Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 2 September 2025 | 17.23 WIB

Mengenal Pribadi Narsistik, Rapuh Terhadap Kritik dan Sulit Membangun Hubungan Sehat

Ilustrasi seorang narsistik yang tidak mau mendengarkan orang lain/Freepik

JawaPos.com - Dalam kehidupan sosial, kita seringkali bisa menoleransi sifat seseorang yang sombong, dominan, dan tidak memiliki empati.

Sikap ini muncul sebagai upaya sementara untuk menjaga keharmonisan hubungan, meskipun pada akhirnya harus berhadapan dengan ketegangan, konflik, atau pun perpisahan.

Dalam psikologi, kepribadian seseorang yang sombong, haus akan pujian dan pengakuan, serta kurang memiliki empati terhadap orang lain dapat dipahami sebagai kepribadian narsisme.

Narsisme pertama kali diidentifikasi sebagai gangguan mental oleh Havelock Ellis, seorang dokter di Inggris pada tahun 1898. Gangguan mental ini dinamai berdasarkan karakter mitologi Narcissus yang jatuh cinta pada bayangannya sendiri.

Menurut tokoh psikoanalisis Sigmund Freud, narsisme merupakan tahap normal dalam perkembangan anak, tetapi akan dianggap sebagai gangguan ketika terjadi setelah pubertas. 

Mengutip dari beberapa sumber jurnal psikologi, kepribadian narsistik pada manusia dewasa dapat dilihat melalui ciri-ciri berikut:

  1. Merasa Paling Penting dan Lebih Baik dari Orang Lain

Individu dengan sifat narsistik terobsesi untuk mempertahankan citra diri yang sangat positif. Ia terus-menerus mencari pengakuan, merasa paling penting, serta berlebihan dalam membanggakan pencapaian yang sebenarnya biasa saja. 

Narsistik senang berinteraksi dengan orang-orang yang dianggap memiliki status sosial tinggi untuk memperkuat citra diri yang hebat. Dengan begitu, ia akan merasa memiliki kedudukan yang lebih baik dari orang lain.

Dibalik kepercayaan diri yang nampak kuat itu, sebenarnya tersembunyi kerapuhan yang sangat besar. Ia mudah terluka oleh kritik dan akan berusaha keras untuk mempertahankan nama baiknya.

Narsistik seringkali menganggap seseorang yang kritis sebagai ancaman yang mengikis kekuatan dan kesempurnaan yang telah dibangun. Ia semakin merasa tidak aman dan marah ketika kritik disampaikan di depan umum karena berpotensi membuat orang lain tersadar akan ketidakmampuannya.

  1. Haus Pujian dan Ingin Terlihat Sempurna

Narsistik merasa kesal ketika tidak memperoleh pujian, serta mudah kecewa jika menerima penolakan dan tidak diperlakukan sesuai harapan. Sebab yang mereka butuhkan adalah menjadi terlihat ideal.

Citra ideal dilakukan dengan memanipulasi orang-orang disekitarnya dan membungkam para pengkritik yang dinilai memberikan ancaman. Perilaku ini merupakan strategi menyelamatkan citra positif di mata orang lain agar terus mengagumi dirinya.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore