Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 26 Agustus 2025 | 13.55 WIB

Psikologi Ungkap Mengapa Orang Sulit Keluar dari Zona Nyaman dan Cara Efektif untuk Berani Melangkah Maju

Ilustrasi orang yang sulit keluar dari zona nyaman

JawaPos.com – Banyak orang menyadari bahwa kesuksesan membutuhkan keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman.

Namun, dalam praktiknya, meninggalkan rutinitas yang terasa aman bukanlah hal mudah.

Psikologi menjelaskan bahwa zona nyaman bukan sekadar kondisi pasif, melainkan respon otak terhadap rasa aman dan ancaman perubahan.

Apa itu zona nyaman?
Menurut Positive Psychology (2022), zona nyaman adalah kondisi di mana seseorang merasa tenang karena aktivitas dan lingkungannya dapat diprediksi. Meski tampak menyenangkan, terlalu lama berada dalam zona ini dapat membuat perkembangan diri terhambat, karena individu cenderung menghindari tantangan baru.

Mengapa orang sulit keluar dari zona nyaman?
Psikologi menjelaskan ada beberapa faktor utama. Pertama, fear of failure atau ketakutan gagal. Artikel di Psychology Today (2022) menyebutkan bahwa otak manusia cenderung lebih kuat merespons potensi kehilangan dibanding peluang meraih keuntungan. Inilah yang membuat seseorang memilih bertahan di tempat yang aman ketimbang mencoba hal baru.

Kedua, faktor biologis. Studi yang diterbitkan di National Library of Medicine (2023) menjelaskan bahwa perubahan lingkungan dapat memicu respons stres. Kortisol yang meningkat saat mencoba hal baru membuat individu merasa cemas, sehingga bertahan di rutinitas lama terasa lebih nyaman.

Ketiga, faktor sosial. Menurut Harvard Summer School (2021), banyak orang enggan keluar dari zona nyaman karena takut penilaian negatif dari lingkungan. Ekspektasi sosial yang tinggi membuat mereka memilih mengikuti arus, meski sebenarnya ingin berkembang.

Selain faktor biologis dan sosial, ada juga aspek budaya yang membuat seseorang betah dalam zona nyaman. Misalnya, masyarakat yang menekankan stabilitas dan kepatuhan cenderung mendorong warganya untuk tidak mengambil risiko. Studi yang diterbitkan di Journal of Applied Psychology (2023) menemukan bahwa norma budaya yang konservatif bisa menghambat individu untuk keluar dari rutinitas, meski sebenarnya mereka memiliki keinginan untuk berkembang.

Contoh nyata datang dari dunia kerja. Banyak karyawan yang enggan mengajukan ide baru karena takut gagal atau khawatir mendapat kritik dari atasan. Padahal, inovasi hanya bisa muncul ketika seseorang berani keluar dari pola lama. Dalam wawancara yang dikutip Harvard Summer School, sejumlah pemimpin perusahaan besar mengakui bahwa lonjakan karier mereka justru terjadi ketika berani mengambil langkah berbeda, meski penuh risiko.

Dalam kehidupan pribadi, fenomena ini juga terlihat. Banyak orang bertahan dalam hubungan yang tidak sehat hanya karena merasa aman dan terbiasa. Psikologi menjelaskan, otak lebih memilih “kepastian yang buruk” daripada menghadapi ketidakpastian, sehingga membuat individu sulit melepaskan diri.

Maka, keluar dari zona nyaman bukan hanya soal karier, melainkan menyangkut kualitas hidup secara menyeluruh. Dengan berani melangkah, seseorang bisa membuka peluang baru, menemukan potensi diri yang terpendam, bahkan membangun relasi sosial yang lebih sehat dan bermakna.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore