencapai target seringkali dianggap sebagai indikator utama dalam mencapai keberhasilan dan kesuksesan. Produktivitas seolah-olah menjadi nilai utama yang harus selalu dijaga.
Tapi, apa jadinya jika keinginan untuk selalu produktif justru menjerumuskan kita ke dalam kebiasaan yang merugikan diri sendiri? Inilah yang dikenal dengan istilah toxic productivity, atau produktivitas yang beracun.
Alih-alih membantu, pola ini justru dapat menimbulkan dampak negatif, seperti kelelahan, ketidakstabilan emosi, hingga dapat mengancam kesehatan mental.
Maka dari itu, langkah terbaik untuk menghindari pola beracun ini sebenarnya dapat dilakukan dengan mengenali gejala awalnya. Berikut sepuluh ciri dari toxic productivity yang sering muncul tanpa disadari.
Salah satu tanda utama dari toxic productivity adalah kesulitan untuk menikmati waktu istirahat. Banyak orang yang terjebak dalam pola ini sering kali yang merasa bersalah atau takut dianggap malas ketika mengurangi beban kerja dan menenangkan diri.
Bahkan saat tidur, rasa bersalah seringkali muncul seakan waktu tersebut terbuang percuma. Jika perasaan ini sering muncul, mungkin itu pertanda bahwa pola kerja yang dilakukan sudah tidak sehat dan perlu diubah.
Mereka yang terjebak dalam pola ini seringkali terus menambah tugas meski target sudah tercapai. Tidak peduli seberapa banyak pekerjaan yang sudah mereka selesaikan, perasaan kurang seringkali menghantui.
Alhasil, mereka jarang merasa puas dengan hasil kerjanya, dan seolah-olah harus terus-menerus berada dalam lingkaran kerja yang dinilai produktif tak berujung tanpa henti.
Dalam toxic productivity, sering kali tertanam keyakinan bahwa nilai diri dapat terlihat dari seberapa banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan. Jika belum mendapatkan pencapaian besar, seringkali mereka merasa tidak berharga.
Padahal, harga diri tidak seharusnya berpatokan pada produktivitas, seberapa banyak aktivitas yang dilakukan, melainkan juga dari kesehatan, hubungan sosial, dan kebahagiaan pribadi yang dimiliki.
Tanda selanjutnya adalah mengorbankan kesehatan demi mengejar target pekerjaan. Banyak orang yang melewatkan waktu makan, tidur cukup, untuk tetap memaksakan diri bekerja meski tubuh sudah memberi sinyal lelah.
Tekanan mental seperti stres berlebihan, perasaan cemas yang tidak terkendali, atau bahkan perasaan tertekan setiap ada pekerjaan yang tertunda juga termasuk gejala yang sering muncul. Jika dibiarkan, hal ini bisa berujung pada burnout atau kelelahan yang parah.
Untuk sebagian orang, waktu luang merupakan saat yang tepat untuk bersantai dan mengisi energi kembali. Namun, untuk mereka yang terjebak dalam toxic productivity, waktu senggang malah menjadi pemicu kecemasan.
Mereka seringkali merasa tidak berguna jika tidak sedang bekerja, atau bahkan saat liburan dan berkumpul dengan keluarga atau teman, pikiran mereka seringkali tertuju pada pekerjaan yang belum selesai.
Kehilangan minat pada hobi menunjukkan bahwa hidup mulai hanya berputar pada pekerjaan dan target.
