Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 22 September 2025 | 03.48 WIB

Hati-Hati, Jangan Sampai Terjebak dengan Pola Pikir yang Menyatakan Dikritik sama dengan Diserang

ILUSTRASI: Seseorang tidak terima ketika dikritik. (freepik)

JawaPos.com - Kritik merupakan bagian yang tidak terhindarkan dalam kehidupan sehari-hari. Dari ruang kelas, lingkungan kerja, hingga hubungan pribadi, selalu ada momen di mana orang lain memberi masukan atas tindakan atas perbuatan yang dilakukan. 

Idealnya kritik membantu seseorang untuk berkembang. Namun bagi sebagian orang menerima kritik terasa seperti serangan, dan biasanya mereka menjadi defensif, cemas, bahkan terluka secara emosional. 

Fenomena ini ternyata bukan sekadar masalah “tidak suka ditegur”. Menurut berbagai penelitian psikologi, cara seseorang merespons kritik sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, terutama bagaimana dia dibesarkan. Berikut adalah tanda-tanda seseorang sulit menerima kritik serta kaitannya dengan pengalaman masa kecil yang penuh kritik. 

1. Reaksi Emosional: Kritik Terasa seperti Serangan Pribadi

Salah satu tanda paling umum adalah munculnya reaksi emosional yang berlebihan. Orang yang sulit menerima kritik biasanya langsung bersikap defensif, merasa dipermalukan, atau bahkan marah. Kritik sekecil apa pun sering dianggap sebagai serangan terhadap identitas diri, bukan sekadar masukan terhadap perilaku.  

Dilansir dari CouchGlue (2025), orang dengan kecenderungan ini juga kerap mempertanyakan niat si pemberi kritik. Alih-alih melihat kritik sebagai sesuatu yang konstruktif, fokus mereka justru tertuju pada pertanyaan, “Mengapa orang ini mengkritik saya?” 

Perlu diingat, bersikap defensif ketika dikritik sebenarnya adalah reaksi yang wajar. Namun, dengan melatih diri untuk mendengarkan masukan secara tenang dan merespons dengan bijak, seseorang bisa lebih objektif dalam menilai kritik. Sikap ini bukan hanya membantu menerima feedback dengan lapang dada, tetapi juga membuka ruang untuk tumbuh dan berkembang. 

2. Pola Pikir Negatif dan Perfeksionisme

Orang yang kesulitan menerima kritik sering terjebak dalam pikiran negatif. Mereka bisa terus memutar kritik dalam kepala selama berhari-hari, merasa bersalah, atau takut mengulangi kesalahan. Hal ini kerap berkaitan dengan perfeksionisme. Seperti dilansir dari DMNews (2025), individu yang sejak kecil sering dikritik cenderung tumbuh menjadi perfeksionis. Mereka berusaha sebaik mungkin agar tidak memberi celah sedikit pun untuk dikritik. Namun ironisnya, semakin keras berusaha, semakin tinggi pula kecemasan bila ada kesalahan kecil yang terdeteksi. 

Perfeksionisme yang dilandasi dengan rasa takut yang menghantui tentu melelahkan dan bisa menjadi penghalang bagi kreativitas dan pertumbuhan seseorang. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang melawan perfeksionisme sering kali memiliki ketakutan mendasar yang terkait dengan harapan awal dari orang-orang terdekat seperti orang tua. Dengan memutus siklus ini berarti menegaskan bahwa ketidaksempurnaan merupakan hal yang manusiawi. Menganut prinsip "selesai lebih baik daripada sempurna" dapat menjadi langkah sehat menuju welas asih terhadap diri sendiri. 

3. Menghindari Kritik dengan Segala Cara

Dilansir dari CouchGlue (2025), mencatat bahwa pola menghindar ini sering membuat seseorang stagnan. Padahal, tanpa feedback, kita akan sulit berkembang. Alih-alih menghadapi kritik, sebagian orang lebih memilih menghindar. Mereka jarang meminta feedback, enggan mengambil risiko, atau bahkan menjauh dari situasi yang bisa membuat mereka salah. DMNews menambahkan, kebiasaan ini sering berakar dari masa kecil seperti anak yang terlalu sering dikritik bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang selalu menghindari konflik dan teguran. 

4. People-Pleasure: Selalu Ingin Menyenangkan Semua Orang

Salah satu dampak jangka panjang dari kritik berlebihan di masa kecil adalah kecenderungan untuk menjadi people-pleaser. Dilansir dari DMNews (2025), orang dewasa yang tumbuh dalam suasana penuh kritik sering merasa tidak cukup baik. Akibatnya mereka berusaha keras untuk menyenangkan orang lain agar tidak dikritik lagi. Sayangnya, kebiasaan ini bisa merugikan diri sendiri. People-pleaser sering mengorbankan kebahagiaan pribadi demi validasi orang lain. 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore