Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 8 Juni 2025 | 21.38 WIB

Ini 7 Tanda Perilaku Orang yang Kurang Punya Empati pada Orang Lain Menurut Psikologi, Apa Saja?

Perilaku orang yang kurang empati pada orang lain menurut psikologi. (Freepik/freepik) - Image

Perilaku orang yang kurang empati pada orang lain menurut psikologi. (Freepik/freepik)

JawaPos.com – Empati adalah kemampuan memahami dan merasakan apa yang dirasakan orang lain, namun tidak semua orang memilikinya secara mendalam. Psikologi mengidentifikasi beberapa tanda perilaku yang menunjukkan kurangnya rasa tersebut.

Memahami tanda tentang empati ini dapat membantu mengenali perilaku yang mungkin merugikan hubungan sosial dan emosional di sekitarmu.

Dilansir dari geediting.com pada Minggu (8/6), diterangkan bahwa terdapat tujuh tanda perilaku orang yang sangat kurang dalam hal empati kepada orang lain menurut Psikologi.

  1. Ketidakmampuan membangun koneksi emosional

Orang dengan empati rendah umumnya kesulitan untuk terhubung secara emosional dengan orang lain dalam percakapan. Meski mereka hadir secara fisik, namun secara emosional mereka seperti berada di tempat yang jauh dan terpisah.

Psikologi menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena mereka gagal menempatkan diri dalam posisi orang lain secara emosional, yang merupakan komponen kunci dari empati. Ketidakmampuan membayangkan bagaimana perasaan orang lain ini membuat lawan bicara mereka sering merasa tidak didengar dan tidak dihargai perasaannya.

  1. Mendengarkan yang tidak aktif

Ketika berbicara dengan orang yang kurang berempati, mereka cenderung selalu mengarahkan pembicaraan kembali ke diri mereka sendiri. Mereka jarang terlibat penuh dalam percakapan yang tidak berkaitan langsung dengan diri mereka.

Setiap cerita atau keluhan yang kamu sampaikan akan berubah menjadi monolog tentang kehidupan mereka sendiri, yang membuat interaksi terasa melelahkan dan tidak berarti. Pengalaman berbicara dengan mereka sangat bertolak belakang dengan apa yang dikatakan psikolog Carl Rogers tentang pentingnya mendengarkan tanpa menghakimi

  1. Kesulitan memberikan pujian tulus

Orang dengan tingkat empati rendah sering kesulitan untuk mengakui keberhasilan orang lain, seolah-olah memuji prestasi orang lain akan mengurangi pencapaian mereka sendiri. Ketika mereka memberikan pujian, kata-kata yang keluar terkesan dipaksakan atau tidak tulus, seperti membaca naskah daripada berbicara dari hati.

Pujian yang mereka berikan terasa dangkal atau bahkan bermakna ganda, yang membuat penerima pujian merasa bingung atau tidak nyaman. Hal ini menunjukkan kesulitan mereka dalam membangun koneksi emosional yang sehat.

  1. Kesulitan memahami isyarat non-verbal

Orang-orang dengan empati rendah seringkali tidak dapat menangkap ekspresi wajah, bahasa tubuh, atau nada suara yang menunjukkan perasaan orang lain. Mereka bisa terus berdebat tanpa menyadari bahwa audiensnya sudah terlihat tidak nyaman atau tidak tertarik.

Penelitian dalam jurnal “Brain and Cognition” membuktikan bahwa individu dengan empati rendah mengalami kesulitan mengenali emosi orang lain berdasarkan sinyal non-verbal. Ketidakmampuan membaca isyarat non-verbal ini sering menyebabkan interaksi yang canggung dan kesalahpahaman dalam komunikasi.

  1. Ketidakmampuan menghibur orang lain

Saat seseorang sedang mengalami kesulitan atau kesedihan, orang dengan empati rendah kesulitan memberikan penghiburan yang tepat. Alih-alih menawarkan kata-kata yang menghibur atau sekadar hadir mendampingi, mereka cenderung mengabaikan perasaan orang tersebut dan menyuruhnya untuk segera move on.

Respons mereka bukan karena tidak peduli, tetapi karena kesulitan memahami dan berbagi perasaan orang lain, terutama ketika perasaan tersebut bersifat negatif. Hal ini membuat orang yang sedang kesulitan merasa semakin terpuruk karena tidak mendapat dukungan emosional yang dibutuhkan.

  1. Ketidakpekaan terhadap norma sosial

Orang dengan empati rendah sering gagal membaca “suasana emosional” dalam situasi sosial. Mereka bisa membuat lelucon tidak pantas di pemakaman atau bertindak tidak sesuai dengan situasi yang sedang berlangsung.

 Baron-Cohen, seorang psikolog ternama, menyatakan bahwa empati seperti pelarut universal yang membuat setiap masalah menjadi dapat diselesaikan. Namun bagi mereka yang kesulitan berempati, mereka sering gagal memahami dan menyesuaikan diri dengan konteks emosional dari berbagai situasi sosial.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore