Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 24 Juni 2025 | 00.25 WIB

7 Perilaku Khas Orang yang Membiarkan Ponselnya dalam Mode Senyap 24 Per 7, Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang dengan ponsel senyap. (Freepik) - Image

Ilustrasi seseorang dengan ponsel senyap. (Freepik)

 

JawaPos.Com -  Kebiasaan seseorang dalam menggunakan ponsel dapat mencerminkan banyak hal tentang kepribadian dan kesejahteraan mental mereka. 

Apalagi, di era digital seperti sekarang, notifikasi dan dering ponsel bisa menjadi gangguan besar yang memengaruhi kualitas hidup dan produktivitas seseorang.

Namun, ada sekelompok orang yang memilih untuk membiarkan ponsel mereka dalam mode senyap sepanjang waktu, tanpa getar, tanpa dering, bahkan tanpa suara notifikasi apa pun. 

Meski terdengar ekstrem bagi sebagian orang, ternyata perilaku ini mencerminkan sejumlah ciri kepribadian dan pendekatan hidup yang sangat khas.

Seperti dilansir dari Geediting.com, inilah 7 perilaku umum yang sering ditunjukkan oleh orang-orang yang sengaja membiarkan ponselnya dalam mode senyap 24/7, menurut pandangan psikologi.

1. Mereka Menghargai Fokus dan Produktivitas

Orang yang membiarkan ponselnya dalam mode senyap biasanya memiliki kontrol tinggi terhadap fokusnya. 

Mereka sadar bahwa suara notifikasi bisa mengganggu alur berpikir dan konsentrasi, apalagi ketika sedang bekerja atau belajar.

Dalam psikologi kognitif, gangguan kecil seperti bunyi notifikasi ternyata bisa menyebabkan “attention residue”, yaitu sisa gangguan perhatian yang membuat seseorang sulit kembali fokus pada pekerjaan utama. 

Dengan mematikan notifikasi, mereka menciptakan lingkungan kerja yang lebih tenang dan produktif.

Mereka tidak ingin waktunya dipecah oleh suara notifikasi yang mungkin tidak penting.

2. Mereka Mungkin Lebih Sensitif terhadap Kebisingan

Sensitivitas terhadap suara juga bisa menjadi alasan kuat di balik kebiasaan ini. 

Beberapa orang memiliki kepekaan tinggi terhadap suara bising atau mendadak, yang bisa memicu stres, rasa gelisah, atau bahkan kelelahan mental.

Psikologi sensorik menyebut fenomena ini sebagai “auditory sensitivity”, di mana individu merasa cepat terganggu oleh suara berulang atau keras. 

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore